NovelToon NovelToon
Pengkhianatan Manis Adik Kandung Ku

Pengkhianatan Manis Adik Kandung Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Mbak Rani!" Tyas langsung memeluk kakaknya erat.

​"Wah, adik Mbak sudah besar sekarang, ya. Makin cantik," puji Rani tulus, mengusap kepala adiknya. Rani kemudian beralih ke suaminya yang berdiri di ambang pintu. "Mas, ini Tyas."

​Tyas beralih menyalimi tangan Angga. "Halo, Mas Angga. Mohon bantuannya ya selama Tyas kuliah di sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belenggu yang semakin nyata

Waktu 30 menit terasa berjalan begitu lambat di dalam dapur yang sunyi itu. Tyas duduk diam di kursi meja makan, jemarinya bertautan erat melambangkan kecemasan yang teramat sangat. Di hadapannya, Angga berdiri bersandar pada meja dapur, matanya sesekali melirik jam dinding sembari mempertahankan ekspresi tenang yang berwibawa.

​Tepat ketika jarum jam bergeser, ponsel Angga kembali bergetar. Layarnya menampilkan nama temannya tadi. Angga langsung mengangkatnya tanpa membuang waktu.

​"Bagaimana, Man?" tanya Angga langsung pada inti masalah.

​"Sudah bersih, Ngga," terdengar suara helaan napas dari seberang telepon. "Akses akun Google dan cadangan awannya sudah kuputus total. Ponselnya juga sudah berhasil kupicu untuk factory reset otomatis dari jarak jauh saat dia sedang membuka aplikasi. Semua data, foto, video, sampai riwayat obrolan di perangkat itu lenyap permanen. Dia tidak akan bisa memulihkannya lagi."

​"Bagus. Terima kasih banyak, Man. Aku berutang budi padamu," ucap Angga, merasa sebuah beban besar baru saja terangkat dari pundaknya.

​Sebelum menutup telepon, Angga membuka aplikasi perbankan di ponselnya. "Kirim nomor rekeningmu. Aku transfer uang lelah untukmu dan timmu."

​"Ah, tidak usah, Ngga. Seperti dengan siapa saja kamu ini. Kita kan kawan lama, santai saja," tolak temannya dengan nada sungkan dari seberang sana.

​"Jangan begitu, ini urusan profesional. Kirim saja," tegas Angga.

​Meskipun temannya tetap menolak dan langsung mematikan sambungan telepon dengan alasan ada pekerjaan lain, Angga tidak ambil pusing. Ia sudah menyimpan nomor rekening temannya dari urusan bisnis masa lalu. Tanpa ragu, Angga langsung mengetikkan nominal transfer sebesar 5 juta rupiah dan mengirimkannya saat itu juga sebagai bentuk apresiasi atas kerja cepat yang menyelamatkan mukanya.

​Angga memasukkan ponselnya ke dalam saku kemeja, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Tyas. Senyum kemenangan yang mutlak kini terukir jelas di wajahnya.

​"Semuanya sudah beres, Tyas," ujar Angga dengan suara rendah yang menenangkan. "Ponsel Satya sudah mati total dan seluruh isinya terhapus bersih. Dia tidak punya apa-apa lagi sekarang. Kamu aman."

​Mendengar kalimat itu, Tyas seketika lemas karena rasa lega yang luar biasa. Air mata sisa kepanikannya kembali menetes, namun kali ini karena rasa syukur. Ia mendongak menatap kakak iparnya dengan tatapan penuh kekaguman dan ketergantungan yang semakin dalam. Di mata Tyas, Angga telah menjelma menjadi sosok pria yang begitu kuat, berkuasa, dan mampu menyelesaikan masalah pelik dalam sekejap—sesuatu yang sama sekali tidak dimiliki oleh pemuda seumurannya seperti Satya.

Rasa lega yang sempat membuncah di dada Tyas perlahan-lahan surut, tergantikan oleh sebuah kesadaran baru yang terasa begitu dingin dan menghimpit. Ia menatap Angga yang kini melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan mata yang penuh kuasa.

​Benar, Satya dan ancaman terornya telah lenyap. Namun, kebebasan yang baru saja Tyas dapatkan ternyata tidaklah gratis. Ada harga mati yang harus ia bayar, dan harga itu adalah dirinya sendiri.

​Tyas menundukkan kepala, menatap piyama satin maroon yang melekat di tubuhnya. Di balik rasa amannya, sebuah kenyataan pahit kini menampar batinnya dengan keras. Di dalam rumah ini, di bawah atap yang sama tempat kakak kandungnya membangun biduk rumah tangga, statusnya telah bergeser sepenuhnya.

​Dia bukan lagi sekadar adik ipar yang menumpang tinggal menjelang kuliah. Mulai malam tadi, dan untuk hari-hari ke depan selama Mbak Rani tidak ada, Tyas telah resmi menjadi selingkuhan kakak iparnya sendiri.

​Angga mengulurkan tangan, jemarinya yang kekar perlahan menyentuh dagu Tyas, mengangkat wajah gadis itu agar mata mereka kembali saling bertatapan. Sentuhan itu terasa hangat, namun di saat yang sama mengirimkan sensasi keterikatan yang mencekam.

​"Jangan melamun, Tyas," bisik Angga lembut, namun nadanya terdengar seperti sebuah peringatan tak kasatmata. "Mas sudah menepati janji Mas untuk melindungimu. Sekarang, giliranmu untuk tetap memegang kesepakatan kita."

​Tyas tidak bisa mengelak. Ia melihat senyum tipis di wajah Angga—senyum seorang pria yang tahu betul bahwa mangsanya kini sudah tidak punya tempat lain untuk berlari. Tyas tersadar bahwa untuk lepas dari satu jeratan, ia justru telah mengunci dirinya sendiri ke dalam belenggu yang jauh lebih berbahaya dan terlarang. Hubungan gelap ini kini menjadi rahasia terbesar dalam hidupnya, sebuah dosa yang akan terus mengintai di balik bayang-bayang kepulangan Mbak Rani yang kian mendekat.

1
Anonim
Kurang ajar banget si angga dan si tyas ini,buat rani tau lebih cepat thor tentang kebangsatan suami dan adik nya
Anonim
Lama bener thor muter nya ,si rani kapan sadar perselingkuhan adik nya sama suami nya jangan kelamaan
Anonim
Si rani kenapa oneng sih g bisa liat sekilas model ade nya kek apaan dah ,cuek apa emang buta dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!