Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Pagi hari di kediaman Mahendra terasa seperti zona latihan militer. Matahari bahkan belum sepenuhnya menampakkan diri, namun suara Papa Surya sudah menggelegar dari lantai bawah, meneriakkan instruksi-instruksi tentang penataan bunga, pengecekan daftar tamu, hingga detail terkecil seperti jenis pita pada souvenir.
Aku masih duduk di kamar tamu, berusaha menyesuaikan diri dengan kenyataan bahwa hari ini adalah hari di mana aku akan mengucapkan janji suci di depan penghulu. Meskipun kami berdua tahu itu adalah akad nikah yang sah, rasa gugup tetap saja merayap naik ke tengkukku. Apalagi setelah insiden penyusupan balkon tadi malam, Arkan sempat berpamitan dengan tatapan yang membuat jantungku berdegup abnormal.
"Naura! Cepat turun! Penghulu sudah datang!" seru suara nyaring dari balik pintu kamar.
Aku menarik napas panjang, menatap pantulan diriku di cermin. Kebaya putih gading yang kukenakan hari ini tampak jauh lebih anggun daripada saat sesi pemotretan kemarin. Dengan satu tarikan napas mantap, aku membuka pintu.
Namun, baru saja aku melangkah keluar, Hadi—asisten Arkan yang biasanya tenang—berlari menghampiriku dengan wajah pucat pasi.
"Bu Naura! Gawat! Bencana besar!" Hadi terengah-engah, memegang dadanya seolah terkena serangan jantung.
"Hadi, tenang dulu. Ada apa?" tanyaku bingung.
"Bukan, Bu! Ini soal katering! Truk katering yang membawa hidangan utama untuk akad dan resepsi baru saja mengalami kecelakaan di jalan tol! Semua makanan hancur total karena truknya terbalik!"
Mataku membelalak. "Apa?! Bagaimana bisa?! Itu kan katering pesanan khusus Papa!"
"Bukan cuma itu, Bu. Pengganti katering yang diminta Bapak secara darurat mendadak membatalkan pesanan karena mereka bilang stok bahan mentah mereka rusak semua dalam satu jam terakhir. Bapak sedang mengamuk di ruang tengah, beliau nyaris memecat seluruh staf logistik kita!"
Aku segera berlari menuju ruang tengah. Benar saja, di sana Arkan sedang berdiri dengan aura hitam pekat yang mengintimidasi. Dia sedang menelepon seseorang dengan nada rendah namun tajam, matanya menyiratkan kemarahan yang tertahan. Sementara itu, Papa Surya mondar-mandir dengan wajah merah padam, terus-menerus menatap jam dinding.
"Dunia ini tidak akan kiamat hanya karena hidangan utama hilang!" seru Papa Surya dengan nada putus asa. "Tapi tamu-tamu VIP kita akan datang dalam tiga jam! Ini adalah penghinaan bagi keluarga Mahendra!"
Arkan menutup teleponnya dengan kasar. Dia memijat pelipisnya. Masalahnya bukan sekadar makanan, tapi *nama baik* dan kesempurnaan acara yang diinginkan Papanya. Dia tidak peduli pada makanan, dia peduli pada ketenangan Papa-nya hari ini.
"Arkan," panggilku pelan, mendekatinya di tengah keriuhan.
Arkan menoleh. Wajahnya yang tegang sedikit melunak saat melihatku, namun kekhawatiran masih jelas tersirat di matanya. "Naura, maaf. Acara kita jadi kacau. Saya tidak menyangka hal seperti ini bisa terjadi secara beruntun."
"Jangan minta maaf. Ini bukan salahmu," aku menggenggam tangannya, merasakan telapak tangannya yang dingin karena stres. "Dengar, sebagai manajer pemasaran, saya punya daftar *database* vendor yang pernah bekerja sama dengan Mahardika Group untuk acara-acara besar yang *last minute*. Biarkan saya yang menangani ini."
Arkan menatapku dalam-dalam. Di matanya, dia melihat keyakinan yang sama saat aku menangani krisis produk beberapa bulan lalu. Dia mengangguk pelan. "Lakukan. Saya akan berurusan dengan sopir truk dan manajemen logistik yang tidak becus itu."
Saat aku mulai beraksi menelepon sana-sini, aku melirik ke arah tamu. Aku terkejut saat melihat Valerie ada di sana. Sesuatu tentang kehadiran Valerie terasa aneh. Mengapa dia ada di sini? Aku tidak yakin Arkan mengundangnya ke acara ini.
Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. Saat aku menangani proyek pemasaran dulu, ada satu vendor katering kecil namun berkualitas tinggi yang pernah ditolak oleh departemen logistik karena masalah administrasi. Mereka memiliki kapasitas untuk melayani acara besar jika dikelola dengan manajemen yang tepat.
Aku bergegas menghubungi mereka. "Pak, ini Naura dari Mahardika. Saya butuh bantuan kalian. Jika kalian bisa menyediakan hidangan untuk 500 tamu dalam 2 jam, saya akan mempromosikan merek kalian di seluruh jaringan iklan Mahardika selama satu tahun penuh."
Negosiasi berlangsung alot namun berhasil. Mereka setuju karena mereka memang sedang tidak ada *event* besar.
Namun, tantangan selanjutnya adalah transportasi. Bagaimana membawa ribuan porsi makanan ke sini dalam waktu singkat?
Aku melihat Arkan yang sedang sibuk menginterogasi manajer logistik. Tanpa berpikir panjang, aku menghampirinya. "Arkan, saya butuh mobil-mobil pengiriman logistik cadangan perusahaan. Semuanya. Untuk mengangkut katering darurat."
Arkan tidak bertanya dua kali. Dia langsung memberikan instruksi lewat *walkie-talkie* kepada tim keamanan dan logistiknya. Dalam hitungan menit, sistem diatur ulang.
Di tengah kekacauan itu, aku melihat Valerie mencoba mendekati meja katering darurat yang mulai berdatangan.
Saat Valerie lewat dengan pura-pura menelpon, dia tidak sengaja menyenggol nampan yang baru saja diturunkan. Namun, aku sudah berada tepat di sana.
"Oh, hati-hati, Valerie," kataku dengan senyum manis namun tajam seperti silet. "Lantai ini baru saja dipel. Kalau kamu jatuh, reputasi Mahardika Group mungkin tidak akan terganggu, tapi harga diri mantan tunangan yang datang tak diundang seperti kamu mungkin akan hancur lebur."
Valerie menatapku dengan mata melotot. "Aku hanya ingin membantu, Naura. Lagipula, katering murahan ini tidak akan sanggup memuaskan lidah tamu kelas atas."
"Jika tamu tidak puas, itu urusanku," balasku dingin. "Sekarang, bisakah kamu pergi? Kamu berdiri di depan jalur distribusi logistik kami. Kehadiranmu benar-benar mengganggu efisiensi kerja."
Arkan, yang sedari tadi memperhatikan dari kejauhan, tiba-tiba berjalan mendekat. Dia melihat Valerie dengan tatapan yang sangat asing—tatapan datar tanpa emosi sedikit pun.
"Valerie," suara Arkan rendah. "Saya tidak ingat mengundang siapa pun selain keluarga inti dan rekan bisnis utama. Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Arkan... aku hanya ingin memberikan selamat..."
"Hadi, tolong kawal dia sampai ke pintu keluar. Dan pastikan dia tidak kembali lagi."
Valerie tampak terkejut, bibirnya bergetar. Dia mencoba membela diri, namun tatapan Arkan benar-benar mengunci pergerakannya. Akhirnya, dengan wajah merah padam, dia pergi meninggalkan ruangan dengan langkah gusar.
Setelah Valerie hilang dari pandangan, suasana sedikit lebih tenang. Katering darurat yang kupesan ternyata luar biasa. Koki mereka menyajikan makanan dengan estetika yang bahkan lebih baik daripada katering asli yang dipesan Papa Surya.
Arkan mendekatiku, memeluk pinggangku di tengah hiruk-pikuk pelayan yang menata meja. "Kamu menyelamatkan hari ini, Manajer Naura."
"Ini kerja tim, Pak CEO," balasku sambil merapikan dasinya. "Tapi lain kali, tolong pastikan keamanan apartemen kita tidak membiarkan 'hama' masuk begitu saja."
Arkan terkekeh, suara baritonnya yang menenangkan membuat rasa gugupku perlahan sirna. "Saya akan memperketat keamanan. Mulai hari ini, hanya orang-orang yang saya cintai yang boleh masuk ke ruangan ini."
Hari itu, acara akad nikah berlangsung dengan sangat khidmat. Saat penghulu mengucapkan sah, aku merasa seluruh beban di pundakku terangkat. Arkan menatapku dengan mata berkaca-kaca, sebuah pemandangan yang tak akan pernah kulupakan seumur hidupku.
Namun, di tengah kemeriahan resepsi, aku menyadari satu hal. Valerie mungkin kalah hari ini, tapi orang-orang seperti dia tidak akan pernah berhenti. Dan Arkan? Dia mungkin tidak tahu bahwa Valerie-lah yang mendalangi kecelakaan truk katering itu.