NovelToon NovelToon
Apakah Itu Kamu?

Apakah Itu Kamu?

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cerai / Selingkuh / Janda / Romansa / Berondong
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suasana Mencekam

Di tengah kesunyian yang mencekam, hanya suara hujan yang menghantam kaca jendela yang terdengar. Livia berdiri mematung di tengah ruangan. Tiba-tiba, ia mendengar suara yang paling ia takuti.

Krieeet...

Suara pintu depan apartemennya terbuka perlahan. Livia membeku. Ia yakin sudah mengunci pintu itu dengan kunci ganda dan alarm. Bagaimana bisa pintu itu terbuka tanpa suara alarm?

"Ayub? Ayub, itu kamu?" tanya Livia dengan suara yang bergetar hebat. Ia berharap pemuda itu memiliki kunci cadangan atau entah bagaimana berhasil masuk untuk menyelamatkannya.

Langkah kaki itu terdengar berat, namun berirama. Bukan langkah kaki sigap seorang atlet seperti Ayub. Ini adalah langkah kaki yang menyeret, langkah kaki yang penuh dengan kebencian.

CRAAAK!

Tepat saat itu, petir menyambar dengan cahaya putih yang sangat terang di balik jendela besar apartemen. Cahaya itu menerangi ruangan selama beberapa detik, memperlihatkan siluet sesosok wanita yang berdiri di ambang pintu.

Wanita itu mengenakan baju pasien rumah sakit yang kotor dan robek-robek. Rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajahnya yang kuyu, namun matanya berkilat-kilat di balik kegelapan. Ia menggenggam sebuah potongan kaca tajam yang berkilau saat terkena cahaya petir.

Itu bukan Ayub. Itu adalah Sheila Nandhita.

"Hah... hah... Livia..." suara Sheila terdengar seperti gesekan amplas di kayu tua. Ia mulai tertawa, sebuah tawa rendah yang perlahan naik menjadi histeria yang memilukan. "Kamu pikir... apartemen ini cukup tinggi untuk menjauhkanku darimu?"

Livia menjerit histeris, mundur hingga punggungnya menghantam kaca jendela. "Sheila! Bagaimana kamu bisa masuk?! Pergi! Keluar dari sini!"

Sheila melangkah maju, perlahan, seolah sedang menikmati ketakutan yang terpancar dari wajah Livia. "Aku tidak akan pergi tanpa membawamu, Liv. Kita sudah berjanji untuk menjadi sahabat selamanya, bukan? Mari kita selesaikan ini... sekarang juga."

Sheila mengangkat potongan kacanya tinggi-tinggi. Di tengah kegelapan total, hanya suara tawa gila Sheila yang bersahutan dengan gemuruh petir di luar. Livia terjepit, tidak ada jalan keluar, dan pahlawannya masih berada di jalanan yang macet.

"TOLOOOOOONG!" jerit Livia sekuat tenaga, namun suaranya tenggelam dalam deru badai yang semakin mengganas.

****

Kegelapan di dalam unit apartemen lantai 20 itu terasa seperti cairan kental yang mencekik. Livia tidak bisa melihat apa-apa, kecuali kilatan mata Sheila yang memantulkan cahaya petir dari luar jendela. Suasana pengap oleh bau peluh, bau tanah dari baju pasien yang kotor, dan aroma logam yang tajam—aroma maut.

"Jangan mendekat, Sheila! Aku mohon!" Livia berteriak, suaranya parau karena ketakutan yang teramat sangat.

Sheila tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menerjang dalam kegelapan. Livia merasakan sebuah hantaman keras di bahunya yang membuatnya tersungkur ke lantai parket. Belum sempat ia bangkit, Sheila sudah berada di atasnya, menindih tubuhnya dengan kekuatan yang tidak masuk akal bagi seorang wanita yang tampak ringkih.

"Hahahaha! Rasakan ini, Livia! Rasakan sakitnya kehilangan!" Sheila menjerit histeris. Ia tidak menggunakan potongan kacanya untuk langsung membunuh, melainkan untuk menyayat lengan Livia secara sadis.

"ARGH!" Livia menjerit saat rasa perih yang luar biasa menghujam kulitnya. Darah mulai merembes, membasahi lantai yang dingin. Sheila tertawa melengking, suara tawanya bersahutan dengan guntur yang menggelegar di atas gedung tinggi itu. Ia mencengkeram leher Livia dengan satu tangan, sementara tangan lainnya yang memegang kaca terangkat tinggi, bersiap untuk tusukan mematikan ke arah wajah Livia.

****

Di lantai bawah, lobi apartemen tampak kacau. Listrik yang padam total membuat sistem lift tidak berfungsi. Satpam sibuk mencoba menyalakan genset, namun Attar Pangestu tidak punya waktu untuk menunggu. Ia tiba di lobi dengan napas memburu dan wajah pucat pasi.

"Livia! Di mana tangga daruratnya?!" teriak Attar pada seorang petugas.

Tanpa menunggu jawaban lengkap, Attar melesat menuju pintu tangga darurat. Ia berlari menaiki anak tangga satu demi satu. Lantai lima... lantai sepuluh... paru-parunya mulai terasa terbakar, jantungnya berdegup seolah hendak meledak dari dadanya. Namun, bayangan Livia yang bersimbah darah terus memacu kakinya untuk bergerak lebih cepat.

Di tangannya, ia menggenggam sebuah tongkat besi pendek yang ia ambil dari bagasi mobilnya—alat pertahanan diri yang biasanya hanya tersimpan sebagai pajangan.

"Tunggu aku, Livia... kumohon bertahanlah," gumamnya di sela napas yang tersengal.

Sesampainya di lantai 20, Attar menendang pintu tangga darurat hingga terbuka. Lorong apartemen gelap gulita, hanya diterangi oleh lampu senter kecil dari ponselnya yang hampir kehabisan baterai. Ia melihat pintu unit Livia menganga lebar—sebuah pemandangan yang membuat bulu kuduknya berdiri.

****

Attar merangsek masuk ke dalam apartemen. Cahaya petir yang menyambar kembali memberikan penglihatan sesaat. Di tengah ruang tamu, ia melihat siluet mengerikan: Sheila sedang menindih Livia, siap menghujamkan pecahan kaca ke dada istrinya.

"SHEILA! BERHENTI!" raung Attar.

Suara itu mengejutkan Sheila. Ia menoleh dengan wajah yang berlumuran air mata dan ingus, tampak mengerikan di bawah cahaya kilat. "Attar? Kamu datang untuk melihatnya mati?"

Attar tidak memberikan waktu bagi Sheila untuk bereaksi lebih jauh. Ia menerjang maju, mencengkeram kerah baju pasien Sheila dan menarik wanita itu menjauh dari tubuh Livia dengan sentakan yang sangat kuat. Sheila terpelanting ke samping, menghantam meja kopi hingga hancur berkeping-keping.

"Liv! Livia, kamu tidak apa-apa?!" Attar mencoba meraih Livia dalam kegelapan, namun tangannya menyentuh sesuatu yang basah dan amis. Darah. Hati Attar hancur seketika. "Ya Tuhan... Livia..."

Namun, Sheila belum selesai. Dengan kegilaan yang sudah mencapai puncaknya, ia kembali bangkit. Ia tidak lagi mengejar Livia, melainkan menerjang Attar dengan potongan kaca di tangannya. "Kalau aku tidak bisa memilikimu, tidak ada yang boleh memilikimu, Attar!"

Sheila bergerak seperti binatang buas, mencakar dan mencoba menusuk leher Attar. Attar menangkis serangan itu dengan lengannya, merasakan perih saat kaca itu menyayat kulitnya. Dalam kondisi terdesak dan gelap, Attar tidak punya pilihan lain. Ia mengangkat tongkat besi di tangannya.

BUGH!

Attar mengayunkan tongkat itu dengan sekuat tenaga, menghantam bagian belakang kepala Sheila. Suara benturan keras itu menggema di ruangan yang sunyi. Sheila terdiam seketika. Tubuhnya lemas, potongan kaca terlepas dari jemarinya, dan ia jatuh tersungkur ke lantai, tak sadarkan diri.

****

Ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara hujan yang semakin deras di luar sana. Attar menjatuhkan tongkat besinya, napasnya menderu. Ia segera merangkak menuju Livia yang terbaring lemah di sudut ruangan.

"Livia... ini aku, Attar. Kamu aman sekarang," bisik Attar dengan suara yang pecah oleh tangis. Ia mendekap kepala Livia ke dadanya, tidak peduli pada darah yang mengotori kemejanya.

Livia terisak, tubuhnya bergetar hebat. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Attar, namun di saat yang sama, memori pengkhianatan pria ini berkelebat di benaknya. "Kenapa... kenapa kamu baru datang..." tangis Livia pecah.

"Maafkan aku, Livia. Maafkan aku atas segalanya," Attar terisak, mencium dahi istrinya berkali-kali. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Maafkan aku..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!