Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
Pukul enam pagi, gedung pusat Wiratama Group masih diselimuti kabut tipis dan keheningan yang mencekam. Arkan sudah berada di ruang kerjanya, berdiri di depan jendela kaca besar yang menghadap ke arah cakrawala Jakarta yang mulai membara oleh matahari terbit.
Ia tidak berpamitan pada Kinanti. Ia meninggalkan rumah saat wanita itu masih terlelap, meluncur menembus fajar dengan satu tujuan, menyelesaikan revolusi senyapnya.
Di meja kerjanya, sebuah laptop khusus yang tidak terhubung dengan jaringan internal kantor menyala redup. Yudha duduk di depannya dengan wajah kuyu namun mata yang berkilat puas.
"Semua sudah selesai, Pak," bisik Yudha. "Tepat pukul lima pagi tadi, enkripsi terakhir berhasil ditembus. Properti di Menteng, saham mayoritas di Wiratama Energy, hingga aset likuid di bank luar negeri... semuanya sudah dialihkan kembali atas nama tunggal Anda. Secara digital, Anda sudah merdeka."
Arkan menarik napas panjang, sebuah perasaan lega yang luar biasa sekaligus mencekam menghujam dadanya. Ia merasa seperti seorang tawanan yang baru saja mematahkan rantai besi di kakinya.
"Bagus, Yudha. Sekarang, biarkan sistem itu tetap tenang. Jangan ada pergerakan mencurigakan." perintah Arkan. Ia mengusap wajahnya, mencoba menghilangkan lelah yang menumpuk. "Aku ingin melihat wajahnya saat dia menyadari bahwa dia tidak lagi memiliki apa pun untuk mengancamku."
Pukul delapan pagi tepat. Pintu lobi utama terbuka lebar. Kinanti melangkah masuk dengan keanggunan yang jauh lebih mengintimidasi dari biasanya. Ia mengenakan setelan jas putih tulang yang tajam, rambutnya disanggul rapi tanpa cela.
Setiap langkah hak sepatunya di atas marmer terdengar seperti dentang lonceng kematian bagi siapa pun yang berani menghalangi jalannya.
Baru saja ia sampai di depan lift pribadinya, seorang pria paruh baya dengan wajah pucat, Suryo, kepala keamanan siber yang merupakan orang paling setia pada Kinanti, mendekat dengan tergesa-gesa.
"Bu Kinanti... kita punya masalah besar," bisik Suryo dengan suara gemetar.
Kinanti tidak berhenti melangkah. Ia masuk ke dalam lift, diikuti oleh Suryo. Saat pintu lift tertutup, ia menoleh dengan tenang. "Katakan."
"Ada pembobolan data di server pusat subuh tadi. Protokol keamanan kita ditembus dari dalam. Seluruh aset properti, saham utama, bahkan rekening cadangan... semuanya telah beralih nama. Atas nama Pak Arkan, Bu. Secara hukum digital, posisi Ibu telah dihapus dari kepemilikan."
Suryo menunggu ledakan amarah. Ia menunggu Kinanti berteriak atau menghancurkan gelas di tangannya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Kinanti terdiam sejenak, lalu perlahan, sebuah senyum merekah di bibirnya. Bukan senyum sinis, melainkan senyum kepuasan yang mengerikan. Ia justru tampak sangat terhibur.
"Hanya itu?" tanya Kinanti pelan.
"I-iya, Bu. Kami sedang berusaha melacak titik aksesnya, tapi sepertinya sudah dibersihkan dengan sangat rapi."
Kinanti tertawa kecil, suara tawa yang begitu jernih namun membuat bulu kuduk Suryo berdiri. "Biarkan saja, Suryo. Biarkan Arkan menari dengan kemenangan kecilnya. Biarkan dia merasa sudah menjadi raja kembali."
"Tapi Bu, aset-aset itu..."
"Aset digital hanyalah angka di atas layar, Suryo," Kinanti melangkah keluar lift saat pintu terbuka di lantai teratas. "Arkan pikir dia sedang bermain catur denganku, padahal dia hanya sedang menari di atas panggung yang aku bangun. Dia lupa bahwa di rumah ini, di perusahaan ini, akta fisik dan dokumen asli adalah segalanya."
Kinanti masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas. Ia tidak menuju meja kerja, melainkan menuju sebuah dinding kayu jati yang tampak biasa saja di belakang kursinya.
Dengan menekan sebuah sensor tersembunyi yang hanya mengenali sidik jari dan retina matanya, dinding itu bergeser, menampakkan sebuah brankas baja tahan ledakan dengan teknologi keamanan tingkat militer.
Di dalam brankas itu, tersimpan tumpukan dokumen fisik dengan stempel basah asli, akta-akta notaris yang telah ditandatangani Arkan di bawah pengaruh manipulasi hukum bertahun-tahun, serta sebuah 'Surat Kuasa Mutlak' yang tidak akan pernah bisa dibatalkan oleh sistem digital mana pun.
Kinanti mengambil sebuah map hitam tebal. Di dalamnya terdapat surat pernyataan yang ditandatangani Arkan saat ia sedang dalam kondisi terdesak karena kasus perselingkuhannya dulu.
Sebuah dokumen yang menyatakan bahwa segala bentuk pengalihan aset secara sepihak oleh Arkan dianggap cacat hukum dan batal demi hukum.
"Kamu terlalu terburu-buru, Arkan," gumam Kinanti sambil mengusap dokumen itu. "Kamu menggunakan Yudha untuk meretas sistem, tapi kamu lupa bahwa sistem bisa aku hancurkan dalam satu kedipan mata dengan dokumen fisik ini."
Kinanti menutup kembali brankas itu. Brankas yang lokasinya tidak diketahui oleh siapa pun, bahkan oleh arsitek gedung ini sekalipun. Brankas yang akan terkunci selamanya jika sesuatu terjadi pada dirinya.
"Aku akan membiarkanmu merasa bahagia hari ini, Arkan. Aku ingin melihatmu tersenyum lebar di depan para direksi. Aku ingin melihatmu merasa sudah bisa menginjakku kembali," Kinanti berjalan menuju jendela, menatap refleksi dirinya sendiri. "Karena semakin tinggi kamu terbang dengan sayap palsumu itu, semakin hancur kamu saat aku mematahkannya nanti."
Di ruangannya, Arkan sedang menerima laporan dari Yudha tentang keberhasilan mereka. Ia merasa sangat kuat. Ia merasa sudah bisa kembali ke rumah sore nanti dan menatap mata Kinanti dengan kepala tegak.
Ia membayangkan akan mencari Alana besok, membawanya keluar dari penderitaan di Tegal, dan menunjukkan pada dunia bahwa Arkan sudah kembali berkuasa.
Arkan tidak tahu bahwa di ruangan sebelah, Kinanti sedang duduk di kursinya, menyeruput kopi hitam tanpa gula dengan sangat tenang.
Kinanti mengambil ponselnya, mengirimkan pesan singkat pada Arkan.
"Rapat sore nanti untuk proyek pelabuhan akan sangat menarik, Arkan. Aku bangga melihat kinerjamu yang sangat bersemangat pagi ini. Sampai jumpa di ruang rapat, Sayang."
Arkan membaca pesan itu dan tersenyum sinis. Ia mengira Kinanti belum tahu. Ia mengira dia telah berhasil membodohi sang sipir.
Arkan tidak menyadari bahwa Kinanti sengaja membiarkan pembobolan itu terjadi. Kinanti butuh Arkan merasa menang agar Arkan melakukan langkah ceroboh berikutnya.
Kinanti ingin menghancurkan Arkan bukan hanya secara finansial, tapi juga secara mental, hingga Arkan benar-benar berlutut dan tidak akan pernah berani berdiri lagi seumur hidupnya.
Permainan ini belum berakhir. Arkan sedang merayakan kemerdekaannya, sementara Kinanti sedang menyiapkan peti mati untuk harga diri suaminya. Siapa yang akan bertahan saat dokumen fisik di dalam brankas gelap itu akhirnya dikeluarkan?
...----------------...
To Be Continue ....
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.