Seorang gadis terbangun di tengah rimbunnya hutan benua Vlagria tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai disana. Ini adalah dunia Celestia Online, sebuah MMORPG megah yang menjanjikan petualangan tanpa batas. Namun, bagi Alice, petualangan itu berubah menjadi teka-teki mematikan. Bisakah Alice pulang ke dunia nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alicea0v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1-Cahaya Dadakan Di Desa Tura
Langkah kaki Arthur terasa berat, namun ia tetap menggendong Alice dengan penuh kehati-hatian. Di punggungnya, Alice sesekali memejamkan mata, berusaha mengumpulkan kesadaran yang tercerai-berai. Di belakang mereka, Xena, Albertio, dan Violet berjalan dalam formasi waspada, menyusuri jalan setapak yang berkelok menuju Desa Tura.
"Kau berat juga ya, Alice," canda Arthur pelan, mencoba mencairkan atmosfer mencekam yang tersisa dari pertarungan di reruntuhan tadi.
"Turunkan aku kalau begitu... biar aku jalan sendiri sambil merangkak," balas Alice lemah dengan nada merajuk.
"Ahahaha... Jangan, nanti kami kehilangan support kami yang cantik, bukan begitu Arthur?" goda Xena sambil melangkah santai.
Alice yang mendengar godaan itu melirik sisi wajah Arthur dari belakang dengan tatapan menggoda.
"Ugh... Aku tidak akan menurunkanmu di sini, Alice," ucap Arthur, terus melangkah sembari sedikit menundukkan kepalanya yang terasa panas.
"Kau mengalihkan pembicaraan, Arthur. Apa benar aku cantik?" tanya Alice, semakin menyudutkan pria itu dengan tatapan jenaka.
"Itu... itu..." Arthur terbata-bata, mencoba menjawab sambil sesekali melirik ke belakang dengan canggung.
"Kesatria macam apa kau yang tidak mau mengakui kecantikan seorang gadis?" timpal Albertio dari belakang, menatap punggung Arthur dengan nada jengkel.
"Diamlah, pengguna katana bodoh! Ini semua karena ulahmu, aku jadi harus menggendong... Alice begini!" teriak Arthur tanpa menoleh, mempercepat langkahnya untuk menutupi rasa malu.
"Cih..." Albertio mendecih kesal, tak mampu menyangkal kebenaran dari ucapan sahabatnya itu.
"Tunggu teman-teman, aku mencium sesuatu!" Perintah Violet tiba-tiba. Ia mengangkat satu tangan, mendahului Arthur selangkah di depan dengan sikap waspada.
"Ada apa, Vio?" Xena tampak kebingungan.
Di kejauhan, dari arah Desa Tura, asap hitam mengepul tinggi ke cakrawala. Bau sangit dan teriakan melengking yang menyayat hati mulai menusuk indra pendengaran mereka.
"Ada asap di depan," Albertio menunjuk ke arah langit. "Bukannya itu arah Desa Tura? Tapi asap ini... bukan seperti asap kayu bakar biasa."
"Bau anyir darah dan belerang," desis Violet. Matanya berkilat, jemarinya mulai mengelus gagang belati dengan tidak sabar.
"Ufufu... Ada darah baru yang akan mengalir di belati kesayanganku..." Violet mengusapkan bilahnya ke pipi dengan wajah riang yang mengerikan.
"Arthur, ayo kita bantu penduduk desa!" Alice menatap kepulan asap itu dengan raut wajah khawatir.
"Yah, tidak perlu diberitahu, Alice. Tapi ingat, tetaplah di belakangku. Tubuhmu belum pulih sepenuhnya." Arthur melirik ke bahunya, memastikan gadis yang ia gendong baik-baik saja.
"Mmm... Ya... Cepatlah," desak Alice.
Mereka mempercepat langkah, hingga akhirnya sampai di persimpangan jalan setapak tepat di depan gerbang Desa Tura.
Pemandangan memilukan tersaji di depan mata. Puluhan Hobgoblin dan Goblin Shaman tengah mengamuk; mereka membakar lumbung dan menyeret penduduk desa yang tak berdaya. Teriakan histeris bergema membelah udara.
"Tolong kami... Aaah!"
"Anakku... Di mana anakku?"
"Tidak... Ini tidak mungkin... Kita semua akan mati!"
Alice dan kawan-kawan terpaku sejenak menyaksikan horor di depan mereka.
"Arthur, turunkan aku," perintah Alice dengan tatapan yang mendadak tajam.
"Baiklah, tapi ingat kata-kataku tadi, Alice," jawab Arthur penuh kekhawatiran sembari menurunkan Alice perlahan dari punggungnya.
Namun, di sisi lain gerbang, deru langkah kaki kuda terdengar mendekat. Sepasukan berkuda dengan zirah perak yang mengilap tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Mereka adalah unit elit dari Eltra Celestia. Sang pemimpin, Kapten Leon, mendadak mengangkat tangan tinggi-tinggi.
"Berhenti...!!!" teriak Leon. Seluruh pasukannya berhenti seketika, diiringi suara ringkikan kuda yang saling bersahutan.
Ting... Ting... Ting...
Alat deteksi Mana di pergelangan tangan Kapten Leon bergetar hebat, mengeluarkan bunyi melengking yang memekakkan telinga. Jarumnya menunjuk tepat ke arah kelompok Arthur.
"Kapten! Frekuensi Mana itu... sangat mirip dengan apa yang kita cari! Itu mana yang melampaui batas manusia!" teriak salah satu prajurit.
Leon menatap tajam ke arah mereka. Sebagai sesama kesatria Eltra, ia sangat mengenal sosok Arthur yang kehormatannya sering menjadi buah bibir di ibu kota. Leon menghunus pedangnya, mengarahkan ujung bilahnya tepat ke arah Arthur.
"Arthur! Kapten Penjaga Perbatasan yang tidak berguna!" teriak Leon lantang. "Apa yang kau lakukan? Kau tidak hanya gagal menjaga wilayah dan kehilangan prajurit di perbatasan, tapi sekarang, kau malah membawa sebuah 'anomali' ke pemukiman warga. Kau adalah pengkhianat yang membawa petaka bagi kerajaan!"
Wajah Arthur memerah padam. Ia mencengkeram gagang pedang besarnya dengan urat-urat tangan yang menonjol. "Jaga bicaramu, Kapten Leon! Kami baru saja keluar dari neraka demi menyelamatkan rekan kami!"
"Rekan? Kau sebut anomali ini rekan?" Leon melirik alat deteksi mana di tangannya, merasakan aura tidak biasa yang memancar dari sosok Alice. "Arthur! Itu adalah sumber bencana! Tidak ada tempat di Eltra bagi pengkhianat yang mengancam kedamaian kerajaan. Pasukan! Tangkap gadis itu, bawa dia hidup-hidup!" Leon memberi isyarat agar pasukannya mengepung mereka.
"Tapi Kapten Leon, Kapten Arthur..." salah seorang prajurit bergumam ragu, namun ia langsung terbungkam oleh tatapan maut Leon.
"Pengkhianat bukanlah kesatria Eltra lagi! Tangkap semuanya, hancurkan siapa pun yang melawan!" perintah Leon dengan suara yang naik beberapa oktaf.
Sebelum pasukan Leon sempat bergerak, Alice melangkah maju. Ia menahan tangan Arthur yang sudah gemetar karena amarah dan menatap Leon dengan ketenangan yang aneh.
"Tunggu dulu, Kapten Leon," ucap Alice tenang. "Apakah kehormatan Kesatria Eltra hanya sebatas ini? Apa kalian tidak merasa malu? Di depan kalian, monster sedang membantai warga, dan kau lebih memilih menangkapku yang tidak akan lari ke mana pun?"
Leon terhentak. Rasa malunya terpantik di hadapan para bawahannya yang mulai saling pandang.
"Tapi... Kau..." Leon menoleh ke arah desa yang tengah diserang monster sejenak. Rahangnya mengeras sebelum akhirnya ia memberi komando baru.
"Cih... Pasukan! Tunda penangkapan! Bersihkan hama hijau itu terlebih dahulu! Kita bekerja sama dengan para pengkhianat ini demi keselamatan warga!" teriak Leon sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
"Wooooh...!!!" teriakan itu disambut dengan semangat perang dari para prajuritnya.
Pertempuran pun pecah dengan liar. Arthur menerjang bagaikan badai, membelah Hobgoblin dalam satu ayunan besar. Albertio bergerak seperti bayangan, katananya menebas kepala monster dengan presisi yang mematikan. Violet tertawa kegirangan, menari di antara genangan darah dengan lincah, sementara Xena memberikan dukungan sihir penghancur dari lini belakang.
Pasukan Leon membentuk formasi pertahanan yang solid, mengapit pergerakan tim Alice. Dalam waktu singkat, sisa-sisa goblin melarikan diri kembali ke kegelapan hutan, meninggalkan Desa Tura yang bersimbah darah.
Hening
Suasana mendadak sunyi, hanya diiringi isak tangis yang menyayat hati. Di alun-alun desa, banyak warga terkapar. Anak kepala desa terbaring tak bergerak dalam pelukan ibunya yang meraung histeris, kondisinya benar-benar kritis.
"Uhukk... Uhuk... A...yah..." ucap anak itu lirih, menatap sayu ke arah langit.
"Anakku... Bertahanlah... Tolong siapa saja! Tolong anakku!" kepala desa meratap sembari mendekap tangan anaknya yang mendingin.
"Ayah... sakit... Aku... tidak ingin mati..." Anak itu menatap langit dengan mata berkaca-kaca, napasnya mulai tersengal-sengal. Perlahan ia mulai menutup matanya, menyerah pada rasa sakit yang luar biasa di tubuhnya.
Pemandangan itu mengiris hati Alice. Ia menatap anak itu dengan prihatin.
"Aku harus melakukan sesuatu, tapi manaku... manaku tidak cukup. Apa ramuan mana biasa bisa memulihkan mana aneh milikku ini?" pikirnya ragu. "Aku harus mencoba, meskipun gagal."
Alice mendekati Xena. "Xena... berikan aku ramuan Mana paling murni yang kau punya."
Xena menoleh dengan wajah pucat. "Tapi Alice, manamu sudah benar-benar habis! Kau bisa pingsan!"
"Berikan saja," potong Alice tegas. "Percaya padaku... Xena."
Melihat keyakinan di mata temannya, Xena akhirnya mengalah. Ia merogoh tas petualangnya dengan terburu-buru. "Ba... baiklah. Sebentar."
"Kau yakin, Alice?" tanya Arthur khawatir. Alice hanya melempar senyum tipis tanpa menjawab, membuat mereka semua terpaksa mengikuti kemauannya.
"Aha! Ini dia! Ini ramuan yang aku beli di toko tempo hari. Sebelum aku memecahkan hampir seluruh botol di toko itu, sih," ucap Xena dengan wajah canggung saat menyerahkan botol biru itu.
Alice menerima ramuan tersebut. "Tidak ada jalan kembali. Percaya padaku? Ehek... kenapa aku bisa bicara sekeren itu??? Padahal aku sendiri tidak tahu apakah ini akan berhasil," batin Alice memelas, meski wajah aslinya tampak sangat tenang. Tanpa ragu, ia meminum ramuan itu hingga tandas.
Glug... Glug... Glug...
Setelah meminum cairan biru pekat itu, Alice memejamkan mata.
"Alice?" panggil Xena cemas. "Apa ramuannya berhasil?"
Perlahan, Alice merasakan aliran hangat mulai mengisi nadinya kembali. "Ini berbeda dari game. Rasa hangat ini... Jadi begitu. Meskipun manaku telah berevolusi menjadi mana murni, aku tetap bisa mengisinya dengan ramuan biasa, meski efeknya hanya mengisi 30% dan rasanya pahit sekali!"
Alice melangkah mantap menuju pusat Alun-alun Desa Tura. Ia berdiri di tengah-tengah kerumunan raga yang sekarat. Warga mulai berbisik-bisik menatapnya.
"Siapa dia?"
"Apa yang dia lakukan?"
"Dia... Gadis yang waktu itu?"
Cahaya suci yang hangat mulai memancar, meluap dari tubuh Alice.
"Wahai kekuatan yang menghangatkan jiwa dan raga, pertolongan suci bagi mereka yang kesulitan..." bisik Alice. Meski ia hanya bergumam, suaranya menggema di udara seolah diperkuat oleh sihir.
"Berkatilah mereka dengan kesehatan yang melampaui batas..."
Hening
"[Divine Magic: Grace of the Goddess]"
Partikel cahaya turun perlahan seperti salju suci. Seketika, luka-luka yang menganga menutup tanpa bekas. Anak kepala desa yang tadinya diam membeku, tiba-tiba terbatuk dan membuka matanya, menghirup udara dengan lega.
"Luka... lukaku hilang!"
"Anakku hidup kembali! Ini mukjizat!"
"Sihir apa ini? Tidak... ini adalah berkah!"
Satu per satu penduduk desa menatap Alice. Keanggunan wajahnya dan pendar cahaya suci yang menyelimutinya membuat mereka tidak ragu lagi.
"Dewi... Beliau adalah Dewi yang turun dari langit!" teriak sang Kepala Desa sembari bersujud.
"Dewi menyelamatkan kita!"
"Hidup Sang Dewi!"
Seruan itu menjalar cepat. "TERIMA KASIH, DEWI!" Ratusan orang jatuh berlutut, menundukkan kepala mereka ke tanah dengan fanatisme yang murni.
"Oh, Dewi yang agung... apa yang bisa hamba lakukan untuk membalas kebaikan Engkau?" ucap kepala desa penuh khidmat.
"Dewi? Siapa? HEEEEH...!!!" batin Alice berontak, tak menyangka akan disembah seserius ini.
"Alice... ini luar biasa," gumam Arthur kagum.
"Dewi... Hidup Dewi! Ahahaha!" Violet melompat kegirangan, sangat menyukai gelar baru itu.
"Woi... woi... kau pasti bercanda, kan?" Albertio tertegun dengan mata terbelalak.
Kapten Leon terguncang hebat. Pemandangan ini adalah sesuatu yang seharusnya hanya dimiliki oleh petinggi Gereja Lusputh. Namun, ia mencoba meneguhkan hatinya.
"Cukup! Alice, kekuatanmu terlalu berbahaya bagi stabilitas kerajaan. Kau harus ikut kami ke Ibu Kota untuk penyelidikan. Ini perintah resmi!" teriak Leon, memecah suasana sakral tersebut.
"Aku menolak," jawab Alice tanpa keraguan. "Penduduk di sini masih membutuhkan bantuan. Aku bukan tawananmu, Kapten."
"Jangan membangkang! Tangkap dia!" perintah Leon tegas. Namun, para prajuritnya tak ada yang bergerak. Mereka terpaku melihat mukjizat di depan mata mereka.
"Ka... Kapten... bagaimana mungkin kekuatan yang memberi kehidupan ini, kita anggap bencana?" bisik salah satu prajurit ragu.
"Beraninya kau menentang perintah atasan?! Cepat tangkap! Atau kalian semua akan kulaporkan sebagai pengkhianat!" teriak Leon geram sembari menunjuk Alice.
Dengan terpaksa, prajurit yang bingung itu mulai membentuk barikade formasi penangkapan. Namun, sebelum mereka sempat maju, sebuah batu menghantam pundak salah satu kesatria. PLAK!
"Jangan sentuh Dewi kami!" teriak seorang pemuda desa dengan mata menyala marah.
"Pergi kalian! Prajurit tidak berguna! Saat kami hampir mati, kalian datang terlambat. Sekarang setelah Dewi menyelamatkan kami, kalian ingin membawanya?!"
"Kalianlah pengkhianat yang sebenarnya!!"
Bugh! Plak! Dak!
Hujan batu mulai berjatuhan dari tangan penduduk desa yang marah. Mereka membentuk barisan manusia, memagari Alice dan kawan-kawan. Para kesatria yang biasanya ditakuti kini terdesak mundur oleh amukan massa yang membela iman baru mereka.
"Eh? Kalian fanatik sekali? Apa aku akan dianggap pemimpin kultus sesat setelah ini? Gawat..." pikir Alice cemas sembari menatap Leon.
Leon mundur selangkah, melihat Arthur dan Albertio yang sudah bersiap dengan senjata mereka. Ia tahu, memaksakan diri hanya akan memicu pemberontakan besar.
"Ugh... Kalian akan menyesal telah melawan hukum kerajaan! Prajurit, mundur!" teriak Leon sembari memacu kudanya menjauh, menghindari lemparan batu yang semakin membabi buta.
Teriakan pemujaan kembali menggema saat pasukan Leon menghilang di kejauhan.
"WOOOOOH... HIDUP DEWI...!!!"
Alice berdiri di sana, dikelilingi oleh para pemujanya. Di dalam hati, ia merinding ketakutan. "Aduh! Sekarang aku benar-benar jadi buronan kerajaan nomor satu! Tapi... melihat mereka selamat, rasanya tidak seburuk itu."
Alice menatap langit yang mulai senja. Ia menyadari satu hal, tidak ada jalan kembali. Perang suci dan perebutan kekuasaan baru saja dimulai dari desa kecil bernama Tura.
cape😅