NovelToon NovelToon
MATA TAKDIR

MATA TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kultivasi Modern / Komedi
Popularitas:678
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.

Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.

Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!

Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?

#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern

#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa

#ZeroToHero #BenciJadiCinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Guncangan di Balik Dinding Beton

Kereta Argo Lawu akhirnya melambat dengan desis rem hidrolik yang panjang dan berat, sebelum akhirnya berhenti sempurna di bawah naungan atap baja Stasiun Gambir yang megah. Jakarta menyambut mereka bukan dengan hamparan awan spiritual yang suci, melainkan dengan kepungan udara gerah yang sarat akan aroma gas buang knalpot, avtur, dan debu metropolitan yang pekat. Dari balik jendela kaca gerbong, belantara menara beton pencakar langit berdiri angkuh mencakar langit pagi yang kelabu—sebuah labirin modern tempat jutaan manusia fana saling sikut demi memperebutkan remah-remah perak nasib.

Dika melangkah keluar dari pintu gerbong dengan mantel wol hitamnya yang melambai ditiup angin kipas angin stasiun. Sepasang matanya menatap lurus ke depan, dingin, tajam, dan sarat akan ketegasan absolut seorang penguasa langit yang sedang menginspeksi wilayah taklukan baru. Setiap tapak kakinya di atas lantai peron yang bersih memancarkan aura angkuh yang membuat para penumpang di sekitarnya secara tidak sadar membuka jalan, seolah-olah mereka sedang memberi laluan bagi seorang pangeran dari negeri seberang.

Namun, di bawah permukaan estetik yang nyaris sempurna itu, jalinan saraf di dalam cangkang fana Dika sudah berada di ambang keruntuhan total.

“Aduuuh, mak! Ini Jakarta kenapa udaranya panas banget kayak panci presto sih?!” jerit suara hati Dika, melengking histeris meratapi nasib di balik batok kepalanya. “Gue salah kostum parah ini! Pundak gue udah mau patah gara-gara beratnya mantel wol loak ini, ditambah uap panas AC stasiun bikin ketek dewa gue mulai banjir bandang! Tenang Dika, jangan bungkuk. Di depan ada eskalator turun, jaga keseimbangan tulang ekor lo. Kalau sampai lo menggelinding ke bawah, harga diri sembilan lapis langit bakal hanyut ke selokan ibu kota!”

Lina yang berjalan di sampingnya sembari menyandang ransel kanvas baru hanya bisa menggigit bibir dalam-dalam, berusaha sekuat tenaga menahan tawa agar tidak meledak di tengah keramaian peron. Sisa kebocoran takdir membuat setiap keluhan cempreng dari batin Dika terdengar begitu jernih, menciptakan kontras yang sangat konyol dengan wajah pemuda itu yang sedatar papan jati.

"Mau gue lepasin mantelnya, Yang Mulia?" sindir Lina pelan, nadanya sarat akan rasa geli yang tertahan. "Muka lo udah kayak tahu putih yang kelamaan direbus, pucat banget. Lagian di Jakarta nggak ada yang pakai mantel wol tebal begini di jam sembilan pagi, kecuali orang yang urat malunya udah putus."

"Kau tidak mengerti, Lina," sahut Dika dingin, suaranya berat dan penuh wibawa purba yang tertata rapi. "Mantel ini adalah perisai spiritual untuk meredam tekanan energi negatif dari belantara beton ini. Penguasa takdir tidak tunduk pada hukum cuaca fana."

“Padahal aslinya gue gengsi kalau kaos biru pudar gue yang robek di pundak keliatan sama orang-orang Jakarta, Lin! Tolong jangan dipaksa lepas, gue belum siap mental jadi tontonan!” sambung suara hatinya yang merana, membuat Lina hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala pasrah.

Sementara itu, beberapa kilometer dari Stasiun Gambir, di dalam sebuah ruangan kantor mewah yang terletak di lantai empat puluh dua menara bisnis kawasan Kuningan, atmosfer ruangan mendadak berubah mencekam.

Pak Baskoro berdiri di balik meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni langka, sepasang matanya membelalak kaku menatap ponsel pintar di genggamannya. Di seberang talian, suara dari sang asisten pribadi terdengar gemetar hebat, menyampaikan kabar yang sama sekali tidak ingin ia dengar.

"M-Maaf, Pak Baskoro... Ki Gendeng Segoro baru saja dilarikan ke rumah sakit," ucap suara di telepon itu dengan terbata-bata. "Ruang ritualnya hancur berantakan. Beliau memuntahkan darah hitam dalam jumlah banyak dan seluruh cawan kuningan pusakanya pecah menjadi dua. Tim dokter bilang beliau mengalami gagal jantung mendadak akibat tekanan internal yang tidak diketahui."

Brak!

Baskoro menghantamkan tinjunya ke atas meja kayu jatinya hingga membuat cangkir kopi porselen di atasnya berdenting nyaring. Wajahnya yang semula klimis dan tenang kini berubah merah padam oleh perpaduan antara kemarahan yang meluap dan rasa takut yang mendasar.

"Bagaimana mungkin?!" geram Baskoro, suaranya merendah laksana geraman harimau yang terluka. "Ki Gendeng adalah dukun tingkat tinggi yang sudah puluhan tahun membersihkan lawan bisnis saya! Dia hanya disuruh mengunci aliran darah seorang bocah mantan karyawan kontrak di dalam kereta! Bagaimana bisa dia yang justru tumbang sebelum targetnya sampai di Jakarta?!"

Setelah memutuskan sambungan telepon secara sepihak, Baskoro berjalan tergesa-gesa menuju dinding kaca besar yang menampilkan lanskap kota Jakarta yang luas. Napasnya memburu pekat. Jalinan benang takdir ungu kelam di sekeliling lehernya—yang melambangkan karma pengkhianatannya—kini tampak meliuk-liuk gelisah, memancarkan pendar dingin yang seolah-olah sedang mendeteksi keberadaan sang pemotong simpul takdir yang baru saja menginjakkan kaki di belantara ibu kota.

“Bocah bernama Dika itu... dia bukan manusia biasa,” bisik pikiran Baskoro yang bergolak penuh konspirasi hitam, frekuensinya bergetar cemas yang langsung tertangkap oleh sisa-sisa radar Mata Takdir milik Dika dari kejauhan. “Dia pasti punya pelindung gaib tingkat tinggi dari kalangan pendekar kuno. Sialan! Johan gagal, Ki Bersam terjungkal, dan sekarang Ki Gendeng mati suri. Kalau bocah itu sampai tahu bahwa aliran dana korupsi PT Megah Prakarsa dialihkan untuk mendanai faksi politik hitam di ibu kota ini... posisi gue taruhannya. Gue harus minta bantuan langsung dari atasan di Sekte Bisnis Triliunan!”

Kembali ke pintu keluar Stasiun Gambir, Dika mendadak menghentikan langkah kakinya tepat di depan barisan taksi yang mengantre. Sepasang matanya menyipit tajam, pendar emas purba di balik korneanya berdenyut satu kali dengan ritme yang dingin laksana es abadi.

Dunia monokrom kembali terhampar dalam kesadarannya. Di langit Jakarta yang berpolusi, Dika melihat pantulan energi ungu kelam dari pikiran Baskoro yang barusan terpancar, meluncur membelah udara kota laksana panah beracun yang mengarah ke wilayah Kuningan.

"Riak air di hulu semakin bergolak, Lina," ucap Dika perlahan, suaranya berubah datar tanpa emosi fana, menyisakan ketegasan murni seorang penguasa jagat. "Dukun tua yang melempar kutukan di kereta tadi hanyalah bidak pertama yang hancur. Di balik ketakutan Baskoro yang menjalar di menara tinggi sana, sebuah konspirasi triliunan rupiah sedang bersiap menggerakkan cakar-cakar besinya untuk meremukkan kita."

Lina menghentikan langkahnya, menatap profil samping wajah Dika yang tampak begitu dingin dan tidak tersentuh di bawah siraman cahaya matahari Jakarta. Ada rasa ngeri tipis yang merayap di tengkuknya, menyadari bahwa mereka kini benar-benar telah melangkah masuk ke dalam sarang serigala yang jauh lebih besar dari sekadar kantor cabang di kota tua.

"Terus... apa rencana kita sekarang, Dika?" tanya Lina serius, menyeka keringat di dahinya. "Kita cari hotel murah dulu buat selonjoran, atau langsung samperin menaranya Baskoro?"

Mendengar kata 'selonjoran', seluruh keagungan atmosfer yang dibangun Dika sejak keluar dari gerbong kereta tadi langsung luntur berantakan dalam waktu sekejap mata.

“HOTEL MURAH! PILIH YANG ADA AC-NYA TOLONG, LIN!” jerit batin Dika dengan tingkat kehisterisan yang sudah mencapai level maksimal. “Gue udah nggak kuat berdiri tegak sok keren begini! Ini pinggang gue dari tadi bunyi 'krek, krek' kayak engsel pintu gerbang rusak! Mana balsem dari lo tadi panasnya udah ilang, berganti jadi rasa linu yang bikin paha gue gemeteran! Buruan cari taksi, gue mau rebahan di atas kasur, mau lepas mantel sialan ini, terus mau nempelin sisa koyo di punggung sampai penuh!”

Lina menepuk dahinya sendiri dengan telapak tangan, mengembuskan napas panjang sembari menahan tawa yang hampir pecah. "Iya, iya, paham. Ayo naik taksi yang itu. Taruh dulu itu wibawa langit lo di dalam bagasi, kita urus encok lo dulu sebelum perang lawan konglomerat."

Dika hanya mendesah pasrah, melangkah dengan sisa-sisa keanggunan yang dipaksakan menuju taksi yang pintunya sudah dibukakan oleh Lina, siap memulai babak baru perjalanan takdir mereka di tengah kejamnya badai Jakarta.

1
SANG
Semangat ya thor💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Mantap, mantap banget💪👍
SANG
Cerita baru semangat baru ya dek💪👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!