Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.
Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.
Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?
Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Clara duduk bersandar tepat di lantai samping ranjang nya, ia menutup wajah dengan kedua tangannya, sambil terus mengeluarkan suara isak tangis.
Raja terus mengelus kepala Clara dengan lembut, ia membiarkan Clara menangis karena merasa dengan itu mungkin bisa membuat Clara mengeluarkan perasaan sedih yang ia tahan selama ini.
Selang beberapa puluh menit kemudian, tangisan itu gilang, ternyata Clara memejamkan mata nya, ia begitu lelah setelah menagis, kepala nya kini berada di pundak Raja.
Raja yang menyadari bahwa adiknya sudah tidur dengan pelan mengendong Clara meletakan nya di atas ranjang lalu menyelimuti tubuh mungil gadis itu.
"Masih ada waktu besok," batin Raja, ia pun kemudian berjalan keluar dari kamar Clara.
Malam pun berlalu begitu cepat, Clara membuka mata dan mengambil ponsel nya.
Jam menujukkan pukul 07.20 pagi.
Kepala nya terasa pusing, matanya juga sedikit bengkak, mungkin bekas nangis semalaman.
Ia turun dari ranjang dan kemudian berjalan ke kamar mandi sambil membawa handuk, pikiran kosong itu kembali menyelusuri kepala Clara.
Tiga puluh menit kemudian, ia selesai mandi dan berganti pakaian, lalu membuka pintu kamar bersiap-siap hendak keluar.
Namun di depan pintu berdiri Raja yang di tangannya memegang nampan berisi nasi goreng dan juga segelas susu.
"Good morning," lirih Raja sambil tersenyum.
Ia berjalan masuk ke dalam kamar Clara dan meletakan makanan yang ia bawa ke atas nakas samping tempat tidur wanita itu.
Clara kembali menutup pintu kamar nya dan berjalan menghampiri Raja.
Raja melihat barang-barang yang ada di dalam kamar tersebut, meja rias yang di penuhi dengan begitu banyak make up, parfum dan lain sebagainya.
Ada juga kacamata yang benda itu adalah benda paling di kenali Raja.
"Kak," Clara menghampiri Raja sambil menahan tangan Raja yang hampir menyentuh kacamata tersebut.
"Hmm?" Raja menatap Clara menunggu gadis tersebut memberikan penjelasan.
"Duduk dulu," Clara memegang lengan Raja mereka berjalan dan kemudian duduk berdampingan di atas sofa yang tidak jauh dari ranjang.
"Kenapa kak Raja bisa tau semuanya?" tanya Clara penuh rasa penasaran.
Raja tersenyum, ia menarik nafas panjang dan kemudian melepaskan nya dengan pelan.
"Sejak pertama ketemu Lo di restoran tepi pantai, gue udah tau kalau gue gak mungkin salah orang, hari di mana Lo ngasih minuman ke gue, gue lihat tanda lahir yang ada di leher Lo yang selalu Lo tutup pake rambut, meskipun itu kecil, tapi gue udah pernah lihat karena sebelumnya Lo sekolah rambut di ikat dua."
"Lo kenal cafe Linus, lo juga nangis saat Lo ngerusak jam tangan itu, cara Lo natap Linus dan Della gue tau Lo dendam sama mereka, terus tadi malam Lo juga tau kalau orang tua Linus itu gimna, apa masih belum cukup buktinya? Kacamata gue udah lihat,"
Raja mengoceh sambil tersenyum, matanya menatap Clara bahkan hampir tidak berkedip.
Clara yang mendengar itu masih belum bisa mengatakan apa-apa, ia tau saat ini tidak ada gunanya bersembunyi dari Raja lagi, Raja adalah orang yang sangat teliti tidak mudah untuk di bohongi.
Clara menunduk, ia malu jika harus menata mata Raja saat ini, sandiwara nya beberapa Minggu ini ternyata di ketahui oleh Raja.
"Lo gak mau ngejelasin banyak hal sama gue? Sekarang gue kakak Lo, yang bisa bantu Lo cuma gue," dengan percaya diri nya Raja tersenyum menggoda Clara.
"Boleh cerita semuanya sama kak Raja, tapi aku mohon, tetap pangil aku Clara," ujar Cery dengan mata berkaca-kaca.
Raja segera memegang kedua pipi Clara." Cukup, gak boleh lagi nangis pagi ini, tadi malam gue udah biarin Lo nangis, tapi sekarang gak boleh,"
Perhatikan Raja benar-benar membuat Clara merasa sangat nyaman. Ia pun mengangguk kan kepala, dan kemudian mulai menceritakan semua kejadian yang telah lalu kepada Raja.
"Malam itu setelah keluar dari rumah Linus ..."
Flashback on
Malam itu setelah berlari keluar dari rumah Linus, Cery mengetahui kalau Della mengejarnya, ia pun segera bersembunyi di tembok yang mengelilingi rumah mewah tersebut.
Setelah memastikan Della pergi dan kembali masuk ke dalam aula pesta, Cery berlari cepat untuk pulang, karena tidak punya ongkos ia pun tidak bisa naik Taxi.
Satu jam berjalan, hujan pun turun dengan begitu deras, membuat Cery kedinginan dan memaksa terus berjalan sambil tertatih-tatih.
Namun dalam perjalanan, ia tampa sengaja melihat kecelakaan beruntun, hal ini membuat Cery sangat takut, namun ia menghampiri korban yang tergeletak keluar dari mobil, di sana bukan hanya ada Cery. Banyak juga orang-orang yang berusaha membantu dan menelpon ambulans.
Cery yang takut melihat darah seketika gemetar namun rasa penasaran nya membuat ia melihat mayat itu, sangking takutnya ia pun tampa sadar menjatuhkan ponselnya.
Karena perempuan yang meningal itu memakai baju yang persis dengan baju yang ia gunakan, namun wajahnya sudah tidak bisa di kenali.
Cery yang trauma berlari pulang meninggalkan TKP.
Namun saat ia kembali bi Suni sudah tidak ada di rumah, hal ini membuat Cery semakin takut dan segera bersembunyi di dalam kamar nya.
Malam itu perasaan nya campur aduk, masalah kecelakaan, dan masalah yang ada di rumah Linus benar-benar membuat Cery furstasi dan akhirnya ketiduran dalam keadaan basah kuyup dengan mata sembab akibat menangis.
Sementara itu semua tau kalau bi Suni sedang berada di rumah sakit karena mendapat telpon dari pihak kepolisian dengan ponselnya Cery.
Setelah syok melihat pakaian yang digunakan korban sangat mirip dengan pakaian Cery, bi Suni jatuh pingsan, setelah beberapa jam, ia sadar kembali dan semuanya sudah di urus oleh dokter.
Ia meminta di antar pulang karena ingin menganti pakaian untuk siap-siap pemakaman Cery.
Namun saat kembali ke rumah, ia sangat kaget ia melihat Cery ada di dalam kamar tertidur pulas dengan rambut yang basah, jam menujukkan pukul dua malam, awalnya ia mengira kalau itu adalah hantu namun setelah melihat Cery bangun ia yakin kalau itu adalah Cery.
Cery menjelaskan seluruhnya kepada bi Suni, bagaimana dia melihat kecelakaan beruntun dan kaget, ia bahkan sempat menghampiri salah satu korban kecelakaan, namun karena syok melihat keadaan korban ia pun berlari pulang dan ponselnya malah hilang saat ia berlari.
Bi Suni pun akhirnya mengerti apa yang telah terjadi, ia bahkan langsung memeluk Cery sebelum ia menceritakan bagaimana polisi menghubungi nya mengunakan ponsel Cery mengatakan kalau itu adalah Cery.
Bi Suni juga menceritakan bagaimana ia jatuh pingsan setelah melihat dan meyakini itu adalah Cery namun nyatanya bukan bi Suni begitu bahagia.
Namun setelah tau apa yang di alami bi Suni, Cery yang perasaan nya di landa kekecewaan terhadap Linus segera mendapatkan ide brilian, mereka mulai menyusun rencana dan memalsukan kematian.
Cery yang hatinya sudah di selimuti rasa dendam, amarah, kekecewaan serta kebencian memilih untuk memanfaatkan kesempatan ini.
Setelah menyelesaikan pemakaman palsu itu, bis Suni segera kembali ke rumah ia masuk ke dalam rumah nya dan segera saja ia menutup pintu rumah tersebut rapat-rapat.
Ia berjalan cepat masuk ke dalam kamar Cery, dan kemudian kembali menguncinya dari dalam.
Terlihat seorang gadis mungil sedang duduk meringkuk sambil memegang sebuah tas ransel besar yang sepertinya berisikan pakaian.
Bi Suni melangkah kan kaki nya mendekati gadis tersebut dan duduk di sampingnya.
"Non, semuanya sudah beres, bibi melakukan apa yang non minta, sebentar lagi tuan akan datang menjemput," ujar Bi Suni kepada gadis tersebut.
"Bi, terima kasih banyak,bibi udah bersedia bantuin aku, maafin aku, aku terpaksa mengakhiri semua ini dan meninggalkan bibi," lirihnya sambil menatap sekilas bi Suni dan kemudian kembali menyembunyikan wajahnya di balik rambut panjang terurai.
"Non, sudah sejak awal bibi menyenangkan kepada non Cery, kalau non harus ikut tuan, bibi juga sangat lelah melihat keadaan non yang sekarang selalu di buli dan di permainkan oleh orang-orang di sekolah, mereka tidak tau saja siapa non Cery sebenarnya," ungkap bi Suni lagi.
"Iya bi, mulai sekarang aku bukan Cery lagi, aku adalah Clara, ingat, bibi gak boleh semabrangan bicara soal aku sama siapapun, lakukan apa yang aku katakan tadi malam, bibi gak boleh bocorin rahasia ini sama siapapun, hanya aku dan bibi yang tau soal ini bi," jelas Cery kepada bi Suni.
Bi Suni menganggukkan kepalanya dan kemudian memeluk erat tubuh Cery, anak yang ia asuh sejak sepuluh tahun terkahir.
Seketika air mata keduanya kembali tumpah membasahi pipi masing-masing.
Flashback off.
Raja tertegun mendengar penjelasan dari Cery,tak di sangka saat itu mereka menghadiri pemakaman palsu dan yang ada di dalam makam bukan lah Cery, ada rasa bahagia bercampur aduk saat ini di dalam hati Linus.
"Masih ada pertanyaan yang harus aku jelasin ke kakak?" Clara kembali bertanya.
"Masih, masih ada, kenapa Lo bisa tinggal sama bi Suni? Kenapa Lo bisa jadi anak asuhnya bi Suni? Sedangkan papa Lo sekaya ini, gue gak nyangka Cery yang selalu sekolah pakai sepeda penampilan cupu banget ternyata anak konglomerat," crocos Raja yang rasa penasaran tentang status hidup Cery masih belum selesai.
Clara tersenyum, ia menarik nafas panjang dan melepaskan secara perlahan sebelum dirinya kembali menjelaskan.
"Huhhh, detail banget ya kak Raja pengetahuan tau nya, oke biar aku jelasin semuanya, sepuluh tahun yang lalu, itu mama aku ningalin aku sama papa karena papa bangkrut, aku juga sakit-sakitan setelah di tingal mama." ujar Clara kali ini air matanya kembali tumpah tak bisa di bendung lagi.
Benar, sepuluh tahun lalu memang mama nya Cery memilih untuk meninggalkan Cery dan papa Tian, hanya karena tidak mau hidup miskin disebabkan perusahaan papa Tian yang bangkrut.
Cery yang baru berusia delapan tahun jatuh sakit karena terlalu memikirkan mama nya, dari sinilah papa Tian mulai kembali bekerja keras serta menjual rumah peninggalan nenek nya Cery, membangun kembali bisnisnya dan membawa Cery ke luar negeri untuk menjalankan pengobatan.
Waktu terus berjalan sampai enam tahun kemudian, usaha papa Tian akhirnya kembali maju naik dan terus naik sampai sekaya sekarang, Cery juga pulih akan depresi nya.
Namun soal penampilan nya yang culun serta terlihat miskin itu hanyalah keinginan nya semata. Karena Cery tidak ingin memamerkan kekayaan khawatir mama nya akan kembali dan melihat kehidupan mereka sekarang, Cery sudah cukup membenci sang mama karena meninggal kan ia dan papa nya.
Meskipun hidup dan ekonomi mereka sudah kembali normal, hubungan antara Cery dan papanya tidak lah terlalu erat, di karena kan sang papa yang selalu sibuk keluar negeri berbulan-bulan mengurus bisnis.
Bi Suni lah yang menjaga Cery selama sepuluh tahun ini.
"Terus kenapa Lo sempat tinggal di rumah bi Suni?" tanya Raja lagi.
"Papa ijin ke luar negeri dalam jangka waktu lama, karena kami bertengkar, aku sempat gak setuju karena papa ingin menikah lagi, aku khawatir kak, bagiku mama kandung saja jahat apalagi mama tiri," lirih Cery.
Sungguh Raja benar-benar tidak menyangka,ada kisah sepilu itu di dalam hidup seorang gadis cantik nan mungil yang ada di samping nya saat ini.
"Tapi karena sandiwara ini butuh papa, akhirnya aku minta papa buat kembali ke sini, kami pun sepakat buat ubah nama Cery jadi Clara dan sekarang kak Raja pangil Clara aja, aku gak mau denger nama Cery itu, bagiku itu nyakitin banget kak," penuh harapan di mata Cery dengan nama barunya itu.
"Oke gak masalah, terus sekarang bi Suni kemana?" ujar Raja.
"Bi Suni mutusin buat kembali ke kampung nya, aku gak bisa larang dia karena dia bilang ibunya yang ada di kampung sedang sakit keras," entah kenapa jika mengingat bi Suni yang paling menyayanginya, Cery tidak bisa membendung air mata.
Raja kembali memeluk Cery, ia tidak ingin Cery merasakan kalau di dunia ini tidak ada yang baik untuk nya, apalagi memikirkan kalau tidak ada ibu tiri yang baik.
"Lo gak boleh mikir yang engak-engak lagi sekarang, Lo cukup percaya aja sama gue, kalau gue bakal jagain Lo gak bakal ada lagi orang yang nyakitin Lo, rahasia Lo tetap aman di gue, gue bakal bantu Lo kasih pelajaran sama Linus, orang yang bikin Lo sehancur ini," terlihat jelas kalau Raja benar-benar menyayangi Clara entah itu sebagi adik tiri.
Atau ... Bahkan lebih ...
"Tapi apa semua ini belum cukup? Aku beneran gak tega bikin dia merasa bersalah terus kak," Clara melepaskan pelukan Raja.
"Gak, ini gak cukup, Lo harus bikin dia benar-benar berubah, gak sombong dan gak semabrangan lagi hanya karena status kekayaan nya," Raja memegang kedua pundak Clara dan meyakinkan Clara kalau pelajaran ini saja tidak cukup untuk membuat Linus tau apa itu rasa sakit.
Clara pun mengangguk meskipun saat ini ia juga sudah di siksa akan hati nuraninya terhadap Linus, apalagi dia tidak bisa membohongi perasaannya yang masih menginginkan sosok Linus, ia juga yakin kalau Linus bukan lah orang yang sejahat itu.
Namun Jujur saja, bayangkan di mana Linus menghinanya hanya karena hal yang tidak ia lakukan kepada Rena, membuat dendam Clara semakin menjadi-jadi.
Bersambung ....