Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.
Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”
Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 Kak Dira Marahan, Ya?
Melihat sosok laki-laki yang biasanya tenang tanpa ekspresi. Kini tampak gugup dengan bola mata menatap sekitar.
Jelas Dira berpikir keras mencoba mencari tahu alasan dia berada di tempat sama dengannya. Membuat Dira berinisiatif menghampiri sosok tersebut. Meskipun hatinya deg-degan serta berkeringat dingin.
“Kamu kenapa berada di…”
“Pagi, Ndan Faza.”
“Eh, maksudnya Mas Faza baru datang?”
Suara asisten rumah tangga yang baru keluar dari rumah. Langsung mengalihkan perhatian Dira.
Mengenyampingkan rasa penasaran yang sebelumnya dirinya rasakan untuk menghampiri Faza. Karena tampak jelas jika pekerja di rumah besar itu mengenal baik Faza.
“Iya, Mbok,” jawab Faza tanpa melihat sedikitpun kearah Dira.
“Kenapa Mas Faza berdiri di depan saja? Seperti tamu. Langsung masuk ke rumah saja, Mas,” Simbok sambil tersenyum.
“Di dalam ada Non Anjana, pasti senang kedatangan Pak Lek-nya.”
Ucapan dari asisten rumah tangga tentang Faza kembali mencuri perhatian Dira. Apalagi kata-kata Pak Lek Anjana, sosok gadis mungil yang akan jadi murid les Dira.
“Pak Lek-nya, Non Anjana? Berarti dia adiknya Bu Manik,” gumam Dira menjawab pertanyaan sendiri.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun ke Dira. Dengan langkah kaki panjang Faza berlalu masuk ke rumah mewah Manik. Meninggalkan Dira dengan segala pertanyaannya.
“Mbak Dira ya?”
Suara simbok asisten rumah tangga menyadarkan Dira dari lamunannya. Membuat Dira mengalihkan pandangan dari Faza yang mulai menghilang dari pandangan.
“Eh, benar, Bi.”
“Panggil Simbok saja. Biar sama dengan yang lainnya.”
“Baik, Mbok.”
“Mau mengajar privat untuk Non Anjana?”
“Benar, Mbok.”
“Mari masuk!”
“Baik.”
Sesuai dengan arahan simbok asisten rumah tangga Manik. Dira masuk ke area living room setelah melewati foyer luas dan mewah. Benar-benar gambaran rumah orang kaya.
“Silahkan duduk, Mbak Dira. Nanti Bu Manik akan datang menemui.”
“Baik, Mbok.”
“Mau minum apa?”
“Gak perlu repot-repot, Mbok.”
Simbok asisten rumah tangga Manik hanya tersenyum melihat sikap malu-malu Dira.
“Berarti Simbok bikin minuman apapun untuk Mbak Dira.”
“Terserah Simbok saja,” balas Dira gak enak hati.
Setelah menawarkan minuman untuk Dira. Simbok asisten rumah tangga pergi masuk ke area dalam rumah.
Namun, baru juga beberapa langkah menjauh. Dira buru-buru memanggil asisten rumah tangga Manik.
“Mbok!” panggil Dira cepat.
“Iya, Mbak Dira, ada yang bisa Simbok bantu?”
“Mmm, Simbok kenal dengan Faza?” tanya Dira hati-hati.
“Maksudnya Mas Faza adiknya Bu Manik?”
Sesuai dugaan Dira jika Faza adik dari Manik. Membuat Dira semakin bersemangat mencari informasi tentang Faza.
“Benar, Simbok kenal?”
Pertanyaan Dira membuat Simbok tersenyum geli. Karena dirasa aneh.
“Jelas saja Simbok kenal Mas Faza. La wong Mas Faza adiknya Bu Manik. Mbak Dira kalau tanya kok ada-ada saja,” jawab Simbok sambil tersenyum. Hingga Dira merasa malu melontarkan pertanyaan aneh.
“Mas Faza orangnya ganteng ya?” pertanyaan tiba-tiba Simbok membuat wajah Dira memerah seperti kepiting rebus.
“Wajar jika banyak yang suka termasuk Mbak Dira. Hahahaha,” tutur Simbok sambil tertawa.
Tawa Simbok menanggapi pertanyaan Dira, benar-benar membuat ia merasa sangat malu. Apalagi Simbok menganggapnya memiliki perasaan terhadap Faza.
“Maaf, Simbok melepas tawanya.”
Dira hanya diam saja, bingung harus bicara apa. Karena ujung-ujungnya pasti ia akan malu sendiri.
“Oh iya, maaf ya Mbak Dira. Simbok tidak bisa menemani ngobrol panjang lebar. Saya izin masuk untuk memberi kabar ke Bu Manik jika Mbak Dira sudah datang. Lain kali ya kita ngobrol tentang Mas Faza ya.”
Dira kembali diam. Karena sikap itulah yang terbaik saat ini.
“Silahkan duduk, Mbak.”
“Baik, terima kasih banyak, Mbok.”
Sepeninggal Simbok keluar memanggil Manik. Dira mendudukkan tubuhnya di kursi empuk sesuai ucapan Simbok.
Rasa malu kini berganti senyum berkembang. Ketika merasakan empuknya sofa yang baru pertama kali diduduki.
“Semoga suatu saat nanti aku bisa membeli sofa empuk seperti ini buat Mbah. Agar Mbah tidak duduk di kursi kayu, Aamiin.”
Sambil menunggu kedatangan sang nyonya rumah. Dira mengawasi sekitar ruangan yang tersambung dengan area living room.
Karena rumah kediaman Manik dikelilingi kebun dan taman terbuka. Dira bisa merasakan udara segar yang dihasilkan dari tanaman di taman dalam. Hingga tidak sengaja pandangan matanya menangkap Faza.
Sosok laki-laki misterius itu tengah berbicara dengan sosok gadis mungil mengenakan tas di punggungnya.
“Apakah gadis itu yang bernama Non Anjana?” gumam Dira bertanya-tanya.
Hingga tanpa sadar senyum di wajah cantik Dira terangkat saat melihat sosok itu dari arah samping.
“Sepertinya dia sangat lucu,” gumam Dira kembali saat melihat sosok mungil dengan gaya centil.
Karena terlalu fokus dengan interaksi Faza dengan sosok yang diyakini sebagai Anjana. Hingga Dira tidak menyadari jika sang nyonya rumah tepat berdiri di belakangnya.
“Ahem.”
Suara deheman lembut yang berasal dari belakang. Mengalihkan Dira dari interaksi antara Faza dan sosok mungil, cantik nan centil.
Wajahnya tampak gugup seperti seorang maling yang ketahuan mencuri pandang ke Faza.
“Apakah namamu Dira?” tanya sosok perempuan cantik dengan wajah blasteran Eropa.
“I-iya, Nona.”
Karena sosok perempuan cantik di hadapannya masih tergolong muda. Dira lebih memilih memanggil Nona. Takut jika sampai menyinggung anggota keluarga.
Mendengar panggilan yang diberikan oleh Dita. Perempuan cantik itu langsung tersenyum.
“Silahkan duduk, Dira!” pinta sosok perempuan cantik itu.
“Baik, Nona,” ucap Dira yang lagi-lagi membuat sosok perempuan cantik itu tersenyum.
“Apakah aku masih terlihat muda? Hingga membuatmu memanggilku Nona?” tanya sosok tersebut sambil menggoda.
“Iya, Anda terlihat sangat cantik dan muda,” jawab Dira jujur.
“Terima kasih banyak atas pujian yang kamu berikan padaku, Dira. Tapi, panggil aku Bu Manik saja.”
Dira langsung terdiam tidak percaya jika sosok perempuan cantik di hadapannya adalah nyonya pemilik rumah. Hal itu jelas membuat Dira salah tingkah.
“Baik, Bu Manik.”
Wajah kagum langsung menggelayuti diri Dira tentang sosok perempuan cantik dengan wajah blasteran bernama Manik.
Benar-benar sosok perempuan cantik, baik hati, lembut serta attitude luar biasa. Benar-benar sangat jarang dimiliki orang kaya.
Tapi, dari rasa kagum itu terselip rasa penasaran menggelayuti diri Dira yang semakin kuat. Perbedaan wajah yang cukup mencolok antara Manik dan Faza menimbulkan pertanyaan baru.
‘Jika memang Bu Manik dan Faza bersaudara, kenapa wajah mereka berbeda?’ batin Dira sibuk dengan pemikirannya yang semakin sulit terkendali.
‘Jika wajah Bu Manik condong ke bule-bulean. Lain halnya dengan Faza yang cenderung ke arah Asia,’ batin Dira kembali.
‘Meskipun keduanya sama-sama cantik dan tampan. Tapi, tetap saja perbedaan ini sangat jelas terlihat,’ lanjut Dira yang wajahnya memerah saat mengatakan Faza tampan.
Perubahan wajah Dira yang memerah menahan malu. Serta tatapan matanya mengawasi sekitar rumah untuk mencari keberadaan foto keluarga. Tentu saja mencuri perhatian Manik.
“Dira!”
“Eh iya, Bu.”
“Kamu sedang melamun?”
“Tidak, Bu. Saya hanya mengawasi rumah Bu Manik yang besar. Kalau saya ke kamar mandi pasti kesasar,” jawab Dira asal.
Kalau boleh jujur, ingin rasanya Dira bersembunyi. Dirinya benar-benar sangat malu apalagi ucapan spontan diluar pemikiran.
“Kalau mau ke kamar mandi, bisa tanya sama pegawai yang lainnya. Pasti akan diantar selamat sampai tujuan tanpa kesasar,” jawab Manik sambil tersenyum.
“Baik, Bu.”
“Karena sudah tiba waktunya memulai kegiatan. Langsung saja aku kenalkan kamu dengan putriku.”
“Baik, Bu.”
Manik langsung melambaikan tangannya ke arah Faza, yang tengah bermain dengan sosok mungil dengan wajah cantik. Tanpa sadar Faza menatap kearah Dira. Mereka sama-sama saling tatap.
“Bawa Anjana masuk, Za.”
“Iya, Mbak.”
Sesuai dengan perintah Manik. Faza menggendong Anjana masuk. Membuat tawa riang Anjana memenuhi ruangan.
“Mama, Pak Lek Faza main,” teriak bahagia Anjana yang digendong Faza di pundak.
“Ih, cantiknya Mama manja sekali sama Pak Lek Faza. Ayo cepat turun! Kakak Dira sudah datang dan siap mengajar cantiknya Mama.”
“Hihihi, kan Anjana jarang ketemu sama Pak Lek. Jadi, Anjana hari ini minta dimanja,” ucap cerewet sosok si cantik Anjana.
“Tapi, hari ini jadwal Anjana belajar dengan kakak Dira,” jelas Manik.
“Anjana belum kenal sama Kak Dira, kan? Ayo cepat turun! Mama kenalin sama Kak Dira.”
Sesuai dengan perintah yang diucapkan oleh Manik. Faza menurunkan Anjana secara hati-hati.
“Ayo kenalan sama Kak Dira!”
“Baik, Mama.”
Dengan mata bulatnya Anjana mengawasi Dira dari ujung kepala sampai kaki. Hal lumrah yang selalu dilakukan oleh Anjana setiap berkenalan dengan orang baru. Tanpa sadar tindakan Anjana membuat kepercayaan diri Dira langsung terjun bebas.
‘Kenapa Non Anjana melihatku dan Faza secara bergantian? Kenapa perasaanku tidak enak?’ batin Dira tidak tenang.
Tatapan mata Anjana yang mungkin bagi banyak orang biasa saja. Tapi, tidak bagi Dira yang menganggap jika sosok mungil dengan wajah cantik itu sedang mencoba membaca pribadi dirinya.
Hingga Manik harus mengambil kendali suasana agar tidak kaku. Sebab, hal itu jelas akan membuat Dira menjadi kurang nyaman. Apalagi Dira adalah sosok rekomendasi dari Miss Panda yang merupakan sahabat baiknya.
“Dira, tolong jangan tersinggung dengan sikap Anjana. Putri kecilku memang selalu waspada terhadap orang yang baru dikenal.”
“Tidak apa, Bu. Apa yang dilakukan oleh Non Anjana sangat lumrah dan justru hebat di usianya. Karena harus berhati-hati dengan orang baru dan tidak sembarangan dekat dengan orang asing.”
“Terima kasih banyak Dira yang sudah mencoba memahami putriku.”
“Kakak Dira lagi marahan sama Pak Lek Faza, ya?”
Ucapan tiba-tiba Anjana diluar perkiraan siapapun. Langsung membuat Dira terdiam, matanya melotot dan jantungnya berdetak tidak karuan.
Hingga membuat Faza langsung memalingkan pandangannya ke arah lain sebagai respon enggan menanggapi ucapan Anjana.
“Hufff!”
Hembusan nafas panjang yang keluar dari mulut Faza. Menandakan jika Faza tidak bisa berkutik saat ini. Diam adalah pilihan paling tepat.
Anjana benar-benar menjadi sosok sangat berbahaya dan juga diluar kendali siapapun. Mungkin begitu yang ada di dalam hati dan pikiran Dira maupun Faza.
Sebab, Anjana bisa mengenali Dira meskipun belum pernah sekalipun bertemu sebelumnya. Jika Dira dan Faza sama-sama saling mengenal meskipun tidak saling bersalam sapa.
Ceritanya keren 👍