Seorang pria mati dengan penyesalan karena gagal menegakkan kebenaran.
Ia terlahir kembali sebagai pengacara magang yang diremehkan...dan mendapatkan Sistem Keadilan Absolut kemampuan untuk melihat kebohongan, mengungkap fakta tersembunyi, dan menentukan putusan paling adil.
Dari kasus kecil hingga konspirasi besar, ia mulai mengguncang dunia hukum yang korup.
Namun satu hal segera ia sadari...
Keadilan sejati tidak selalu sama dengan hukum.
Dan kali ini...dia yang akan menentukan mana yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Semua penonton di siaran langsung kembali tersentak hebat saat Arga dengan lantang mengajukan tuduhan resmi terhadap Hakim Ketua sebelumnya, Yuliana. Sungguh hal yang sulit dipercaya! Arga hanyalah seorang pengacara magang, tapi aksinya sungguh luar biasa.
Dia tidak hanya berhasil mendesak pihak lawan hingga terancam hukuman, bahkan membuat pengacara lawan, Rina Wijaya, harus berurusan dengan hukum karena perbuatannya sendiri. Dan sekarang, dia berani menuding hakim ketua sekaligus?
[Wah, gila sih! Pengacara magang ini emang beda dari yang lain!]
[Pengacara magang yang bikin terdakwa masuk penjara, terus pengacaranya juga ikut masuk...Sekarang giliran hakimnya juga mau dia seret?!]
[Beneran cuma magang dia? Kok kelakuannya kayak orang yang nggak kenal takut sama hukum ya?]
[Nggak masuk akal sih. Udah hebat banget dia bisa bikin Rina Wijaya jatuh, tapi Yuliana itu kan hakim ketua. Masa semudah itu dimasukin penjara?]
[Kayaknya nggak realistis deh...Kalau Arga beneran berhasil bikin hakim ketua dihukum, itu sih bakal jadi kejadian paling gila tahun ini.]
Penampilan Arga benar-benar membuka mata banyak orang. Ternyata di dunia hukum, benar-benar ada pengacara yang berani dan mampu menjatuhkan pihak lawan lengkap dengan pengacaranya sendiri di ruang sidang.
Aksi-aksi cerdik Arga bahkan sampai membuat Atta, seorang pengacara bintang dari firma hukum besar Mahendra & Partners, merasa kagum.
Pemilik firma itu adalah Yusril Mahendra. Saat itu, Yusril sedang menonton siaran langsung sambil menyeruput teh, matanya tak lepas dari layar. “Seorang pengacara magang bisa menangani kasus sekompleks ini dengan sangat rapi. Logikanya tajam, buktinya lengkap, dan penguasaannya atas pasal-pasal hukum sangat mendalam. Padahal dia masih dalam masa percobaan, tapi kemampuannya jauh melampaui standar pengacara biasa. Dia berhasil melakukan hal yang bahkan pengacara berpengalaman pun sering kali tidak berani coba.”
Atta yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Arga sedikit terkejut mendengar pujian atasannya itu. Ia pun berkomentar, “Pak Bos, firma kita kan juga punya banyak pengacara hebat. Kalau salah satu pengacara utama kita yang menangani kasus ini, kemungkinan besar mereka juga bakal menang dengan mudah.”
Yusril tersenyum tipis, tatapannya makin penuh kekaguman ke arah layar. “Tapi coba kamu pikir...ada tidak pengacara hebat lain yang terpikir untuk menjebak dan menjatuhkan pengacara lawan? Apalagi sampai berani menuding hakim ketua? Siapa lagi yang sanggup berbuat sejauh itu?”
Atta terdiam sejenak, lalu mengakui kekurangannya sendiri. “Memang, menjatuhkan pengacara lawan itu bukan hal yang biasa dilakukan. Tapi menurut saya Arga terlalu nekat. Menyeret nama hakim ketua itu bahaya besar. Kalau dia tidak punya bukti yang mutlak tak terbantahkan, tindakannya itu bisa dianggap fitnah. Kalau dia gagal tunjukkan bukti, dia sendiri yang bakal kena masalah bisa dicabut izin praktiknya, bahkan sampai masuk penjara juga mungkin.”
Ia melanjutkan, “Menurut saya Anda terlalu memuji pengacara magang ini. Firma kita ini firma hukum kelas atas di Indonesia, diisi orang-orang elit. Saya jarang sekali melihat Bapak memuji seseorang setinggi ini, apalagi yang cuma masih magang.”
Yusril tetap tenang menonton jalannya sidang, lalu menjawab pelan, “Kamu yakin banget kalau Arga nggak punya bukti kuat? Menegakkan keadilan itu butuh lebih dari sekadar undang-undang. Kita butuh pengacara dan hakim yang berani diawasi publik. Kalau pengacara berani memalsukan bukti, dan hakim memutus semaunya sendiri, keadilan mana yang mau ditegakkan?”
“Banyak pengacara cuma mikir cara menang, puaskan klien, dan cari uang. Tapi Arga beda. Dia pasti punya pegangan kuat makanya berani menuntut begini mulai dari pengacara lawan sampai ke ketua hakim. Hal itu saja sudah jauh di atas kemampuan kebanyakan pengacara lain.”
“Tapi bisakah dia benar-benar menjatuhkan Yuliana? Itu hal yang sangat sulit,” sahut Atta masih belum percaya. “Orang yang bisa duduk jadi hakim ketua, mana mungkin semudah itu jatuh?”
**
Di dalam ruang sidang, hampir semua orang punya pemikiran yang sama. Tak ada yang percaya Arga benar-benar sanggup menyeret hakim ketua ke meja hijau.
Yuliana sendiri ada di tempat itu, duduk di kursi penonton, bukan lagi sebagai petugas sidang. Ia tenang saja menyimak semua perkembangan. Setelah mendengar namanya disebut berulang kali, ia mengangkat tangan.
“Hakim Ketua, saya izin bicara sebentar,” ucapnya.
Hakim Santoso menoleh dan mengangguk, “Silakan.”
Yuliana lalu menatap tajam ke arah Arga. “Pengacara Arga, penanganan kasus ini cukup bagus dan mengesankan. Tapi perlu kamu tahu, selama saya menjabat, setiap keputusan yang saya ambil selalu berdasar hukum dan keadilan, tidak pernah memihak. Saya siap diawasi dan diperiksa kapan saja oleh publik maupun lembaga berwenang. Tapi apa yang kamu ucapkan tadi itu fitnah, serangan pribadi tanpa dasar. Mengingat kamu masih muda dan baru belajar jadi pengacara, saya maafkan kali ini.”
Ia diam sejenak, nada bicaranya makin mengancam. “Kalau kamu minta maaf sekarang, saya anggap selesai masalah ini. Tapi kalau kamu menolak, dan ternyata nggak punya bukti cukup...kamu sendiri yang akan menanggung akibat hukumnya. Pikirkan baik-baik sebelum melangkah lebih jauh.”
Semua mata di ruangan tertuju ke Arga. Di titik inilah nasibnya berada di ujung tanduk. Tuduhan terhadap seorang hakim ketua itu hal yang nyaris mustahil diterima orang. Apakah seorang pejabat hukum setinggi itu benar-benar berbuat curang?
Arga berdiri tegak, suaranya tenang namun tegas, sama sekali tak tergoyahkan.
“Bu Yuliana, soal kasus Saudara Bimo, semua orang yang mengikuti persidangan ini pasti paham bagaimana cara Anda memutuskannya. Dulu Anda memutuskan bahwa Perusahaan MRT, Laras, maupun Tania sama sekali tidak perlu minta maaf atau ganti rugi atas kerusakan batin yang dialami klien saya. Sebaliknya, Anda malah memerintahkan Bimo yang harus membayar ganti rugi kepada kedua wanita itu atas alasan mereka merasa terganggu dan menderita.”
Yuliana menyahut cepat, “Itu keputusan yang saya ambil berdasarkan bukti yang ada saat itu, sepenuhnya sah dan sesuai aturan. Ada apa dengan keputusan itu?”
Arga mengangkat satu flashdisk dan segepok berkas dokumen di tangannya.
“Ini semua data yang sudah saya kumpulkan dengan lengkap dan rinci. Selama tiga tahun terakhir menjabat hakim ketua, terbukti Ibu selalu memihak satu sisi saja selalu berpihak pada perempuan dalam setiap kasus yang berhubungan dua belah pihak berbeda jenis kelamin.”
Ia melanjutkan sambil mengacungkan bukti itu ke udara.
“Ini adalah catatan akun media sosial pribadi Anda, beserta puluhan akun palsu yang Anda pakai diam-diam. Selama bertahun-tahun, Anda berulang kali menulis komentar-komentar yang sengaja memicu perselisihan laki-laki dan perempuan, menyebarkan pandangan berat sebelah, dan mengarahkan opini publik demi mendapatkan keuntungan dari jumlah pembaca dan penonton. Anda bahkan sering mengunggah video provokatif pakai akun palsu itu. Semua buktinya ada di sini, lengkap dengan jejak waktu dan alamat IP-nya!”
Arga menyerahkan berkas dan alat penyimpan data itu ke panitera agar disebarkan dan diperlihatkan. Di layar besar ruang sidang, mulai bermunculan tulisan-tulisan yang pernah ditulis Yuliana lewat akun samaran.
Ada tulisan seperti:
"Baru ada cowok biasa minta nomor WA. Nggak bisa sadar diri apa?”
“Eh Pas ketemuan malah cowoknya manja. Diminta mahar 500 juta malah ngeluh. Kan itu buat masa depan anak juga.”
“Perempuan harus saling dukung, jangan mau kalah sama cowok yang nggak punya apa-apa.”
Dan masih banyak lagi tulisan bernada serupa lainnya.
Wajah Yuliana berubah merah padam menahan marah saat tulisan-tulisan itu terpampang nyata. Suaranya meninggi, terdengar tajam dan marah.
“Arga! Kamu melanggar hak privasi dan nama baik saya! Tulisan-tulisan ini cuma pendapat pribadi, nggak ada hubungannya sama jabatan saya! Ini semua nggak jadi bukti apa-apa! Apa saya melanggar hukum cuma gara-gara nulis pendapat begini?”
Arga menatap lurus ke arahnya, senyum tipis terbit di bibirnya.
“Tentu saja tulisan pendapat sembarangan saja itu tidak melanggar hukum. Tenang saja, Bu. Itu baru permulaan, belum jadi bukti utama. Tujuannya cuma supaya masyarakat tahu dulu, orang seperti apa sebenarnya Ibu ini. Nah, bukti yang benar-benar penting dan bisa menjatuhkan Anda ada di sini!”
semangat author/Determined/
tapi kali ini, saya akan lawan💪
semoga endingnya nggak mengecewakan🤭