NovelToon NovelToon
Perjalanan Menjadi Seorang Legenda

Perjalanan Menjadi Seorang Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Persahabatan / Slice of Life
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: MR. IRA

Ivan hanyalah seorang remaja dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk stadion besar dan sorotan kamera. Namun, impiannya menjulang tinggi—ia ingin bermain di Eropa dan dikenal sebagai legenda sepak bola dunia.

Sayangnya, jalan itu tidak mulus. Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, menentang keras keinginannya. Bagi sang ibu, sepak bola hanyalah mimpi kosong yang tak bisa menjamin masa depan.

Namun Ivan tak menyerah.

Diam-diam ia berlatih siang dan malam, di lapangan berdebu, di bawah hujan deras, bahkan saat dunia terlelap. Hanya rumput, bola, dan keyakinan yang menemaninya.

Sampai akhirnya, takdir mulai berpihak. Sebuah klub kecil datang menawarkan kesempatan, dan ibunya pun perlahan luluh melihat kegigihan sang anak. Dari sinilah, langkah pertama Ivan menuju mimpi besarnya dimulai...

Namun, bisakah Ivan bertahan di dunia sepak bola yang kejam, penuh tekanan dan kompetisi? Akankah mimpinya tetap menyala ketika badai cobaan datang silih berganti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Kemenangan Pertama

Begitu peluit ditiup, bola langsung bergulir. Aku berdiri diam, tapi juga siap maju ke depan "Huh... Bola masih di pegang lawan," batinku.

Aku lalu bergerak ke depan, masuk ke area pertahanan lawan. Tapi bola masih di kuasai lawan, bola langsung di tendang ke depan. Beruntung bolanya melenceng keluar lapangan.

"Prittt!!" suara peluit.

Bola dilemparkan kembali ke dalam lapangan oleh Kak Reno, dia melemparkan bolanya ke Putra. Tanpa berpikir Putra langsung mengumpan bola ke kiper.

"Bakpass ke kiper!!" suara komentator.

Saat bola datang, Andika terlihat sangat tenang. Dengan satu ayunan kaki dia langsung menendang bola ke udara.

"Tinggi," ujarku.

Bola terbang bagaikan burung. Dan dengan cepat, bola itu turun seperti sang elang. Bola itu tepat dia atasku. Aku lalu melompat dan menyundul bola.

Bola sundulanku mengarah ke Kak Teo. Dia mengontrol bola dan seketika berlari ke depan, sementara aku berlari ke depan. Masih ada tujuh lawan di pertahanannya.

"Ivan!!" teriak Kak Teo sebelum mengumpan bolanya.

Aku menoleh. Bola dengan cepat langsung mengarah ke kakiku, aku melihat gawang dan tanpa kontrol langsung menendang bola. Aku mengayunkan kakiku, bola datang dan langsung kutendang. Bola itu melesat cepat ke arah gawang, aku hanya diam sambil menunggu bola untuk masuk ke dalam gawang "Ayo," batinku.

Bola mengarah tepat ke sudut gawang, kiper terbang untuk menghalau bola. Tapi sayang, tangannya tidak dapat menyentuh bola. Bola itu masuk, membuat jaring gawang bergetar.

"Gol... Gol... Gol... Gol.... Ivan.... Nomor 17!!" seru komentator.

Aku langsung berlari ke pinggir lapangan untuk merayakan gol pertamaku ini.

"Yeayyy!!!" teriak suporter.

Hatiku sangat gembira. Wajahku senang, aku tersenyum, tanganku angkat keatas.

"Bagus," seru Pak Slamet dari pinggir lapangan.

"Ivan.... Kamu hebat!!" teriak Kak Reno.

"Ya, gol pertama di dapat Medika Jaya dari seorang anak bernomor punggung 17. Ivan Alfarizi!!!" ujar komentator.

"Gol indah tercipta di menit 87," seru komentator.

Aku masih gembira, wajahku tak dapat membendung kesenenganku. Setelah puas berselebrasi, aku lalu kembali ke posisiku "Gol pertamaku ini akan selalu kukenang," gumamku sambil berjalan.

"Ivan, gol yang indah!!" seru Kak Teo.

"Iya, tapi kan itu terjadi karena umpanmu!!" seruku menjawab pujian dari Kak Teo.

"Lumayan," sahut Kak Egy dengan ekspresi tak acuh.

Aku kembali fokus ke pertandingan.

"Prittt!!" suara peluit.

Bola ditendang lawan, bola itu bergulir. Pemain lawan masih menguasai bola, nomor punggung 23 mengumpan ke belakang. Bola diterima, dan langsung digulirkan lagi ke depan, tanpa basa-basi mereka langsung menyerang dengan agresif.

Aku turun untuk ikut membantu pertahanan timku. Andika terlihat waspada di bawah mistar gawangnya, Azzam terus membayang-bayangi lawan yang membawa bola. Dia berhasil membuat bola melawat kepala Azzam, dan langsung berlari lagi mendekati kotak penalti.

Putra terlihat berlari mendekat ke lawan yang tengah menguasai bola, tanpa ragu dia langsung menekel pemain itu. Lawan terjatuh, bola berhasil dibuang dan gawang kembali aman.

Lemparan kedalam untuk lawan. Lawan dengan cepat melempar bola kedalam, bola itu berhasil dikuasai lawan lagi. Tapi, Azzam tanpa ragu langsung menekelnya. Dia berhasil merebut bola dan langsung membuangnya jauh ke depan.

"Sebentar lagi... Kita menang!!" gumamku sambil berlari ke arah bola yang dibuang Azzam.

Dan saat aku berlari, tiba-tiba...

"Pritttttttttttt!!!" suara peluit panjang, tanda berakhirnya pertandingan ini.

Aku diam, berhenti berjalan. Lalu berlari ke arah pinggir lapangan untuk merayakan kemenangan ini "Yeayyyy.... Menang!!" tariakku sambil berlari.

"Ya, laga hari ini dimenangkan oleh.... Medika Jaya dengan skor 1-0. Medika Jaya berhasil, mereka akan melaku ke babak perempat final!!!" seru komentator.

"Ivan... Ivan... Ivan!!" teriak para suporter.

"Ivan... Ivan... Ivan!!" teriak para suporter.

"Ivan... Ivan... Ivan!!" teriak para suporter.

"Ivan!!" teriak Michel dari bangku cadangan.

"Bagus... Pertandingan kali ini, kita menang!!" ucap Kak Reno sambil menepuk pundakku.

Aku menoleh ke Kak Reno "Iya, pertandingan berikutnya kita harus menang!!" seruku.

"Yaudah, kita mending ke ruang ganti!!" seru Kak Reno.

"Iya," ujarku.

Kami lalu berjalan bersama menuju ruang ganti, kakiku lelah, tubuhku juga lelah, tapi aku senang dan bahagia. Setibanya di ruang ganti, kami semua lalu mengganti baju.

"Semuanya, selamat... Pertandingan kali ini kalian menang," seru Pak Slamet sambil bertepuk tangan kecil.

"Iya, untuk merayakannya kalian akan diberikan uang sebesar lima pulih ribu rupiah per orang dari pihak sekolah!!" ujar Pak Nur.

"Yeayyyy!!" ujar Kak Alfian.

"Cuma segitu?!" celetuk Kak Egy.

"Itu udah lumayan, Kak!!" sahut Michel.

"Jika kalian mau lebih, pertama kalian harus bisa menjuarai turnamen ini!!" celetuk Pak Slamet.

"Siap, Pak!!" jawab kami semua.

"Yasudah, kita pulang!!" seru Pak Slamet.

Kami semua lalu berjalan menuju bus untuk pergi meninggalkan stadion. Aku duduk di kursi bus, minum, dan bernapas dengan perlahan.

"Glug... Glug... Glug!!" suaraku saat meminum air.

"Semoga perjalanan pulang lancar ya, anak-anak!!" ujar Pak Nur.

"Semoga," batinku.

Bus mulai berjalan. Pertandingan pertamaku sangat hebat, seru, dan menegangkan.

"Van, tadi gol kamu bagus banget!!" celetuk Andika yang duduk di belakangku.

"Iya," sahut Kak Alfian yang duduk di sampingku.

Aku tertawa kecil, lalu menggaruk kepalaku "Biasa aja, kok!!" jawabku sambil malu-malu.

"Itu udah bukan lagi biasa, tapi luar biasa!!" ujar Andika.

"Hehehehe!!" aku tertawa pelan.

"Anak-anak, nanti kita turun di sekolah!!" ujar Pak Nur.

"Baik, Pak!!" jawab kami semua.

"Kring... Kring... Kring!!" suara ponselku.

Aku lalu mengambil ponselku dan langsung mengangkat teleponnya "Ibu?!" batinku sebelum menjawab teleponnya.

"Halo, Bu. Ada apa?!" tanyaku memulai obrolan.

"Kamu dimana?!" tanya ibu dengan nada khawatir.

"Em... Aku di.... Di rumah Andika, Bu!!" jawabku gugup.

"Ibu, udah pulang?!" tanyaku.

"Iya, kamu cepet pulang. Kakek ada di rumah kita!!" seru Ibu.

"Iya," jawab singkatku.

Panggilan lalu ditutup, aku kembali menyimpan ponselku. Duduk, diam, tenang, tapi tubuhku sangat lelah.

Bus melaju dengan cepat. Setibanya di sekolah.

"Anak-anak, terimakasih atas perjuangan kalian hari ini. Untuk yang yang bapak bilang tadi, diberikan besok senin ya!!" seru Pak Nur.

"Baik," sahutku.

Aku turun dari bus, mengambil ponselku lagi untuk melihat jam "16.21, udah sore!!" batinku.

"Tunggu... Tadi ibu telepon aku jam 14.30... Aduh, ibu pasti curiga!!" seruku.

Aku menyimpan ponselku kembali ke dalam tas, laku berlari ke rumah sekuat tenaga.

"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kakiku yang tengah berlari.

"Ah... Ah... Ah..." suara napasku.

Aku tiba di depan rumah. Aku berhenti berlari, mendekat ke pintu, lalu melepaskan sepatuku. Setelah sepatuku dilepaskan, aku lalu memberanikan diri untuk masuk. "Huh... Kalau ibu marah, aku harus menjelaskan... Jika ibu tambah marah, aku harus diam!!" batinku sebelum melangkah masuk.

Jadi, bagaimana kelanjutan Ivan. Apa dia akan dimarahi ibu dan kakeknya, atau malah sebaliknya?!

Bersambung...

1
Khunaiv Mumtaz
Kasian Ivan, sampai pingsan. Pak Slamet tegas banget
IRAWAN
Sabtu
Protocetus
kapan min kejuaraannya?
aurel
hai Thor aku sudah mampir, yuk mampir juga di karya aku " istriku adalah kakak ipar ku"
Protocetus
min up spesial Agustus 😁
IRAWAN: Ehm... Iya, tamat chapter 1 di bab 20 nanti. Chapter 2 menunggu
total 5 replies
IRAWAN
Maaf bang, masih sibuk ngurusin proker
Protocetus
min up
Khunaiv Mumtaz
Ehem... Ternyata Ivan lahir di keluaga pesepak bola/Shy/
Khunaiv Mumtaz
Makin kesini, ceritanya makin bagus. Semangat Thor/Determined//Determined/
Protocetus
up lagi bang
IRAWAN: Sabar kak, bisanya perhari satu bab. Kalau lagi ada kegiatan mungkin dua-tiga hari baru up, Maaf ya kak/Pray/
total 1 replies
IRAWAN
/Smile//Sleep/
Crimson
Min walau aku gak terlalu suka bola tapi aku support hehe
IRAWAN: makasih dukungannya kak, tapi ini bukan cuma tentang bola
total 1 replies
Protocetus
Anda terlalu percaya diri 😂
IRAWAN: Ehem... Bisa aja kak, siapa tau Elena sama Nadia suka Ivan/Smile/
total 1 replies
Protocetus
No System2, Only Hard Work 🔥
Protocetus: Of Course Work Hard 👍
total 2 replies
Protocetus
udah ikutin aja karir 🔥
Protocetus
Aku kira idolanya Gareth Bale 😂
IRAWAN: Juara tiga, ya sama aja nggak juara. Soalnya nggak dapet piala, cuman dapet medali
total 5 replies
IRAWAN
Masih enjoy?
Jinki
bagus kak .. smgt .. mampir ya
IRAWAN: Siap kak
total 1 replies
iqbal nasution
oke
Protocetus
ini gak ada sistem kan?
Protocetus: sip 🔥
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!