NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat ketika Ayin membuka pintu toko obat Feng Ling.

Udara dingin menyentuh wajahnya, membawa aroma tanah basah dan daun gugur. Kota Qinghe masih setengah tertidur. Hanya suara sapu bambu di kejauhan dan langkah seorang penjual bubur yang memecah kesunyian.

Ayin menghela napas pelan.

Ia tidak tidur nyenyak semalam.

Bukan karena mimpi buruk melainkan karena kesadarannya terlalu terjaga. Setiap bunyi kecil terasa lebih jelas. Setiap perubahan udara membuatnya waspada.

Ada seseorang di rumah itu sekarang.

Seseorang yang… tidak ia pahami.

Ia menoleh ke arah ruang belakang.

Pintu masih tertutup.

Tidak ada suara.

Terlalu sunyi.

Ayin menyalakan tungku dan mulai merebus air. Tangannya bergerak otomatis, mengikuti kebiasaan bertahun-tahun. Namun pikirannya tidak sepenuhnya di dapur itu.

Ia teringat tatapan pria itu semalam.

Xuan.

Tatapan yang tidak menilai, tidak memohon, tidak juga menantang.

Tatapan seseorang yang sudah terlalu lama hidup tanpa harapan—hingga tidak tahu bagaimana cara meminta.

“Berbahaya,” gumam Ayin pelan.

Namun ia juga ingat bagaimana pria itu berdiri di bawah hujan tanpa bergerak.

Tidak marah.

Tidak putus asa.

Hanya… menerima.

Air mendidih.

Ayin menuangkan ke dalam teko, lalu menyusun cangkir di atas meja. Ia baru saja meletakkan jahe iris ketika suara langkah kaki terdengar.

Xuan muncul di ambang dapur.

Ia sudah berganti pakaian pakaian sederhana berwarna cokelat tua yang tampak sedikit kebesaran. Rambutnya diikat rapi, wajahnya bersih meski masih menyimpan kelelahan yang sulit dihapus.

Ia berhenti begitu melihat Ayin.

Seolah ragu apakah boleh melangkah lebih jauh.

“Kau bangun lebih awal,” kata Ayin akhirnya.

“Sudah terbiasa,” jawab Xuan pelan.

Ia berdiri canggung beberapa detik, lalu berkata, “Apa… ada yang bisa kubantu?”

Ayin menatapnya lama.

Ia tidak melihat kebohongan di sana.

Namun ia juga tidak melihat keseluruhan kebenaran.

“Angkat karung obat dari gudang,” katanya akhirnya. “Dan jangan sentuh yang berlabel merah.”

Xuan mengangguk. “Baik.”

Ia berbalik dan pergi tanpa bertanya.

Ayin memperhatikannya sampai menghilang di balik pintu gudang.

Ada sesuatu yang mengganggunya.

Gerakan pria itu terlalu senyap.

Terlalu terkontrol.

Seperti seseorang yang terbiasa bergerak di tempat-tempat yang tidak boleh bersuara.

Yun Ma bangun saat cahaya matahari menyentuh tirai tipis kamarnya.

Hui sudah terjaga, duduk di dadanya, menatap wajahnya dari jarak terlalu dekat.

“Krr.”

“Pagi,” gumam Yun Ma.

Hui mengibaskan ekornya sekali, lalu melompat turun.

Yun Ma duduk, merasakan sesuatu yang berbeda.

Tidak buruk.

Namun… berat.

Seolah ada arus besar yang mulai bergerak di bawah permukaan air yang selama ini tenang.

Ia keluar kamar.

Aroma jahe dan teh menyambutnya.

Ayin sedang menata rak depan, sementara Xuan terlihat mengangkat karung akar kering dengan satu tangan ringan, terlalu ringan.

Yun Ma berhenti.

Xuan menyadari kehadirannya dan segera meletakkan karung itu.

“Selamat pagi,” katanya.

“Pagi,” jawab Yun Ma.

Mereka saling menatap sejenak.

Tidak ada kilatan.

Tidak ada ledakan emosi.

Namun udara di antara mereka… menegang tipis, seperti benang halus yang ditarik terlalu kencang.

Yun Ma memalingkan wajah lebih dulu.

“Ayin,” katanya, “aku akan memeriksa ramuan pesanan keluarga Wu.”

“Baik, Nona.”

Xuan berdiri di tempatnya, ragu.

“Jika aku boleh,” katanya hati-hati, “aku bisa mengantarkan ramuan.”

Ayin langsung menoleh.

Yun Ma berpikir sejenak.

“Kau tahu jalan?” tanyanya.

“Aku… belajar cepat,” jawab Xuan jujur.

Yun Ma mengangguk. “Baik. Ayin akan menjelaskan.”

Ayin membuka mulut, lalu menutupnya kembali.

Ia tidak menyanggah.

Perjalanan ke rumah keluarga Wu berjalan tanpa kata.

Xuan berjalan setengah langkah di belakang Ayin, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Ia membawa kotak kayu dengan hati-hati—seperti membawa sesuatu yang rapuh, meski isinya hanya ramuan pahit.

Ayin meliriknya dari sudut mata.

“Kau bukan pengembara biasa,” katanya tiba-tiba.

Xuan tidak terkejut.

“Aku tidak pernah bilang aku biasa.”

“Lalu kenapa nona kami?” tanya Ayin langsung.

Xuan terdiam.

Mereka berhenti di persimpangan kecil, di bawah pohon ginkgo tua.

Daun kuning jatuh perlahan.

“Aku tidak mencarinya,” kata Xuan akhirnya. “Namun aku selalu kembali.”

“Itu bukan jawaban yang menenangkan.”

“Aku tahu.”

Ayin menatapnya tajam. “Jika kau menyakitinya—”

“Aku akan mati lebih dulu,” potong Xuan pelan.

Nada suaranya datar.

Namun Ayin merasakan sesuatu menggigil di tulang belakangnya.

Bukan ancaman.

Sumpah.

Di ruang dimensi, Shen Yu membuka mata.

Api Sunyi berdenyut lebih cepat dari biasanya.

“Ah,” gumamnya. “Ia mulai bergerak.”

Langit perak beriak.

Bayangan-bayangan samar muncul, seperti retakan di kaca yang belum pecah.

Hui duduk di sisi Shen Yu, telinganya menegak.

“Krr.”

“Ya,” kata Shen Yu. “Mereka mengamatinya.”

Ye berdiri lebih dekat dari biasanya, bayangannya memanjang, membentuk siluet yang tidak sepenuhnya menyerupai serigala.

“Jika ia membuka segelnya terlalu cepat,” lanjut Shen Yu, “dunia akan sadar.”

Api Sunyi berdenyut.

Tidak memperingatkan.

Tidak melarang.

Hanya mencatat.

Hari itu berlalu tanpa insiden.

Namun malam membawa bisikan.

Saat toko sudah tertutup dan lentera dipadamkan satu per satu, Yun Ma duduk di dekat jendela, menyeduh teh sendiri.

Xuan duduk di seberang, diam.

Ayin berada tidak jauh, berpura-pura membaca.

“Kau tidak tidur?” tanya Yun Ma.

“Belum.”

“Mimpi?”

Xuan menggeleng. “Aku jarang bermimpi sekarang.”

Yun Ma menatap cangkirnya. “Dulu?”

“Dulu… terlalu banyak.”

Hening.

“Kau tidak bertanya tentang masa laluku,” lanjut Xuan.

“Aku tidak perlu,” jawab Yun Ma lembut. “Yang penting adalah apa yang kau lakukan sekarang.”

Xuan menatapnya lama.

Lalu, untuk pertama kalinya, sudut bibirnya terangkat.

Bukan senyum bahagia.

Namun… lega.

Malam itu, seseorang bergerak di atap Kota Qinghe.

Bayangan melompat tanpa suara.

Topeng putih berkilat di bawah bulan.

“Menarik sekali,” bisiknya. “Ia belum membuka segel… tapi dunia sudah condong.”

Ia menoleh ke arah toko obat Feng Ling.

“Kalau begitu… mari kita beri alasan.”

Keesokan paginya, jeritan memecah ketenangan kota.

Seorang anak terjatuh di tengah jalan.

Tubuhnya dingin.

Napasnya nyaris tidak ada.

Kulitnya membiru perlahan.

“Racun!” teriak seseorang.

Yun Ma berlari keluar.

Ayin di belakangnya.

Xuan sudah lebih dulu sampai.

Ia berlutut, memeriksa denyut nadi anak itu.

Matanya berubah.

Sedikit.

Sangat sedikit.

Namun Yun Ma melihatnya.

“Bukan racun biasa,” kata Xuan pelan. “Ini pemanggil.”

Yun Ma menatapnya tajam. “Pemanggil apa?”

Xuan mengangkat kepala.

“Umpan." Dan di kejauhan api Sunyi berdenyut keras.

Benang takdir menegang dan permainan... baru saja dimulai.

Bersambung.

1
Cindy
lanjut kak
Shai'er
💪💪💪💪💪💪💪
Shai'er
👍👍👍👍👍
Shai'er
🙄🙄🙄🙄🙄
Shai'er
💪💪💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Shai'er
👍👍👍👍👍👍
Shai'er
😱😱😱😱
Shai'er
💪💪💪💪💪
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
🤧🤧🤧🤧🤧
sahabat pena
bener ternyata mantan ya? mantan yg menyesal dan mengejar masa depan
sahabat pena
siapa itu? apa mantan tunangan nya ya
Naviah
lanjut thor
Shai'er
puyeng 😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Shai'er
lha...... kenapa baru sekarang lu ngomong tentang keadilan 😏😏😏
Shai'er
hayoo loh😏😏😏
Shai'er
Ayin💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Naviah
ini perang narasi kah 🤔 dan siapa itu Dewan bayangan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!