NovelToon NovelToon
VENA - AIR YANG MATI

VENA - AIR YANG MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Fantasi
Popularitas:147
Nilai: 5
Nama Author: Catnonimous

Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Benang merah yang terputus

Detektif Rasyid memulai penyelidikannya jauh dari debu reruntuhan. Berdasarkan informasi dari informan rahasianya, toko "Sumber Makmur" bukan sekadar tempat kerja bagi Aris, melainkan titik awal sebuah anomali. Pemiliknya, Pak Jaya, dilaporkan meninggal secara mendadak dengan kondisi yang tidak wajar.

Rasyid tiba di depan toko yang kini tertutup rapat itu. Ia menemui Ketua RT setempat untuk meminta izin sekaligus pendampingan masuk ke dalam bangunan tersebut.

"Pak RT, saya perlu memeriksa bagian dalam toko ini untuk kepentingan penyelidikan relawan yang hilang," ujar Rasyid sambil menunjukkan tanda pengenalnya.

Pak RT mengangguk cemas, kunci cadangan bergemerincing di tangannya. "Boleh, Pak Detektif. Kasihan Aris, dia anak baik. Tapi toko ini memang terasa sunyi sejak Pak Jaya meninggal."

Sambil melangkah masuk ke dalam ruangan yang pengap dan berdebu, Rasyid bertanya dengan nada santai namun menyelidik. "Sebenarnya, apa penyebab Pak Jaya meninggal? Apa warga tahu?"

"Itu dia, Pak. Kami tidak tahu pasti. Aris yang melihatnya juga tidak tahu percis kenapa. Katanya mendadak saja," jawab Pak RT jujur.

"Lalu di mana jenazahnya sekarang? Apakah dimakamkan di dekat sini?"

Pak RT menggeleng. "Aris bilang jenazahnya sudah diambil oleh pihak keluarga beberapa hari setelah kejadian. Tapi anehnya, saya sendiri tidak pernah melihat kerabat Pak Jaya datang sebelumnya. Setahu saya, Pak Jaya hidup sebatang kara."

Rasyid terhenti di depan meja kerja Pak Jaya yang berantakan. Matanya menyapu sekitar, mencari jejak yang mungkin tertinggal.

"Pak RT, sepertinya saya masih perlu memeriksa tempat ini lebih jauh, tapi nanti setelah pekerjaan lainnya selesai saya kembali lagi." ungkap Rasyid.

"oh baik Pak, kalau ada apa-apa kemari saja Pak." ucap pak RT.

"Keluarga?" pikir Rasyid dalam benaknya. Jika Aris berbohong soal jenazah itu, berarti ada sesuatu yang jauh lebih gelap yang sedang ia sembunyikan—atau justru Aris sedang berusaha melindungi rahasia besar. Rasyid sangat berharap pemuda itu masih hidup untuk memberikan jawaban.

...----------------...

Penyelidikan berlanjut ke alamat tempat tinggal Liora. Rasyid tiba di sebuah rumah mungil yang tampak asri namun sunyi. Ia mengetuk pintu beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban. Seorang tetangga yang sedang menyiram tanaman di seberang jalan memperhatikannya.

"Cari Liora, Pak?" ucap tetangga.

"iya, dia ada di rumah?" tanya Rasyid.

"Sudah beberapa hari ini dia tidak pulang. Heran juga saya, biasanya dia rajin keluar pagi-pagi," ujar tetangga tersebut.

Rasyid segera memanggil Ketua RT setempat untuk meminta izin masuk. Setelah menjelaskan bahwa Liora adalah salah satu relawan yang hilang dalam bencana amblasnya tanah proyek pemerintah, wajah Pak RT dan tetangganya berubah pucat.

"Liora? Menjadi relawan proyek?" Pak RT tidak percaya. "Dia itu perempuan berpendidikan, Pak. Tidak mungkin dia ikut kerja kasar seperti itu."

Begitu pintu terbuka, Rasyid disambut oleh interior rumah yang sangat rapi dan dipenuhi buku. Namun, bukan buku fiksi yang ia temukan. Di ruang tengah, meja besar Liora dipenuhi dengan berbagai denah kota yang sangat detail, sketsa saluran pipa bawah tanah, hingga kliping berita lama tentang pembangunan kota.

Rasyid memakai sarung tangan karetnya dan mulai membolak-balik kliping tersebut. Matanya tertuju pada satu nama yang dilingkari dengan tinta merah oleh Liora:

Dr. Stela Hindenburg.

"Liora bukan perempuan biasa," gumam Rasyid pelan. "Dia bukan sekadar relawan. Dia sedang mencari sesuatu."

Rasyid menemukan sebuah buku catatan kecil bersampul hitam yang berisi coretan tangan Liora mengenai titik-titik lemah struktur tanah di bawah bekas pabrik tekstil. Tanpa membuang waktu, Rasyid mengamankan catatan-catatan penting itu ke dalam kantong bukti. Jika Liora selamat, catatan ini akan menjadi kunci. Namun jika tidak, catatan ini adalah wasiat terakhir yang akan membongkar apa yang sebenarnya terjadi di bawah tanah kota ini.

Rasyid keluar dari rumah itu dengan perasaan berat. Benang merah antara kematian Pak Jaya, hilangnya Aris dan Liora, serta Project Reaper mulai terhubung, namun jalan menuju kebenarannya kini tertutup oleh jutaan ton reruntuhan tanah. Dan sepertinya Liora tahu sesuatu dengan nama Dr. Stela Hidenburg.

...----------------...

Sementara itu, jauh di bawah tanah, Axel membawa Aris dan Liora menyusuri lorong yang lebih terang hingga sampai ke sebuah pintu kayu ek yang berat. Begitu terbuka, mereka disambut oleh ruangan yang tampak seperti kamar tidur mewah yang sangat bersih, namun berbau sterilisasi yang kuat.

Di tengah ruangan, terdapat sebuah ranjang besar dengan banyak selang kecil transparan yang menjuntai dari langit-langit. Di atas kasur itu, terbaring seorang perempuan dengan kebaya putih bersih. Wajahnya terlihat anggun, terlelap dalam tidur yang sangat tenang.

Axel menghentikan langkah mereka beberapa meter dari ranjang. Ia mengeluarkan sebuah foto usang berwarna sepia dan menunjukkannya kepada Aris dan Liora. Foto itu menampilkan seorang wanita cantik dengan tatapan cerdas, dia adalah Dr. Stela Hindenburg di masa mudanya.

"Cantik, bukan?" tanya Axel dengan suara bangga. "Sekarang, kalian lihat sendiri ke sana. Apakah ada satu pun kerutan yang bertambah di wajahnya?"

Aris dan Liora terkesiap. Sosok yang terbaring di ranjang itu identik dengan foto di tangan Axel. Kulitnya masih kencang dan merona, seolah waktu benar-benar berhenti bagi wanita itu sejak tahun foto itu di ambil.

"Kenapa banyak selang ini?" tanya Aris, matanya terpaku pada cairan bening yang mengalir masuk ke tubuh wanita itu.

"Itu adalah sumber anugerah, Aris," jawab Axel sambil mendekat ke arah ranjang. "Setiap hari, saya mengalirkan air dari permukaan ke dalam tubuh ibu saya melalui selang-selang ini. Namun, saat air itu bersentuhan dengan sel-sel tubuhnya, air itu berubah menjadi cairan keabadian. Satu tetes cairan dari tubuh ibu saya cukup untuk memberikan kekuatan abadi pada seratus orang. Bayangkan jika satu kota meminumnya... kita akan menjadi bangsa terkuat yang pernah ada."

Mendengar kegilaan itu, Aris teringat pada mayat-mayat di laboratorium tadi. "Kuat? Kau bilang abadi? Tubuh-tubuh di ruangan sebelah itu... mereka tidak tidur! Mereka membusuk dan mengeras dari dalam!" Aris berteriak tanpa ragu. "Mereka semua meledak! Kamu tahu itu bukan keabadian, itu pemusnahan!"

Senyum Axel menghilang seketika. Matanya berkilat penuh amarah. Dengan gerakan secepat kilat, ia menerjang Aris dan mencengkeram kerah bajunya hingga kaki Aris hampir terangkat dari lantai.

"Kau tahu apa? Hah?" bisik Axel, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan. Ia tersenyum lebar yang terlihat sangat mengerikan tepat di depan wajah Aris. "Jika kau tidak belajar cara menghormati kematian mereka yang sedang bertransformasi, kau sendiri yang akan merasakan akibatnya."

Ruangan menjadi sangat sunyi. Liora hanya bisa terpaku dengan napas tertahan. Tiba-tiba, tensi Axel menurun. Ia melepaskan cengkeramannya, lalu dengan sangat lembut ia merapikan kembali kerah baju Aris yang kusut, menepuk pundaknya seolah mereka adalah kawan lama.

"Maafkan saya," ucap Axel dengan suara yang kembali halus dan sopan. "Terkadang kebenaran memang sulit diterima bagi mereka yang belum siap melihat masa depan."

Aris terengah-engah, merasakan kedinginan yang luar biasa menjalar dari sentuhan tangan Axel. Di ruangan itu, di hadapan wanita berkebaya putih yang tidak menua, Aris menyadari bahwa air yang mereka cari untuk menyelamatkan kota adalah racun yang sama yang sedang menyedot kemanusiaan dari orang-orang di bawah tanah ini.

...----------------...

Axel melangkah dengan jumawa, seolah-olah ia sedang memamerkan koleksi seni yang tak ternilai harganya. Setelah beberapa saat berada di dalam keheningan ruangan ibunya, ia membawa Aris dan Liora menuju sebuah pintu baja yang lebih kokoh bernama "red room". Di depannya, cahaya lampu koridor berubah menjadi merah pekat, menciptakan suasana yang mencekam.

Empat penjaga bersenjata lengkap berdiri tegak di sisi pintu, memberi hormat saat Axel mendekat.

"Kalian akan melihat keberhasilan saya, dan tentu saja, keberhasilan ibu saya," ucap Axel dengan suara yang bergema di lorong.

Ia membuka pintu tersebut dan membawa mereka masuk ke sebuah anjungan pengamatan. Di hadapan mereka terbentang kaca tebal yang sangat luas, namun di balik kaca itu hanya ada kegelapan total. Axel menoleh ke arah Liora, lalu memberikan isyarat ke sebuah tombol lampu di dinding dengan gestur yang sangat sopan.

"Silakan, Liora. Kamu yang berhak menyalakannya," ucapnya penuh hormat yang dibuat-buat.

Dengan tangan gemetar, Liora menekan tombol tersebut. Sektika, lampu-lampu di balik ruang kaca menyala satu per satu. Awalnya, hanya terlihat asap tipis yang menyelimuti lantai ruangan luas di bawah sana. Aris, Liora, dan Axel berdiri dalam keheningan, menunggu sesuatu muncul dari balik kabut buatan tersebut.

"Ada... ada apa di bawah sana?" tanya Liora dengan suara nyaris hilang.

Tak lama kemudian, sosok-sosok mulai terlihat samar. Dari balik kepulan asap, muncul puluhan manusia dengan kondisi yang sangat mengerikan. Tubuh mereka tidak lagi utuh; ada yang memiliki luka menganga besar di bagian dada, ada yang kulitnya tampak seperti tambalan daging yang tidak sempurna. Pria dan wanita dengan pakaian yang sudah compang-camping mulai terlihat jelas.

Liora menutup mulutnya dengan kedua tangan, nyaris berteriak. Aris mengepalkan tinjunya hingga memutih. Puluhan manusia "cacat" itu berdiri mematung dengan gerakan napas yang tidak teratur. Sesekali mereka mengeluarkan erangan rendah yang memilukan, lalu kembali terdiam seperti patung bernyawa.

Melihat ekspresi horor di wajah Aris dan Liora, Axel justru menunjukkan reaksi yang sangat aneh. Ia berpura-pura kaget, menutup mulutnya dengan tangan, lalu mulai cengengesan sendiri seperti orang gila yang baru pertama kali melihat mainan barunya.

"Oh, astaga! Lihat mereka!" Axel tertawa kecil yang lama-kelamaan menjadi tawa lepas yang gila.

Setelah tawa itu mereda sedikit demi sedikit, ia mengusap sudut matanya yang berair dan menunjuk ke arah ruang kaca tersebut. "Mereka semua adalah hasil karya ibu saya, mahakarya sesungguhnya. Mereka tidak mati, mereka hanya menunggu. Mereka akan benar-benar 'hidup' kembali saat ibu saya terbangun dari tidurnya. Dan saya rasa, saat itu tidak akan lama lagi."

Aris menatap puluhan makhluk di bawah sana dengan rasa ngeri yang tak terlukiskan. Mereka bukan lagi manusia, melainkan bukti nyata dari sebuah eksperimen yang telah mengkhianati kodrat kehidupan.

Di dalam ruangan itu, Aris menyadari bahwa ancaman yang mereka hadapi jauh lebih besar daripada sekadar krisis air bersih; ini adalah tentang kemanusiaan yang sedang dipertaruhkan.

...****************...

1
Anak_misterius😑
bagus novel nya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!