⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"
10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.
Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.
"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Biarkan Saja Dulu
"Assalamualaikum," Devan baru saja tiba di rumahnya saat waktu magrib hampir tiba.
"Waalaikumussalam," Hanum yang sedang berbincang-bincang di dapur sambil membantu Bi Inah memasak pun menjawab.
"Kamu ngapain?" Devan menatap Hanum yang tampak sibuk dengan membawa sayuran dari kulkas.
"Aku bantu Bi Inah masak, Van. Bosen soalnya, lagian aku gak mau membebani kamu," Hanum sibuk memotong-motong sayuran sementara Bi Inah sedang mencuci piring.
"Tadi toh, Mas. Bibi sudah minta Hanum buat duduk saja, biar Bibi yang masak tapi dia segitu pengennya nimbrung," kata Bi Inah sambil tertawa kecil. Devan tersenyum menatap Hanum yang kini sudah sibuk mencuci sayuran dan berhadapan dengan kompornya.
"Oh iya, Bunda mana?" Belum sempat Hanum dan Bibi menjawab tiba-tiba ucapan salam terdengar.
"Assalamualaikum! Aduh, Devan sini bantuin Bunda angkatin barang belanjaan!" Terlihat Bunda Rasti membawa banyak belanjaan, ada tujuh kantong plastik dan dua tas jinjing nya.
"Ya ampun, Bun.., bunda mau jualan atau gimana?" Devan sungguh tak habis pikir dengan bundanya ini. Dia membantu mengangkat semuanya sekaligus. Membuat Bunda terkekeh-kekeh sendiri. "Bunda gimana bawa nya tadi?" Devan keheranan sendiri melihat banyaknya barang yang dibawa bundanya ini.
"Tadi bunda minta supir taksi bawain ke depan rumah. Letakkan di dapur ya, nanti bunda sama Bi Inah masak," kata Bunda lagi.
"Hanum lagi masak, Bun..," ucap Devan.
"Apa? Eh, darimana dong bahan nya?? Soalnya bunda belum ada beli bahan masakan satu pun makanya ini bunda belanja," Tampak bunda keheranan dan buru-buru menuju dapur.
"Eh, Tante udah pulang," kata Hanum melepas celemek nya dan menyalami wanita itu.
"Aduh, kamu panggil Bunda saja ya, ga perlu tante-tante hehe. Bunda Rasti, panggil kayak Devan aja," kata Bunda mengoreksi. "Kamu masak bahan-bahan nya darimana?"
"Hanum beli di pasar, Tan, eh Bun. Kebetulan tadi sore Hanum habis dari butik dan mampir ke pasar dulu," ujar Hanum pada wanita itu.
"Waduh, padahal bunda baru dari pasar juga! Kamu mah gitu ah, lain kali udah, biar bunda ajak kamu lain waktu ya," Bunda dan Hanum saling tertawa. Bunda pun melihat masakan Hanum, ada sup ayam, telur balado, cumi-cumi saus kecap manis.
"Wah.., ini kamu semua yang masak, Nak?" tanya Bunda merasa takjub dengan Hanum.
"Hehe, nggak kok, Bun. Bi Inah bantuin kok," ucap Hanum sambil tersenyum lebar.
"Masak sih, Neng? Perasaan bibi tadi cuma nyuci piring sama bersihin dapur doang deh. Bibi mau masak tapi kata Eneng nya biar Eneng aja yang masak," kali ini Bi Inah yang speak up.
Hanum tersenyum canggung.
"Masyallah..., gak perlu repot-repot, Nak..," Bunda sungguh senang sekali. Begitu juga dengan Hanum yang kini tersipu malu karena disanjung oleh Bunda. Ini mengingatkan nya pada mama nya dulu.
"Ya udah, kamu buruan mandi dulu gih, biar Bunda sama Bi Inah yang urus dapur," kata Bunda mengambil alih pekerjaan Hanum.
"Baik, Bun.."
Devan sedari tadi menyaksikan saja pun tak mau kalah. "Aku gimana, Bun? Masak Hanum doang yang disuruh?"
"Ih, kamu mah udah gede masak masih disuruh-suruh juga? Sono mandi, bau!" Bunda mengomel.
Hanum tertawa melihat ibu dan anak itu berkomunikasi. Suasana rumah ini benar-benar hangat meskipun tidak ada sosok "ayah" lagi di dalamnya. Devan tersenyum lebar saat Hanum melangkah pergi menuju kamarnya.
"Gimana? Sekarang kamu harus mau tinggal di sini, ya?" ucap Bunda terlebih dulu saat mereka sedang kumpul di meja makan. Makan malam.
"Sejujurnya Hanum merasa gak enak udah ngerepotin, Bun..," Hanum mengisi air minum masing-masing dari mereka dan memberikannya terlebih dahulu kepada Bunda.
"Tidak apa-apa, justru Bunda seneng kok kamu ada di sini, jadi lebih rame gitu rasanya..," kata Bunda.
"Devan, besok pagi kita jalan-jalan ya. Bunda pengen piknik nih," kata Bunda kepada putranya yang menyimak obrolan mereka berdua.
"Iya, Bun. Tapi jangan di pantai ya," celetuk pria itu.
"Nanti kayak waktu itu," sambungnya lagi.
Bunda tersenyum mengingat kejadian itu, sementara Hanum menatap keduanya dengan penasaran.
"Ini loh, waktu bunda sama Devan piknik ke pantai, tiba-tiba aja ombak gede datang. Bunda juga gak tahu ternyata udah diingetin sama penjaga pantai nya lebih awal kalau pasang laut lagi naik cepet. Jadinya keseret semua tuh, karpet, keranjang," terang bunda sambil tertawa kecil. "Mana sendal Devan sama bunda hanyut. Yang ketemu cuma sebelah doang," Bunda mengambil sup ayam dan menuangkannya ke piring Devan dan juga Hanum.
"Kalian makan yang banyak, biar cepet nikah," kata Bunda lagi.
"BUNDA!" desis Devan pada bundanya tiba-tiba.
Hanum merasa pipinya memerah, tersipu malu mendengar ucapan barusan. Astaga, bagaimana mungkin itu terjadi sedangkan dia sudah pernah menikah dengan Bramasta.
Sebetulnya baru kali ini lah dia dekat dengan orang tua. Dulu, semasa menikah dengan Bramasta tidak pernah sekalipun suaminya itu membawa Hanum pada kedua orang tuanya. Terkecuali jika Hanum yang meminta karena niat untuk menyambung silaturahmi saja. Sayangnya, tiap kali Hanum pergi ke rumah mertuanya, tampak keduanya tidak senang dengan kehadiran Hanum. Pernah suatu ketika saat dia dan Bramasta ke rumah orang tuanya, ibunya suaminya itu malah menyuruh untuk tidak usah datang lagi.
Hanum menatap kedua orang di hadapannya. Mereka berdua saling bercanda ria, sosok ibu yang selama ia dambakan kini hadir di depan matanya.
"Aduh, kok malah nge lamun sih. Ingat, makan jangan sambil melamun. Ini, tambah lagi nasi nya," ucap Bunda menyendokkan nasi pada piring Hanum.
"Biar Hanum aja, Bun..,"
Di ruang tengah, Bunda dan Hanum duduk berbincang. Sementara Devan fokus pada laptopnya , lalu pria itu izin pada bundanya untuk masuk ke kamarnya saja.
"Dia memang suka menyibukkan diri meskipun udah malem-malem begini," ujar Bunda saat Hanum menatap pria itu pergi. "Udah berkali-kali Bunda ingetin tapi dia gak suka dengerin. Persis seperti papa nya dulu.., meskipun Bunda tahu dia bekerja untuk Bunda juga. Oh iya, gimana butik kamu, Nak? Kalau ada waktu boleh lah Bunda kesana lagi," tanya Bunda lagi.
"Butik Hanum Alhamdulillah baik-baik saja, Bun.. Tapi suami Hanum mengambil alih butik itu hari ini.. Tanpa sepengatahuan Hanum sendiri..," ujar Hanum.
"Astaghfirullah, kok bisa gitu, Nak?"
Hanum pun menjelaskan kepada bundanya akan semua yang terjadi. Sesekali Hanum berhenti bercerita karena menahan tangisnya.
"Gapapa, Nak. Menangislah. Kita sama-sama perempuan, punya hati nurani terhadap suami itu sudah menjadi kewajiban kita. Bunda tahu kamu perempuan kuat. Sekarang kamu tidak usah khawatir, yang berlalu biarlah berlalu. Biarkan saja mereka menikmati nya. Kalau memang itu salah, pasti akan ada balasan yang setimpal dengan apa yang kamu rasakan saat ini."
"Tapi, Bun.., Berkali-kali Hanum udah coba untuk tetap kuat. Hanya saja kenapa banyak sekali cobaan dalam hidup ini?" Hanum mengusap air matanya.
"Begitulah kehidupan, Nak. Seperti roda berputar. Esok nanti, kamu akan melihat akibat dari perbuatan suami kamu sendiri. Sudah, sekarang kamu istirahat dulu ya" pinta Bunda sambil menenangkan Hanum.
"Bun.., Hanum boleh peluk bunda gak?" Dia merasa rindu sekali dengan mama nya.
"Boleh, sayang..," Bunda memeluk Hanum, entah mengapa air matanya menetes.
"Hanum rindu mama, Bun. Terimakasih ya, Bun..," lriih Hanum pada wanita itu.
"Hanum, bunda dulu juga punya anak perempuan. Tapi dia sudah tiada..," ucap Bunda kemudian.
"Saat Devan masih duduk di bangku SMP, kelas 2 kalau gak salah. Clara sakit.. Kanker..," terang Bunda lagi. "Kamar yang kamu tempatin itu lah kamar Clara, adik perempuan Devan. Anak kedua bunda.., andai saja dia ada di sini pasti dia bakalan suka sama kamu." Bunda menghapus air matanya. "Soalnya dia suka ngeluh kalau dia punya Abang laki-laki," katanya sambil tertawa kecil.
Hanum tertegun sejenak mendengar cerita Bunda barusan. Akhirnya, dia mengerti dan memilih untuk mendengarkan bunda bercerita.
Tanpa disadarinya, Devan menatap kedua wanita itu saling bercerita, meskipun terlihat masih ada air mata yang tersisa. Dia tersenyum lega.