NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:847
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 14 : SISI LAIN DI BALIK KORIDOR SUNYI

Langkah kaki Kalea Azzahra Putri terasa sangat berat saat ia menyusuri jalan setapak kompleks perumahan yang sunyi. Setelah berpamitan dengan Dimas di depan gerbang, ia berjalan perlahan menuju rumah megah bergaya Eropa milik keluarga Wijaya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Keheningan malam terasa begitu pekat, seolah menyerap sisa-sisa tenaga yang ada di dalam tubuh mungilnya.

Kalea berhenti di depan pintu utama yang menjulang tinggi. Dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati, ia merogoh saku blazernya untuk mengambil kunci cadangan yang selalu ia simpan secara sembunyi-sembunyi. Klik. Suara gerendel pintu berputar terdengar sangat tipis di tengah kesunyian malam. Kalea mendorong daun pintu itu perlahan, lalu menyelinap masuk ke dalam rumah.

Di dalam, kondisi rumah sudah gelap gulita. Seluruh lampu utama di ruang tengah dan koridor lantai satu telah dimatikan, menyisakan keremangan yang dingin. Kalea menarik napas panjang, lalu menyalakan lampu senter dari ponsel pintarnya untuk menerangi langkah kakinya di atas lantai marmer hitam. Ia tidak ingin menimbulkan suara sekecil apa pun yang bisa membangunkan Sarah, Fitri, atau Shinta yang pasti akan langsung menghujannya dengan makian baru.

CEKLEK!

Baru saja Kalea melangkah tiga meter dari pintu, suara sakelar lampu dinding mendadak berbunyi nyaring. Seketika itu juga, pendar cahaya lampu kristal yang kekuningan langsung menyala terang benderang, menyinari seluruh penjuru ruang tengah dan membuat mata biru Kalea refleks menyipit karena silau.

Kalea membalikkan tubuhnya dengan cepat, jantungnya berdegup kencang karena terkejut. Sosok pria paruh baya bertubuh tegap sudah berdiri mematung tepat di belakangnya. Pria itu adalah Hermawan Wijaya.

Ayahnya itu berdiri dengan mengenakan kaus polo kasual berwarna abu-abu gelap. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana kainnya. Yang membuat Kalea tertegun adalah ekspresi wajah Hermawan. Tidak ada guratan kemarahan yang meledak-ledak, tidak ada tatapan mata yang berapi-api seperti saat pria itu melayangkan dua tamparan keras ke pipi Kalea saat makan malam tadi. Wajah Hermawan tampak sangat datar, tenang, dan tatapan matanya kosong, menyiratkan kelelahan batin yang mendalam. Rupanya, di saat seluruh penghuni rumah sudah terlelap pulas, Hermawan sengaja duduk di kegelapan ruang tengah hanya untuk menunggu kepulangan putri bermata birunya tersebut.

"Dari mana saja kamu baru pulang jam segini, Kalea?" tanya Hermawan dengan nada suara bariton yang sangat datar, lambat, dan dingin. Tidak ada sedikit pun nada amarah atau bentakan di dalam kalimatnya. Pria paruh baya itu hanya menatap putrinya dengan lekat, meneliti setiap inci penampilan Kalea yang tampak kusut dan kelelahan.

Kalea menstabilkan napasnya, mematikan lampu senter ponselnya, lalu menatap balik wajah ayahnya dengan pandangan mata biru yang tidak kalah datar, kaku, dan sedingin es. "Aku lembur di hotel, Pa. Banyak dokumen audit kuartal yang harus diselesaikan setelah aku mengambil izin sakit kemarin siang. Jadi aku terpaksa harus pulang selarut ini."

Hermawan melangkah maju dua langkah, mempersempit jarak di antara mereka. Matanya tetap mengunci manik mata biru jernih Kalea. "Lembur di hotel sampai jam setengah satu malam? Apakah pemilik hotel tempatmu bekerja itu tidak tahu cara memanusiakan karyawannya hingga membiarkan seorang wanita pulang sendirian di tengah malam yang bahaya seperti ini?"

Kalea mendengus sinis secara tipis, melipat kedua tangannya di depan dada dengan sikap menantang yang tegas. "Pak Surya adalah bos yang sangat baik dan terhormat, Pa. Beliau justru berkali-kali menyuruh aku pulang cepat dan beristirahat. Aku sendiri yang memilih untuk tetap tinggal di kantor menyelesaikan pekerjaan aku. Lagipula... jalanan ibu kota jauh lebih aman dan ramah bagi saya malam ini, jika dibandingkan dengan hawa beracun di dalam rumah ini."

Mendengar kalimat sindiran yang tajam dari mulut putrinya, Hermawan tidak membalas dengan bentakan. Pria itu justru terdiam lama, menatap lurus ke arah sudut bibir Kalea yang masih menyisakan bekas luka sobek baru yang sedikit membengkak akibat tamparannya semalam. Penyesalan yang samar mendadak melintas di balik netra tua Hermawan.

Tanpa memberikan aba-aba, Hermawan perlahan mengangkat tangan kanannya yang kekar. Dengan gerakan yang sangat lambat dan tidak terduga, jari-jemari tangan Hermawan yang hangat bergerak menyentuh dahi Kalea, mengusap pinggiran perban kasa steril yang menutupi luka tiga jahitan dari Dokter Radit kemarin siang.

DEG!

Tubuh mungil Kalea seketika menegang kaku bagaikan batu. Matanya yang berwarna biru jernih membelalak sempurna karena saking terkejutnya melihat perubahan sikap ayahnya yang mendadak melunak seperti ini. Selama 24 tahun hidupnya di rumah neraka ini, Hermawan hampir tidak pernah memberikan sentuhan fisik yang lembut kepadanya; tangan kekar itu biasanya hanya datang untuk memukul, mencambuk, atau mencengkeram wajahnya dengan kasar.

Kalea mematung, menatap lurus ke dalam manik mata tua Hermawan dengan pandangan yang sangat lekat dari jarak sedekat ini. Ia mencoba mencari kebohongan atau kedok baru di balik tindakan ayahnya. Begitu pula dengan Hermawan yang menatap mata biru Kalea dengan keheningan yang mendalam, seolah ia sedang menembus waktu melihat bayangan sosok wanita masa lalunya yang begitu ia cintai mengalir di dalam darah anak di depannya.

Suasana di ruang tengah yang luas itu mendadak berubah menjadi sangat sunyi, canggung, dan dipenuhi oleh ketegangan batin yang berat selama beberapa detik yang terasa berjalan sangat lambat.

Ehem!

Hermawan tiba-tiba menarik kembali tangannya dari dahi Kalea dengan gerakan yang kaku, seolah ia baru saja tersadar dari lamunan panjangnya tentang masa lalu yang terlarang. Pria paruh baya itu memalingkan wajahnya sedikit ke arah lain, lalu berdeham dengan volume yang cukup keras demi menghilangkan rasa canggung luar biasa yang mendadak menyergap atmosfer di antara mereka berdua.

"Lain kali... jangan pulang dilarutkan malam lagi, Kalea. Itu tidak baik untuk keselamatanmu," ucap Hermawan dengan nada suara yang kembali dingin, kaku, dan datar, mencoba mengembalikan wibawa kepemimpinannya sebagai kepala keluarga Wijaya. "Pergilah ke kamarmu sekarang. Bersihkan badanmu lalu segera istirahat. Jangan membuat keributan lagi besok pagi."

Kalea masih menatap ayahnya dengan kening berkerut dalam, merasa bingung dan asing dengan dualisme sikap pria di hadapannya yang bisa berubah dari iblis kejam menjadi sosok ayah yang penuh misteri dalam sekejap mata.

"Baik, Pa. Terima kasih sudah mengingatkan," jawab Kalea dengan suara yang rendah namun tetap tegas.

Ia membalikkan tubuh tegapnya, melangkah perlahan meninggalkan Hermawan yang masih berdiri mematung di ruang tengah yang luas. Sambil menaiki satu demi satu anak tangga menuju kamarnya di lantai atas, pikiran Kalea berkecamuk hebat. Sentuhan tangan ayahnya di dahinya tadi justru semakin mempertegas bahwa ada sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur hidup-hidup oleh Hermawan dan Sarah mengenai status kelahirannya.

...****************...

Sementara hawa dingin misteri menyelimuti ruang tengah setelah pertemuan singkat antara Hermawan dan Kalea, suasana yang jauh lebih pekat dan beracun justru sedang bergejolak di ujung koridor lantai dua. Di dalam kamar tidur Shinta Kirana Wijaya yang bernuansa mewah dengan dominasi warna merah muda dan emas, malam itu berubah menjadi saksi kebusukan moral yang mengerikan.

Pintu kamar telah terkunci rapat dari dalam. Kamar milik sang influencer kecantikan ini sengaja dirancang menggunakan lapisan dinding kedap suara yang tebal demi kenyamanan pembuatan konten videonya. Namun malam ini, fasilitas itu digunakan untuk menyembunyikan pengkhianatan terbesar dari dunia luar.

Di atas ranjang berukuran besar yang berantakan, Shinta dan Fandi Achmad Mahendra sedang bergumul. Pakaian tidur mereka sudah teronggok mengenaskan di atas lantai marmer. Suara tawa pelan dan renyah dari mulut Shinta sesekali terdengar, beradu dengan deru napas Fandi yang memburu hebat menahan gejolak nafsu yang meluap-luap.

Namun, di balik gerakan liar tubuh kekarnya dan sentuhan kasarnya pada kulit Shinta, isi kepala Fandi sama sekali tidak berada di sana. Pria berusia 31 tahun itu bagaikan robot yang digerakkan oleh nafsu berahi belaka. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam dan di bawah alam sadarnya, hanya ada satu nama yang terus terngiang-ngiang laksana hantu yang memikat: Kalea Azzahra Putri Wijaya.

Fandi memejamkan matanya rapat-rapat saat mencium bahu Shinta, namun bayangan yang muncul di kepalanya justru wajah cantik Kalea yang sedang mendongak menantangnya di lobi hotel sore tadi. Ia teringat tatapan mata biru jernih Kalea yang berkilat tajam penuh kebencian, perban di dahinya, dan sudut bibirnya yang ranum namun sobek. Sifat tegas, tangguh, dan "bar-bar" yang dimiliki Kalea justru memicu obsesi kotor yang sangat gila di dalam dada Fandi. Pria itu merasa sangat tertantang. Ingin rasanya ia merenggut tubuh mungil Kalea, memeluknya dengan paksa, dan tidur bersama wanita bermata biru itu di atas ranjang ini untuk menghancurkan keangkuhannya.

"Ahhhh... Mas Fandi... pelan-pelan, Mas... ahhh..." desah Shinta dengan suara parau yang tertahan di sela-sela pergumulan mereka. Kedua tangannya mencengkeram erat punggung tegap Fandi yang berkeringat. "Enak banget, Mas-ku sayang... ahhhh... kencang lagi..."

Fandi membuka matanya kembali, lalu tersenyum licik, menutupi pikiran kotornya dari mata Shinta. Ia mempercepat pergerakannya dengan liar, melampiaskan seluruh fantasinya tentang Kalea ke atas tubuh adik bungsu istrinya tersebut. "Kamu suka, sayang? Mas juga sangat menyukai malam ini bersama kamu."

Shinta tertawa manja, memeluk leher Fandi erat-erat sambil mendongak menatap wajah kakak iparnya penuh kemenangan egois. "Tentu saja suka, Mas! Kamarku ini kan kedap suara, jadi tidak akan ada satu pun orang rumah yang bisa mendengar suara desahan kita malam ini. Mbak Fitri yang sok sibuk itu pasti sedang tidur pulas karena kelelahan, dan si anak haram Kalea itu... paling dia sedang menangis meratapi nasibnya di kamar sebelah setelah melihat kemesraan kita di hotel sore tadi! Hahaha!"

Mendengar nama Kalea disebut dari mulut Shinta, Fandi mendadak menghentikan gerakannya sejenak. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar dengan pandangan yang mendadak menegang.

"Mas? Kok berhenti?" tanya Shinta sambil merengut manja, mencolek dagu Fandi dengan jarinya yang lentik. "Kenapa melamun begitu? Mas memikirkan pekerjaan kantor ya?"

Fandi dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya, kembali menurunkan tubuhnya untuk mengecup bibir Shinta demi menenangkan situasi. "Tidak, sayang. Mas tidak memikirkan kantor. Mas cuma kagum melihat betapa cantiknya kamu malam ini di bawah lampu tidur ini."

"Ih, Mas Fandi bisa saja!" Shinta tersipu malu, kembali menarik tubuh Fandi ke dalam dekapannya. "Mas harus janji ya, jangan pernah melirik Kalea lagi. Mas tahu kan kalau Kalea itu cuma darah kotor pembawa sial di rumah ini? Mas tidak boleh tertarik pada wanita sampah seperti dia."

"Tentu saja, Shinta sayang," bohong Fandi dengan suara serak, seulas senyuman manipulatif terukir di bibirnya saat ia kembali melanjutkan pergumulan panas mereka. "Bagi Mas, Kalea itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keseksianmu. Mas merasa sangat beruntung bisa memiliki kamu di belakang Fitri."

Shinta mendesah panjang mendengar pujian palsu itu, kembali memejamkan matanya dengan kepuasan ego yang tak ternilai. "Ahhhh... Mas Fandi... lebih cepat lagi... ahhhh..."

Di dalam kamar yang kedap suara itu, suara erangan nafsu dan tawa kepalsuan mereka terus bersahutan hingga menjelang pagi, membungkus pengkhianatan menjijikkan itu dalam kegelapan malam. Fandi terus bergerak memuaskan Shinta, namun jiwanya tetap terpenjara oleh obsesi kotor untuk menaklukkan Kalea.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!