BAB 1 (Opening kuat & emosional)
Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah
Bab 1: Titik Terendah
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Arga duduk sendirian di pinggir trotoar, tepat di bawah lampu jalan yang cahayanya redup. Tangannya menggenggam ponsel yang sejak tadi tak berdering. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan. Seolah dunia benar-benar lupa bahwa dia masih ada.
Hujan baru saja reda. Bau tanah basah bercampur dinginnya angin malam menusuk sampai ke tulang.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
“Gini ya rasanya… jadi gagal,” gumamnya pelan.
Beberapa bulan terakhir hidup Arga seperti runtuh satu per satu. Pekerjaan yang ia banggakan hilang begitu saja karena pengurangan karyawan. Tabungan yang ia kumpulkan habis untuk bertahan hidup. Dan yang paling menyakitkan… perempuan yang ia cintai memilih pergi.
Bukan karena tidak cinta.
Tapi karena keadaan.
“Maaf ya, Ga… aku capek nunggu kamu sukses,” kalimat itu masih terngiang jelas di kepalanya.
Arga tertawa kecil,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Jf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 — “Pelukan yang Menenangkan”
Hujan turun semakin deras membasahi taman kecil itu. Orang-orang yang tadi masih berjalan santai mulai berlari mencari tempat berteduh. Lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di genangan air, menciptakan suasana malam yang tenang sekaligus sendu.
Namun Arga dan Ara masih duduk di bangku kayu itu.
Ara menatap hujan yang jatuh di depan mereka sambil sesekali menyeruput minuman hangatnya. Sementara Arga hanya diam, menikmati perasaan asing yang perlahan memenuhi dadanya. Hangat. Tenang. Perasaan yang sudah lama sekali tidak ia rasakan.
“Kenapa diam terus?” tanya Ara pelan.
Arga tersenyum kecil.
“Aku cuma lagi mikir.”
“Mikir apa?”
“Mikir ternyata ada juga orang yang mau dengerin aku.”
Ara menoleh cepat.
“Memangnya selama ini nggak ada?”
Arga tertawa hambar.
“Kalau orang susah cerita terlalu banyak, biasanya orang lain malah pergi.”
Ucapan itu membuat Ara terdiam beberapa saat. Ia bisa mendengar luka yang tersembunyi di balik nada bicara Arga. Luka yang mungkin sudah terlalu lama dipendam sendirian.
“Aku nggak akan pergi,” ucap Ara lirih.
Arga menatap Ara pelan. Tatapan perempuan itu begitu tulus sampai membuat dadanya terasa sesak. Bukan karena sakit, melainkan karena ia tidak terbiasa diperlakukan sebaik itu.
Dulu Arga selalu berpikir hidupnya memang ditakdirkan berjalan sendirian. Sejak ibunya meninggal beberapa tahun lalu, semuanya berubah. Rumah yang dulu terasa hangat mendadak menjadi tempat paling sunyi. Ayahnya sibuk bekerja sebagai sopir demi memenuhi kebutuhan hidup mereka, sementara Arga harus belajar menahan semua rasa sakitnya sendiri.
Ia pernah mencoba bercerita pada beberapa orang. Tentang lelahnya bekerja sambil kuliah dulu. Tentang tagihan kontrakan yang sering menunggak. Tentang rasa takut kehilangan harapan.
Namun kebanyakan orang hanya menjawab singkat.
“Semangat ya.”
Kalimat sederhana yang terdengar baik, tapi sering kali terasa kosong.
Berbeda dengan Ara.
Perempuan itu tidak hanya mendengar. Ia tinggal.
Dan itu jauh lebih berarti daripada apa pun.
Hujan mulai reda perlahan. Angin malam terasa semakin dingin. Ara mengusap kedua tangannya pelan sambil menahan menggigil kecil.
Arga langsung menyadarinya.
“Kedinginan?”
Ara tersenyum kecil.
“Sedikit.”
Tanpa banyak bicara, Arga melepas jaket tipis yang ia pakai lalu memberikannya pada Ara.
“Pakai aja.”
Ara menggeleng cepat.
“Kamu nanti dingin.”
“Nggak apa-apa.”
“Tapi—”
“Ara,” potong Arga pelan. “Aku lebih tenang kalau kamu nggak kedinginan.”
Ara akhirnya menerima jaket itu perlahan. Wajahnya terlihat sedikit merah, entah karena dingin atau karena ucapan Arga tadi.
“Kamu tuh kadang terlalu baik,” gumam Ara sambil memakai jaket tersebut.
Arga tertawa kecil.
“Katanya itu alasan kamu suka sama aku.”
Ara ikut tertawa pelan.
“Iya juga.”
Suasana kembali hening, tetapi kali ini terasa nyaman.
Dari kejauhan terdengar suara musik jalanan samar-samar. Lampu kota mulai memantul indah di jalan yang basah karena hujan. Orang-orang terus berlalu lalang tanpa tahu bahwa di sudut taman kecil itu ada dua orang yang sedang saling menguatkan satu sama lain.
Arga memandangi langit malam yang masih dipenuhi awan.
“Aku takut bikin orang kecewa,” ucapnya tiba-tiba.
Ara menatapnya.
“Siapa?”
“Semua orang. Ayahku… diriku sendiri… bahkan kamu.”
Ara menghela napas kecil.
“Kamu tahu nggak kenapa manusia capek?”
Arga mengernyit kecil.
“Karena terlalu banyak masalah?”
Ara menggeleng.
“Karena terlalu keras sama dirinya sendiri.”
Arga diam.
“Aku lihat kamu selalu maksa diri buat kuat terus,” lanjut Ara. “Padahal nggak apa-apa kalau sesekali kamu lemah.”
Arga tersenyum tipis sambil menunduk.
“Kalau aku lemah, nanti hidupku berantakan.”
“Kalau kamu terus nyiksa diri sendiri juga sama aja.”
Ucapan Ara membuat Arga terdiam cukup lama.
Ia sadar perempuan itu benar.
Selama ini ia terlalu sibuk bertahan sampai lupa cara hidup dengan tenang. Ia selalu merasa harus kuat setiap waktu. Harus terlihat baik-baik saja walaupun hatinya hancur. Harus tetap berdiri walaupun tubuhnya hampir menyerah.
Padahal manusia memang punya batas.
Ara perlahan menyentuh tangan Arga lagi.
“Kamu nggak harus jadi sempurna buat dihargai.”
Kalimat itu membuat tenggorokan Arga terasa tercekat.
Sudah lama sekali tidak ada yang berbicara selembut itu padanya.
Ia menatap jalanan di depan sambil menarik napas panjang.
“Dulu aku pernah mikir buat nyerah.”
Ara terdiam.
“Maksud kamu?”
“Aku pernah capek banget sama hidup.”
Suara Arga terdengar pelan dan berat.
“Aku pernah kerja siang malam tapi hasilnya nggak pernah cukup. Pernah ditipu orang. Pernah nggak punya uang makan beberapa hari.” Ia tertawa kecil pahit. “Kadang aku ngerasa hidup emang nggak adil.”
Ara menggenggam tangan Arga lebih erat.
“Tapi kamu masih bertahan sampai sekarang.”
Arga mengangguk kecil.
“Mungkin karena aku nggak punya pilihan.”
“Bukan,” jawab Ara lembut. “Karena hati kamu kuat.”
Arga menatap Ara perlahan.
“Kenapa kamu selalu percaya sama aku?”
Ara tersenyum kecil sambil menatap mata Arga dalam-dalam.
“Karena aku lihat cara kamu berjuang.”
“Maksudnya?”
“Kamu tetap kerja walaupun capek. Kamu tetap perhatian sama orang lain walaupun hidup kamu sendiri susah.” Ara berhenti sejenak. “Nggak semua orang bisa begitu, Ga.”
Arga menunduk pelan.
Hatinya terasa hangat mendengar semua itu.
Kadang seseorang hanya butuh satu orang yang percaya padanya agar ia mampu bertahan lebih lama.
Dan malam itu, Ara menjadi alasan kecil yang membuat Arga kembali ingin melanjutkan hidup.
Tak lama kemudian ponsel Ara berbunyi. Perempuan itu melihat layar sebentar lalu menghela napas.
“Aku harus pulang.”
Arga mengangguk pelan meski sebenarnya ia belum ingin malam itu berakhir.
Mereka berdiri dari bangku taman lalu berjalan perlahan menuju pinggir jalan. Hujan sudah berhenti total, menyisakan udara dingin dan aroma tanah basah yang menenangkan.
Sebuah angkot berhenti di depan mereka.
Ara menatap Arga sebelum naik.
“Kamu janji satu hal boleh?”
“Apa?”
“Jangan pendam semuanya sendirian lagi.”
Arga tersenyum kecil.
“Aku coba.”
Ara menggeleng sambil tersenyum tipis.
“Bukan coba. Tapi harus.”
Arga tertawa pelan.
“Iya.”
Ara terlihat lega mendengar jawaban itu.
Sebelum masuk ke dalam angkot, perempuan itu tiba-tiba kembali mendekat.
“Dan satu lagi.”
“Hm?”
“Kamu hebat, Ga.”
Jantung Arga seakan berhenti beberapa detik.
Belum sempat ia menjawab, Ara sudah masuk ke dalam angkot sambil melambaikan tangan kecil padanya.
Arga berdiri diam di pinggir jalan memperhatikan kendaraan itu perlahan menjauh.
Untuk beberapa saat ia hanya tersenyum sendiri.
Entah kenapa, malam yang tadinya terasa berat kini berubah jauh lebih ringan.
Masalah hidupnya memang belum selesai. Besok ia masih harus bekerja keras. Tagihan masih menunggu. Lelah itu juga mungkin belum akan hilang.
Tetapi setidaknya sekarang ada satu hal yang berbeda.
Ia tidak lagi menghadapi semuanya sendirian.
Arga menatap langit malam di atas kota yang perlahan mulai cerah setelah hujan.
Lalu untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Ia pulang dengan hati yang sedikit lebih tenang.