NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyelamat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 – Sisi Lain Raka

Koridor rumah sakit itu mendadak terasa sempit.

Alya masih berdiri terpaku di hadapan pria yang baru saja menabraknya, sementara Raka berhenti beberapa langkah di belakangnya dengan sorot mata yang seketika berubah tajam.

“Dimas…” ulang Alya pelan, masih terdengar terkejut.

Pria itu tersenyum tipis, meski jelas ia juga sama terkejutnya.

“Sudah lama sekali.”

Dimas.

Nama itu terasa asing bagi Raka.

Namun cara pria itu memandang Alya—

Terlalu akrab.

Terlalu hangat.

Dan entah mengapa, hal itu seketika membangkitkan rasa tidak nyaman dalam dirinya.

“Saya dengar nama Anda dari perawat tadi,” lanjut Dimas. “Saya hampir tidak percaya bahwa itu benar-benar Anda.”

Alya masih berusaha mengatur napasnya.

“Kamu bekerja di sini?”

“Iya.” Dimas mengangguk pelan. “Saya sekarang dokter di bagian penyakit dalam.”

Raka mengamati percakapan mereka tanpa menyela.

Namun semakin lama ia menyaksikan interaksi itu, semakin jelas bahwa hubungan mereka lebih dari sekadar kenalan biasa.

“Saya dengar kondisi ibumu menurun,” ujar Dimas lebih lembut kali ini.

Raut wajah Alya seketika berubah.

“Iya… saya baru saja mendapat telepon.”

“Tenanglah dulu.” Dimas mencoba menenangkan. “Kondisinya sempat memburuk, tapi sekarang sudah stabil.”

Alya segera menghela napas lega.

“Syukurlah…”

Tanpa disadari, bahunya sedikit kendur.

Raka memperhatikan detail kecil itu.

Cara Alya terlihat jauh lebih tenang setelah mendengar penjelasan dari pria lain.

Entah mengapa, perasaan aneh itu kembali muncul.

Tidak nyaman.

“Saya bisa mengantar Anda ke ruang rawat,” kata Dimas.

Namun sebelum Alya menjawab, suara Raka terdengar datar dari belakang.

“Kami bisa sendiri.”

Dimas akhirnya menoleh.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari kehadiran pria itu.

Pandangannya seketika berubah sedikit terkejut.

“Maaf, saya belum sempat menyapa.” Dimas berdiri lebih tegap. “Saya Dimas.”

“Raka Pratama.”

Intonasi suaranya tenang.

Terlalu tenang.

Dan Alya segera merasakan perubahan suasana di antara kedua pria itu.

Dimas tampak mengenali nama itu.

Siapa yang tidak?

“Ah…” senyumnya kini terlihat sedikit kaku. “Jadi Anda suami Alya.”

Kalimat itu terdengar biasa.

Namun entah mengapa, Alya merasa jantungnya berdegup tidak biasa saat mendengarnya langsung dari orang yang mengenal masa lalunya.

Raka hanya mengangguk singkat.

“Alya, kamu menikah?” tanya Dimas, kali ini langsung kepada Alya.

Alya menggaruk ringan lehernya, mendadak merasa canggung.

“Iya… baru beberapa hari yang lalu.”

“Wow.”

Pandangan Dimas beralih dari Alya ke Raka.

Dan untuk sesaat, ada sesuatu dalam ekspresi wajahnya.

Kejutan.

Kebingungan.

Atau mungkin… sesuatu yang lain.

“Selamat,” katanya akhirnya, meski senyumnya tampak sedikit dipaksakan.

“Terima kasih,” jawab Alya pelan.

Keheningan sesaat menyelimuti.

Dan semakin lama suasana terasa semakin tidak nyaman.

Sampai akhirnya Raka berbicara dengan nada dingin—

“Kita harus menemui ibu Anda.”

Alya segera tersadar.

“Iya.”

Ia kembali menoleh ke arah Dimas.

“Terima kasih ya.”

Dimas mengangguk pelan.

“Jika ada sesuatu, hubungi saya.”

Kalimat itu membuat pandangan Raka menjadi sedikit lebih tajam.

Namun pria itu tidak mengatakan apa pun.

Alya tidak memperhatikannya.

Ia terlalu terfokus untuk menuju ruang rawat ibunya.

---

Kondisi ibunya memang sudah lebih stabil ketika Alya masuk.

Wanita itu masih tampak lemah, namun setidaknya napasnya lebih teratur dibandingkan yang Alya bayangkan sebelumnya.

Alya langsung duduk di sisi ranjang sambil menggenggam tangan ibunya.

“Ibu membuat Alya takut…”

Matanya sedikit berkaca-kaca.

Raka berdiri tidak jauh dari pintu, diam mengamati.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, ia melihat Alya benar-benar menunjukkan sisi rentannya.

Biasanya wanita itu selalu berusaha terlihat kuat.

Bahkan saat gugup, ia tetap menanggapi dengan lelucon kecil.

Namun sekarang—

Ia hanyalah seorang anak yang dilanda ketakutan akan kehilangan ibunya.

“Alya…”

Suara lemah ibunya terdengar sayup.

Alya segera mendekat.

“Iya, Bu. Alya di sini.”

Wanita itu tersenyum tipis.

Namun beberapa detik kemudian, pandangannya perlahan menangkap sosok Raka di belakang Alya.

“Dia…”

Alya langsung menoleh dengan cepat.

“Oh— ini…”

Untuk pertama kalinya sejak menikah, Alya benar-benar kebingungan tentang bagaimana harus memperkenalkan Raka.

Namun sebelum ia sempat berbicara, Raka melangkah mendekat.

Dan dengan tenang, Raka berucap—

“Saya suami Alya, Bu.”

Alya langsung menoleh dengan cepat.

Entah mengapa, mendengar kalimat itu langsung dari mulut Raka terasa berbeda.

Lebih konkret.

Ibunya tampak terkejut.

Lalu perlahan tersenyum sendu.

“Suami…”

Alya langsung menggenggam tangan ibunya lagi.

“Iya, Bu.”

Wanita itu memandang Raka cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan—

“Tolong jaga anak saya.”

Suasana ruangan mendadak hening.

Alya langsung menunduk, menahan gejolak perasaan yang tiba-tiba menyesakkan dadanya.

Sementara Raka—

Untuk pertama kalinya—

Terdiam lebih lama dari biasanya.

Pandangannya bertemu dengan mata wanita tua itu.

Lalu perlahan ia menjawab—

“Ya.”

Satu kata.

Singkat.

Namun entah mengapa terasa begitu serius.

Alya langsung mengalihkan pandangannya.

Jantungnya berdegup terlalu cepat saat itu.

Dan ia tidak tahu mengapa.

---

Satu jam kemudian, kondisi ibunya benar-benar mulai stabil.

Dokter menyarankan Alya untuk pulang dan beristirahat karena operasi akan dilakukan besok pagi.

Alya awalnya menolak.

Namun setelah bujukan yang cukup lama, akhirnya ia mengalah.

“Besok pagi saya datang lagi,” katanya pelan pada ibunya.

Setelah keluar dari ruang rawat, Alya berjalan perlahan di koridor rumah sakit.

Fisiknya terasa lelah.

Batinnya jauh lebih lelah.

“Alya.”

Ia menoleh.

Dimas kembali mendekat sambil membawa beberapa dokumen.

“Kondisi ibumu akan terus dipantau malam ini,” ucapnya lembut. “Jangan terlalu khawatir.”

Alya mengangguk pelan.

“Terima kasih.”

Dimas tersenyum.

“Dahulu Anda juga sering mengatakan hal yang serupa.”

Alya terdiam sesaat.

Kalimat itu terlalu akrab.

Dan sayangnya—

Raka mendengarnya.

Pria itu berdiri tidak jauh dari mereka saat itu.

Diam.

Namun sorot matanya sulit dimengerti.

“Kalian dekat?” tanya Raka tiba-tiba.

Nada suaranya terdengar datar. Namun Alya segera merasakan ada makna tersembunyi di balik pertanyaan tersebut.

“Oh…” Alya segera menjawab, “kami teman lama.”

“Teman?” Dimas tertawa pelan. “Dahulu kami lebih dari sekadar teman.”

Alya seketika terpaku.

“Dimas…”

Namun pria itu tampak tidak menyadari bahwa ia baru saja menciptakan suasana yang canggung.

“Kami hampir berpacaran saat kuliah dahulu,” lanjutnya dengan santai.

Hening.

Amat sangat hening.

Alya bahkan dapat merasakan perubahan drastis pada suasana di sekitar mereka.

“Dahulu,” tambah Alya cepat, dengan sedikit kepanikan. “Itu sudah sangat lama.”

Pandangan Raka perlahan beralih ke Alya.

Dingin.

Tenang.

Namun justru itu yang membuatnya lebih menegangkan.

“Saya tidak mengetahui hal itu,” ujar Raka akhirnya.

Karena memang Alya tidak pernah menceritakannya.

Dan sejujurnya—

Ia tidak merasa perlu untuk menceritakannya.

Namun kini situasinya terasa berbeda.

“Tidak penting juga,” gumam Alya lirih.

Dimas mengamati mereka secara bergantian.

Dan untuk pertama kalinya, ekspresi wajah pria itu berubah serius.

Seolah baru menyadari adanya keanehan dalam hubungan mereka.

“Saya permisi dulu,” ucapnya akhirnya. “Jika ada sesuatu, silakan hubungi saya.”

Alya mengangguk sigap.

“Baik.”

Dimas tersenyum tipis sekali lagi sebelum pergi meninggalkan koridor.

Dan begitu pria itu benar-benar menghilang—

Keheningan segera terasa mencekik.

Alya menggigit bibir bawahnya perlahan.

Ia tahu.

Ia perlu memberikan penjelasan.

Meski sebenarnya… ia bahkan tidak yakin mengapa ia merasa perlu menjelaskan.

“Itu hanyalah masa lalu,” ucapnya lirih akhirnya.

Raka tetap diam beberapa detik.

Kemudian melangkah mendekat.

Pandangan pria itu lurus menatapnya.

Sulit ditebak.

“Masa lalu biasanya tidak memandang seseorang dengan cara seperti itu.”

Jantung Alya segera berdegup lebih kencang.

“Apa maksudmu?”

“Dia masih menyukai Anda.”

Kalimat itu terucap dengan begitu tenang.

Namun entah mengapa terasa menusuk.

Alya segera mengerutkan dahinya.

“Itu bukan urusanmu.”

Begitu kalimat itu keluar, ia langsung menyadari—

Ia baru saja melanggar salah satu aturan tak tertulis di antara mereka.

Sebab untuk pertama kalinya—

Nada suaranya terdengar defensif.

Dan untuk pertama kalinya juga—

Pandangan Raka menjadi lebih gelap dari biasanya.

1
Mtch🍃
Tiba tibaaa bngt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!