Avara hanya staf administrasi biasa di perusahaan finance yang terbiasa bekerja lembur.
Pada satu hari seperti biasa dia lembur seorang diri, lelah dan mengantuk. Saat terbangun, bukannya berada di kantor, dia justru bertransmigrasi ke dunia iblis. Menjadi satu-satunya sosok manusia di sana, Avara harus dicurigai dan hampir mendapat hukuman mati. Namun berkat kemampuannya mengolah data, dia berhasil selamat!
Kini hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan administrasi di istana iblis, dan semata-mata bekerja untuk Raja Iblis Fulqentius yang terkenal keji, dingin, dan misterius.
Bisakah Avara bertahan hidup di dunia yang sama sekali asing baginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichigatsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25 - Perbedaan
Tawa memburai Avara adalah satu hal baru yang muncul di ruang arsip bersama bertambahnya keberadaan Australe. Tawa itu tidak berbatas waktu; kadang berderai saat pagi, atau siang, bahkan petang. Semuanya berdasarkan kesalahan input yang dilakukan Australe tanpa sengaja atau kekonyolan yang dilakukannya di luar kehendak.
Iblis muda itu masih mencoba beradaptasi dengan sistem kristal sihir sebagai media input data, sehingga masih banyak melakukan kesalahan yang wajar dilakukan seorang pemula. Selain itu tampaknya Australe belum sepenuhnya bisa menyesuaikan diri dengan sistem baru yang dibawa Avara, yang tentu saja terlalu manusiawi. Berdasarkan tingkat kesalahannya, Avara akan tertawa terhadapnya, memaklumi kesalahan demi kesalahan yang dia perbuat.
Pada satu kasus, Avara memintanya menyortir dokumen dengan kategori pajak, militer, dan diplomasi. Saat dicek, Avara menemukan satu map bertuliskan "Dokumen Menakutkan Sekali", yang jelas membuatnya bertanya-tanya.
Australe bilang, "Dokumen yang saya baca bikin merinding."
ーTernyata itu laporan audit keuangan.
Avara tertawa terbahak-bahak.
Pada kasus yang lain, Avara memberitahunya, "Dokumen ini harus selesai sebelum deadline."
Australe panik. "Siapa yang mati?"
Avara mengerjap.
"Namanya dead.. line.. Berarti ada yang mati di garis itu?"
Avara tertawa sampai nyaris jatuh dari kursi.
Tidak lupa dengan penggunaan sihir Australe yang berlebihan. Diminta Avara untuk mengambil sebuah dokumen dari salah satu rak, Australe dengan percaya dirinya menggunakan sihir yang justru menerbangkan semua berkas dalam ruang arsip. Dengan satu mantra, semua kertas melayang di udara seperti badai kertas.
Avara menatap langit-langit kantor yang dipenuhi dokumen, tertawa pasrah. "Bagus, sekarang kita punya sistem arsip berbasis awan."
Meski begitu, tidak ada yang bisa mengalahkan tekad dan kerja keras Australe dalam bekerja. Di balik kesalahan-kesalahan yang dia perbuat, selalu ada pertanggung jawaban yang dia berikan dan pembelajaran yang dia ambil. Iblis muda itu pun bukan orang yang mudah menyerah, dia selalu bangkit tak peduli seberapa besar dan sering kesalahan yang dia perbuat. Avara menyukai sisi dirinya yang seperti itu.
Agaknya tawa Avara terlalu keras hingga mencapai ruangan tim IT yang segera membuat para penghuninya bertanya-tanya. Bagi mereka yang mengenal si gadis manusia dalam jangka waktu yang tidak pendek, tawa itu cukup kencang untuk keluar dari diri Avara yang cenderung bekerja dalam diam. Maka berbondong-bondonglah mereka untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi.
Wajah cerah Australe adalah hal pertama yang menyambut mereka di muka pintu.
"Apa ada yang lucu di sini?"
Avara terkekeh dari dalam ruangan.
"Kalian harus lihat seberapa lucunya kawan baru kita."
Maka Fulton, Oxron, dan Gaiyus bergabung kembali di ruang arsip, tertawa bersama Avara.
"Aku heran kau bisa tahan bekerja dengan gangguan orang lain," ujar Oxron.
Fulton dan Gaiyus manggut-manggut.
"Apakah aku sekaku itu?" Avara tertawa ringan.
"Tidak. Hanya.. Lebih formal," sahut Gaiyus.
"Kau tidak merasa terpaksa atau ternyata terganggu, kan?"
Avara memandang ketiga rekannya bergantian, mendapati rasa cemas tipis yang menguar dari tatapan mereka; membuatnya merasa bersalah tapi juga bersyukur.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku," Avara tersenyum. "Aku akan mengatakannya jika aku merasa terpaksa atau terganggu."
Mendapati senyum itu, baik Oxron, Fulton, maupun Gaiyus jadi salah tingkah. Bagaimanapun tidak ada yang menyangka di antara mereka bahwa mereka akan demikian karib dengan seorang manusia, yang hingga kini menjadi rekan dalam suka-duka pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.
...****************...
Hal berbeda berlaku bagi Fulqentius. Mendengar tawa Avara dari kejauhan menimbulkan semacam lubang pada hatinyaーtanpa dia sadari, tapi dia rasakan.
Tawa itu memang tidak sedemikian membahana hingga sampai langsung di kantornya. Saat itu Fulqentius hanya kebetulan lewat di dekat ruang arsip seorang diri, sedikit-banyak dikemudikan oleh rasa ingin tahunya terhadap perubahan yang terjadi di ruangan itu.
Sang raja iblis tidak pernah mendengar tawa semacam itu sebelumnya dari si manusia, terutama saat gadis itu bersama dirinya atau hanya karena ulahnya. Selama ini Avara lebih banyak berwajah formal jika tidak mau disebut datar, dengan sikap hormat tak habis-habis dan rasa segan yang menguar pekat. Mungkin Avara takut padanya, sebagaimana harusnya, sehingga menjadikannya alasan yang tepat baginya untuk bersikap demikian.
Namun Fulqentius tidak menginginkannya.
Tidak perlu mengecek jauh dalam benaknya, Fulqentius tahu dirinya berharap tawa itu juga ditunjukkan dan ditujukan padanya.
Sebagai raja iblis, dia merasa aneh telah mengharapkan hal semacam itu, sebab sudah sewajarnya hal sebaliknya yang dia terima. Namun dia tidak mampu mengelak nalurinya untuk menginginkan kesetaraan dalam perlakuan Avara terhadapnya.
Fulqentius kecewa dan menyesali dirinya sendiri yang kaku, kelam, dan tidak ramahーapalagi tidak tahu cara mengobrol santai. Sungguh berbeda dari si iblis muda yang cerah, ceria, dan penuh kehangatanーdan tampaknya mudah melemparkan lelucon.
Perbedaan itu bukan hanya menusuk, tapi nyaris membunuhnya. Fulqentius sadar bahwa sampai kapanpun dia tidak akan menjadi seperti iblis itu, sekilas pun tidak. Dan kenyataan itu semakin menyakitinya setelah membuatnya ingat bahwa Avara tidak akan pernah pula tertawa lepas di hadapannya.
Tampaknya sampai kapanpun Fulqentius harus mampu hanya mendengar Avara tertawa dari kejauhanーberkat seseorang yang bukan dirinya.
Fulqentius menyandarkan punggung, mengabaikan tumpukan lain berkas-berkas yang menuntut untuk dicek dan diberikan persetujuan. Tawa Avaraーyang diwarnai pula tawa para iblis lainーterngiang-ngiang di telinganya.
Sejujurnya itu tawa yang jenisnya selama ini belum pernah dia temui. Tawa yang jujurーdan sungguh-sungguh. Berbeda dari tawa kejam atau penuh intrik dari para iblis di sekitarnya. Fulqentius bertanya-tanya apakah tawa itu begitu berbeda karena Avara adalah manusia, atau karena secara sederhana tawa itu adalah miliknya.
Lubang di hatinya terasa kian menggerogotinya dari dalam saat Fulqentius mencoba untuk bersikap lebih cerah. Dia coba tertawa seceria si iblis muda dan berusaha mengutarakan hal lucu yang dikiranya bisa membuat Avara terbahakーyang tentu saja segera gagal.
Fulqentius mengusap wajah tak sabar. Semuanya percuma.
Terkutuklah dirinya dan kekelaman hatinya.
...****************...
Di luar ruangan, Oriole berdiri termangu. Dia mendengar tawa asing dalam suara rajanya melalui celah pintu yang tertutup. Tawa itu demikian hangat dan terdengar menyenangkan, jauh berbeda dari diri sang raja yang dingin dan kaku.
ーFulqentius terdengar jauh.
Oriole menahan napas, berpikir seolah hal itu bisa menghentikan semua hal yang terasa aneh di sekitarnya.
Iblis itu bersumpah bahwa baru kali itu Fulqentius tertawa riang, cerah, dan.. lembut. Ini membuatnya bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi selama dia pergi hanya sebentar. Hal baik apa yang membuat rajanya hingga sedemikian rupa?
Tentu itu hal baik, kan?
Oriole menghela napas pelan-pelan, meyakinkan diri untuk mencari tahu sendiri jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya.
Dia mengetuk pintu.