NovelToon NovelToon
Dua Sisi Sangkar Emas

Dua Sisi Sangkar Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Tulus

Lampu kristal yang menggantung di ruang tengah kediaman keluarga Arkatama tidak pernah benar benar mampu menghangatkan dingin yang membeku di antara Kyna dan Julian. Lima tahun pernikahan seharusnya menjadi perayaan tentang kesetiaan namun bagi Kyna itu adalah lima tahun pengabdian dalam sunyi yang mencekam. Tepat pada malam peringatan pernikahan mereka sebuah kebenaran pahit terkuak melalui celah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Di sana di bawah kucuran air yang menderu Kyna mendengar suaminya menggumamkan satu nama yang selama ini menjadi hantu tak kasat mata dalam hidup mereka yakni Elara sang cinta pertama yang baru saja menginjakkan kaki kembali di tanah air.

Julian adalah pria yang membangun tembok es di sekeliling hatinya namun bagi Elara pria itu bersedia menjadi api yang menghangatkan. Setiap kali Julian pergi dengan alasan membantu seorang teman yang sedang kesulitan Kyna hanya mampu menjawab dengan seulas senyum tipis dan kata kata pendek yang menyembunyikan luka...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14

Persepsi Kyna telah diperbarui lagi malam ini.

Selama lima tahun terakhir, dia selalu hidup dalam rasa bersyukur yang semu.

Dia mengira Aldrian membeli apartemen setingkat yang luas ini demi memudahkannya bergerak dengan keterbatasan mobilitasnya.

Dia mengira lorong-lorong yang lapang dan tanpa anak tangga ini adalah wujud perhatian tersembunyi seorang suami untuk istrinya yang pincang.

Ternyata, bukan itu alasannya. Sama sekali bukan.

Ternyata inilah rumah idaman yang pernah didiskusikan Aldrian dengan Anara di masa lalu.

Apartemen setingkat yang luas, lampu gantung bergaya klasik dan ornamental yang memancarkan pendar kuning hangat, dinding kaca besar yang menghadap langsung ke kerlip lampu kota, karpet tebal dengan pola geometris, sofa kain abu-abu yang minimalis, hingga meja makan bergaya elegan ....

Semuanya adalah manifestasi murni dari gaya yang disukai Anara.

Kyna hanyalah seorang figuran yang kebetulan menempati museum cinta milik orang lain.

Di luar kamar, suara manja Anara masih terus terdengar, melengking renyah memenuhi setiap sudut ruangan.

"Ya ampun! Aldri, boneka Winise yang kamu punya banyak banget! Kamu beli langsung dari Winise? Kok kamu bisa punya koleksi selengkap ini?"

Suara William menimpali dengan tawa kecil, "Mau itu dalam perjalanan bisnisnya ke luar negeri, atau ada teman dan klien yang pergi ke Winise, Aldri nggak pernah lupa untuk menitip dan membelinya, Ra. Kamarnya dulu sampai penuh."

Kyna mendengarkan percakapan itu dari dalam kamar. Tangannya yang memegang gagang pintu kayu yang dingin mulai gemetar hebat. Di benaknya, gema masa lalu mendadak berputar, mengingatkannya pada sebuah percakapan hangat yang pernah terjadi di sudut ruangan ini setahun lalu.

Saat itu, Kyna bertanya dengan polos, "Aldrian, buat apa kamu beli boneka sebanyak itu? Aku kan bukan anak kecil lagi."

Dan Aldrian, dengan senyum lembutnya yang selalu tampak meyakinkan, menjawab, "Aku takut kamu bosan di rumah sendirian saat aku bekerja. Meski nggak bisa bicara, boneka-boneka itu bisa isi kekosongan di rumah dan buat suasananya terasa lebih hidup."

Hehe .... Benar juga. Rumah ini tentu saja tidak akan pernah terasa kosong. Ini adalah rumah Kyna dengan Aldrian, tetapi bayang-bayang Anara justru telah mengakar di sini bahkan sebelum fondasinya dibangun. Bagaimana mungkin rumah ini terasa kosong jika hantunya selalu ada di mana-mana?

Baik itu ruang makan tempat mereka sarapan, ruang tamu tempat Kyna menanti kepulangan suaminya hingga larut malam, hingga sisi jendela tempat Kyna biasa melamun memandangi hujan—setiap sudut rumah ini senantiasa dipenuhi kenangan terselubung tentang Anara. Meskipun Anara secara fisik tidak berada di tempat ini selama lima tahun terakhir, kehadirannya ada di mana-mana melalui selera dan obsesi Aldrian.

Kyna bahkan merasakan sebuah kecurigaan mengerikan yang mendadak mencengkeram dadanya; ketika dia dan Aldrian tidur di ranjang yang sama dengan jarak sejauh itu, apakah Aldrian juga sedang membayangkan bahwa ada Anara yang sedang berbaring di antara mereka? Apakah kelembutan Aldrian selama ini hanyalah sebuah proyeksi dari rasa bersalahnya karena gagal menikahi wanita idamannya?

Rasa muak yang teramat sangat menyelimuti hati Kyna. Dia akhirnya tidak tahan lagi. Dia memutar gagang pintu dan membukanya dengan sentakan kuat. Kyna ingin tahu, dia benar-benar ingin melihat dengan matanya sendiri, kenapa orang-orang ini dapat bernostalgia tentang kedekatan masa lalu mereka dengan begitu leluasa tanpa tahu malu. Apakah mereka lupa—atau sengaja mengabaikan—bahwa dirinya, istri sah Aldrian, sedang berada di dalam rumah ini? Meskipun dia sudah membulatkan tekad untuk bercerai, di atas kertas mereka belum resmi berpisah, 'kan?

Mungkin karena suara Kyna membuka pintu terlalu keras dan membentur dinding, tawa riang di ruang tamu itu seketika terhenti. Perhatian semua orang di sana langsung tersedat dan tertuju padanya.

Anara sedang berdiri di dekat rak pajangan, mendekap sebuah boneka Winise edisi terbatas bermutif pelaut. Wajahnya tampak begitu ceria, seolah dia adalah nyonya rumah yang sesungguhnya. Ketika melihat Kyna keluar, Anara tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali. Dia malah melambaikan boneka itu ke arah Kyna dan bertanya dengan nada kekanak-kanakan yang manja, "Kak Kyna, aku iri banget sama kamu yang punya begitu banyak boneka lucu. Boleh nggak kamu berikan yang satu ini kepadaku? Aku suka banget sejak dulu."

"Boleh," jawab Kyna yang berdiri di ambang pintu tanpa ragu sedikit pun. Suaranya datar, tanpa riak emosi.

Tepat ketika Aldrian menunjukkan ekspresi puas dan lega di wajahnya karena mengira Kyna akan kembali mengalah dan bersikap "pengertian" seperti biasa, Kyna menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan kalimatnya dengan lantang.

"Aku bisa berikan semuanya kepadamu. Bukan cuma boneka itu. Semua boneka di rumah ini, apartemen ini, dan orang ini ... semuanya untukmu. Ambillah. Aku sudah tidak membutuhkannya lagi."

Ketika mengucapkan kata "orang ini", bola mata Kyna bergerak lurus, menatap tepat ke arah manik mata Aldrian.

Atmosfer di dalam ruangan seketika membeku seolah dialiri es. Ekspresi Aldrian langsung berubah drastis dari puas menjadi kilatan amarah yang pekat. Rahangnya mengeras, dan dia membentak dengan suara rendah yang bergetar menahan emosi, "Kyna! Jaga bicaramu!"

Mata Anara yang tadinya berbinar langsung memerah dalam hitungan detik. Air mata fiktif meluncur di pipinya dengan begitu tepat waktu. Seolah-olah ketakutan setengah mati oleh intimidasi Kyna, dia segera meletakkan boneka itu kembali ke rak dengan tangan gemetar, lalu melangkah mundur mendekati William.

"Kak Kyna, jangan marah ... tolong jangan panggil Aldri begitu," ujar Anara dengan suara sengau yang bergetar, berpura-pura menjadi korban yang teraniaya. "Aku ... aku nggak bermaksud begitu. Aku cuma kagum. Aku benar-benar nggak ada niat untuk merebut apa pun. Hubunganku dan Aldri murni persahabatan .... Berhubung kamu nggak suka aku datang ke rumahmu dan mengotori suasana di sini, aku ... aku akan pergi sekarang juga ...."

Anara menutupi wajahnya dengan kedua tangan, membalikkan tubuhnya dengan gerakan dramatis seolah ingin berlari keluar menembus pintu. Namun, mana mungkin Aldrian dan lingkaran pertemanannya yang protektif akan membiarkan "dewi" mereka pergi dengan cara semudah itu setelah dihina?

Bukan hanya Aldrian yang langsung menerjang ke depan untuk mengadang di depan tubuh Anara, bahkan William dan dua orang teman pria lainnya yang ikut datang malam itu segera bergerak cepat mengelilingi Anara. Mereka berdiri kokoh di belakang wanita itu bagai barisan pelindung, lalu melemparkan tatapan memelototi Kyna dengan sorot mata menghakimi, seolah-olah Kyna adalah sosok penjahat wanita yang keji, kejam, dan tidak punya hati nurani.

William, yang sejak awal selalu menganggap Kyna sebagai beban yang beruntung bisa dinikahi oleh Aldrian, melangkah satu langkah ke depan dengan dada membusung. Wajahnya memerah karena amarah yang tersulut solidaritas buta.

Dia menatap Kyna dengan pandangan merendahkan, lalu menoleh pada Aldrian. "Kak Aldri! Kami sebagai teman lama sebenarnya nggak bisa berkomentar banyak tentang urusan rumah tangga kalian. Tapi jujur, malam ini kami semua benar-benar kesal dan nggak bisa diam saja melihat Nara diperlakukan dengan kasar seperti ini! Nara nggak salah apa-apa, dia cuma mau bertamu!"

Apakah ini yang dimaksud William dengan tidak dapat berkomentar banyak? Bukankah ucapan provokatif itu justru bermaksud menempatkan Aldrian dalam posisi sulit yang sengaja memojokkannya?

Kyna mencibir dalam hati melihat kekompakan mereka. Tindakan William dan teman-temannya tidak ada bedanya dengan menyudutkan Aldrian ke tepi jurang, memaksa sang presiden direktur untuk memilih di tempat secara terbuka: memilih antara membela istri sahnya yang pincang dan tidak berguna, atau membela Anara demi mempertahankan solidaritas persahabatan masa kuliah mereka yang diagungkan.

Dan Kyna tahu persis, tanpa perlu menebak, siapa yang akan dipilih oleh Aldrian.

Aldrian membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Kyna dengan sepasang mata yang menggelap sempurna oleh ego lelaki yang terluka di hadapan teman-temannya. Namun, sebelum Aldrian sempat melontarkan makian atau perintah agar Kyna berlutut meminta maaf kepada Anara, Kyna dengan tenang mengeluarkan sebuah map kertas tebal berlogo firma hukum dari balik tasnya, lalu melemparkannya ke atas meja kaca hingga menimbulkan bunyi debukan nyaring. Di halaman pertama dokumen tersebut, terpampang surat kepemilikan mutlak atas seluruh tanah dan bangunan apartemen itu yang ternyata terdaftar atas nama murni mendiang kakek Kyna—sebuah fakta hukum yang selama ini disembunyikan—bersanding dengan surat penyitaan aset yang menyatakan bahwa Aldrian memiliki waktu kurang dari dua belas jam untuk mengemasi seluruh barang bertema Anara miliknya dan keluar dari sana sebelum petugas pengadilan datang menyegelnya.

1
falea sezi
sejauh ini. muter doank ini novel🤣 pret rugi baca nya gue😒
falea sezi
jahat bgt si bangsat😒
falea sezi
bukannya Julian kok jd andrian
Emi Sudiarni
bgusvsib ceritanya. tpi bingung bacanya kerna bolak balik dsk beraturan
Emi Sudiarni
sdih bngat ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!