Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
positif hamil
Dokter itu menatap Nara dan Tasya bergantian. Senyum tipis terukir di wajahnya, profesional namun menyimpan makna yang tak biasa. Tasya refleks meraih tangan Nara, merasakan jemari sahabatnya dingin dan sedikit bergetar.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan yang saya terima,” ucap dokter itu dengan suara tenang, “Nara, Anda dinyatakan hamil.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, namun dampaknya seperti ledakan sunyi di ruangan kecil itu.
Nara membeku. Dunia seakan berhenti berputar. Dadanya terasa sesak, napasnya tertahan di tenggorokan. Sementara Tasya, wajahnya langsung memucat, matanya membesar seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Untuk menjaga kondisi kandungan Anda tetap sehat,” lanjut dokter itu, seolah tak menyadari badai yang sedang terjadi di antara mereka, “Anda tidak boleh terlalu lelah, harus menjaga pola makan, dan menghindari stres berlebihan. Nanti saya akan berikan vitamin.”
Dokter itu berhenti sejenak, lalu tersenyum sopan. “Dan… selamat untuk Anda, Nara.”
Tak ada jawaban. Tak ada senyum. Hanya keheningan yang menggantung.
“Kalau begitu, saya pamit dulu,” ucap dokter itu sebelum akhirnya keluar dari ruangan, meninggalkan dua sahabat yang masih terdiam kaku.
Begitu pintu tertutup, Tasya menoleh perlahan ke arah Nara. Matanya berkaca-kaca.
“Ra…” suaranya bergetar. “Yang dokter tadi bilang… bohong, kan?”
Nara tak langsung menjawab. Kepalanya tertunduk, bahunya mulai naik turun menahan sesuatu yang terlalu berat untuk dipendam.
“Ra?” Tasya mendekat. “Lo gak mungkin hamil.”
Nara menggigit bibirnya, air mata mulai jatuh satu per satu.
“Lo gak mungkin ngelakuin itu di luar nikah, Ra,” lanjut Tasya dengan suara meninggi karena panik. “Lo juga gak punya pacar. jawab Ra!!."
Keheningan kembali menyelimuti mereka.
“Iya, Sya…” suara Nara akhirnya terdengar, lirih dan pecah. “Aku ngelakuin itu.”
Kalimat itu seperti pisau yang menancap di dada Tasya.
“Lo bohong, kan?” Tasya menggeleng kuat. “Lo cuma lagi shock.”
“Ini bener, Sya,” isak Nara semakin keras. “Aku juga gak pernah nyangka bakal kayak gini.”
Tasya bangkit dari duduknya, mondar-mandir dengan gelisah. “Ceritain sama gue. Siapa cowok yang ngehamilin lo?”
Nara menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah tanpa bisa ia tahan lagi.
“Aku waktu itu dipaksa, Sya,” ucapnya terbata-bata. “Aku gak tau siapa dia. Aku gak tau asal-usulnya.”
Langkah Tasya terhenti. “Dipaksa?” ulangnya pelan, lalu nadanya berubah marah. “Maksud lo…?”
“Waktu itu aku lagi nganterin pesanan. Aku liat ada pria kesakitan. Aku kira dia butuh bantuan. Aku gak nyangka…” jawab Nara sambil terisak
Suaranya tersendat. Dadanya naik turun hebat.
“Dia ambil sesuatu yang selama ini aku jaga, Sya,” lanjut Nara dengan tangisan kencang. “Aku takut… aku gak bisa ngelawan.”
“Nara…” Tasya langsung memeluk sahabatnya erat, seakan ingin melindunginya dari seluruh dunia. “Lo gak salah. Dengerin gue, Lo gak salah sama sekali.”
Tangis Nara semakin menjadi-jadi di pelukan Tasya.
“Lo korban, Ra,” ucap Tasya tegas. “Jangan pernah nyalahin diri lo sendiri.”
“Tapi bunda aku, Sya,” suara Nara gemetar. “Bunda aku marah besar waktu itu. Kalau dia tau aku hamil… dia pasti ngusir aku.”
Tasya mengusap punggung Nara perlahan. “Tenang. Tarik napas… lalu hembuskan pelan-pelan.”
Nara mencoba mengikuti, meski dadanya masih terasa nyeri.
“Jadi sekarang,” Tasya menatap perut Nara yang masih rata. “Lo bakal gimana sama janin yang ada di perut lo?”
Nara terdiam sesaat, lalu mengusap perutnya dengan tangan gemetar.
“Aku bakal jaga dia, Sya,” ucapnya dengan suara lirih namun penuh tekad. “Walaupun aku gak pernah mengharapkan semua ini terjadi… tapi anak yang ada di perut aku gak bersalah.”
Tasya menatap Nara lama, lalu mengangguk. “Gue bakal bantu lo. Gue bakal terus ada di samping lo.”
“Makasi, Sya,” bisik Nara. “Tapi aku takut. Aku takut bunda marah besar.”
“Untuk sekarang, jangan bilang dulu,” jawab Tasya cepat. “Lo tenangin diri dulu. Dan kalau nanti bunda lo gak mau nerima lo di rumah, gue siap nerima lo dan anak lo.”
Air mata Nara kembali jatuh, kali ini bukan hanya karena takut, tapi juga karena lega.
“Dan satu hal lagi,” lanjut Tasya dengan tatapan penuh tekad. “Lo harus jaga kesehatan. Dan gue… gue bakal minta pertanggungjawaban sama cowok itu.”
Nara menggeleng pelan. “Aku gak terlalu mikirin cowok itu, Sya. Aku cuma takut… keluarganya gak nerima aku. Apalagi kalau dia gak mau tanggung jawab.”
Tasya menarik napas dalam. “Satu-satu, Ra. Kita urusin pelan-pelan.”
Ia kemudian meraih tas Nara. “Kita pulang, yuk.”
“Sya,” Nara menahan lengannya. “Aku mohon… rahasiain ini, ya.”
“Iya,” jawab Tasya tanpa ragu. “Tenang aja.”
Tasya membantu Nara berdiri. Dengan langkah pelan, mereka keluar dari klinik itu—membawa satu rahasia besar, satu kehidupan baru, dan ketakutan yang belum berani mereka hadapi sepenuhnya.
Namun satu hal pasti: Nara tak sendirian.