NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Perang Dingin di Balik Dinding Glanzwald

Kehidupan di Eisenberg Manor setelah kepulangan Matthew tidak seperti yang dibayangkan oleh para pelayan. Tidak ada tawa, tidak ada pelukan di lorong-lorong paviliun. Sebaliknya, rumah megah itu terasa seperti medan tempur yang sunyi, di mana kedua penghuninya saling melempar granat keheningan.

Matthew von Eisenberg, sang Jenderal Agung yang ditakuti musuh, kini menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang kerja pribadinya yang berbau kayu ek dan tembakau mahal atau di markas militer. Dari luar, ia tampak sibuk dengan tumpukan dokumen militer dan peta strategi baru untuk perbatasan utara. Ia tampak cuek, dingin, dan seolah-olah keberadaan Daisy di paviliun sebelah tidak memengaruhi konsentrasinya.

Namun, kenyataannya sangat berbeda.

Setiap pagi, tepat pukul 08.00, Matthew akan memanggil kepala pelayan atau ajudan pribadinya ke ruangan yang tertutup rapat itu.

"Laporkan," ucap Matthew singkat, tanpa mengalihkan pandangan dari monitor komputernya.

"Nyonya Muda bangun pukul 06.30, Tuan Duke. Beliau meminum kopi hitam tanpa gula—seperti biasanya—lalu menghabiskan dua jam di studio rekaman. Pukul 10.00, ada pengiriman bunga lily putih dari agensi musik di Ibukota, tapi Nyonya meminta bunga itu diletakkan di ruang tamu luar, bukan di kamarnya."

Matthew berhenti mengetik. Matanya menyipit. "Siapa yang mengirim bunga itu?"

"Seorang produser muda, Tuan. Katanya sebagai ucapan selamat atas kesuksesan lagu barunya."

Rahang Matthew mengeras. Jemarinya meremas pulpen peraknya hingga terdengar bunyi derit kecil. Ia ingin bertanya, Apakah Daisy tersenyum saat menerimanya? Apakah dia membaca kartunya? Namun, lidahnya kelu. Gengsinya sebagai seorang Eisenberg mencegahnya untuk terlihat terlalu peduli.

"Lanjutkan," perintahnya dengan nada datar yang dibuat-buat.

Inilah cara Matthew mencintai. Ia tidak tahu cara mengetuk pintu studio Daisy dan bertanya, "Bagaimana kabarmu hari ini?" atau "Maukah kau jalan-jalan ke sungai bersamaku?" Ketakutannya begitu besar. Di dalam kepalanya, bayangan Maira yang menangis histeris karena merasa tercekik oleh kehadirannya terus menghantui.

Kalau aku mendekat, dia akan merasa terkurung. Kalau aku bicara, dia akan merasa terancam. Lebih baik aku mengawasinya dari jauh, batin Matthew.

Ia pikir, dengan membiarkan Daisy bebas dan tidak mencampuri urusannya, Daisy akan merasa aman. Matthew tidak sadar bahwa kebebasan yang ia berikan justru dirasakan Daisy sebagai pengabaian yang dingin.

Sementara itu, di sisi lain paviliun, Daisy menenggelamkan dirinya dalam dunia kerja yang gila-gilaan. Ia sengaja membuat jadwalnya sepadat mungkin agar tidak ada celah untuk memikirkan suaminya yang kaku itu.

Ia tahu Matthew ada di rumah. Ia bisa mendengar suara bot militernya yang berat di koridor pada malam hari. Ia bisa mencium aroma maskulin yang samar saat melewati ruang kerja suaminya. Tapi bagi Daisy, Matthew hanyalah hantu di rumahnya sendiri.

Pukul 14.00, Daisy bersiap pergi ke Ibukota untuk sesi pemotretan majalah. Ia mengenakan setelan blazer putih yang sangat chic, memberikan kesan wanita karir yang tangguh. Saat melintasi ruang tengah, ia melihat Matthew sedang berdiri di dekat jendela besar, berbicara di telepon dengan nada militer yang tegas.

Matthew meliriknya sekilas. Tatapan mata dark blue itu bertemu dengan mata cokelat madu Daisy hanya selama dua detik. Tidak ada sapaan. Tidak ada pertanyaan, "Mau ke mana?"

Daisy terus berjalan dengan dagu terangkat. Lihatlah dia, batin Daisy geram. Bahkan tidak sudi menyapaku. Dia benar-benar hanya menginginkan nama keluarga Eisenberg tetap bersih, bukan menginginkan aku.

Begitu mobil Daisy meluncur keluar dari gerbang Glanzwald, Matthew segera menurunkan ponselnya. Ia menatap jejak debu mobil itu dengan tatapan yang sangat melankolis.

"Letnan Kyle," panggil Matthew pada ajudannya yang berdiri di dekat pintu. "Perintahkan salah satu orang suruhan terbaikku untuk mengikuti mobil istriku. Pastikan dia sampai dengan selamat. Jangan sampai dia menyadari keberadaan kalian. Dan, berikan aku laporan setiap jam."

"Siap, Jenderal!"

Inilah ironinya. Matthew bertindak seperti pengawal rahasia bagi istrinya sendiri, namun ia bersikap seperti orang asing saat bertatap muka. Ia takut jika ia menawarkan pengawalan resmi, Daisy akan merasa dipenjara. Jadi, ia memilih menjadi bayangan yang mengawasi dari kegelapan.

Malam harinya, Daisy pulang dalam keadaan sangat lelah. Ia melihat lampu di ruang kerja Matthew masih menyala. Rasa penasaran dan sedikit rasa haus akan perhatian membuatnya sengaja berjalan melewati ruangan itu dengan langkah yang sedikit lebih lambat.

Ia berharap Matthew akan keluar. Ia berharap pria itu akan bertanya, "Kenapa pulang terlambat?" atau sekadar menawarkan segelas air.

Namun, pintu itu tetap tertutup rapat.

Di dalam ruangan, Matthew sebenarnya sedang berdiri di balik pintu. Tangannya sudah berada di gagang pintu, siap untuk membukanya. Jantungnya berdebar kencang—sesuatu yang bahkan tidak terjadi saat ia menghadapi moncong meriam musuh.

Buka pintunya, Matthew. Katakan padanya kau senang dia sudah pulang, bisik hati kecilnya.

Tapi kemudian, ia teringat wajah ketakutan Maira tujuh tahun lalu. Ia teringat bagaimana Maira gemetar setiap kali ia mencoba bersikap perhatian yang posesif.

Jangan. Kau hanya akan membuatnya takut. Dia sedang bahagia dengan dunianya, jangan mengganggunya dengan kehadiranmu yang kaku, pikir Matthew lagi.

Ia melepaskan gagang pintu itu. Ia kembali duduk di kursinya, menatap laporan intelijen yang dikirim ajudannya lewat pesan singkat: "Nyonya Muda baru saja masuk ke paviliun. Beliau tampak lelah tapi aman."

Matthew menghela napas panjang, sebuah desahan yang penuh dengan rasa frustrasi dan kesepian. Ia mengambil ponselnya, membuka galeri foto. Di sana ada satu foto yang ia ambil diam-diam saat Daisy tertidur di bawah pohon ek tempo hari. Foto itu adalah satu-satunya hartanya yang paling berharga.

"Aku tidak akan membiarkanmu lari, Daisy," bisik Matthew pada layar ponselnya. "Tapi aku juga tidak tahu bagaimana cara membuatmu ingin tinggal."

Keesokan paginya, rutinitas yang sama terulang. Matthew meminta laporan. Daisy menyibukkan diri.

Daisy mulai merasa lelah dengan permainan ini. Ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lebih provokatif. Ia mengundang beberapa rekan musisi dan produser—pria dan wanita—ke Glanzwald untuk sesi diskusi musik di taman belakang, dekat dermaga favoritnya.

Ia ingin melihat reaksi Matthew. Apakah suaminya itu akan tetap cuek jika ada pria lain yang tertawa bersamanya di wilayah kekuasaannya?

Sore itu, suara tawa dan denting gelas terdengar hingga ke ruang kerja Matthew. Matthew berdiri di dekat jendela, tirainya tertutup rapat namun ia mengintip dari celah kecil. Matanya terpaku pada seorang produser pria yang duduk cukup dekat dengan Daisy, sedang menunjukkan sesuatu di layar laptop.

Tangan Matthew mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah dan cemburu meledak di dadanya seperti bom waktu. Ia ingin keluar, menyeret pria itu keluar dari tanahnya, dan mengunci Daisy di dalam kamar.

Tapi ia menahan diri. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan insting monster di dalam dirinya yang dulu hampir menghancurkan hidupnya.

"Lapor, Jenderal," ajudannya masuk dengan ragu. "Apakah Anda ingin saya membubarkan pertemuan di bawah?"

Matthew terdiam lama sekali. Matanya tidak lepas dari sosok Daisy yang tampak bersinar di bawah sinar matahari sore.

"Tidak," jawab Matthew, suaranya terdengar sangat parau dan tersiksa. "Biarkan saja. Selama dia tersenyum... biarkan saja. Tapi... ambil foto pria yang duduk di sebelahnya. Cari tahu sejarah hidupnya sampai ke akar-akarnya. Jika dia memiliki satu saja catatan kriminal atau perilaku buruk terhadap wanita, seret dia ke markas besok pagi."

Matthew von Eisenberg tetaplah seorang predator, namun kali ini ia adalah predator yang sedang belajar mengikat taringnya sendiri demi cinta yang ia sendiri belum berani akui. Ia tenggelam dalam laporannya, sementara hatinya hancur berkeping-keping melihat istrinya tertawa dengan orang lain di tempat yang ia anggap sebagai "surga" mereka.

Kehidupan di Glanzwald kini menjadi panggung sandiwara yang tragis: Seorang istri yang haus perhatian dan seorang suami yang terlalu takut untuk memberikan perhatian karena sejarah kelamnya sendiri.

1
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!