NovelToon NovelToon
KEBAYA PUTIH YANG TERNODA

KEBAYA PUTIH YANG TERNODA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:69.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"

Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.

Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.

Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Kebaya Putih yang Ternoda-1

Aroma melati yang ronceannya menjuntai tebal dari tatanan rambut hingga ke dada terasa kian pekat, beradu dengan wangi dupa yang mulai membuat kepala Alin pening. Sudah hampir tiga jam dia berdiri di atas pelaminan yang didekorasi layaknya taman musim dingin artifisial. Sepatu selop berhak tinggi di balik kain jarik motif sidomukti yang melilit ketat kakinya mulai membuat tumitnya berdenyut nyeri. Setiap kali Alin melangkah sedikit untuk menyambut tamu, kain prada emas yang menghiasi tepian jariknya terasa berat, membatasi ruang geraknya. Namun, setiap kali rasa lelah dan sesak itu menyergap, Alin memaksa sepasang sudut bibirnya untuk tetap melengkung sempurna ke atas. Ia harus terlihat seperti pengantin wanita paling bahagia hari ini—setidaknya di depan ratusan pasang mata tamu undangan korporat dan kolega bisnis sang suami.

Alin melirik pria di sebelahnya lewat sudut mata.

Elang. Suaminya yang baru beberapa jam lalu mengucapkan kalimat kabul dengan satu tarikan napas mantap.

Pria berusia tiga puluh tahun itu tampak begitu gagah sekaligus berwibawa dalam balutan beskap pengantin khas Yogyakarta berwarna putih gading, lengkap dengan blangkon yang membingkai wajah tegasnya. Sebagai CEO yang baru saja naik jabatan di salah satu startup teknologi terkemuka di Jakarta, Elang memiliki aura kepemimpinan yang pekat. Rahangnya kokoh, tatapan matanya selalu fokus, dan pembawaannya tenang. Namun, ketenangan itu terasa begitu dingin bagi Alin. Kulit dahi Elang yang dihiasi sedikit pulasan paes hitam sisa prosesi adat tadi pagi tampak mengeras, menunjukkan gurat ketegangan yang coba dia sembunyikan di balik senyum formalnya.

Sejak prosesi akad nikah tadi pagi hingga resepsi mewah di ballroom hotel bintang lima ini berlangsung, jemari Elang yang sesekali menggandeng tangan Alin terasa begitu kaku. Tidak ada kehangatan yang merembes ke kulit Alin. Genggaman itu hanya ada ketika kamera fotografer terarah pada mereka, atau ketika Nenek menatap mereka dari kursi barisan depan dengan binar mata penuh harap. Begitu lampu kilat padam atau saat Nenek beralih menyapa kerabat lain, jemari tegap itu akan terlepas dengan perlahan, kembali terselip di balik saku atau sibuk membenarkan letak keris yang terselip di pinggang belakangnya.

Alin sangat tahu diri. Pernikahan ini bukanlah sepasang dongeng tentang dua hati yang saling bertaut sejak pandangan pertama. Jika bukan karena permintaan terakhir Sang Nenek—satu-satunya sosok yang paling dihormati dan ditakuti Elang di keluarga besar mereka—pria mapan dengan karier melejit ini tidak akan pernah sudi melirik gadis berusia dua puluh dua tahun yang baru saja menyelesaikan sidang skripsinya seperti Alin. Bagi Elang, pernikahan ini tak lebih dari sebuah bentuk bakti, kewajiban, dan balas budi yang harus dituntaskan secepat mungkin agar hidupnya bisa kembali fokus pada dunia korporasi yang dia gilai. Alin hanyalah orang asing yang kebetulan dipilih Nenek untuk mengisi kekosongan di sisi Elang.

"Mas, minum dulu? Bibir Mas Elang kelihatan kering," bisik Alin lirih, memanfaatkan jeda singkat saat antrean tamu di bawah pelaminan sedikit lengang. Tangan Alin yang terbungkus sarung tangan brokat tipis bergerak mengambil segelas air putih kecil dari nampan perak yang diantarkan oleh seorang pramusaji bertubuh tegap.

Elang menoleh sedikit. Gerakan lehernya terasa kaku karena kalung karset melati yang melingkari lehernya ikut bergeser. Pria itu melirik gelas di tangan Alin dengan tatapan datar, lalu menggeleng pelan tanpa menyentuh jemari istrinya. "Tidak perlu, Alin. Masih banyak kolega dari kantor pusat dan investor yang belum naik ke pelaminan. Kamu saja yang minum kalau memang sudah lelah berdiri."

Suaranya bariton, rendah, dan begitu berjarak. Alin menarik kembali tangannya dengan perlahan. Dia meletakkan kembali gelas itu ke atas nampan dengan gerakan yang sangat hati-hati, berusaha keras agar tidak menimbulkan bunyi dencing kaca yang bisa memecah kesunyian canggung di antara mereka. Alin mengangguk kecil, mencoba menelan ludahnya sendiri yang mendadak terasa kelat di tenggorokan. Kebaya beludru putih dengan hiasan payet berkilau yang melekat di tubuhnya mendadak terasa mencekik, seolah kekurangan oksigen.

Tepat saat Alin meluruskan kembali pandangannya ke arah pintu masuk utama ballroom, kerumunan tamu yang berdiri di dekat karpet merah bertabur kelopak bunga mendadak terbelah. Kasak-kusuk rendah yang semula samar mulai terdengar riuh, beradu dengan alunan musik syahdu dari grup instrumen gesek di sudut ruangan yang mendadak kehilangan temponya. Beberapa pagar ayu yang berjaga di depan pintu tampak saling berbisik dengan wajah panik, sesekali melirik ke arah pelaminan.

Seorang wanita melangkah masuk membelah kemegahan pesta.

Dia sama sekali tidak mengenakan gaun pesta mewah atau kebaya brokat seperti tamu undangan lainnya yang hadir malam itu. Wanita itu hanya mengenakan blus katun sewarna krem yang tampak agak kusut di bagian lengan, dipadukan dengan rok plisket hitam yang panjangnya tanggung, memperlihatkan flat shoes-nya yang tampak berdebu. Rambutnya yang sedikit kecokelatan diikat asal ke belakang dengan jepit plastik murah, menyisakan beberapa anak rambut yang berantakan membingkai wajah pucatnya yang sama sekali tanpa riasan tebal. Matanya sembap, dikelilingi lingkaran hitam yang kontras dengan kulit wajahnya yang tirus.

Namun, bukan penampilannya yang membuat atmosfer di sekitar pelaminan megah itu mendadak membeku layaknya es, melainkan sosok anak laki-laki kecil berusia sekitar empat tahun yang berada di dalam gandengan erat tangan kirinya. Bocah itu memakai kemeja kotak-kotak kusam yang tampak kekecilan, melangkah ragu dengan sepasang sepatu karet murah yang mengeluarkan bunyi berdecit setiap kali menapak di atas lantai marmer hotel yang mengilap.

Alin merasakan perubahan drastis di sebelahnya sebelum otaknya sendiri sempat mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Tubuh tegap Elang mendadak menegang sempurna, mengeras layaknya batu karang. Alin bisa mendengar embusan napas Elang yang tertahan di tenggorokan, berubah menjadi tarikan napas yang pendek dan berat. Sepasang mata elang milik suaminya, yang biasanya menatap tajam, dingin, dan penuh perhitungan, kini melebar dengan pupil yang bergetar hebat. Seluruh fokus Elang runtuh dalam satu detik. Tatapan itu terkunci rapat, seolah terhipnotis pada sosok wanita yang baru saja menghentikan langkahnya di ujung karpet merah, tepat beberapa meter di bawah undakan pelaminan tempat mereka berdiri.

"Cindy ...?"

Bersambung ...

Assalamualaikum, halo Kakak semuanya. Mommy Ghina kembali datang, ada yang kangen nggak sih? Yuk tinggalkan komentarnya nih, Mommy Ghina bawa karya terbarunya, kalau banyak yang komentar, ceritanya dilanjut nih.

1
vania larasati
lanjut
🌸 𝑥𝑢𝑎𝑛 🌸
😂😂😂😂
merry yuliana
suruh ganti nama jadi burung perkutut aja kak
Naufal Affiq
kalau masih bodoh lagi kau elang,oma sudah mengasih jalan biar kau menjadi pintar,maka jalan kan apa yang harus kamu kerja kan
olyv
elang oon dikasih berlian kayk alin malah milih jalang kayak cindy siap² gigit jari kalo tetap keras kepala
Yul Kin
lanjut kak
Ayudya
nah apa yg di bilang nenek itu bener elang apa ada bukti kalau si Ega itu anak kandung kamu.seorang CEO kok bodoh banget🤣🤣🤣🤣🤣
kaylla salsabella
nah pilih yang mana lang
yuni ati
Elang galauu🤣
Teh Euis Tea
nah loh pilih elang km berani ga pilih cindi dan di miskinkan nenekmu atau km pilih alin tg tulus sayang sm nenekmu
Sugiharti Rusli
mungkin karena hubungan yang terjalin selama ini dengan Alin dan keluarganya, membuat nenek Aisyah lebih memilih dirinya jadi cucu menantunya sih,,,
Sugiharti Rusli
kira" nenek Aisyah tuh tahu pasti yah kalo watak Alin juga tegas seperti dirinya, tapi dia bisa menempatkan kapan waktunya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi kalo perusahaannya baru berkembang pesat tapi juga ada di bawah induk perusahaan keluarganya yah,,,
Sugiharti Rusli
memang perusahaan yang di bawah kendali si Elang itu bukannya start up yah, kira" apa hubungannya sama harta milik sang nenek, apa investornya kah,,,
Mommy Ghina: perusahaan start up, tapi masih berinduk dengan perusahaan almarhum suami Nenek Aisyah
total 1 replies
Sugiharti Rusli
ternyata nenek Aisyah meski sudah uzur, tapi wibawanya tetap terlihat yah saat berkata tegas kepada si Elang cucunya
Wiek Soen
setuju dg nenek, CEO kok goblok
Neaaaa(ʘᴗʘ✿)o(〃^▽^〃)o
😬😬, ga bisa berkutik kan bapak elang yg terhormat, berpikir lah secara benaar jangan cuma bulol yg tdk pada tempatnya daaah... hadeeeh.. 😏😏
Nasya
bagus nek tak setuju bgt biar kapok elang
Nasya
hedehh CEO oon
Halimatus Syadiah
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!