NovelToon NovelToon
Dari Pecundang Jadi Legenda

Dari Pecundang Jadi Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:36.3k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tubuh yang Hampir Hancur

Perjalanan keluar dari lorong gua jauh lebih berat dibanding saat masuk.

Qiu Liong menopang dua murid sekte di kedua bahunya. Tubuh mereka lemas, langkah terseret. Jaring laba-laba telah ia bersihkan, namun racun masih menyisakan pucat di wajah mereka.

Langkah demi langkah, ia bergerak menuju cahaya samar di mulut gua.

Awalnya ia merasa baik-baik saja.

Terlalu baik.

Namun beberapa langkah kemudian

dadanya terasa sesak.

Bukan seperti kelelahan biasa.

Lebih seperti sesuatu di dalamnya berputar terlalu cepat.

Ia berhenti sejenak, menahan napas.

Kehampaan di dalam dadanya berdenyut.

Lebih kuat dari sebelumnya.

“Jangan… gunakan terlalu banyak dalam waktu singkat.”

Suara itu muncul lagi, kali ini terdengar lebih berat.

Qiu Liong mengernyit.

“Aku tidak merasa menggunakannya berlebihan,” gumamnya pelan.

“Kau belum mengerti berapa banyak yang kau lepaskan.”

Tiba-tiba

rasa nyeri tajam meledak dari pusat dadanya.

Qiu Liong terhuyung.

Kedua murid itu hampir terjatuh jika ia tidak cepat menahan.

Rasa sakit itu menyebar seperti retakan di kaca, menjalar ke lengan, ke kaki, ke kepala.

Ia terjatuh berlutut.

Tubuhnya gemetar hebat.

Napasnya tersengal.

Di dalam dirinya, inti kekosongan berputar liar, seolah mencoba memperluas ruangnya sendiri.

“Apa… yang terjadi…?” suaranya pecah.

“Kau memaksakan kehampaan mengalir melalui meridian yang belum siap.”

Suara itu tetap tenang.

Terlalu tenang.

Qiu Liong merasakan darah mengalir dari sudut bibirnya.

Meridian retaknya memang telah diisi

namun bukan diperkuat.

Ia seperti wadah retak yang tiba-tiba diisi air laut.

Tekanan itu terlalu besar.

Ia mencoba mengatur napas, mencoba memusatkan kesadaran seperti saat bertarung tadi.

Namun kali ini berbeda.

Rasa sakitnya nyata.

Menusuk.

Membakar.

Seolah tubuhnya menolak kekuatan yang ia pilih sendiri.

“Aku tidak bisa berhenti sekarang…” bisiknya lirih.

Ia menoleh pada dua murid yang tak sadarkan diri.

Jika ia pingsan di sini, mereka mati.

Tangannya mengepal.

Untuk pertama kalinya sejak menerima inti itu, ketakutan kembali muncul.

Bukan takut pada musuh.

Bukan takut pada kematian.

Melainkan takut kehilangan kendali.

Kehampaan itu mulai menyebar tanpa ia perintahkan.

Dinding lorong retak halus.

Batu-batu kecil jatuh.

Qiu Liong terkejut.

Ia tidak ingin menghancurkan gua ini.

Ia tidak ingin melukai siapa pun.

“Fokus,” suara itu berbisik.

“Jangan biarkan ia mengalir. Tahan.”

“Tahan bagaimana?!” ia hampir berteriak.

“Terima rasa sakitnya.”

Jawaban itu membuatnya terdiam.

Terima?

Ia memejamkan mata.

Alih-alih melawan rasa sakit itu, ia berhenti mencoba menekannya.

Ia membiarkannya mengalir.

Merasakan setiap denyut.

Setiap retakan.

Setiap sensasi tubuhnya hampir robek dari dalam.

Air mata tanpa sadar mengalir di pipinya.

Sudah lama ia tidak menangis.

Bahkan saat dihina.

Bahkan saat berdarah di tangga batu.

Namun kali ini

ini bukan tentang harga diri.

Ini tentang bertahan hidup dalam tubuhnya sendiri.

Perlahan…

denyutan itu mulai stabil.

Kehampaan yang liar tadi mereda.

Seperti ombak besar yang akhirnya surut.

Rasa sakit masih ada.

Namun tidak lagi menghancurkan.

Qiu Liong membuka mata.

Ia terengah-engah.

Bajunya basah oleh keringat.

Tubuhnya terasa seperti baru saja dihantam badai.

Namun ia masih sadar.

Masih hidup.

“Tubuhmu hampir hancur,” suara itu berkata datar.

“Jika kau terus seperti ini, kau akan mati sebelum menjadi kuat.”

Qiu Liong tersenyum pahit.

“Jadi kekuatan tanpa batas ini… tetap punya batas.”

“Batasnya adalah dirimu.”

Jawaban itu sederhana.

Namun berat.

Ia perlahan berdiri lagi, kali ini lebih berhati-hati. Tidak memanggil kehampaan. Tidak membiarkannya mengalir bebas.

Hanya berjalan.

Langkah demi langkah.

Merasakan setiap gerakan tubuhnya.

Saat akhirnya cahaya hutan terlihat di depan, Qiu Liong menyadari sesuatu

Kekuatan itu nyata.

Namun ia bukan dewa.

Ia bukan legenda.

Ia masih manusia.

Dan tubuh manusianya hampir hancur oleh pilihan yang ia buat sendiri.

Namun di balik rasa sakit itu

untuk pertama kalinya,

ia tidak merasa lemah.

Ia merasa… sedang berubah.

1
Mbah Haryo
novel ini sperti cerita du dunia sekuler..dg sgala pertarungan moralitasnya...
bukan sperti cerita fantasi dunia persilatan...hhhh
Mbah Haryo
moralitas & idealisme buta....
yg tidak melihat simana dunia dia hidup..
hanya membuat orang menjadi bodoh..

didunia anjing makan anjing...
maka siapapun hrs siap mnjadi anjing...haaakak...
Mbah Haryo
narasinya masih sama sj dr awal sampai capter ini...hhhh
Mbah Haryo
masih sj dg narasi yg sama...bukan ini bukan itu tapi anu...
terus sj bgitu..wekekkekek.
jd boring dah ach...
Mbah Haryo
jagoanya mumet terlalu banyak masalah yg gak perlu...hhh
Mbah Haryo
baru kali ini ada pendekar yg banyak pikiran..bwakkakakk
Mbah Haryo
dapat inti kekosongan..tp malah tiada guna..hadeuewh...
Mbah Haryo
terooss aj..bukan ini tapi itu..bukan anu tapi panu...
gitu terus diakhir cpt..
Mbah Haryo
asyuuuddahlah....
Mbah Haryo
cerita yg awalnya bagus...jadi membosankenlah..
karakter yg m3mbingungken...hhh
Mbah Haryo
speeti bukan cerita silat..tp monolog cerita silet
Mbah Haryo
sdh sjauh ini..blas gal ada uraian ttg kultivasi...lalu dr mana kmampuan teknik jagoan ne...?
krn kekosongan tak adacm tekniknya...hhh😄
Mbah Haryo
penjelasan yg berulang..dr dpan sampe blakang..beih .wekekkeksk...
Mbah Haryo
smangkin jaoh dbaca...
kita malah kayak jd wong pekok....hhhh
Mbah Haryo
dwuleeg njiaaraann..cerita bagus tp malah berkutat di monolog" yg berulang...boring geess
Mbah Haryo
kalo gak berkembang...anu..caoo..
Mbah Haryo
mbooouuullleeeetttss ae....
gak berkembang bliaass ceritane...
Mbah Haryo
ya sudah..skarang mulai ptualangan kultivasinya dong...
pencerahan trous..kapan ngewenya..???🤣
Mbah Haryo
oke..sampai dsini masih bagus
Mbah Haryo
yah...cukup bagoes diawal cerita...jika konsisten dg bagoesnya...maka nganu..
ini jlas bagoes...hhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!