yaseer, seorang anak yang hidup di negara konflik. keluarga petani zaitun, namun dia bermimpi untuk mengembangkan usaha orangtuanya dewasa kelak. Namun, karena konflik semakin parah, semua usahanya perlahan runtuh. hingga ketika konflik berhenti, yaseer berusaha sekuat tenaga nya beserta keluarga nya untuk membangun kembali. tapi tiba-tiba hantaman rudal dari penjajah meluluh lantakkan bahan utama usahanya. hingga akhirnya menghancurkan usahanya tak bersisa. akan kah yaseer bangkit kembali atau tamat dengan keadaan fustasi berat? yuk kita simak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummi Adzkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10 Penculikan Abbas
" Laila... Aku melihat mereka membawa Abbas... " racau Umma Husni.
" Aku ingin memastikan, benarkah mataku ini melihat Abbas yang tertangkap makanya aku kesini...." lanjutnya.
Laila dan Haniya hanya mendengarkan cerita Umma Husni dengan penuh syok, bingung dan panik.
" Ya Allah... Bagiamana ini.. Abang... " rintih ummi sambil memeluk Haniya mencari kekuatan.
" Ummi,... Abang.. Semoga itu bukan Abang.. " doa Haniya berbaik sangka.
" Dimana itu terjadi Umma Husni...?". Tanya ummi mencari informasi.
" Di dekat sauq Laila. Aku sedang mencari ta'jil juga. Tapi tiba-tiba ada kerusuhan Ntah dimana awalnya.. Dan..dan...aku melihat Abbas ditangkap oleh militer zionis.... " cerita Umma Husni seperti orang bingung dan akhirnya menangis membekap mulutnya sendiri seolah takut salah bicara.
Ummi dan Haniya makin tergugu.
" Ya Allah mengapa jadi begini... Apa yang harus aku lakukan.. ".
" Umma.. Apakah kita bisa melihat kesana, barangkali mereka hanya menggertak saja. Dan melepas anak-anak kembali". Harap ummi berkata cepat
" Tidak mungkin Laila...masih banyak zionis yang berjaga. Siapa yang mendekat pasti di tangkap atau di habisi..... " menyela harapan Laila.
' Astaghfirullah...' Lirih batinnya.
Laila memutar otak mencari solusi. Dia ingin tahu bagaimana keadaan putra sulungnya saat ini. Jika ia tidak bisa kesana. Maka harus ada orang lain yang bisa diandalkan untuk mengeceknya.
" Ah .... Rais, kita harus mengadu pada Rais. Hanya beliau yang bisa membantu kita". cetus Laila tiba-tiba.
Seolah angin segar. Mereka bertiga mengangguk berbinar lega. Dan mereka pun menemui Rais. Seorang pemimpin desa mereka yang sangat di segani.
****
Tok..tok..tok..
"Assalamualaikum warahmatullah.. " Salam Laila di depan pintu rumah Rais di desa nya.
tok..tok..tok...
"Assalamualaikum Rais ..." Teriak Umma Husni tak sabaran.
" Waalaikumussalam warahmatullah... Ada apa ini..." tanya Rais agak bingung melihat kepanikan warganya.
" Rais, tolong kami. Tadi Umma Husni melihat Abbas di tangkap militer zionis.. ".jelas Laila cepat.
" Innalilah.... Apa yang Abbas lakukan hingga mereka menangkap Abbas?". Tanya Rais kepada Umma Husni selaku saksi mata
" Saya pun tidak tau, tiba-tiba ada keributan di sekitar suoq, dan saya melihat Abbas di bekuk oleh militer zionis dan dibawa pergi dengan rombongan pemuda lainnya.." jelas nya masih merasakan takut nya
" Jadi banyak yang tertangkap..?" tanya Rais.
Umma Husni hanya mengangguk saja. Rais berfikir, jika banyak yang ditangkap bisa jadi Abbas terlibat keributan dengan militer zionis itu seperti yang sudah-sudah.
" Begini saja, kalian pulang lah dulu. Saya akan hubungi perangkat desa lainnya untuk menanyakan kejadian sebenarnya. Saya akan informasikan kembali data yang saya dapat kepada mu". Arahan Rais bijak sambil menatap Laila sekilas.
Para wanita itu pun mengangguk menyerahkan semua urusan ini pada perangkat desa yang lebih bisa diandalkan. Salah langkah, bisa habis juga mereka, apalagi Laila sudah tak ada suami lagi. Dan mereka pun pulang berharap ada solusi terbaik.
****
Tak di rasa, waktu Maghrib pun tiba. Belum ada kabar apapun mengenai Abbas. Keluarga nya yang dengan shobar menunggu berharap akan ada ketukan salam bahwa Abbas di pulangkan.
Masa-masa ini adalah masa ramadhan terberat beberapa tahun belakang. Para zionis itu semakin membuat warga jengah dan ingin sekali menyeret mereka keluar dari desa bahkan negara mereka.
Banyak nya kejadian yang tiba-tiba menyesak kan dada. Jam malam yang semakin panjang, penangkapan warga terutama pemuda dan anak-anak yang tidak jelas alasannya. Pengusiran warga dari rumah mereka bukan lah hal tabu lagi. Pengrusakan hingga penghancuran rumah milik warga yang nantinya akan menjadi rumah warga zionis sudah sering terjadi di sana-sini.
Warga hanya bisa melawan sekedarnya, mereka di tekan di bawah acungan senjata yang bisa kapan saja merenggut nyawa salah satu dari keluarga nya. Malam ini bisa tidur dirumah sendiri, belum tentu malam berikut nya mereka akan aman. Begitulah kira-kira keresahan dan ketakutan mereka. Suasana Ramadhan yang berat bahkan sangat berat.
" Hasbunallah wani'mal wakiil ni'mal Maula wa ni'mannashiir.... " lirih Laila di akhir doa sholat malam nya.
" Ya Allah... Kami serahkan perlindungan dan penjagaan anak kami pada Mu. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penjagaan... Hiks ." Ntah sudah berapa lama Laila terpekur mengadu pada Rabb nya. Berharap kehidupan baik untuk keluarga nya dan muslimin lainnya.
Karena lelah menangis hingga tersungkur tertidur di atas sajadahnya. Laila tersentak dalam tidurnya.
" Ya Allah jam berapa ini?.. Kami belum sahur..!" paniknya langsung melirik jam dinding di kamarnya.
" Oh Alhamdulillah baru jam setengah 4. Masih sempat untuk menyiapkan sahur". Gumamnya bergegas membangunkan anak-anak nya lalu menyiapkan menu sahur seadanya.
Ya seadanya. Karena memang ramadhan tahun ini banyak kesulitan yang di hadapi warga setempat. Ekonomi merosot tajam. Stok pangan yang menipis itupun dengan harga yang sangat mahal. Keberadaan zionis memang sangat berpengaruh buruk pada keberlangsungan kehidupan mereka warga pribumi.
" Haniya sayang.. bangun yuk kita sahur... Tolong bangunkan yang lain ya. Ummi akan siapkan makan sahur dulu." Pinta umminya lembut.
Haniya yang terbiasa bangun lebih awal, merespon cepat sentuhan umminya. Ia hanya mengangguk patuh akan permintaan umminya. Hanya itu yang bisa lakukan untuk meringankan beban umminya.
Tok..tok..
" Yaser bangun. Ayo kita sahur..". Haniya menggoyangkan bahu Yaseer.
" mmmm.... Iya iya aku bangun... " suara seraknya berbalik badan tapi matanya terpejam lagi.
Haniya hanya memperhatikan apa yang Yaseer lakukan..
" cih.. Tidur lagi.. Aku buat apa ya biar dia langsung bangun... " decihnya pelan. Haniya merotasikan matanya. Sambil memeta isi kamar Yaseer. Hingga berhenti di satu titik. Senyum terbit di bibinya.
" Yaseer... bangun nak... Baba akan menjemput mu.... " Suara Haniya dibuat besar dan berat seperti baba nya.
percobaan pertama gagal. Yaseer masih anteng di mimpinya.
" Yaseer.... Anak baba yang Sholeh.... Heh heh heh . " percobaan ke dua.
Yaseer menggerakkan matanya. Tapi belum terbuka. Ketika membuka mata...
" Alhamdulillah baba pulang? " seru Yaseer terkejut.
Haniya memakai sorban yang biasa dipakai babanya yang tergantung di dekat lemari. Posisinya duduk membelakangi Yaseer di tepi kasur Yaseer.
" E tapikan baba sudah ga ada. Tapi kok bisa pulang.. " gumam Yaseer berusaha mengumpulkan nyawanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
" Baba kapan pulang. ?" Yaser mencoba bertanya pelan.
Haniya perlahan berbalik sambil tertawa suara berat. Sorban di kepalanya menjuntai menutupi kepalanya hingga wajahnya
" heh heh heh.. Yaseer..... Heh heh heh .."
Yaseer terkesiap.
" Aaaaa... Ummi....." Teriak Yaseer berlari ke luar kamar panik.
" Rasakan....!!" gumam Haniya dengan senyum puas.
happy reading 💪
happy Ied Mubarak
komen baik nya ditunggu ya.