Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama
Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance
Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.
Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.
Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pecahnya Sangkar Emas
Langkah kaki Adrian berderap cepat di atas lantai marmer lantai dua. Setiap detiknya terasa seperti bom waktu yang siap meledak. Di bawah sana, di luar gerbang, waktu lima belas menit yang diancamkan oleh Rendy perlahan mengikis habis kesempatan mereka.
Adrian mendorong pintu ruang kerja Rendy dengan kasar. Ruangan itu bernuansa gelap, dipenuhi aroma cerutu dan parfum mahal yang pekat—sangat mencerminkan ego pemiliknya. Matanya langsung tertuju pada lemari buku besar dari kayu ek yang memenuhi dinding sebelah kanan. Tanpa membuang waktu, Adrian melangkah mendekat dan mulai menarik buku-buku tebal di sana secara acak, mencari tuas atau celah rahasia.
Setelah beberapa tarikan panik, sebuah bunyi *klik* mekanis terdengar ringan. Lemari buku itu bergeser beberapa inci, menyingkap sebuah pintu besi kecil tersembunyi dengan panel angka digital yang menyala merah di atasnya.
*Sial, pakai kode akses,* umpat Adrian dalam hati.
Ia mencoba memasukkan beberapa kombinasi angka acak, namun panel justru mengeluarkan bunyi peringatan yang nyaring. Adrian tahu, jika ia salah memasukkan kode sekali lagi, sistem kemungkinan besar akan terkunci permanen atau mengirim alarm darurat langsung ke ponsel Rendy. Waktunya habis. Ia tidak punya pilihan lain selain menggunakan cara kasar.
Adrian mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, mencari benda tajam atau berat. Matanya menangkap sebuah patung perunggu berbentuk elang yang cukup berat di atas meja kerja Rendy. Ia menyambarnya, berbalik, lalu menghantamkan dasar patung itu dengan kekuatan penuh ke arah panel digital dan engsel pintu besi tersebut berulang kali.
*PRANG! SPARK!*
Percikan api listrik mencuat dari panel yang hancur. Bersamaan dengan itu, seluruh lampu di dalam rumah mendadak padam total. Suara dengungan *signal jammer* yang tadi memenuhi langit-langit langsung senyap. Keheningan yang pekat sempat menyelimuti rumah, sebelum akhirnya suara *rolling shutter* besi di jendela-jendela bawah terdengar bergerak membuka secara perlahan karena kehilangan daya listrik penahan.
Sistemnya lumpuh.
Adrian melempar patung perunggu itu ke lantai, lalu segera merogoh ponselnya. Sinyal penuh kembali muncul. Ia langsung menekan nomor Rendra.
"Rendra! Masuk ke dalam rumah sekarang! Pintu sudah tidak terkunci!" perintah Adrian setengah berteriak sambil berlari menuruni anak tangga kembali ke ruang tamu.
"Adrian! Aku sudah di depan halaman! Tapi dua mobil pengawal Rendy baru saja masuk melewati gerbang!" suara Rendra di seberang telepon terdengar panik, disusul suara decitan ban mobil yang mengerem kasar di luar.
Jantung Adrian berdesir tajam. "Hadang mereka sebentar! Aku bawa Kirana keluar sekarang!"
Di ruang tamu yang kini mulai kembali diterangi cahaya matahari pagi dari jendela yang terbuka, Kirana berdiri dengan tubuh gemetar, mendekap dadanya sendiri dengan ketakutan yang memuncak saat mendengar suara keributan di luar rumah.
"Mas Adrian..." tangis Kirana saat melihat Adrian berlari mendekatinya.
"Kita keluar sekarang, Kirana. Ikut aku," Adrian meraih pergelangan tangan Kirana dengan lembut namun pasti, menuntunnya berjalan cepat menuju pintu utama.
Namun, tepat saat mereka melangkah keluar ke area teras rumah, tiga orang pria berbadan kekar dengan setelan jas hitam—pengawal pribadi Rendy—sudah berdiri menghadang di anak tangga teras. Di ujung halaman, Rendra tampak sedang ditahan oleh dua pengawal lainnya di dekat mobil.
Salah satu pengawal bertubuh paling besar melangkah maju, menatap Adrian dengan pandangan dingin. "Pak Adrian Dirgantara, Anda dilarang membawa Ibu Kirana keluar dari rumah ini atas perintah langsung dari Pak Rendy Baskoro. Silakan masuk kembali secara baik-baik, atau kami terpaksa menggunakan kekerasan."
Adrian menarik Kirana ke belakang punggungnya, menyembunyikannya dari pandangan para pria kekar itu. Ego dan harga diri Adrian sebagai seorang pria terusik hebat. Selama hidupnya, tidak ada satu pun orang yang berani mengancam atau menghadang langkahnya seperti ini.
"Minggir," desis Adrian, suaranya sangat rendah dan sarat akan otoritas yang mematikan. "Jika kalian berani menyentuh wanita di belakangku ini seujung kuku saja, aku pastikan kalian dan seluruh keluarga kalian tidak akan pernah bisa hidup tenang di negara ini lagi."
Pengawal itu tidak bergeming, tampaknya mereka lebih takut pada ancaman Rendy Baskoro daripada nama besar Dirgantara. "Maaf, Pak Adrian. Tugas kami adalah menjaga Ibu Kirana tetap di rumah ini."
Pria itu maju selangkah, mengulurkan tangannya yang besar berniat untuk meraih lengan Kirana secara paksa dari balik punggung Adrian.
Melihat tangan kasar itu bergerak menuju Kirana, naluri protektif Adrian meledak. Tanpa peringatan, Adrian melayangkan pukulan tangan kanan yang sangat keras tepat ke arah rahang pengawal tersebut.
*BUGH!*
Pengawal bertubuh besar itu terhuyung mundur beberapa langkah, memegangi rahangnya yang mendadak bergeser. Dua pengawal lainnya yang melihat rekan mereka dipukul langsung bergerak maju bersamaan untuk mengeroyok Adrian.
"Mas Adrian, awas!" jerit Kirana histeris.
Adrian menghindari sebuah pukulan mentah dari pengawal kedua, lalu membalas dengan hantaman siku yang telak ke arah ulu hati lawan hingga pria itu jatuh berlutut sambil terbatuk-batuk. Namun, pengawal ketiga berhasil memanfaatkan celah itu dan melayangkan tendangan keras ke arah rusuk Adrian.
*UGH!*
Adrian mengerang tertahan, tubuh tegapnya terdorong ke samping hingga menabrak pilar teras. Sudut bibirnya sedikit berdarah, namun matanya sama sekali tidak menyiratkan rasa sakit—hanya ada amarah yang membara. Ia kembali menegakkan tubuhnya, bersiap untuk menerjang kembali.
Namun, sebelum baku hantam itu berlanjut lebih jauh, suara sirine polisi yang melengking nyaring mendadak terdengar dari arah luar kompleks, bergema semakin mendekat dengan sangat cepat. Tidak hanya satu, melainkan terdengar seperti ada tiga hingga empat mobil patroli yang sedang menuju ke arah rumah tersebut.
Mendengar suara sirine itu, para pengawal Rendy mendadak panik dan menghentikan aksi mereka. Rendra, yang berhasil melepaskan diri dari pegangan pengawal di dekat pagar, berlari cepat menghampiri Adrian dengan napas terengah-engah.
"Aku sudah menghubungi kepolisian sektor pusat sebelum sinyal mati tadi, Adrian! Aku melaporkan adanya tindakan penyekapan dan kekerasan dalam rumah tangga dengan bukti awal yang kita miliki!" teriak Rendra sambil menunjuk ke arah jalanan kompleks di mana lampu rotator biru mobil polisi sudah mulai terlihat meluncur masuk.
Para pengawal Rendy sadar bahwa situasi sudah tidak berpihak pada mereka. Mereka memilih mundur perlahan, tidak ingin ikut terseret ke dalam jeruji besi atas nama loyalitas yang salah.
Adrian tidak memedulikan para pengawal itu lagi. Ia berbalik, menatap Kirana yang kini menangis sesenggukan sambil menutup wajahnya. Adrian mendekat, mengabaikan rasa nyeri di rusuknya, lalu dengan sangat lembut meraih kedua tangan Kirana yang menutup wajahnya.
"Selesai, Kirana. Semuanya sudah selesai," bisik Adrian, suaranya terdengar begitu hangat dan menenangkan, sangat berbeda dengan nada bicaranya saat menghajar pengawal tadi. "Kamu aman sekarang. Aku ada di sini."
Kirana mendongak, menatap wajah Adrian yang kini dipenuhi peluh dan sedikit noda darah di sudut bibirnya akibat membelanya. Rasa bersalah, rasa haru, dan rasa aman yang luar biasa bercampur aduk di dalam dada Kirana. Tanpa memedulikan keberadaan Rendra atau para pengawal di sekeliling mereka, Kirana langsung menghamburkan tubuhnya, memeluk leher Adrian dengan sangat erat, menumpahkan seluruh sisa ketakutannya di sana.
Adrian membalas pelukan itu, mengusap punggung Kirana dengan penuh kasih sayang yang selama ini tertahan. Namun, di atas bahu Kirana, mata Adrian menatap tajam ke arah mobil polisi yang mulai berhenti di depan halaman.
Ia tahu, ini barulah awal dari perang yang sesungguhnya. Rendy Baskoro tidak akan tinggal diam setelah sangkar emasnya dihancurkan seperti ini. Pria manipulatif itu pasti akan membalas dengan cara yang jauh lebih licik dan berbahaya. Namun, Adrian bersumpah dalam hati, ia tidak akan pernah membiarkan Kirana kembali ke neraka itu lagi, apa pun taruhannya.
---
**Bersambung ke Episode 6**