NovelToon NovelToon
Sisi Misterius Salsa

Sisi Misterius Salsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8.Rumah besar yang hampa.

Perjalanan menuju kota terasa cukup panjang. Mobil melaju membelah jalan raya yang mulai ramai. Di dalam kabin mobil, suasana terasa tenang namun penuh dengan pikiran masing-masing.

Salsa duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela. Pemandangan desa perlahan berganti menjadi gedung-gedung tinggi dan hiruk pikuk kota. Namun, bagi mata Salsa, pemandangan itu tidak hanya diisi oleh orang-orang hidup.

Di seberang jalan, dia melihat sosok wanita berbaju putih yang melayang beberapa sentimeter di atas aspal. Di sudut gang sempit, ada anak kecil yang tertawa sendirian tanpa tubuh fisik. Dan yang paling sering dia temui adalah arwah-arwah yang terdampar, menatap kosong ke jalan raya seolah tidak sadar mereka sudah mati.

'Aduh... banyak banget ya di kota,' batin Salsa mendesis pelan.

Tapi dia ingat pesannya sendiri. Dan dia juga ingat wajah Rian yang tadi malam gemetar ketakutan. Pria di sampingnya ini jelas-jelas tipe orang yang anti dengan hal-hal mistis. Kalau dia sampai berteriak atau menunjuk-nunjuk lagi, bisa-bisa Rian mengerem mendadak dan mengantarnya pulang lagi.

Salsa menghela napas, lalu memejamkan mata sebentar, mengatur fokus penglihatannya. Ia memaksakan dirinya untuk "mematikan" indra keenamnya sebisa mungkin. Ia menatap lurus ke depan, berpura-pura tidak melihat apa-apa, tidak mendengar bisikan-bisikan samar yang memanggil-manggil namanya.

Triknya ampuh. Selama Salsa mengacuhkan mereka dan tidak menatap mata mereka, arwah-arwah itu hanya menatapnya sebentar lalu pergi begitu saja atau terus diam di tempat. Mereka tidak berani mendekat karena Salsa tampak tak peduli.

Rian yang menyetir sesekali melirik ke arah Salsa. Ia melihat gadis itu duduk tenang, wajahnya santai, tidak ada tanda-tanda akan berhalusinasi atau bicara sendiri.

'Hmm... ternyata kalau di tempat umum dan siang hari, dia normal juga ya. Mungkin tadi malam cuma kebetulan atau suasananya yang mendukung,' batin Rian berusaha meyakinkan diri sendiri agar rasa takutnya berkurang.

"Sebentar lagi sampai, Sal," kata Rian memecah keheningan.

"Oke, Paman. Rumah keluarga Wijaya besar banget ya katanya?" tanya Salsa basa-basi.

"Ya... lumayanlah. Keluarga terpandang," jawab Rian singkat.

Beberapa menit kemudian, mobil memasuki gerbang besi besar yang megah. Mereka melintasi taman yang sangat luas dan terawat rapi, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah rumah bergaya klasik modern yang sangat luas dan mewah. Ini adalah kediaman utama keluarga Wijaya.

"Mari turun, Sal," ajak Rian.

Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Pintu utama terbuka, dan yang menyambut mereka bukan pelayan, melainkan kesunyian yang cukup mencolok.

Suasana di dalam sangat dingin karena pendingin ruangan, dan terlihat sangat bersih, rapi, namun terasa kosong.

"Eh... sepi ya, Paman? Nggak ada orangnya?" tanya Salsa heran sambil melihat ke kiri dan kanan. Ruang tamu yang luas itu tampak megah dengan perabotan mahal, tapi tidak ada satu pun jiwa yang terlihat.

Rian berjalan santai meletakkan kunci mobil di atas meja konsol. "Iya, soalnya semua orang lagi keluar kota atau ada kepentingan masing-masing. Kata asisten rumah tangga, mereka baru bakal pulang malam hari nanti. Jadi sekarang rumah lagi sepi."

Sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Ada beberapa pelayan, tapi Rian sengaja ingin menenangkan situasi dulu. Apalagi dia tidak mau Salsa berkeliling sembarangan.

Rian menuntun Salsa berjalan menyusuri lorong panjang. Alih-alih mengajaknya naik ke lantai utama di mana foto-foto besar keluarga Wijaya terpajang di dinding—termasuk foto dirinya yang masih muda dan foto resmi keluarga—Rian justru berbelok ke arah sayap timur rumah, menuju lantai dasar.

"Kamu tidur di sini aja ya, Sal. Kamar tamu ini nyaman, dekat dengan dapur dan taman belakang. Jadi kamu nggak perlu naik turun tangga yang capek," kata Rian sambil membukakan sebuah pintu kamar yang luas, bersih, dan ber-AC.

Salsa masuk dan melihat-lihat. Kamarnya sangat bagus, kasurnya empuk, ada lemari besar dan kamar mandi dalam.

"Wah... bagus banget kamarnya! Mewah sekali, Paman. Terima kasih," ucap Salsa senang. Ia sama sekali tidak curiga kalau Rian sebenarnya sedang menyembunyikannya agar tidak melihat foto-foto yang bisa membongkar identitas asli pria itu.

Salsa duduk di tepi kasur, lalu menatap Rian yang berdiri di ambang pintu. Wajahnya kembali terlihat serius dan sedikit cemas.

"Paman..." panggilnya pelan.

"Hmm?"

"Kan kita sudah sampai di rumahnya. Boleh tahu dong sekarang... siapa nama lengkap calon suamiku itu? Dan kapan aku bisa ketemu dia?" tanya Salsa dengan polos. "Kakek kan tidak menyebutkan namanya,walaupun tidak tahu namanya aku ingin tahu orang nya."

Rian tersentak sedikit. Jantungnya berdegup kencang mendengar pertanyaan itu. 'Gila, nih cewek nanya lagi. Jawab apa coba?'

Belum sempat Rian menjawab, tiba-tiba ponsel di saku celananya berdering keras. Nomor dari kantor polisi.

Rian buru-buru mengangkat telepon itu. "Halo? Iya, ini Inspektur Wijaya... Apa?! Ada perampokan bersenjata?! Oke, saya segera datang!"

Wajah Rian langsung berubah total. Wajah santainya hilang, berganti dengan wajah tegas dan sigap seorang penegak hukum. Ia menutup telepon dengan cepat.

"Sal, maaf ya! Ada kasus mendadak di kantor! Aku harus segera pergi sekarang!" kata Rian dengan napas agak memburu.

"Eh? Kok buru-buru banget, Paman?"

"Iya, urusan negara gabisa ditunda. Dengerin ya," Rian menatap Salsa dengan tatapan serius, hampir seperti memberi perintah. "Kamu di kamar ini aja ya. Jangan keluyuran keluar masuk kamar orang lain apalagi naik ke lantai atas. Di sana banyak barang berharga dan privasi keluarga. Tunggu di sini sampai aku atau orang lain yang memanggilmu, mengerti?"

Nada bicara Rian memang agak keras dan memimpin, karena kebiasaan kerjanya.

Salsa mengangguk patuh meski sedikit bingung. "I-iya Paman... aku ngerti."

"Bagus. Nanti kalau lapar, panggil saja Mbak Siti, pelayannya. Nanti mereka yang bawain makanan. Jangan buka pintu buat sembarang orang ya."

"Siap, Paman."

"Ya sudah, aku pergi dulu!"

Rian pun berbalik dan berjalan cepat meninggalkan kamar itu, lalu menutup pintu dengan cukup rapat.

Salsa terdiam sendirian di dalam kamar yang besar itu. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Aneh... Paman Rian itu orangnya baik sih, tapi kadang galak dan misterius banget ya," gumamnya sendirian. "Terus kalau dia pergi, kapan aku ketemu calon suamiku yang asli? Apa dia mirip-mirip Paman Rian ya? Soalnya kan satu keluarga..."

Salsa merebahkan tubuhnya ke atas kasur empuk itu, menatap langit-langit kamar.

"Mereka berdua sama-sama keluarga Wijaya..." Salsa mengulang nama itu berulang kali. "Kenapa namanya sama persis ya sama Paman itu? Apa mungkin nama keluarga Wijaya itu umum ya? Atau jangan-jangan... Paman Rian itu paman dari calon suamiku?atau..."

Salsa menggeleng-gelengkan kepala mencoba menghilangkan pikiran aneh itu.

"Ah nggak mungkinlah. Mungkin saja dia paman calon suamiku. Ya sudahlah, yang penting aku punya tempat tinggal dan menuruti wasiat Kakek."

Salsa berdiri dan mulai merapikan barang bawaannya yang sedikit itu ke dalam lemari. Di luar, dia bisa mendengar suara mobil Rian melaju kencang meninggalkan halaman rumah.

Kini dia benar-benar sendirian di rumah raksasa itu. Menunggu takdir yang masih menjadi teka-teki besar baginya.

1
💝F&N💝
lanjut.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
💝F&N💝
ini kapan up lagi
paijo londo
thor mampir kyaknya seru nih🤭🤭
💝F&N💝
up lagi
💝F&N💝
good👍👍👍👍👍 aku suka alurnya.
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍
Sahabat Oleng
aku mampir thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!