Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Air Mata di balik Senyum Imamku
Kuperhatikan air matanya yang mulai turun ke pipi. Aku bergegas menyeka air mata itu. Tak kuasa melihat badai tangis menghampirinya. Aku pun tak tahu … entah mengapa aku merasa ada gejolak yang membuat seluruh tubuhku memberi alarm peringatan. Padahal, ia suamiku—halal bagiku.
“Mas … maafin aku. Tapi jujur, aku nggak ada hubungan apa pun dengan lelaki itu. Badanku, tiba-tiba bereaksi demikian. Aku nggak tahu kenapa,” jelasku berusaha meyakinkannya.
Mas Afwan menatapku lamat-lamat. Kemudian meraih wajahku dengan tangannya. Hingga kini, sebuah kecupan lembut di kening ia berikan padaku. Kupejamkan mata. Kurasakan sesak yang sedari tadi kutahan. Ada air mata yang kutepis sedari tadi. Karena jika ia mengalir, maka badai tangis itu tidak akan berhenti.
“Maaf, aku yang salah. Aku udah suudzon padamu. Sekarang, tidurlah. Mungkin kamu lagi capek.”
Aku menganggukkan kepala pelan. Kemudian menenggelamkan diri ke dalam selimut tebal. Tangan itu, kini tak lagi menjamahku. Bahkan, memelukku saja … ia enggan. Kubiarkan air mata mengalir percuma. Kupeluk erat guling yang kini menjadi satu-satunya sumber kenyamananku. Karena kini … ia membelakangiku.
Pagi datang. Mentari terbit memberi cahaya terang dan hangat di Lembang nan dingin. Tanganku kini sibuk mencuci pakaian keluarga kecilku. Membilasnya, mengeringkannya dengan tanganku sendiri … lalu menjemurnya ke tengah terik matahari agar cepat mengering.
Di ruang tamu, Hamzah sedang asyik bermain bersama robot kesayangannya. Ia tampak bahagia walau tanpa ada teman yang mengajaknya bermain. Senyumku merekah di balik cadar ini. Lembang. Tempat ini dingin, namun menghangatkan hati. Kejadian semalam bagai terlupa olehku. Seolah memorinya telah terhapus dalam data di kepala.
Saat aku menjemur kain terakhir, tiba-tiba Mas Afwan datang menghampiriku setelah kembali dari mengisi kajian subuh. Ia tersenyum menatapku seolah perkara semalam telah tuntas dalam ingatannya.
“Ayo! Kita siap-siap,” ucapnya sambil kembali melanjutkan perjalanan ke dalam rumah.
“Siap-siap ke mana, Mas?” tanyaku penasaran.
“Kita akan pergi ke tokoku di pusat kota, sekaligus jalan-jalan. Yuk!”
Senyuman merekah di bibirku. Aku bergegas menjemur kain terakhir ini. Lantas berjalan cepat menuju ke dalam rumah.
***
Mesin mobil berbunyi. Mobil kini mulai melaju dikecepatan sedang. Aku duduk di belakang bersama Hamzah. Mengajaknya bermain sambil bernyanyi bersama. Namun, saat aku tengah bernyanyi, Hamzah justru menegurku dengan bijak.
“Umi! Jangan nyanyi-nyanyi! Mending kita baca Al Qul’an aja.”
Aku lantas tertunduk malu sekaligus menebar senyuman padanya. Kulihat di kaca mobil, Mas Afwan menahan tawanya. Hingga sebuah tanya kini meluncur dari lisan Hamzah.
“Umi emangnya nggak bisa baca Qul’an? Abaty nggak ajalin?”
Kali ini kami berdua tertawa mendengar pertanyaannya. Hal itu membuat Hamzah menatap kami heran dan ikut tertawa. Padahal, sudah jelas arah tawa itu tertuju padanya.
Siang hampir menjelang. Jam menunjuk pukul 11.30 WIB. Sampailah kami di sebuah taman yang tak jauh dari toko tempat Mas Afwan mendirikan toko madunya. Aku duduk pada sebuah bangku taman sekaligus mengabadikan momen tersebut pada kamera ponselku. Mas Afwan dan Hamzah kini saling berlarian. Tiba-tiba … Hamzah menujuku. Ia menarik tanganku.
“Umi! Ayo lari!” Aku mengikuti permintaan Hamzah.
“Gimana kalau kita main tangkap-tangkapan? Nanti, siapa yang larinya lambat, Abaty tangkap.”
“Ayo! Ayo Abaty!” balas Hamzah kemudian mulai berlari.
“Bentar dulu! Kita hitung dulu sampai tiga. Satu … dua … tiga!”
Aku berlari sekencang yang kubisa. Namun, kecepatan Hamzah saat berlari justru mengalahkanku. Hingga ternyata, akulah yang menjadi mangsa Mas Afwan. Mas Afwan memelukku dari belakang. Aku berpura-pura berteriak meminta tolong pada Hamzah. Hingga Hamzah pun berkata ….
“Lepaskan Bidadaliku!” ucapnya dengan nada tegas dan setengah berteriak sambil menunjuk Mas Afwan.
“Apa? Bidadalimu? Ini Bidadaliku!” ejek Mas Afwan. Ia semakin mempererat pelukannya.
Aku tertawa lepas melihat aksi mereka berdua. Hingga tanpa sadar tawaku cukup mengganggu orang di sekitar taman yang sedang menikmati sunyi.
“Maaf!” ungkapku meminta maaf pada salah seorang ibu-ibu yang sedari tadi memerhatikan kami. Namun, ia sama sekali tak menunjukkan gelagat risi. Justru, ia berkata ….
“Nggak apa-apa, Nak. Dulu Ibu seusia kalian juga demikian. Masih muda.” Ternyata, masih ada manusia yang tidak hanya memandang dari kacamatanya saja. Aku menganggukan kepala seraya menorehkan senyuman di balik cadarku.
Siang itu, sehabis salat zuhur dan makan siang, kami melanjutkan ke toko madu Mas Afwan. Mas Afwan lantas menampilkan senyum ramahnya pada para customer yang berdatangan. Ia tampak serius memerhatikan cara karyawannya melayani. Seolah tengah memantau kinerja mereka.
Aku kini sibuk mengikuti langkah Hamzah yang berjalan ingin tahu ke sana ke mari. Tiba-tiba … seseorang menegur Hamzah dengan senyuman manisnya. Lalu ia berkata ….
“Hamzah, gimana umi barunya? Sayang nggak sama uminya?” tanya perempuan bercadar dan bergamis hitam itu pada Hamzah. Aku membalas tanyanya dengan senyuman.
“Sayang, dong. Tapi … ini bukan umi balu. Ini umi lama.” Seketika dentuman keras di jantung terdengar nyaring di telingaku. Suhu badanku tiba-tiba memanas. Kulihat perempuan bercadar itu lantas menganggukkan kepala padaku seolah meminta maaf atas pertanyaannya pada Hamzah.
Semenit kemudian … Hamzah bertanya pada Mas Afwan yang kini berjalan menuju kami.
“Abaty! Ini … umi lama, kan?”
Mas Afwan lantas tersenyum mendengar pertanyaan Hamzah. Kemudian ia menjawab dengan lembut.
“Bukan sayang, ini umi baru kita. Kan, Hamzah udah tahu kalau umi lama udah nggak ada.”
Kulihat, wajah Hamzah berubah menjadi sendu. Ia lantas beralih turun dari gendonganku. Lalu, ia berkata ….
“Ini Tante Adelin, ya? Kok bisa jadi Umi balu, sih? Kan bukan mahlom sama Abaty.”
“Hamzah sayang, kita ngomongnya di mobil aja, yuk!” ajak Mas Afwan seraya menggandeng tangan Hamzah menuju mobil.
***
Hamzah kini telah terlelap di bangku belakang. Kini, hanya ada aku dan Mas Afwan yang tetap terjaga. Kami menikmati hening masing-masing. Tak tahu harus mulai dari mana aku hendak berbincang dengannya. Hingga tiba-tiba sebuah kalimat terbit dari lisan Mas Afwan.
“Sayang,” panggilnya lembut seraya menatapku sekilas.
“Ya, Mas?” jawabku kemudian. Mataku ikut menatapnya.
Ia tiba-tiba menghentikan mobilnya pada sebuah kebun teh. Pintu mobil terbuka. Mas Afwan kini beralih membuka kaca pintu mobilku.
“Kita, pacaran dulu, di sini, yuk. Duduk di sana aja. Mumpung Hamzah tidur kita bisa deep talk.”
Aku mengangguk setuju. Kemudian mengikuti langkahnya mencari tempat untuk duduk.
“Kita nggak usah jauh-jauh. Di sini aja. Biar kalau Hamzah nangis, kita bisa dengar,” saranku seraya menarik tangan Mas Afwan.
Ia mengangguk menyetujui. Kami pun duduk beralaskan aspal jalanan. Seraya menatap keindahan kebun teh yang sejuk dipandang mata. Kuhirup udara sejuknya. Kemudian mengembuskannya pelan.
“Adem, ya suasananya. Beda sama Jakarta,” cicitku seraya tersenyum memandang kebun teh itu.
“Iya,” balas Mas Afwan sambil memandangku. “Sayang,” panggilnya kembali. Kali ini seolah ingin menyampaikan sesuatu.
“Apa, Mas?”
“Kamu tahu apa alasan terkuatku menikahimu selain karena kamu mencintai Hamzah?” Ia memandangku dalam.
“Apa? Karena Allah, kan?”
“Itu bukan lagi alasan. Tapi kewajiban.”
“Terus?”
Ia terdiam lama. Tak menjawab ucapanku sama sekali. Kulihat, ada genangan air mata di pelupuk matanya yang hendak tumpah. Ia … adalah lelaki pertama yang kutemui yang dengan mudah menangis di hadapan wanita. Apa … hatinya serapuh itu?
“Mas, aku boleh nanya?”
“Boleh. Tanya apa?” Ia menghentikan lamunan panjangnya. Matanya yang semula menatap nanar kebun teh, kini terfokus padaku.
“Kenapa kamu begitu mudah menangis?” Ia menatapku lama. Lalu ia menjawab ….
“Karena …”
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?