"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."
Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.
Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.
"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."
Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEO yang Menghilang
Pagi itu, seluruh jajaran direksi dan manajer Atmaja Group sudah berkumpul di ruang rapat utama. Mereka sudah menyiapkan pidato penjilat, laporan palsu untuk menutupi jejak Paman Bram, dan muka-muka penuh wibawa. Mereka menunggu Nadia Atmaja masuk dengan setelan jas mahal dan aura penguasa.
Tapi, satu jam berlalu, kursi CEO di ujung meja tetap kosong.
"Mana dia? Apa dia takut?" bisik salah satu manajer senior.
"Mungkin dia masih sibuk dandan. Biasalah, perempuan baru dapet harta," sahut yang lain sambil tertawa meremehkan.
Sementara itu, di lantai parkir basement yang pengap, Arka sedang duduk di atas kap motor matic-nya sambil makan gorengan bareng Pak Danu dan beberapa petugas keamanan. Di sampingnya, seorang wanita menggunakan seragam cleaning service lengkap dengan masker dan topi yang ditarik rendah sedang sibuk menyapu puntung rokok.
Wanita itu adalah Nadia.
"Gimana, Nad? Enak nggak jadi 'penguasa' lantai dasar?" tanya Arka sambil menyodorkan bakwan hangat.
Nadia menyeka keringat di dahinya, matanya melihat ke arah lift khusus direksi. "Ka, aku baru kerja dua jam jadi petugas kebersihan, tapi aku udah denger lima rencana buat ngegulingin aku di atas sana. Mereka bener-bener nggak punya malu ya?"
Arka terkekeh. "Itulah gunanya 'Invisible Management', Nad. Kalau kamu masuk lewat pintu depan pake karpet merah, mereka bakal kasih kamu senyum palsu. Tapi kalau kamu masuk lewat tempat sampah, mereka bakal kasih kamu kejujuran."
Nadia menarik napas panjang. Tadi, dia melihat sendiri bagaimana manajer keuangan sengaja membuang sampah sembarangan tepat di depan mukanya sambil memaki-maki soal 'supir sampah' yang mendadak jadi bos.
"Aku udah cukup denger, Ka. Ayo kita mulai 'bersih-bersih' yang sebenernya," ucap Nadia.
Di ruang rapat lantai atas, suasana makin ricuh.
"Sudah, kita mulai saja rapatnya. Saya yang akan pimpin," ucap salah satu Direktur yang merupakan kaki tangan Paman Bram. Dia baru saja mau duduk di kursi CEO, saat pintu ruangan terbuka.
Bukan Nadia yang masuk. Tapi Arka.
Dia masuk masih pake seragam supir, tangan kirinya bawa ember plastik, tangan kanannya bawa handy talky. Dia jalan santai ke tengah ruangan, terus naruh ember itu tepat di atas meja rapat yang harganya ratusan juta.
"Woy! Supir! Lu ngapain di sini?! Keluar!" bentak si Direktur.
Arka nggak jawab. Dia cuma mencet tombol HT-nya. "Target sudah berkumpul di sarang. Silakan masuk, Pak Maman."
Tiba-tiba, layar proyektor di ruang rapat menyala. Tapi bukan nampilin grafik saham, melainkan rekaman CCTV dan audio live dari area parkir dan kantin basement tadi. Suara para manajer yang tadi menghina Nadia dan merencanakan korupsi baru terdengar sangat jernih di speaker ruangan.
Wajah orang-orang di ruangan itu langsung pucat pasi.
"Itu... itu kan suara kita?"
Pintu ruangan terbuka lagi. Nadia masuk, masih pake seragam cleaning service, tapi dia melepas masker dan topinya. Rambutnya yang berantakan justru bikin dia kelihatan lebih mengintimidasi daripada pake tiara.
Nadia nggak duduk di kursi CEO. Dia berdiri di depan ember yang dibawa Arka.
"Di ember ini ada sampah yang kalian buang sembarangan pagi ini di parkiran," ucap Nadia, suaranya tenang tapi bikin merinding. "Dan di layar itu, ada sampah yang mau kalian buang dari perusahaan ini."
Nadia menatap Direktur yang tadi mau duduk di kursinya. "Pak, kursi itu bukan buat orang yang nggak bisa bedain mana milik pribadi dan mana milik karyawan. Mulai detik ini, kalian semua... saya pecat. Tanpa pesangon, karena bukti penggelapan kalian sudah di tangan Baron."
Seisi ruangan hening. Mereka nggak nyangka kalau "Naga" dan "Ratu" ini nggak main lewat jalur hukum yang lambat, tapi lewat jalur "bawah tanah" yang bikin mereka nggak punya celah buat lari.
Arka berdiri di samping Nadia, menyilangkan tangan di dada. "Satu tips buat kalian," ucap Arka santai. "Lain kali kalau mau jahat, liat-liat dulu siapa yang lagi nyapu di depan kaki kalian. Bisa jadi itu orang yang bakal nyapu kalian keluar dari dunia bisnis."
Suasana ruang rapat yang tadinya riuh mendadak dingin, sebeku es di dalam cooler box pedagang pinggir jalan. Para direktur yang biasanya dandan necis sekarang cuma bisa nunduk, nggak berani natep Nadia yang masih pake seragam cleaning service penuh keringat.
Nadia narik satu kursi, bukan kursi CEO, tapi kursi plastik biasa yang entah sejak kapan ada di sana, terus duduk di depan mereka semua.
"Tadi kalian bilang apa? 'Perempuan baru dapet harta'?" Nadia nanya pelan, tapi suaranya kerasa kayak sembilu. "Lucu ya. Padahal harta yang kalian banggain itu hasil motong jatah asuransi karyawan selama tiga tahun terakhir."
Salah satu manajer keuangan nyoba buka suara, suaranya gemeteran. "I-itu... itu kebijakan Paman Bram, Bu. Kami cuma pelaksana—"
"Stop," Arka motong sambil ngunyah bakwan terakhirnya. "Jangan pake kartu 'cuma pelaksana'. Di dunia supir, kalau lu tau rem mobil lu blong tapi lu diem aja pas bawa penumpang, itu namanya bukan pelaksana, tapi pembunuh."
Arka jalan ke arah jendela besar, terus dia ngetuk kaca pake kunci motor matic-nya. "Kalian liat ke bawah. Di sana ada Pak Danu yang lagi bersihin bekas ludah kalian. Ada anak magang yang makan nasi kucing karena gajinya kalian potong buat bayar cicilan mobil mewah kalian."
Gue balik badan, natep mereka satu-satu. "Tuan Muda Arka nggak suka buang-buang energi. Jadi simpel aja: Keluar dari gedung ini sekarang juga, atau Baron bakal rilis data mutasi rekening pribadi kalian ke grup WhatsApp keluarga kalian masing-masing dalam sepuluh menit."
Mendengar kata "Baron" dan "data mutasi", mereka langsung panik. Kehilangan jabatan itu satu hal, tapi malu sama keluarga dan masuk penjara itu hal lain.
"Kami... kami akan pergi," ucap sang Direktur Utama sambil ngeraih tasnya dengan tangan gemeteran.
Satu per satu, orang-orang yang tadinya merasa jadi 'penguasa langit' Jakarta itu keluar dari ruangan dengan bahu merosot. Ruang rapat mewah itu mendadak kosong, menyisakan bau keringat ketakutan dan bau gorengan yang dibawa Arka.
Nadia ngehela napas panjang, dia nyandar ke kursi plastik itu. "Ka... rasanya aneh ya. Aku pikir bakal ngerasa puas banget, tapi malah ngerasa kosong."
Gue nyamperin dia, terus gue usap kepalanya pelan. "Itu karena kamu masih punya hati, Nad. Orang jahat bakal ngerasa puas pas menang, tapi orang baik bakal ngerasa berat karena dia tau ini baru awal dari tanggung jawab."
Nadia nengok ke ember berisi sampah tadi. "Aku mau bener-bener beresin perusahaan ini dari bawah, Ka. Bukan cuma dari atas meja ini."
"Bagus," gue senyum. "Tapi sekarang, mending kita ganti baju dulu. Masa CEO Atmaja Group baunya kayak minyak jelantah gini?"
Nadia ketawa, tawa pertamanya hari ini yang kedengeran lepas. "Iya juga ya. Oh iya, Ka... Reno gimana? Dia pasti udah tau soal pemecatan massal ini."
Gue ngelirik HP gue yang geter. Ada satu pesan singkat dari nomor yang nggak dikenal, tapi gue tau polanya.
'Naga Utara sudah terlalu berisik. Malam ini, kami tunggu di dermaga tua. Bawa 'Kunci' itu, atau Atmaja Group akan terbakar sebelum matahari terbit.'
Gue simpen HP itu di kantong. Gue nggak mau bikin Nadia panik sekarang.
"Reno? Dia palingan lagi nangis di pojokan," jawab gue bohong demi ketenangan istri gue. "Udah, yuk. Kita cari tempat mandi yang enak, terus kita makan siang. Aku tau tempat soto yang enak banget, harganya merakyat tapi rasanya... ningrat."
Nadia berdiri, natep ruangan mewah itu buat terakhir kalinya sebelum keluar. Dia sadar, perang sesungguhnya bukan lawan direktur-direktur korup tadi, tapi lawan kekuatan besar yang lagi nunggu di dermaga.