NovelToon NovelToon
The Duchess Of Silent Tears

The Duchess Of Silent Tears

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Darah di Salju Putih

Sentuhan itu masih tertinggal di pipi Elara, seperti jejak panas yang tak kasat mata.

Elara berdiri di depan cermin kamarnya, ujung jarinya menyentuh kulit wajahnya sendiri, tepat di tempat punggung jari Kaelen mendarat kemarin sore.

Itu adalah sentuhan yang berlangsung kurang dari satu detik—sebuah kilatan impulsif dari pria yang selama ini membentengi dirinya dengan es. Namun, dampaknya bagi Elara lebih dahsyat daripada gempa bumi.

Untuk sesaat, hanya sesaat, ia melihat pria di balik topeng Iblis Utara. Pria yang kesepian, yang merindukan koneksi, namun terlalu takut untuk memintanya.

"Jangan terlalu berharap, Elara," bisiknya pada pantulan dirinya yang bermata lebar. "Satu sentuhan tidak menghapus lima tahun duka."

Pintu kamar diketuk pelan. Silas masuk dengan wajah yang sedikit muram. Nampan sarapan di tangannya berisi menu standar, namun ada satu hal yang hilang: kehadiran suaminya.

"Tuan Duke tidak akan sarapan bersama Nyonya pagi ini," lapor Silas sebelum Elara sempat bertanya, seolah ia sudah bisa membaca pikiran Duchess mudanya.

Elara berbalik, kekecewaan menusuk dadanya, tajam dan cepat. "Kenapa? Apakah dia sakit? Atau marah soal insiden botol ramuan itu?"

"Bukan keduanya, Nyonya," Silas meletakkan nampan itu di meja. "Tuan Duke berangkat ke Hutan Besi satu jam yang lalu. Ada laporan tentang kawanan Frost Wolves (Serigala Beku) yang mulai turun gunung dan menyerang penebang kayu. Beliau memimpin perburuan untuk memukul mundur kawanan itu."

"Hutan Besi," ulang Elara. Ia pernah melihatnya di peta. Hutan pinus raksasa di sebelah utara kastil, tempat pohon-pohonnya begitu keras hingga kapak biasa akan patah jika mencoba menebangnya. Itu adalah wilayah berbahaya.

"Dia pergi tanpa pamit," gumam Elara.

"Beliau... beliau tampak gelisah pagi ini, Nyonya," Silas mencoba menjelaskan dengan hati-hati. "Beliau seperti orang yang sedang melarikan diri dari sesuatu. Beliau bahkan tidak menghabiskan kopinya."

Elara mengerti. Kaelen melarikan diri darinya. Atau lebih tepatnya, melarikan diri dari apa yang ia rasakan kemarin. Keintiman itu menakutkannya, jadi dia kembali ke satu-satunya hal yang dia mengerti dengan baik: kekerasan dan pembunuhan. Dia pergi membunuh serigala untuk membunuh perasaannya sendiri.

Elara menatap jendela. Salju turun lebat di luar.

"Siapkan kuda, Silas," perintah Elara tiba-tiba.

Mata Silas membelalak. "Nyonya? Hutan Besi bukan tempat piknik. Di sana ada predator, badai, dan..."

"Aku tidak akan piknik," potong Elara sambil berjalan menuju lemari pakaiannya, menarik keluar jubah berburu tebal berbahan kulit beruang yang ia temukan kemarin. "Aku butuh tanaman obat. Arnica gunung dan Winterberry hanya tumbuh di pinggiran Hutan Besi. Persediaan di klinik menipis, dan aku tidak akan menunggu pedagang datang minggu depan."

Itu alasan yang valid, tapi mereka berdua tahu itu hanya separuh kebenaran. Elara tidak mengejar tanaman. Dia mengejar suaminya.

"Tapi Tuan Duke akan marah besar..."

"Biarkan dia marah," Elara mengikat tali jubahnya dengan simpul mati yang kuat. "Lebih baik dia marah padaku daripada dia mati kedinginan sendirian di hutan karena tidak ada yang mengingatkannya untuk pulang."

Satu jam kemudian, Elara memacu kudanya menembus badai salju.

Ia tidak sendirian, tentu saja. Silas, dengan wajah pucat karena cemas, memerintahkan dua pengawal kastil untuk mendampinginya. Mereka berkuda dalam formasi rapat, menundukkan kepala melawan angin utara yang bertiup seperti pisau cukur.

Hutan Besi adalah tempat yang menakutkan sekaligus memukau. Pohon-pohon pinus di sini menjulang setinggi menara kastil, batang-batangnya berwarna hitam legam seperti besi tempa, kontras dengan jarum-jarum daunnya yang tertutup kristal es. Suasana di dalam hutan itu hening, suara angin teredam oleh ketebalan pepohonan, menciptakan akustik yang mati dan menekan.

Jantung Elara berpacu. Bukan karena dingin, tapi karena adrenalin. Ia mencari jejak pasukan Kaelen.

Setelah berkuda selama tiga puluh menit masuk ke dalam hutan, mereka menemukannya.

Di sebuah bukaan kecil di antara pepohonan raksasa, sekelompok prajurit berkuda sedang berhenti. Di tengah-tengah mereka, Kaelen duduk di atas kuda perang hitamnya yang besar, Obsidian. Ia sedang memeriksa jejak kaki di salju—jejak cakar yang sangat besar.

Ketika salah satu prajurit memberi isyarat ada yang datang, Kaelen menoleh.

Saat matanya menangkap sosok Elara yang muncul dari balik kabut salju, ekspresi wajahnya berubah drastis. Dari fokus pemburu menjadi kemarahan yang murni.

Kaelen memutar kudanya dengan kasar, memacu Obsidian mendekati Elara. Kuda hitam itu mendengus, uap napasnya menyembur ke wajah Elara.

"Apa yang kau lakukan di sini?" bentak Kaelen. Suaranya lebih dingin dari badai di sekitar mereka. "Apakah kau sudah kehilangan akal sehatmu, Elara? Ini wilayah perburuan!"

Elara menahan kendali kudanya agar tidak mundur, meski hewan itu gelisah berhadapan dengan Obsidian yang dominan.

"Aku mencari tanaman obat," jawab Elara, mengangkat tas kanvas di pelana kudanya. "Dan aku membawa termos kopi panas. Silas bilang kau tidak menghabiskan sarapanmu."

"Kau bisa mati konyol di sini," geram Kaelen. Matanya menyapu kedua pengawal Elara dengan tatapan tajam yang membuat mereka menunduk takut. "Dan kalian... membiarkannya? Aku akan mencambuk kalian nanti."

"Jangan salahkan mereka," Elara memotong, suaranya tenang. "Aku Duchess. Mereka mematuhi perintahku. Jika kau ingin mencambuk seseorang, cambuk aku."

Rahang Kaelen mengeras hingga urat lehernya menonjol. Ia menatap Elara dengan frustrasi yang meluap-luap. Wanita ini... wanita ini benar-benar tidak bisa dikendalikan. Dia tidak takut pada bentakannya, tidak takut pada ancamannya.

"Pulang," perintah Kaelen, menunjuk ke arah jalan setapak. "Sekarang. Sebelum bau parfummu memancing serigala jantan keluar dari sarangnya."

"Tidak sebelum aku mendapatkan Winterberry," Elara bersikeras. "Mereka tumbuh di lereng bukit itu. Hanya sepuluh menit dari sini."

Kaelen tampak ingin berteriak, tapi tiba-tiba, kudanya, Obsidian, menegakkan telinga.

Hutan menjadi sunyi. Burung-burung berhenti berkicau.

Krak.

Suara ranting patah terdengar dari arah semak-semak lebat di sebelah kanan mereka.

Bukan satu ranting. Tapi suara sesuatu yang besar dan berat sedang bergerak.

"Mundur!" teriak Kaelen, mencabut pedangnya dalam satu gerakan fluid. "Formasi bertahan! Lindungi Duchess!"

Sebelum perintah itu selesai bergema, bayangan putih besar melompat keluar dari balik pepohonan.

Itu bukan serigala.

Itu adalah Frost Bear (Beruang Beku). Makhluk raksasa setinggi tiga meter saat berdiri, dengan bulu putih tebal dan cakar sepanjang lengan manusia yang berkilau seperti es. Beruang itu mengaum, suara yang menggetarkan tulang rusuk dan membuat kuda-kuda panik.

Kuda Elara meringkik ketakutan, mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi. Elara, yang bukan penunggang ahli, kehilangan keseimbangan.

"Elara!" teriak Kaelen.

Elara terlempar dari pelana. Tubuhnya melayang sesaat sebelum menghantam tumpukan salju tebal dengan keras.

Dunia berputar. Rasa sakit menjalar di bahunya. Napasnya sesak.

Saat ia mencoba bangun, ia melihat beruang itu tidak tertarik pada para prajurit yang menusukkan tombak. Beruang itu, didorong oleh insting predator yang melihat mangsa terjatuh, berlari lurus ke arah Elara.

Tanah bergetar di bawah langkah berat monster itu. Elara terpaku. Ia tidak bisa bergerak. Kakinya terbenam di salju. Ia melihat mulut beruang yang menganga, penuh gigi kuning runcing, dan mata kecil yang merah karena lapar.

Tiba-tiba, sebuah bayangan hitam melesat masuk ke dalam pandangannya.

Kaelen.

Dia tidak memacu kudanya. Dia melompat turun dari kuda yang sedang berlari, mendarat di antara Elara dan beruang itu dengan pedang terhunus.

"Matilah!" raung Kaelen.

Beruang itu menghantam Kaelen dengan cakarnya. Kaelen menangkis dengan pedangnya. Trang! Suara logam beradu dengan cakar yang sekeras batu.

Kekuatan hantaman itu luar biasa. Kaelen terdorong mundur beberapa langkah, sepatu botnya menggerus salju hingga mencapai tanah beku. Tapi dia tidak jatuh. Dia berdiri kokoh seperti dinding benteng, melindungi Elara di belakang punggungnya.

Para prajurit lain segera menyerbu, menombak sisi tubuh beruang itu. Beruang itu meraung kesakitan, berbalik untuk menyerang para penyerang barunya.

Kaelen tidak membuang kesempatan. Dengan gerakan memutar yang cepat, ia menusukkan pedangnya ke bawah ketiak beruang itu, menembus jantungnya.

Monster itu terhuyung, meraung sekali lagi—kali ini raungan kematian—sebelum akhirnya ambruk ke tanah dengan suara berdebam yang berat. Darah merah gelap mengotori salju putih yang suci.

Napas Kaelen memburu. Uap putih tebal keluar dari mulutnya. Pedangnya berlumuran darah.

Ia tidak melihat ke arah bangkai beruang itu. Ia berbalik badan, langsung berlutut di samping Elara yang masih terbaring di salju.

Wajah Kaelen pucat. Lebih pucat dari biasanya. Matanya liar memeriksa tubuh Elara.

"Elara," suaranya bergetar. "Kau terluka? Di mana? Katakan padaku!"

Tangannya meraba bahu dan lengan Elara, mencari patah tulang atau luka robek. Sentuhannya kasar karena panik, tapi di balik kekasaran itu, ada ketakutan yang begitu nyata. Ketakutan akan kehilangan.

"Aku... aku baik-baik saja," Elara terengah-engah, meringis saat Kaelen menyentuh bahu kirinya. "Hanya memar. Salju menahan jatuhnya."

Kaelen tidak mendengarkan. Ia menarik Elara bangun, lalu tanpa peringatan, ia mengangkat tubuh Elara ke dalam gendongannya. Ia mendekap Elara erat ke dadanya, seolah ingin memasukkan Elara ke dalam tulang rusuknya agar aman selamanya.

"Bodoh," bisik Kaelen di telinga Elara. Suaranya pecah. "Kau wanita bodoh yang keras kepala. Kau hampir mati."

Elara bisa mendengar detak jantung Kaelen. Pukulannya gila-gilaan, seperti burung yang terperangkap dalam sangkar. Dan untuk pertama kalinya, Elara menyadari sesuatu.

Kaelen tidak takut beruang. Kaelen tidak takut mati.

Kaelen gemetar. Tubuh besar prajurit itu gemetar dalam pelukannya.

"Kau menyelamatkanku," bisik Elara, melingkarkan lengannya yang sakit ke leher Kaelen. Ia membenamkan wajahnya di bulu serigala jubah suaminya, menghirup aroma darah dan keringat dingin.

"Aku tidak bisa kehilangan lagi," gumam Kaelen, kalimat itu meluncur tanpa sadar, sebuah pengakuan bawah sadar yang lolos karena syok.

Ia membawa Elara menuju kudanya. Ia tidak membiarkan Elara naik kuda sendiri. Ia menaikkan Elara ke atas Obsidian, lalu ia naik di belakangnya. Ia membungkus Elara dengan jubahnya yang lebar, mengurungnya dalam kepompong kehangatan tubuhnya.

"Kita pulang," perintah Kaelen pada pasukannya. Suaranya kembali keras, tapi tangannya yang memegang kendali kuda—dan melingkar di pinggang Elara—mencengkeram terlalu erat.

Sepanjang perjalanan pulang menembus badai yang semakin mengamuk, Kaelen tidak melepaskan pelukannya. Ia menekan punggung Elara ke dadanya, dagunya bertumpu di atas kepala Elara.

Keheningan di antara mereka kali ini bukan lagi tentang kecanggungan atau kemarahan. Itu adalah keheningan dari dua orang yang baru saja menatap kematian, dan menyadari bahwa ikatan di antara mereka jauh lebih kuat—dan jauh lebih menakutkan—daripada yang berani mereka akui.

Elara memejamkan mata, membiarkan dirinya bersandar sepenuhnya. Ia sakit, ia kedinginan, dan ia baru saja hampir dimakan beruang. Tapi anehnya, dalam pelukan Iblis Utara yang gemetar ini, ia merasa lebih aman daripada di mana pun di dunia ini.

Namun, di balik rasa aman itu, Elara tahu satu hal: Kaelen akan menarik diri lagi setelah ini. Rasa takut akan kehilangan yang baru saja dirasakannya akan membuat Kaelen membangun tembok yang lebih tinggi. Dan Elara harus bersiap untuk meruntuhkannya lagi, batu demi batu.

Tapi untuk sekarang, di tengah Hutan Besi, ia membiarkan dirinya menjadi milik Kaelen.

1
Yuu Li
semoga bahagia lady
Roaffi Jj
mantap ceritanya
Lamia Dante
ceritanya menarik
kiu kiu
good...pasangan yg cocok.klu bisa saling bekerjasama mencairkan suasana di kastil yg sedingin salju itu.elara apa dia tk tertarik bermain pedang...dilihat dari sikapnya dia wanita yg tangguh.mampu menembus pertahanan duke draxos.semangat ya thor...lanjutkan...
Jake King
semangat lady
Irzad
go ladyyy
ikyar
mohon dukungannya terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!