NovelToon NovelToon
My Possessive Mafia

My Possessive Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?

Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.

Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.

Apakah Quinn mampu bertahan hidup?

Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?

୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

III. Memantau Quinn

...୨ৎ──── B R A U N ────જ⁀➴...

Aku duduk di kantorku, memperhatikan sebuah kehidupan melalui kamera yang aku pasang di rumah besar keluarga Musielak.

Aku angkat gelas Whisky ke bibir, menyeruput pelan, mataku terkunci ke Quinn yang sedang mengeringkan rambutnya.

Penampilannya berubah drastis dalam tiga minggu terakhir. Wajahnya enggak lagi tirus, kulitnya kelihatan sehat dan bercahaya. Berat badannya naik, dan dia berubah dari sekadar cantik, menjadi benar-benar memikat.

Dia duduk di depan meja rias, tepat menghadap kamera. Saat aku menatap mata birunya yang jernih itu, rasanya seperti dia bisa melihatku.

Gerakannya melambat. Alisnya mengernyit, lalu dia matikan hair dryer.

Dia menengok sekeliling, gigit bibir bawahnya, lalu bergumam, “Ini mulai gila. Enggak ada siapa-siapa di sini.”

Sudut bibirku naik membentuk senyum predator. "Oh, aku ada di sini!"

Sambil menyisir rambut cokelatnya yang sebahu dengan gerakan kuat, dia bilang, “Aku harus berhenti melihat hantu di mana-mana, atau Papa bakal nyeret aku ke terapis.”

Dia taruh sikat rambut di meja dan memandang dirinya sendiri di cermin, lalu mengeluarkan napas panjang.

Aku berdiri dan jalan mendekati layar TV sampai rasanya aku berhadapan langsung sama dia.

Dia cantik.

Terlalu cantik.

Quinn bangun dan jalan ke tempat tidur. Dia cuma pakai kaus oblong yang kebesaran. Saat dia naik ke kasur dan duduk dengan kaki terlipat di depannya, aku bisa melihat jelas celana dalamnya.

Hitam.

Lembut.

Menempel di paha bagian dalamnya.

Sesaat, tubuhku mengkhianati diriku sendiri.

Dia tarik laptop ke depannya, jelas siap tenggelam di situ, setidaknya satu jam ke depan. Aku menghabiskan Whisky-ku, lalu taruh gelasnya di meja kopi.

Aku ke kamar, ambil celana training dari lemari, lalu masuk ke kamar mandi.

Aku menyalakan shower. Sambil menunggu airnya panas, aku lepas jas. Senjata, aku taruh di atas meja. Pikiranku berputar ke Quinn terus, seperti burung camar yang siap menerjang mangsa.

Sial.

Aku makin enggak sabar.

Aku harus memutuskan apa yang akan aku lakukan.

Melihat Quinn Musielak menjalani hidup sempurnanya dengan ginjal Naveen di tubuhnya ... itu penyiksaan buat aku.

Masuk ke bawah air panas, aku membasuh badan. Satu demi satu pikiran brutal menyerbu kepalaku.

Aku bisa datang ke rumah itu dan bunuh mereka, setelah dapat semua informasi dari Tanoko.

Atau aku bisa bawa mereka ke gudang, tempat aku bisa menyiksa mereka pelan-pelan.

Atau .…

Aku bisa merampas kebebasan Quinn yang paling berharga.

Menjadikan dia tawanan, itu akan jadi siksaan paling parah buat mereka berdua. Tanoko jelas lebih cinta putrinya daripada hidupnya sendiri. Dipisahkan dari Quinn bakal bikin dia gila.

Aku matikan shower, keluar dari kamar mandi, dan ambil handuk. Saat kain lembut itu mengusap air dari tubuhku, sudut mulutku berkedut.

Aku suka ide itu.

Menjadikan Tanoko gila.

Aku bakal dapat putri kesayangannya, dan enggak ada satu pun yang bisa dia lakukan buat menyelamatkan dia.

Sambil pakai celana training, aku ambil pistol dari meja dan keluar dari kamar mandi.

Saat aku turun ke bawah, bau popcorn microwave menyerang hidungku. Farris duduk santai di sofa, memperhatikan layar kamera seperti lagi nonton film.

Begitu melihatku, dia memasukkan sebutir popcorn ke mulut dan bilang, “Aku jadi laper lihat cewek itu masak. Kayaknya dia jago banget di dapur.”

Aku ambil remote dari sofa, melirik layar, dan melihat Quinn lagi menyiapkan hidangan yang biasa disajikan di restoran-restoran ternama.

Aku pencet tombol di remote. Layarnya langsung gelap.

“Tempat ini baunya kayak popcorn,” gumamku.

“Mau?” tanya Farris sambil senyum menyebalkan.

"Enggak."

Aku ke dapur, buka kantong makanan yang tadi aku pesan. Aku keluarin burger sama kentang goreng, taruh di piring, lalu memasukkan ke microwave satu menit.

“Kamu harus makan makanan yang lebih sehat,” keluhnya. Farris buka kulkas buat ambil soda kaleng. Matanya menyapu isi kulkas. "Atau kamu bakal mati kena serangan jantung."

Setelah memikirkan semua kemungkinan bagaimana cara aku mati, aku cuma jawab, “Dicopy!” sengaja, biar dia kesal.

Dia memperhatikanku tajam. "Aku bisa kirim Rozalla dua kali seminggu buat masakin kamu."

"Enggak mungkin. Simpan aja asisten rumah tanggamu buat kamu sendiri!"

Aku mengeluarkan piring dari microwave dan langsung gigit burger itu dengan lahap.

Farris memandang makananku dengan ekspresi jijik.

Orang ini kebalikan dari aku dalam segala hal. Ajaibnya, kami masih bisa berteman, karena satu-satunya kesamaan kami cuma satu, Marunda.

Setelah buka kaleng sodanya, dia bersandar di meja dapur sambil menyeruput, lalu bertanya, “Kamu nemuin sesuatu yang baru?”

Aku menggeleng. “Kita terus ngejar banyak email sama nomor telepon. Bikin aku muak.”

“Mungkin udah waktunya hubungin dokternya. Dia pasti tahu sesuatu. Sesuatu yang bisa kita pakai.”

Aku mengangguk setuju sambil mengambil satu gigitan lagi. Setelah menelannya, baru aku jawab, “Iya. aku juga mikir gitu.”

“Terus soal Musielak sama putrinya?”

"Sama aja." Aku ambil kaleng soda dari tangannya dan minum. “Aku bakal suruh Vloo sama Larron bawa mereka ke gudang setelah aku melepas kiriman AK ke Singapura.”

“Kapan itu?” tanyanya sambil mulai mengunyah popcorn lagi.

"Tiga hari lagi."

Mata dia bertemu mataku. “Kamu benaran bakal bunuh cewek itu?”

Aku memandangnya lama, hampir satu menit.

"Ya ... pada akhirnya."

Alisnya naik. "Maksud kamu?"

“Pertama, aku bakal nyiksa mereka,” jawabku sambil taruh piring kosong di wastafel sebelum masuk ruang tamu.

Farris menjatuhkan badannya ke salah satu sofa.

"Siksa? Cewek itu juga?"

Sudut bibirku langsung naik.

“Hati-hati. Jangan sampai kamu naksir Quinn Musielak, Bro. Aku cuma mikir dia mungkin enggak bersalah di kekacauan ini."

Tatapanku langsung ke mata dia.

“Enggak bersalah? Kamu bercanda? Ginjal Naveen di tubuh dia.”

Farris memandangku sambil bilang, “Ini semua ulah Papanya, Braun. Dia mungkin enggak tahu ginjal itu asalnya dari mana. Pernah kepikiran enggak, soal itu?”

Aku kasih dia tatapan peringatan. "Aku capek bahas ini!"

Dia mengeluarkan napas panjang, lalu menggeleng. “Aku cuma enggak mau kamu ngelakuin sesuatu yang bakal kamu sesalin.”

Aku menyesal karena enggak menjaga Naveen dengan baik. Tapi aku yakin satu hal, aku enggak bakal menyesal untuk membunuh siapa pun yang terlibat dalam kematiannya.

Karena obrolannya sudah selesai, aku menuju tangga. "Kamu bisa pergi sekarang!"

Farris berdiri dari sofa dan memegang lenganku.

Waktu aku menengok ke dia, dia bilang, “Maafin aku. Aku cuma khawatir sama kamu.”

Aku menatap matanya, “Semuanya baik-baik aja.”

"Kita baik-baik aja?"

Aku tepak bahunya. “Ya, kita baik-baik aja. Udah ... aku mau tidur. Pergi sana!”

“Emang kamu enggak mau kasih waktu buat perutmu mencerna sampah yang barusan kamu makan?”

Aku menggeleng.

“Enggak. Selamat malam, Farris.”

Masuk ke kamar, aku duduk di pinggir ranjang dan menutup wajahku dengan tangan. Aku tarik napas dalam-dalam saat rasa sakit dan amarah mulai ribut di dadaku.

1
sleepyhead
Dan akhirnya A death pact with the Grim Reaper
sleepyhead
( -̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷄◞ω◟-̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷅ )
Adellia❤
jadi intinya q enggak bisa siksa Quin sampe 6 bulan kedepan??? setan .... hahahaha... ngakak pollll😂😂
Lisa Halik
kesianlah quiin klu dia pun di siksa
Rainn Dirgantara
Lanjut kak
Rainn Dirgantara
Cinta sma siapa, dia siapa? Salfok
Rainn Dirgantara
Emang, dokter apaan kek gitu
Rainn Dirgantara
Diem deh nolan, etdah santai bgt tuh org
Rainn Dirgantara
Lah enak pake bg lah quin ngapain polisi 😏
Adellia❤
dan dy bisa bunuh km kapanpun..
Rainn Dirgantara
Aduhh 💔😭
Rainn Dirgantara
Ga sepenuhnya salah quin juga, kalo dia tau dapet ginjal nya dngn cara gitu pasti dia gamau 🥺
Rainn Dirgantara
Naikin aja dulu harga awalnya, abis itu kalo masih minta diskon lagi tinggal kasih wkwk
Adellia❤
detak jantungnya enggak akan meningkat hanya karna bunuh orang Quin tapi suatu hari nanti km yg bikin dy jantungan..
Adellia❤
AK, PDW apa itu thorrr???
Adellia❤: oke👌 AK yg kayak di pake pasukan BRIMOB kali yak..
total 2 replies
Adellia❤
Quinn... 😭😭😭😭 sumpah ini sedih bangett kalo dari awal tau Quinn pasti enggak mau transplantasi ginjal 😭😭😭😭 seseorang harus bertanggung jawab bukan km Quinn😭😭😭
Adellia❤
sumpah serem bangett kalo q yg di posisi Quin udah ngompol berkali" terus enggak sadarkan diri..
Adellia❤
woyyy cover kenapa jadi CEO gitu enggak cocok sama bang braun 😭😭😭
Adellia❤: hah ??? serius thorrr tuh cover berubah sendiri ??? bukan km yg ganti??? udah kayak siluman tuh cover bisa ganti wujud..
total 2 replies
Adellia❤
kasian km Quin pasti bingung bangett takut juga..
Adellia❤
sayangnya dy kebal polisi Quin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!