NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Data yang Hilang

Malam di Makassar yang semula tenang berubah menjadi penuh ketegangan hanya dalam hitungan detik.

Almira dan Reynard berdiri di lorong hotel, menatap layar tablet yang disodorkan salah satu staf proyek.

Angka-angka itu terlihat sederhana.

Namun bagi mereka yang memahami dunia bisnis dan distribusi, angka tersebut bagaikan alarm bahaya yang berbunyi keras.

Sangat keras.

"Ini laporan terbaru?" tanya Reynard.

Suaranya tenang.

Terlalu tenang.

Dan semua orang yang mengenalnya tahu bahwa itu justru pertanda buruk.

"Iya, Pak."

Staf tersebut mengangguk gugup.

"Baru masuk tiga puluh menit lalu."

Almira mengambil tablet itu.

Matanya bergerak cepat menelusuri data.

Jumlah barang yang dikirim.

Jumlah barang yang diterima.

Data gudang.

Data distribusi.

Data penerimaan.

Semua tampak normal...

Sampai pada bagian tertentu.

Dan di situlah masalahnya berada.

"Selisihnya hampir lima belas persen."

Staf itu mengangguk pelan.

"Benar, Bu."

Lima belas persen.

Angka yang terdengar kecil bagi orang awam.

Namun dalam proyek berskala besar, lima belas persen bisa berarti kerugian miliaran rupiah.

Atau lebih buruk.

Kehilangan kepercayaan.

Beberapa menit kemudian mereka berkumpul di ruang rapat kecil hotel.

Beberapa anggota tim proyek dipanggil kembali.

Laptop dibuka.

Dokumen dicetak.

Telepon mulai berdering ke berbagai arah.

Suasana yang sebelumnya santai berubah menjadi ruang krisis.

Almira duduk di salah satu sisi meja.

Reynard di sisi lainnya.

Namun kali ini tidak ada candaan.

Tidak ada perdebatan ringan.

Yang ada hanyalah fokus.

"Saya ingin semua data pengiriman dua minggu terakhir."

"Siap, Pak."

"Hubungi pihak gudang pusat."

"Baik, Bu."

"Periksa kembali jalur distribusi."

"Siap."

Perintah diberikan bertubi-tubi.

Dan seluruh tim langsung bergerak.

Satu jam berlalu.

Namun bukannya semakin jelas, masalah justru semakin membingungkan.

Karena semua dokumen terlihat benar.

Tidak ada yang mencurigakan.

Tidak ada transaksi aneh.

Tidak ada tanda-tanda manipulasi.

Secara administratif semuanya sempurna.

Terlalu sempurna.

Almira mulai merasa tidak nyaman.

"Ini aneh."

Reynard mengangguk.

"Sangat aneh."

"Kalau ada kehilangan barang, seharusnya ada jejaknya."

"Kalau ada kesalahan pencatatan, juga seharusnya terlihat."

"Kalau ada pencurian?"

"Biasanya lebih mudah ditemukan."

Mereka saling menatap.

Lalu sampai pada kesimpulan yang sama.

Masalah ini bukan masalah biasa.

Pukul sebelas malam.

Sebagian besar anggota tim mulai terlihat lelah.

Namun Almira dan Reynard masih duduk di depan laptop masing-masing.

Menganalisis data.

Membandingkan laporan.

Mencari pola.

Dan semakin lama mereka mencari, semakin banyak kejanggalan yang muncul.

Sampai akhirnya Almira menemukan sesuatu.

"Tunggu."

Reynard langsung menoleh.

"Ada apa?"

Almira memperbesar salah satu file.

"Data ini."

"Apa yang salah?"

"Lihat waktu unggahnya."

Reynard mendekat.

Kursinya bergeser hingga berada di samping Almira.

Keduanya menatap layar yang sama.

"Waktu unggahnya berbeda."

"Empat puluh menit."

"Dan seharusnya tidak mungkin."

Almira mengangguk.

Karena sistem yang mereka gunakan bekerja secara otomatis.

Data harus masuk secara real-time.

Bukan empat puluh menit kemudian.

Untuk beberapa detik mereka terdiam.

Lalu Reynard tersenyum tipis.

Bukan senyum bahagia.

Melainkan senyum seseorang yang baru menemukan petunjuk.

"Akhirnya."

"Akhirnya apa?"

"Kita punya sesuatu yang bisa ditelusuri."

Malam semakin larut.

Namun semangat mereka justru kembali muncul.

Mereka mulai memeriksa setiap data yang masuk terlambat.

Setiap laporan yang memiliki pola serupa.

Setiap transaksi yang tampak tidak penting.

Dan perlahan sebuah pola mulai terbentuk.

Beberapa laporan selalu terlambat.

Selalu berasal dari jalur distribusi yang sama.

Dan selalu melibatkan gudang yang sama.

Gudang wilayah pesisir.

"Ini terlalu konsisten untuk disebut kebetulan."

Almira menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Matanya mulai lelah.

Namun pikirannya tetap bekerja.

Reynard mengangguk.

"Aku setuju."

Kemudian ia melihat jam.

Hampir tengah malam.

"Kamu harus istirahat."

Almira menatapnya seolah baru saja mendengar lelucon.

"Kamu juga."

"Aku serius."

"Aku juga."

Hening.

Lalu mereka berdua tertawa kecil.

Karena bahkan dalam situasi seperti ini, mereka masih bisa berdebat.

Pada akhirnya mereka memutuskan berhenti sementara.

Bukan karena masalah selesai.

Tetapi karena otak manusia tetap memiliki batas.

Mereka kembali ke suite.

Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Makassar, suasana terasa cukup berat.

Almira berjalan menuju balkon.

Membutuhkan udara segar.

Beberapa menit kemudian, Reynard muncul membawa dua botol air mineral.

Bukan kopi kali ini.

"Ini."

Almira menerimanya.

"Terima kasih."

"Kita terlalu banyak minum kopi."

"Benar."

Mereka berdiri berdampingan.

Memandang lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan.

"Aku benci masalah yang tidak masuk akal."

Almira akhirnya membuka suara.

Reynard tersenyum kecil.

"Aku juga."

"Kamu tahu kenapa?"

"Karena tidak bisa diselesaikan dengan cepat?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Karena membuatku terus memikirkannya."

Reynard tertawa pelan.

"Itu memang masalahmu."

"Apa maksudmu?"

"Kamu tidak bisa berhenti sampai menemukan jawabannya."

Almira hendak membantah.

Namun kemudian berhenti.

Karena sayangnya itu benar.

"Aku penasaran."

Kali ini Reynard yang berbicara.

"Apa?"

"Kamu memang selalu seperti ini?"

"Seperti apa?"

"Perfeksionis."

Almira berpikir sejenak.

"Mungkin."

"Mungkin?"

"Waktu kecil aku pernah menangis karena nilai sembilan puluh delapan."

Reynard langsung menoleh.

"Kamu serius?"

"Iya."

"Dua poin?"

"Dua poin."

Reynard tertawa keras.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Almira ikut tertawa.

"Jangan menertawakanku."

"Itu lucu."

"Itu trauma masa kecil."

"Itu tetap lucu."

Perlahan suasana kembali ringan.

Mereka mulai bercerita tentang masa sekolah.

Tentang kesalahan-kesalahan konyol yang pernah dilakukan.

Tentang tekanan menjadi anak tunggal pewaris keluarga besar.

Tentang bagaimana orang sering menganggap hidup mereka sempurna.

Padahal kenyataannya tidak.

"Aku pernah kabur dari rapat keluarga."

Reynard tiba-tiba berkata.

Almira mengangkat alis.

"Kamu?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Aku bosan."

"Itu alasan yang buruk."

"Aku berumur enam belas tahun."

"Itu masih alasan yang buruk."

Mereka kembali tertawa.

Dan tanpa sadar, waktu berlalu begitu cepat.

Sampai akhirnya ponsel Reynard berdering.

Nama asistennya muncul di layar.

Senyumnya langsung menghilang.

"Ya?"

Beberapa detik kemudian ekspresinya berubah serius.

Sangat serius.

Almira langsung menyadari sesuatu.

"Ada apa?"

Reynard menutup telepon.

Lalu menatapnya.

"Kita punya masalah baru."

Setengah jam kemudian mereka kembali berada di ruang rapat hotel.

Kali ini hanya berdua.

Tidak ada staf.

Tidak ada anggota tim lain.

Hanya mereka.

Dan sebuah laptop di atas meja.

"Lihat ini."

Reynard memutar layar.

Almira membaca data yang ditampilkan.

Lalu membeku.

"Ini..."

"Iya."

Data yang hilang bukan hanya terjadi di Makassar.

Pola yang sama mulai muncul di beberapa wilayah lain.

Jumlahnya kecil.

Hampir tidak terlihat.

Namun jika digabungkan...

Nilainya sangat besar.

"Itu berarti ini bukan kesalahan lokal."

"Benar."

"Bukan masalah gudang."

"Benar."

"Bukan masalah staf lapangan."

"Benar."

Almira menghela napas panjang.

Karena sekarang kesimpulannya jauh lebih mengkhawatirkan.

Seseorang sedang memainkan sistem mereka.

Dengan sengaja.

Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.

Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.

Karena jika dugaan itu benar, maka proyek yang sedang mereka bangun menghadapi ancaman yang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.

Dan yang lebih buruk...

Mereka belum tahu siapa pelakunya.

Pukul satu dini hari.

Mereka akhirnya menyusun laporan sementara.

Belum ada kesimpulan final.

Namun setidaknya ada arah investigasi yang jelas.

Ketika pekerjaan selesai, Almira menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Benar-benar lelah.

"Sekarang aku ingin tidur selama seminggu."

Reynard tertawa kecil.

"Itu rekor."

"Apa?"

"Kamu mengaku lelah."

"Aku manusia normal."

"Aku mulai meragukannya."

Almira melemparkan pena ke arahnya.

Reynard menangkapnya dengan mudah.

Ketika mereka berjalan kembali menuju suite, suasana terasa jauh lebih tenang.

Masalah memang belum selesai.

Justru semakin besar.

Namun entah kenapa, keduanya tidak merasa menghadapi semuanya sendirian.

Dan perasaan itu cukup menenangkan.

Sesampainya di depan pintu suite, Almira berhenti.

"Kita akan menyelesaikan ini."

Reynard menoleh.

"Bukan pertanyaan?"

"Bukan."

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, keyakinan dalam suara Almira terdengar begitu jelas.

Reynard tersenyum tipis.

"Ya."

"Kita akan menyelesaikannya."

Namun jauh di tempat lain, seseorang sedang menatap layar komputer.

Seseorang yang baru saja menerima laporan bahwa investigasi mulai mengarah ke jalur yang benar.

Dan orang itu tidak terlihat senang.

Sama sekali tidak.

Sebuah tangan perlahan menutup laptop.

Lalu suara pelan terdengar di ruangan gelap.

"Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraan."

Hening.

Kemudian senyum tipis muncul.

"Menarik."

Orang misterius itu berdiri.

Dan untuk pertama kalinya, permainan yang sebenarnya mulai bergerak.

Karena data yang hilang hanyalah permulaan.

Masih ada sesuatu yang jauh lebih besar tersembunyi di balik proyek tersebut.

Sesuatu yang akan mengubah hubungan Almira dan Reynard.

Sekaligus menguji kepercayaan yang baru mulai tumbuh di antara mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!