NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Situasi yang sulit

Semalaman Hanum tidak bisa tidur karena ucapan Devan itu. Asal kalian tahu, ini pertama kalinya dia mendapatkan ucapan pernyataan perasaan dari pria yang dia sukai. Bahkan Bramasta saja tak pernah seperti ini.

"Kamu kok kelihatannya capek banget?" Bunda menatap prihatin pada Hanum. Melihat kantung matanya yang mirip panda, menandakan perempuan itu tidak tidur dengan baik.

"Atau kamu sakit? Kita ke rumah sakit dulu gimana?" tawar Bunda pada Hanum yang sedang mengupas bawang.

"Hanum gak papa kok, Bun.., cuman agak lelah aja," kata Hanum. "Habis sarapan udah oke lagi kok," tambahnya lagi.

"Ya udah kalau begitu, kalau kamu sakit bilang sama Bunda ya. Jangan kamu diemin gitu nanti tambah parah. Oh iya, Devan pulang hari ini. Jadi, jangan lupa pakai ini," kata Bunda menunjuk jilbabnya sendiri.

Seketika itu juga Hanum kembali teringat akan dirinya semalam. Juga pagi ini, dia tidak memakai jilbab sama sekali dan masih memakai piama nya.

"Hanum pakai sekarang aja deh, Bun." Hanum segera meletakkan pisau, digantikan oleh BI Inah. Dia menuju kamarnya.

"Assalamualaikum..," ucap pelan suara seseorang dari luar.

Bunda berjalan hendak mengeceknya. "Waalaikumussalam.. EH?! Kok pulangnya pagi-pagi begini?" Bunda tampak terkejut saat Devan sudah tiba di rumah.

"Iya, Bun. Sehabis subuh tadi aku langsung berangkat ke sini," jawab Devan sambil membiarkan Bunda membawa dua tote bag belanjaan.

"Ya sudah kamu istirahat saja kalau begitu, udah sarapan? Bunda sama Bi Inah lagi bikin sarapan ini," ucap Bundanya sambil kembali berjalan ke dapur.

"Aku mau ke kantor, Bun. Oh iya, Hanum dimana?" tanya Devan pada Bundanya.

"Dia di kamarnya, eh iya kalau dia keluar tolong ambilin kantong plastik biru di gudang ya," kata Bunda dari arah dapur.

Hanum pun keluar, "Akhirnya, udah pakai juga..," ucapnya pelan tanpa menoleh ke belakang.

"Pakai apa?"

Hanum terdiam seketika. Membalikkan badannya, terkejut menatap Devan yang sekarang berdiri di depannya.

"De-Devan?! Kapan nyampe sini??" ucapnya kemudian agak panik.

"Baru aja nyampe. Wah, baru pasang ini rupanya," ucap Devan sambil menunjuk kepalanya.

"Lagian sih.., gara-gara kamu tau gak?" Hanum menyalahkan pria itu.

"Kamu duluan yang mulai," jawab Devan dengan raut wajah merasa tidak bersalah.

"Ah udahlah, oh iya. Aku gak mau dianterin kamu lagi mulai sekarang," kata Hanum.

"Lah? Emangnya aku bilang mau anterin kamu hari ini?" Devan pura-pura tidak peduli.

Hanum jadi sebal sendiri. "Ih udah lah, capek aku ngomong jadinya!" Dia segera pergi buru-buru menuju dapur. Melihat betapa lucunya Hanum yang masih memakai baju piyamanya, ditambah jilbab mirip anak SD membuat Devan ingin sekali memeluknya. Tapi sabar, dia belum resmi menjadi miliknya.

"Bunda suruh kamu ambilin kantong plastik biru di gudang," kata Devan lagi.

Hanum berhenti. "Oh, ok." Dia berjalan melewatinya begitu saja.

Devan tersenyum saja melihat Hanum bertindak seperti anak kecil. Wajar saja, dia tinggal di sini. Jadi, Devan bisa tahu beberapa sifat asli Hanum saat di rumah.

"Bunda, katanya nanti mau ke pasar ya?" Hanum ingat akan ucapan Bunda kemarin.

"Sepertinya gak jadi deh.., Bunda ada acara syukuran sama temen-temen pengajian. Oh iya, kamu jadi ikut gak? Sekalian kita pengajian di sana," kata Bunda menawarkan.

"Oh.., boleh Bun. Hanum mau," kata Hanum. "Acaranya mulai jam berapa, Bun?"

"Habis magrib, cuman kita datang agak sorean lah biar bantuin siapin makanan bareng ibu-ibu yang lain. Kira-kira jam setengah lima bisa?" tanya Bunda.

"Insyaallah, Bun. Aku coba tanya Kak Dela dulu ya," kata Hanum. Oh iya, mengingat Dela dia jadi sadar kalau bos nya itu mantan pacar Devan. Tetapi dia tidak mau mengungkit-ungkitnya lagi.

"Serius gak mau dianter?" Devan sudah ada di sebelahnya saat Hanum hendak berangkat. Menunggu ojek yang masih dilacak di aplikasi hijau tersebut.

"Iya, aku gak mau dianter kamu lagi," katanya.

Meskipun begitu, dia agak bimbang karena ojek nya masih saja belum ditemukan di aplikasi.

"Ya sudah, aku berangkat," kata Devan. Dia masuk ke dalam mobilnya, lalu pergi meninggalkan Hanum.

Lima menit kemudian, Hanum masih berdiri di teras rumah.

"Eh, kamu belum berangkat juga? Bunda kira kamu udah berangkat bareng Devan. Apa jangan-jangan.., kalian lagi ada masalah?" tebak Bunda selanjutnya.

"Hehe nggak kok, Bun. Aku yang minta, biar Devan langsung ke kantornya. Kasihan soalnya pasti dia capek..," ucap Hanum membuat alasan.

"Bisa saja pun dia anterin. Gimana? Belum dapet juga kah ojeknya?" tanya Bunda seolah mengerti apa yang terjadi pada Hanum sekarang.

Hanum mengangguk sambil tersenyum.

"Kenapa kamu gak bawa motor Devan aja?" ucap Bunda sekalian bercanda, menunjuk ke arah motor ninja hijau milik Devan. Keren sekali modelnya.

Diluar dugaan Bunda, Hanum malah mengiyakannya. "Seriusan, Bun? Boleh banget Bun, Hanum takut telat juga nih hehe," kata Hanum nyengir.

Kali ini Bunda yang tak habis pikir. "Kamu bisa bawa motor itu rupanya?" tanya Bunda penuh keheranan.

"Insyaallah.., tenang aja kalau itu mah, Bun," Hanum segera menuju garasi, sementara Bunda memberinya kunci motor itu.

"Bunda mau lihat dulu, coba kamu keluarin," ucap Bunda memastikan.

Dengan mudah, Hanum mengeluarkan motor itu. Memasang helm, "Hanum berangkat dulu ya, Bun!" serunya meninggalkan Bunda yang masih terheran-heran.

"Hati-hati!" Bunda memastikan sampai Hanum benar-benar hilang dari pandangan.

"Itu kok Mas Devan bawa motor ya, Bu? Memangnya Mas Devan balik lagi?" tanya Bi Inah yang baru saja sampai di depan teras sambil membawa sapu.

"Itu Hanum, Inah..," katanya.

"APA? Astaghfirullah!" Bi Inah kaget.

Tampaknya alasan kenapa ojek motor itu pada ogah ngambil orderan dari Hanum ialah karena jalanan sedang macet. Dia melihat banyak sekali tukang ojek berjaket hijau itu berjejer di sepanjang jalan raya dengan lalu lintas yang terhambat. Hanum yang dengan mudahnya meliuk-liukkan motornya seperti pembalap membuat banyak klakson yang menegurnya.

Itulah salah satu bakat terpendam nya. Hingga akhirnya dia berhenti di depan lampu merah jalan raya, dengan kendaraan roda empat dan roda dua di depan, belakang, dan kiri-kanan nya.

Tiba-tiba saja kaca mobil di sebelahnya diturunkan oleh pemiliknya.

"Hanum?!" ucap suara yang dikenalinya itu.

Samar-samar Hanum mendengar nya, dia menaikkan kaca helmnya agar bisa melihat jelas suara yang baru saja memanggilnya.

"Devan?!"

Mereka berdua saling bertatapan, saling kaget, tak percaya bisa berpapasan di situasi ini.

"Kamu kok bawa motor itu???" ucap Devan tak habis pikir, mengatur volume suaranya.

Hanum teringat kalau dirinya sendiri sedang mencoba agar tidak terpengaruh oleh Devan lagi. Suasana hatinya kacau balau jika dia harus berada di dekat pria itu. Hanum memutar bola matanya.

"Terserah aku dong, Pak Devan," katanya lagi. "Lagipula Bunda udah ngizinin kok," sambungnya.

Ingin sekali rasanya Devan menjentikkan jarinya karena bisa-bisanya bertingkah lucu di tengah jalan begini.

"Apa? Gak suka?" kata Hanum lagi.

"Aku gak nyangka aja."

"Hah? Nangka?" Ucap Hanum pura-pura tak mendengar. Devan tak habis pikir dibuatnya. Hingga akhirnya, lampu itu pun hijau. Segera Hanum menancap gas mendahului ratusan kendaraan yang ada di belakang, samping kiri-kanan nya itu. Sekali lagi, Devan tak habis pikir dan tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Di sisi lain, sepasang mata tajam yang baru saja menyaksikan langsung kedua orang di depannya itu pun mengepal erat tangannya. Bramasta tidak pernah tahu kalau Hanum ternyata bisa seperti ini. Jauh di lubuk hatinya, ada rasa sesal yang muncul karena dia telah memilih pilihan yang salah.

1
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!