Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Di rumah besar di pusat kota Anggrek, Rasya sedang berada di ruang belajar dengan setumpuk buku pelajaran yang bukan untuk usianya. Shakira sengaja melakukannya agar Rasya stres dan tak terkendali hanya untuk membuktikan kepada Hadrian bahwa anaknya benar-benar gila.
Di bawah pengawasannya, Rasya bahkan tidak berani mengangkat kepala hanya sekedar untuk menatap. Penggaris kayu di tangannya sudah puluhan kali melayang menghantam punggung kecil Rasya.
"Tak kusangka kau begitu penurut akhir-akhir ini. Sebagai hadiah aku akan memberimu jus buah!" ucap Shakira mencibirkan bibir menatap Rasya.
Anak itu bergeming, tetap fokus membaca buku-buku dan sesekali akan membuat catatan di buku tulis. Ia tak peduli dengan makanan dan minuman, perutnya tak pernah merasakan kenyang.
"Mayra! Buatkan jus timun untuk Tuan Muda!" titah Shakira dengan suara melengking memenuhi seisi rumah.
Timun? Dia tahu aku tidak suka timun, tapi tetap memaksaku untuk meminum jus timun itu. Bedebah!
Rasya mengumpat di dalam hati, menggenggam pena dengan sangat kuat. Melirik tajam pada wanita yang mengaku sebagai pengganti ibunya ketika berhadapan dengan orang lain.
Beberapa saat menunggu, Mayra datang dengan segelas jus timun di tangan. Ia melirik Rasya, dan tahu betapa anak itu tidak menyukai minuman ini.
"Berikan padanya! Awasi dia, jangan sampai bermain-main. Aku akan istirahat dulu," katanya lagi seraya beranjak dari tempatnya mengawasi Rasya belajar.
"Baik, Nyonya."
Mayra menunggu sampai wanita itu keluar dari ruang belajar Rasya dan menutup pintunya.
"Mayra, aku tidak ingin meminum jus itu," rengek Rasya dengan wajah memelas menahan mual.
Mayra terburu-buru menenggak habis jus di tangannya dan mengeluarkan tumbler plastik berisi jus strawberry kesukaan Rasya.
"Ini untuk Tuan Muda. Jus strawberry dengan susu dan yogurt. Cepatlah, Anda harus segera menghabiskannya," ucap Mayra menyerahkan jus tersebut kepada Rasya.
Anak itu tersenyum, manis sekali. Ia mengambil dengan cepat, dan menenggaknya hingga tandas. Rasya tidak pernah bisa menikmati makanan dan minumannya sendiri, kecuali yang disediakan oleh Shakira.
"Terima kasih, Mayra. Kau memang yang terbaik!" ujar Rasya seraya menyerahkan tumbler tersebut kepada Mayra.
"Kau duduklah di sana!" Ia menunjuk kursi pengawas dan meminta Mayra untuk duduk di sana.
Sesekali mereka akan bercanda meski tak sampai mengeluarkan suara. Rasya diawasi dua puluh empat jam. Setiap malam ia selalu diberikan obat dan dipaksa meminumnya. Katanya suplemen untuk menjaga kesehatan, nyatanya obat itu membuat Rasya mudah diserang rasa takut. Belakangan, ia tidak meminumnya.
Beberapa hari berlalu, Rasya menikmati masa-masa bersama Mayra. Beberapa makanan enak juga minuman, dapat ia nikmati jika Mayra yang ditugaskan mengawasi belajarnya.
Namun, malam itu, malam yang tak pernah ia duga. Di antara gemuruh petir yang menyambar, suara Shakira jauh lebih dahsyat dan menyakiti telinganya.
"RASYAKA!" Panggilan itu, penuh penekanan dan ancaman yang membuat dunia Rasya berguncang.
Ia yang sudah berada di balik selimut dan bersiap untuk tidur setelah menghabiskan segelas susu yang dibawakan oleh Mayra secara sembunyi-sembunyi, terlonjak kaget. Matanya terbuka lebar dengan cepat, kedua kakinya melompat dari ranjang.
Panggilan panjang itu, bukan hanya sekedar panggilan biasa, tapi panggilan masalah yang mengancam waktunya. Kurungan di gubuk yang dingin bersama peti mati sudah terbayang di dalam kepala Rasya.
Kali ini apa salahku?
Hatinya bertanya-tanya, bingung sendiri. Kaki kecilnya berlari dengan cepat di antara puluhan anak tangga. Berpacu dengan waktu yang berputar di antara keheningan malam yang mencekam.
Brak!
Prang!
Sebuah guci dilempar dan hancur tepat di kaki kecil Rasya. Ia terlonjak, langkahnya yang baru saja tiba di lantai satu rumah, kembali mundur ke belakang. Rasya mendongak, menatap kilatan kemarahan di kedua manik Shakira. Di sisi wanita itu, seseorang diikat dan wajahnya babak belur.
"Kau ... apa yang kau lakukan padanya!" bentak Rasya dengan hati yang hancur.
"Tu-tuan Muda, maafkan aku." Suara lirih itu, getarannya begitu memukul hati Rasya.
Ia geram, kecewa, dan sedih sekaligus. Tangannya mengepal, menggenggam bara amarah yang melonjak.
"Kau ...."
****
Apa yang akan dilakukan Rasya?
Dan siapa yang terikat itu?
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄