Dinara Sasikirana kembali memulai hidup baru dari nol pasca perceraiannya dengan Tri Bayu. Rumah tangga yang ia bangun selama 5 tahun harus kandas karena mantan suaminya berniat melakukan poligami.
Dinara mundur demi menyelamatkan harga dirinya, meski ia tak punya apapun yang jadi tujuan hidupnya.
" Kamu nggak mau pulang ke Ngawi aja, Di? " tanya Mela sahabatnya
" Pulang dengan status janda? Yang ada aku di caci maki sama ibu dan bapakku, belum lagi cibiran warga yang anti banget sama janda.
Padahal belum tentu juga aku tertarik sama suami mereka. Makanya aku milih untuk tetap di kota ini, aku harus kerja dan berdiri di kaki sendiri, Mel"
" Bagus Di, aku suka prinsip hidupmu yang nggak menye-menye. Buktikan kalau kamu bisa bangkit dan nggak jadi beban buat mantan suamimu "
Dinara memang sarjana lulusan S1 di bidang marketing, tapi sayangnya ijazah itu tak pernah ia pakai sejak lulus 3 tahun lalu.
Ia terus mencari pekerjaan meski tak mudah, hingga akhirnya ia diterima kerja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidup Selepas Badai.
Udara pagi Pemalang terasa agak pengap, bercampur dengan debu jalanan yang tertiup angin. Namun, tidak seberat suasana hati Dinara saat ini. Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, seharusnya ia masih menikmati masa-masa indah sebagai seorang istri, atau mungkin sedang mengasuh anak kecil. Tapi hidupnya tak seindah drama Korea, ia harus mengalami kisah dramatis yang membuat mentalnya hancur.
Kini yang ada di tangannya hanyalah sebuah surat cerai dari pengadilan, sebuah benda tipis namun beratnya terasa ribuan kilogram.
" Ya Allah.....serius ini aku jadi janda muda? Padahal aku baru tiup lilin beberapa hari lalu, benar-benar kado pahit di ulang tahun yang ke 25" ucapnya getir
Ia menatap sebuah koper dan kardus besar berisi pakaian yang teronggok di sudut ruangan. Ia harus memulai hidup baru di sebuah kontrakan tiga petak yang baru saja ia sewa.
"Huaaah... Capeknyaaaaa" Dinara menghela napas panjang, kemudianmenyeka keringat di dahinya.
Ia duduk lemas di atas karpet tipis yang baru ia hamparkan. Pandangannya mengelilingi ruangan sempit ini, sebuah kontrakan yang direkomendasikan oleh sahabatnya. Melani.
Dinding kontrakan itu putih bersih karena baru saja di cat oleh pemiliknya, kamar mandi kecil yang cukup untuk ember besar, serta ada satu jendela kecil sebagai jalan masuk cahaya matahari.
Ini jauh sekali dengan rumahnya yang luas, nyaman, dan mewah yang dulu ia tempati bersama Mas Tri. Rumah yang dulu ia rawat dengan penuh cinta, kini harus ia tinggalkan untuk ditempati oleh 'wanita baru' itu.
Haura Anandita.
Nama itu saja sudah membuat ulu hati Dinara terasa perih. Si perebut itu berusia 30 tahun,usia yang sangat matang untuk menjadi p3lakor syar'i. Dan kabarnya, ia menjabat posisi manajer di salah satu restoran ternama.
Penampilannya selalu tertutup rapat, gamis panjang, jilbab syar'i yang menutupi dada hingga perut, wajahnya polos tanpa riasan berlebih. Tipe wanita yang kalau dilihat orang adalah jelmaan bidadari surga.
Halah halah! Rasanya pengen ia tarik hijabnya karena tak sesuai sama kelakuannya.
"Astaghfirullah... Jilbab itu nggak ada hubungannya sama kelakuan jin dasyim. Kadang jin itu bisa berwujud jadi sosok paling alim sekalipun. " ucap Dinara sambil mengelus dada.
" Hai bestie!! "
Mela sahabat karib Dinara yang bekerja sebagai pelayan restoran datang membawa beberapa kantong plastik berisi makanan dan minuman.
Mela adalah sahabatnya sejak jaman putih abu, mereka berasal dari kota yang sama, Blitar. Selama ini, dia yang menguatkan Dinara untuk bangkit dari keterpurukan. Ia sudah menganggap Mela sebagai saudara sendiri.
" Ya Allah Mel, ngagetin aja"
"Assalamu’alaikum, Ra!" seru Mela seraya membuka pintu kontrakan tanpa mengetuk.
"Wa’alaikumsalam, Mel. Sini masuk, hati-hati banyak kardus belum kebuka." sahut Dinara bersemangat.
Mela meletakkan belanjaannya di atas meja kecil yang baru jadi, lalu memeluk erat sahabatnya itu.
"Gimana perasaan kamu hari ini? Masih berat? Atau mulai terbiasa?"
Dinara tersenyum kecut, "Lumayan. Mulai terima keadaan. Daripada di rumah terus nangisin orang yang nggak jelas, mending di sini lebih tenang."
Mela duduk bersila, matanya mengelilingi ruangan ini. Cukup bersih dan rapi, karena sebelum Dinara menyewanya, ia meminta Bu Asih untuk mengecet tembok yang tadinya penuh dengan coretan anak kecil.
" Tempat ini memang kecil, tapi bersih dan aman. Setidaknya disini kamu merasa tenang ditempat baru, nggak ada lagi yang ngatur-ngatur seperti mantan mertuamu."
Dinara bergidik ngeri membayangkan wajar mertuanya yang mirip nenek Tapasya. Sumpah demi langit dan bumi, ia memang pernah berdoa untuk tak lagi jadi menantu Bu Hesti, tapi ia tak menyangka jika Allah akan mengabulkan lewat perceraian.
Mereka membuka makanan, makan siang bersama sambil mengobrol ini itu. Tentang rencananya kedepan, dan tentang hidupnya pasca perceraian.
Kontrakan Mela tak jauh dari sini, tapi rencananya ia mau pindah kontrakan juga disebelah kamar Dinara. Kebetulan ada yang baru saja pindah karena sudah beli rumah subsidi di kecamatan sebelah.
"Ra, jujur akumasih emosi sih sama kejadian itu," ucap Mela, suaranya mulai meninggi menahan amarah. "Kamu itu istri sholehah, kamu setia, kamu rawat dia dari masih nol sampai jadi supervisor lapangan. Terus sekarang? Dia bawa perempuan itu masuk ke rumah tanpa rasa bersalah? Gila sih!"
Dinara diam, menyendok urab pelan-pelan ke mulutnya. Menikmati rasa yang beranekaragam meski obrolan mereka pahit.
"Udah Mel, itu semua masa lalu. Rumah itu juga bukan hakku lagi sekarang, aku nggak mau berurusan lagi sama Mas Tri dan keluarganya. Aku pergi hanya untuk tenang, meski aku sempat marah karena aku tidak layak diperlakukan seperti ini" ujar Dinara yang harus legowo menerima suratan takdir.
"Terus kamu nggak tuntut harta gono-gini, Ra?" tanya Mela lagi.
Dinara hanya menggeleng pelan.
" Nggak ada gunanya, Mel. Aku pasti n kalah di pengadilan."
"Kalian itu nikah sudah 5 tahun lebih! Selama itu Mas Tri naik jabatan dua kali! Gaji dia sekarang kan beda jauh sama dulu, Ra. Pasti harta yang terkumpul banyak banget, termasuk aset rumah itu kan?"
Dinara menghela napas lagi, kali ini lebih berat. Ia menaruh sendoknya, menatap Mela dengan tatapan lelah namun tegas.
"Sebenarnya aku sudah tuntut kok Mel, waktu sidang kemarin. Aku minta hakku sebagai istri yang ditalak. Tapi..." Dinara tertawa getir penuh kepahitan.
" Tapi apa apa? "
"Dia pake jasa pengacara, Mel. Pengacara yang katanya ahli hukum Islam dan perdata. Mereka main kata-kata, mereka bilang harta itu hasil usaha dia sendiri. Karena aku nggak kerja berat dan nafkah selama 5 tahun itu cukup, jadi aku tidak dapat bagian apapun, Seandainya saja aku punya uang untuk bayar jasa pengacara, mungkin aku bisa lawan mereka"
"APA? SIAL4N BANGET TUH COWOK" Mela membentak kesal, tangannya memukul pelan lantai.
" Astaga Mel, istighfar jangan pake emosi"
" Itu pengacara kuliah dimana sih? Baik hukum agama atau negara sekalipun, sudah jelas diatur hak seorang istri yang mau di ceraikan. Lagian itu hakim kok dodol banget, aku yakin dia di sogok sama mantan suamimu "
Nafas Mela naik turun karena emosi menguasai jiwa.
" Aku emosi saat dia bilang kalau selama 5 tahun kamu kalau pernah kerja berat. Mana ada kerja di rumah itu nggak capek! Ngurus rumah, ngurus dia, itu kerjaan berat! Karena yang ringan itu cuma ngegamparin dia!"
"Iya aku tahu, tapi hukum tetap hukum. Aku nggak punya kuasa, aku nggak punya uang buat lawan pengacara mereka. Akhirnya aku cuma dapat nafkah iddah dan mut’ah yang jumlahnya nggak seberapa dibanding apa yang dia punya sekarang."
" Dan sekarang Mak Lampir Syar'i itu yang menikmati hasilnya? "
" Sudah jangan di bahas lagi, aku percaya jika Allah tidak akan melanggengkan kuasa Mas Tri. Sebab kesuksesan dia adalah berkat doaku sebagai istri, bukan doa p3lakor itu "
" Kamu benar Ra, aku tau konsep beda istri beda rejeki"
"Alhamdulillah nafkah iddah dan mut'ah cukup buat bayar uang kontrakan setahun, beli kasur, lemari pakaian, dan perabot dapur seadanya. Aku bersyukur masih bisa berdiri di atas kaki sendiri meski ini tidak sebanding dengan apa yang telah aku berikan"
"Iya sih, mau bagaimanapun kamu harus beryukur. Terus orang tua kamu di Blitar gimana, Ra? Mereka sudah kamu kasih tahu?" tanya Mela pelan.
Wajah Dinara berubah sendu. Ia menggeleng pelan seolah menjawab semua pertanyaan sahabatnya.
"Nggak Mel. Aku belum cerita, aku malu. " ucapnya pelan
" Ra.... " Mela mengusap-usap lengan Dinara sebagai bentuk dukungan sebagai sahabat.
"Di keluarga kami, perceraian itu masih jadi hal yang sangat tabu, itu adalah aib yang harus ditutup. Apalagi Bapak itu orangnya keras dan gengsinya tinggi, ibu juga tipe istri yang manut banget sama suaminya. Kalau tahu anaknya diceraiin karena suaminya selingkuh, pasti mereka marahin aku. Bapak pasti nuduh aku kurang ini itu sebagai istri, belum lagi pembahasan anak yang nggak berhenti-berhenti"
"Terus kamu bakal di sini terus?"
"Sementara gini aja dulu, Mel. Aku nggak mau pulang ke Blitar dengan status janda dan bikin malu mereka. Aku mau tetap kerja di Pemalang dulu. Aku mau kumpulin uang, aku mau bangun harga diri aku lagi. Nanti, kalau aku sudah sukses, kalau aku sudah kuat , baru aku pulang. Baru aku cerita semuanya sama Bapak dan Ibu, biar mereka tahu kalau anaknya kuat, bukan anak yang gagal," tegas Dinara, matanya mulai berkaca-kaca namun menyimpan api semangat.
Mela mengangguk kagum, ia memegang tangan sahabatnya yang sudah jauh lebih tegar dari kondisi 3 bulan lalu
"Betul itu Ra,kamu itu wanita kuat. Kamu pantas dapat yang lebih baik dari si Mas Pandir itu."
" Aku belum ada kepikiran buat cari pengganti, Mel. Aku mau menikmati kesendirian dulu, aku mau pulih dari luka itu"
" Iya aku paham." Mela mengubah posisi duduknya jadi lebih serius. "Lali apa rencanamu sekarang? Mau nyari kerja?"
"Pasti dong Mel," jawab Dinara cepat. "Aku harus bekerja untuk membiayai hidupku sendiri"
"Terus kamu mau tunggu sampai masa iddah selesai atau gimana? Kan biasanya kan perempuan itu nggak boleh kemana-mana sebelum masa iddah selesai."
"Kelamaan Mel!" potong Dinara tegas. "Masa iddah itu kan hakku buat istirahat dan dijaga, tapi keadaan nggak memungkinkan. Uang sisa dari Mas Tri itu, cuma cukup buat bertahan hidup paling banter dua bulan ke depan. Kalau aku diam aja nunggu iddah habis, nanti aku makan apa?"
Mela tertegun, menyadari betapa kerasnya realita yang dihadapi sahabatnya.
"Jadi aku harus cari kerja sekarang juga. Kerja apa aja deh yang penting halal, yang penting bisa menghasilkan uang untuk biaya sehari-hari." lanjut Dinara.
Mela mengangguk-angguk, lalu tiba-tiba wajahnya bersinar seolah mendapat ide cemerlang.
"Eh Ra! Aku punya tawaran nih, siapa tau cocok." ujar Mela dengan mata berbinar.
"Tawaran apaan Mel?"
"Di restoran tempat aku kerja, butuh karyawan baru. Posisi nya bisa jadi kasir, atau bisa juga jadi pelayan kayak aku. Gajinya sih nggak sebesar nafkah kamu saat jadi istrinya si kampret, tapi tipnya juga sering dapat kalau lagi rame. Jam kerjanya juga shifting, jadi nggak terlalu nyiksa."
Dinara terdiam.
"Restoran Jepang?"
" Bukan Ra, aku sudah pindah dari restoran Jepang itu. Sekarang aku kerja di restoran seafood "
" Tapi kira- kira, statusku yang janda dipermasalahkan nggak ya? " Dinara nampak tidak percaya diri.
"Ah elah Ra! Ngapain mikirin omongan orang! Perut harus diisi, selagi halal kenapa ngga? Lagian di sana kan ramai, kamu bakal sibuk terus, jadi nggak sempat mikirin mantan suami atau pelakor itu. Inget ya Ra, nggak ada yang melarang wanita janda cari rezeki kan?" bujuk Mela.
"Kerjanya susah nggak Mel? Kamu kan tau aku belum pernah kerja seumur hidupku"
"Gampang kok, Ra! Nanti aku ajarin! Aku kenal sama manajer operasionalnya, jadi aku bisa rekomendasiin. Kamu kan cantik Ra, ramah, sopan, pasti diterima. Daripada di sini melamun mulu, mending kerja sana. Bisa dapat uang dan juga temen baru."
Dinara menimbang-nimbang, benar juga kata Mela. Ia butuh uang cepat, ia butuh kesibukan agar otaknya tidak terus memutar kenangan buruk itu. Jadi dengan keputusan yang sudah ia pertimbangan, ia akan ambil kesempatan itu.
"Ya udah deh Mel, aku mau. "
"Oke kalau gitu kamu siapin CV seadanya, nanti aku bantu rapihin. Besok aku bawa ke Bu Indri, mudah-mudahan langsung ACC"
" Aamin"
Mereka berdua akhirnya tersenyum dalam sepakat, rasa haru bercampur semangat mulai terasa memenuhi dada. Dinara merasa ada secercah harapan di ujung lorong gelap ini
ihhh gemezzz deh SM ms langit 🤭
mau ku Author nulis sekali UP 10 Eps 🤭🤭🤭 But I Luv you Thor😍😍😍