NovelToon NovelToon
Disayangi Anak Mantan

Disayangi Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Duda
Popularitas:50.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?

Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

"Nat, pokoknya Mami tidak mau tahu. Di sekolah yang kali ini, Mami harap Darrel tidak membuat ulah lagi," kata wanita paruh baya itu dengan nada tegas.

Nathan mengembuskan napas berat. Sudah tiga kali putranya berpindah sekolah karena kenakalannya. Sebagai seorang ayah, ia sudah mencoba menegur dan memperingatkan Darrel dengan berbagai cara. Namun bukannya berubah, anak itu justru semakin memberontak seolah merasa terkekang.

"Iya, Mi. Kali ini aku akan lebih memperhatikan pola asuh Darrel," sahut Nathan dengan sungguh-sungguh.

"Jangan cuma bicara saja, Nath. Mami sudah tidak tahan lagi dengan ulah Darrel," tekan Vivian.

"Bukannya itu juga karena Mami selalu memanjakan dia?" potong Nathan cepat.

Vivian terdiam. Ia menghela napas panjang. Jika sudah seperti ini, wanita yang masih tampak awet muda itu tidak bisa membela diri lagi. Sejak bayi, Darrel memang berada di bawah asuhannya. Ia terlalu sering menuruti semua keinginan cucunya hingga anak itu tumbuh menjadi pembangkang dan sulit diatur.

"Mami memanjakan dia karena sayang," jawab Vivian akhirnya. "Darrel itu lahir ke dunia sudah tanpa Mommy. Tidak seperti anak-anak lain yang masih punya ibu."

Nathan menatap ibunya dengan wajah lelah.

"Aku tahu, Mi. Justru karena itu, rasa sayang Mami yang berlebihan membuat Darrel semakin sulit dikendalikan. Apa pun yang tidak dia sukai harus disingkirkan. Sekarang saja dia sudah mulai berani melawan Mami."

"Ah, sudahlah. Kamu sama saja dengan papimu, selalu menyalahkan Mami," gerutu Vivian dengan wajah merajuk.

Nathan memilih diam. Ia tahu percuma melanjutkan perdebatan itu.

Sebagai seorang ayah, ia sendiri tidak benar-benar mengerti bagaimana cara menghadapi anak seaktif dan sekeras Darrel. Sejak kecil hingga sekarang, ia terlalu sibuk mengurus perusahaan hingga hampir tidak punya waktu untuk anaknya sendiri.

Nathan mengembuskan napas kasar.

"Fiesta... kenapa kamu pergi begitu cepat?" gumamnya lirih.

"Anak kita tumbuh tanpa kasih sayangmu... sampai dia jadi seperti ini."

Tanpa sadar, ia menyalahkan wanita yang sudah tiada. Padahal ia sendiri jarang hadir dalam kehidupan putranya.

☘️☘️☘️

Di sekolah barunya, Darrel duduk dengan kepala menunduk.

Namun dari balik rambut yang menutupi sebagian wajahnya, matanya mengintai anak-anak di sekelilingnya. Bisikan demi bisikan terdengar jelas di telinganya, meskipun mereka berusaha mengecilkan suara.

"Eh, katanya dia anak baru."

"Iya. Katanya dia dikeluarkan dari sekolah lamanya karena nakal."

"Ih, serem banget."

"Kenapa sih sekolah kita menerima anak seperti itu?"

Darrel menggenggam pensilnya lebih erat.

Tahan.

Satu kata itu terus ia ulang dalam kepalanya.

Ia mulai menulis tugas yang diberikan guru dengan cepat. Terlalu cepat bahkan dibandingkan teman-temannya. Ketika Darrel berdiri dan menaruh bukunya di meja guru, wanita itu terlihat sedikit terkejut.

"Kamu sudah selesai?" tanyanya.

Darrel tidak menjawab. Ia hanya berbalik dan kembali ke kursinya.

Beberapa anak langsung mencibir.

Sombong.

Begitulah mereka menilainya. Dan memang, Darrel tidak pernah peduli pada siapa pun. Di matanya, semua orang dewasa sama saja—egois dan hanya memikirkan diri sendiri.

Ia duduk dengan tatapan tajam. Anak-anak yang tadi berbisik langsung terdiam ketika mata Darrel menatap mereka. Namun tidak semua anak takut padanya.

"Eh, kita kerjain saja anak itu," bisik Genta kepada teman-temannya.

Tak lama kemudian, bel istirahat berbunyi nyaring.

Lorong kelas yang tadinya lengang langsung dipenuhi anak-anak yang berhamburan keluar. Ada yang berlari ke halaman kecil dekat kantin, ada juga yang langsung menuju kantin untuk membeli makanan.

Darrel termasuk yang menuju kantin. Entah kenapa hari ini perutnya terasa sangat lapar. Sejak pagi ia tidak sempat sarapan.

Ia malas mendengar ceramah neneknya yang terasa tak ada habisnya. Ditambah lagi tekanan dari Daddy-nya yang selalu menyuruhnya patuh tanpa pernah mau mendengar alasannya.

Darrel tidak pernah punya tempat untuk membela diri.

Akhirnya ia memutuskan membeli makanan di kantin itu.

"Mbak, nasi goreng kecap satu," katanya singkat pada penjaga kantin.

  "Siap, tunggu sebentar ya," sahut penjaga kantin itu dengan semangat.

Pembeli pertamanya datang. Gadis dewasa itu langsung bergerak sigap melayaninya. Di sekolah dasar itu terdapat beberapa kantin yang berjajar rapi. Kantin yang dijaga Andin tidak terlalu ramai, tetapi juga tidak pernah benar-benar sepi.

Andin menaruh minyak ke dalam kuali panas, lalu memasukkan bumbu yang sudah dihaluskan. Seketika suara desisan terdengar nyaring ketika bumbu itu menyentuh permukaan kuali.

Aroma harum rempah nasi goreng langsung menyeruak ke udara.

Darrel yang berdiri tidak jauh dari sana tanpa sadar menelan ludahnya. Sejak pagi perutnya belum diisi apa pun. Ia berangkat sekolah dengan perut kosong.

Bahkan perutnya sempat berbunyi pelan.

Anak laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke arah wajan yang terus diaduk Andin. Nasi putih, kecap, dan potongan telur mulai bercampur menjadi satu.

"Aduh, lama banget," gumam Darrel pelan sambil menyandarkan punggungnya pada tiang kantin.

Andin yang mendengarnya hanya tersenyum tipis.

"Sabar ya, Dek. Sebentar lagi juga jadi," ucapnya ramah.

Darrel tidak menjawab. Ia hanya menatap wajan itu tanpa berkedip seolah sedang mengawasi proses memasak nasi gorengnya.

Namun tiba-tiba—

"Hei, awas!"

Sebuah bola melesat kencang dari arah halaman.

Bug!

Bola itu menghantam kepala Darrel cukup keras hingga membuatnya sedikit terhuyung.

Beberapa anak langsung tertawa.

"Woi! Kena!" teriak salah satu dari mereka.

Darrel memegang kepalanya yang terasa nyut-nyutan. Tatapannya langsung mengarah tajam ke arah anak-anak yang berdiri tidak jauh dari sana.

Salah satunya adalah Genta. Anak itu malah menyeringai menantang.

Emosi yang sejak tadi ia tahan akhirnya mulai naik ke permukaan. Darrel mengambil bola itu dari lantai. Tanpa berpikir panjang, ia menendangnya kembali dengan keras.

Namun arah tendangannya meleset. Bola itu justru meluncur cepat ke arah kantin.

Brak!

Bola tersebut menghantam meja hingga beberapa piring dan gelas bergetar keras. Bahkan salah satu mangkuk berisi bahan nasi goreng hampir saja terjatuh.

Anak-anak yang ada di kantin langsung terdiam, dan semua mata tertuju pada Darrel yang nampak ketakutan.

Bersambung ....

1
Sugiharti Rusli
bahkan dia lebih percaya saat sekarang Andin sedang bekerja dengan berjualan di sekolahannya, dia percaya mba kantin akan kembali nanti setelah selesai jualan
Sugiharti Rusli
padahal Darrel belum lama kenal Andin, kalo bukan karena sikap Andin yang baik dan tulus, ga mungkin juga Darrel bisa berubah
Sugiharti Rusli
bahkan dia bisa melihat perubahan besar Darrel ketika mengenal Andin yang tadinya sangat keras kepala, sekarang bisa lebih lembut,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya Nathan mulai meragukan kepercayaan tentang Andin yang melakukan kesalahan fatal dulu terhadap dirinya yah
Sugiharti Rusli
memang sih segala sesuatu kalo ada uang, segala urusan akan lebih mudah ditelusuri nya yah,,,
Sugiharti Rusli
wah si Mark bergerak cepat juga yah dia menyelidiki kasus Andin dulu
Sugiharti Rusli
justru sekarang si Vivian yang merasa khawatir kalo permainan kotornya akan segera terbongkar di hadapan sang putra
Sugiharti Rusli
tapi sekarang karena kamu sudah dewasa dan kamu juga tidak merasa memiliki kesalahan, buat apa takut,,,
Sugiharti Rusli
kamu saat itu sendirian dan tidak memiliki daya apa" mengahdapi mereka, jadi wajar sih sikap kamu dulu cupu
Sugiharti Rusli
dan memang karena mereka orsng yang berkuasa dan memiliki banyak uang dan koneksi,,,
Sugiharti Rusli
dulu mungkin usia kamu masih sangat muda, jadi masih banyak ketakutan yang kamu rasakan dulu,,,
Sugiharti Rusli
suatu kebenaran kalo memang saatnya harus terungkap, pasti akan terungkap cepat atau lambat sih,,,
Sugiharti Rusli
bagus Ndin, karena dulu kamu hanya memikirkan kesehatan mental kamu di hadapan urtunya Darrel
Sugiharti Rusli
apalagi putranya Darrel sangat menyayangi Andin yang memang begitu tulus menemaninya,,,
Sugiharti Rusli
semoga temannya itu bisa membongkar masa lalu si Andin dan jebakan ortunya sendiri
Sugiharti Rusli
karena kalo saja dia tidak mengikuti emosio nalnya dulu, dia bisa memakai akal sehatnya kan dulu
Sugiharti Rusli
padahal kalo Nathan memakai akal sehatnya, dia mengenal karakter Andin dari dulu seperti apa,,,
Sugiharti Rusli
bagus deh kalo pada akhirnya Nathan mau menekan egonya dan mau mulai menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi dulu pada Andin,,,
Sugiharti Rusli
semoga si Nathan masih mau percaya ucapan Andin yah
Sugiharti Rusli
entah apa reaksi Nathan saat tahu ada andil ortu dan juga mendiang istrinya yang menyebabkan mereka terpisah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!