Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Suasana kafe siang itu cukup tenang, diiringi alunan musik lembut yang seharusnya menenangkan. Namun bagi Linda, ketenangan itu terasa semu. Di hadapannya duduk seorang pria berjas rapi, sikapnya formal, wajahnya kaku, seperti orang yang terbiasa membawa urusan penting—atau lebih tepatnya, urusan kotor yang dibungkus rapi.
Linda menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap pria itu tanpa sedikit pun rasa hormat.
Pria itu membuka pembicaraan dengan suara datar, seolah pertanyaan yang akan dia ajukan adalah hal paling wajar di dunia.
“Jadi… saya ingin memastikan satu hal,” katanya sambil menautkan jari-jarinya di atas meja. “Apakah benar Kirana adalah putri Tuan Erlan?”
Linda langsung terdiam beberapa detik. Bukan karena ragu, melainkan karena menahan emosi yang tiba-tiba melonjak.
Kemudian dia tersenyum tipis, senyum yang jelas bukan tanda ramah.
“Pertanyaan seperti itu,” ucapnya pelan, “benar-benar tidak perlu ditanyakan.”
Pria itu tidak langsung bereaksi, hanya menatapnya, mencoba membaca ekspresi Linda.
Linda menghela napas panjang, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dingin.
“Apakah Anda pikir saya akan mengaku-ngaku hanya untuk mendapatkan sesuatu? Atau Anda mengira saya cukup rendah untuk menjadikan anak saya sebagai alat?”
Pria itu sedikit menggeser duduknya, tampak tidak sepenuhnya nyaman.
“Saya hanya menjalankan tugas,” jawabnya singkat. “Keluarga Tuan Erlan ingin memastikan—”
“Cukup.”
Linda memotong dengan tegas. Tatapannya tajam.
“Saya tidak peduli siapa yang ingin memastikan apa. Yang penting, Erlan tahu. Itu sudah lebih dari cukup.”
Hening sesaat menyelimuti meja mereka.
Pria itu akhirnya mengangguk pelan, seolah memutuskan untuk tidak memperpanjang topik itu.
“Baik,” katanya. “Jika Tuan Erlan mengakuinya, maka kami akan menghormati itu.”
Nada bicaranya berubah. Lebih formal. Lebih serius.
Dia kemudian meraih tas kerja yang diletakkan di samping kursinya, membukanya perlahan, dan mengeluarkan sebuah amplop tebal.
Linda memperhatikan tanpa minat.
Pria itu meletakkan amplop tersebut di atas meja, lalu mendorongnya sedikit ke arah Linda.
“Ini,” katanya, “adalah bentuk keseriusan keluarga Tuan Erlan.”
Linda tidak langsung menyentuhnya.
“Buka saja,” lanjut pria itu.
Dengan ekspresi datar, Linda akhirnya mengambil amplop tersebut. Dia membukanya, lalu mengeluarkan isinya.
Sebuah cek.
Angkanya membuat banyak orang mungkin akan berhenti bernapas.
Lima belas miliar.
Belum selesai sampai di situ, pria itu kembali mengeluarkan sesuatu dari tasnya—sebuah map berisi dokumen.
“Sertifikat villa,” katanya singkat. “Lokasi premium. Sudah atas nama keluarga.”
Linda menatap semua itu tanpa perubahan ekspresi berarti.
“Semua ini,” lanjut pria itu, “akan menjadi milik Anda.”
Linda akhirnya mengangkat pandangannya.
“Dengan satu syarat.”
Linda sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini. Namun tetap saja, mendengarnya secara langsung membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak.
“Serahkan Kirana,” ucap pria itu tanpa ragu, “kepada keluarga Tuan Erlan.”
Sunyi.
Beberapa detik terasa sangat panjang.
Kemudian…
Linda tersenyum.
Namun kali ini, senyumnya jelas berbeda. Bukan sinis. Bukan dingin. Tapi sesuatu yang hampir terlihat seperti mengejek.
“Keluarga Erlan…” katanya pelan. “Sepertinya benar-benar sudah kehilangan akal.”
Pria itu mengerutkan kening.
“Saya tidak melihat apa yang lucu dari situasi ini.”
“Tentu saja tidak,” jawab Linda cepat. “Karena bagi Anda, ini hanya transaksi.”
Dia menutup amplop itu, lalu mendorongnya kembali ke arah pria tersebut.
“Kirana bukan barang.”
Nada suaranya kini tegas, tanpa celah.
“Saya melahirkannya. Dia bagian dari diri saya. Dan Anda datang ke sini, duduk dengan santai, lalu berpikir bisa ‘membelinya’?”
Pria itu menarik napas pelan, berusaha tetap tenang.
“Anda salah paham. Ini bukan soal membeli. Ini soal masa depan anak itu. Keluarga Tuan Erlan bisa memberikan kehidupan yang jauh lebih baik—”
“Lebih baik?” Linda tertawa kecil, tapi tanpa kehangatan. “Dengan cara memisahkannya dari ibunya?”
Pria itu terdiam sejenak.
Linda mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapannya tajam.
“Kalau itu definisi ‘lebih baik’ menurut kalian,” katanya, “maka saya benar-benar bersyukur Erlan memilih pergi.”
Kalimat itu membuat pria itu sedikit terkejut.
Linda bersandar kembali, suaranya kini lebih tenang, tapi justru terasa lebih kuat.
“Saya tidak butuh uang kalian. Tidak butuh villa kalian. Tidak butuh apa pun dari keluarga itu.”
Dia menatap langsung ke mata pria tersebut.
“Yang saya butuhkan hanya Erlan dan Kirana. Itu sudah cukup.”
Pria itu tampak mulai kehilangan kesabaran.
“Anda mungkin hanya belum puas dengan tawaran ini.”
Linda mengangkat alis.
Tanpa banyak bicara, pria itu mengeluarkan sesuatu lagi—selembar cek kosong.
Dia meletakkannya di atas meja, lalu mendorongnya ke arah Linda.
“Isi sendiri,” katanya. “Berapa pun yang Anda inginkan.”
Belum berhenti di situ, dia juga mengeluarkan ponselnya, membuka galeri, lalu memutarnya ke arah Linda.
Layar itu dipenuhi gambar properti mewah—rumah besar, villa eksklusif, apartemen kelas atas.
“Pilih mana saja,” lanjutnya. “Atau semuanya sekaligus, jika Anda mau.”
Linda menatap layar itu sebentar. Lalu menatap cek kosong di tangannya.
Pria itu melanjutkan, suaranya semakin serius.
“Bahkan sebuah anak perusahaan bisa diberikan kepada Anda. Kehidupan yang tidak perlu Anda khawatirkan lagi.”
Hening.
Beberapa detik.
Kemudian Linda meraih cek kosong itu.
Pria itu tampak sedikit puas, mengira akhirnya Linda mulai goyah.
Namun kepuasan itu tidak bertahan lama.
Dengan gerakan tenang, Linda merobek cek tersebut menjadi dua.
Lalu empat.
Lalu berkeping-keping.
Dia meletakkan potongan-potongan itu kembali di atas meja.
Pria itu terdiam, jelas tidak menyangka reaksi seperti itu.
“Saya akan jelaskan sekali lagi,” kata Linda, suaranya dingin tapi sangat jelas. “Saya tidak akan menyerahkan Kirana.”
Dia berdiri perlahan.
“Satu-satunya cara kalian bisa mengambilnya dari saya…”
Linda menatap pria itu untuk terakhir kalinya.
“…adalah dengan mengambil nyawa saya.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa dramatisasi berlebihan. Justru karena itulah terasa lebih berat.
Pria itu tidak langsung menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak pertemuan dimulai, dia tampak benar-benar kehabisan kata.
Linda mengambil tasnya.
Dia tidak tertarik lagi melanjutkan percakapan ini.
Sebelum pergi, dia berhenti sejenak, lalu berkata tanpa menoleh,
“Sampaikan pada ayah Erlan.”
Nada suaranya tidak tinggi, tapi tegas.
“Tidak semua hal di dunia ini bisa dibeli.”
Setelah itu, dia melangkah pergi.
Langkahnya cepat, tegas, tanpa ragu.
Begitu keluar dari kafe, Linda menarik napas dalam-dalam. Udara luar terasa jauh lebih segar dibandingkan ruangan tadi.
Namun pikirannya masih penuh.
Dia menggeleng pelan, tidak habis pikir.
“Bagaimana bisa…” gumamnya lirih. “Erlan tumbuh di keluarga seperti itu…”
Rasa marah masih ada, tapi kini bercampur dengan sesuatu yang lain—tekad.
Dia mempercepat langkahnya menuju rumah.
Dalam pikirannya hanya ada dua orang.
Erlan.
Dan Kirana.
Dia tidak akan menceritakan pertemuan ini pada Erlan. Dia tahu betul bagaimana reaksi pria itu jika mengetahui keluarganya mencoba melakukan hal seperti ini.
Linda tidak ingin memperkeruh keadaan.
Dia hanya ingin satu hal.
Kehidupan yang tenang.
Keluarga kecil yang sederhana.
Sesuatu yang selama ini dia impikan.
“Cukup itu saja,” bisiknya.
Tangannya mengepal perlahan.
Dia tahu ini belum selesai. Keluarga Erlan bukan tipe yang mudah menyerah.
Namun Linda juga bukan seseorang yang akan mundur.
“Kirana adalah duniaku,” ucapnya dalam hati.
Jika dia harus berhadapan dengan siapa pun…
Jika dia harus melawan keluarga sebesar itu…
Dia tidak akan mundur.
Tidak akan pernah.
Karena bagi Linda, hidup tanpa Kirana bukanlah hidup.
Dan kali ini, dia siap mempertahankan segalanya.