NovelToon NovelToon
Benih Yang Ku Sembunyikan

Benih Yang Ku Sembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Lari Saat Hamil / Berbaikan
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.

Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.

Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab14

Malam mulai turun, Nara terbaring di tempat tidurnya tanpa benar-benar terlelap, sedari tadi ia mendengar langkah Albi mondar-mandir di ruang tengah, Nara mengintip lelaki itu dari celah pintu kamarnya, dan ternyata Albi sedang membuka dan menutup laci, seperti ada yang dipikirkan di dalam kotak itu entah apa.

  "Albi sedang ngapain ya?" tanya Nara sendiri.

  Entah kenapa, akhir-akhir ini ia merasa takut, padahal Albi jelas ada dan hadir menemaninya setiap hari, namun ada rasa lain yang menyeruak di dalam hatinya, bahkan setiap detik selalu mengganggu ketenangannya.

  "Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan Albi," gumam Nara lirih. "Kenapa aku takut," imbuhnya kembali.

☘️☘️☘️☘️☘️

  Keesokan harinya, mentari sudah bersinar dengan sinar keemasannya, di dapur sederhana itu, Nara membantu Mbah Narsih, masak sedari tadi, bahkan teguran dari wanita paruh baya itu gak ia hiraukan, sangking asyiknya dengan bahan-bahan dapur yang sudah lama tidak disentuhnya.

  “Ndoro wis lungguh saka mau, nyambut gawe wae. Mengko kesel," suruh Mbah Narsih.

 "Tuh kamu disuru duduk saja, dari tadi sudah kerja nanti capek," ujar Albi.

Nara tersenyum lalu menimpali ucapan Mbah Narsih sedikit kikuk. “Ora napa-napa, Mbak. Aku pancen seneng masak.”

“Lha wong saka mau wis resik-resik omah. Saiki ngasoa dhisik, nggih," kata Mbah Narsih, yang tidak mau Nara kecapean.

Sedari tadi sudah beres-beres rumah, sekarang waktunya istirahat.

  Nara tersenyum pelan, entah kenapa, ia tidak mau hanya berdiam diri, merasa terlalu merepotkan Mbah dan juga Albi, padahal keduanya tidak merasa direpotkan sama sekali.

Nara masih berdiri di dekat meja kayu, mengiris bawang dan cabai dengan gerakan pelan namun teratur. Bau bumbu yang menyengat bercampur dengan uap tipis dari panci di atas tungku, sedikit membuat kepalanya pusing.

Awalnya hanya sedikit pusing. Seperti kepala yang mendadak terasa ringan. Nara mengedipkan mata, mencoba mengusir rasa aneh itu.

“Aku ora napa-napa,” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Pisau di tangannya berhenti sesaat. Pandangannya mengabur, dapur sederhana itu terasa berputar perlahan. Suara Mbah Narsih dan Albi terdengar jauh, seperti tenggelam di balik air.

Nara menelan ludah. Dadanya terasa sesak. Udara yang tadi terasa hangat kini terasa berat.

“Ra…?” suara Albi terdengar, samar.

Nara berusaha melangkah mundur, berniat mencari kursi. Tapi kakinya melemah. Pegangan meja kayu tak cukup kuat menahan tubuhnya.

Pisau terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai dengan bunyi nyaring.

Tubuh Nara hampir limbung, beruntung Albi segera menangkapnya.

“Ra!” Kali ini nada suaranya pecah untuk kedua kalinya.

Nara terkejut bukan karena hampir jatuh, tapi karena suara itu, suara orang yang panik.

“Maaf…” ucap Nara refleks.

Albi menggeleng cepat. “Jangan minta maaf.”

Ia memapah Nara ke kursi, memberinya air, mengusap punggungnya pelan.

Tangannya gemetar sedikit. Sangat sedikit.

dan Nara merasakannya itu.

“Kamu kenapa?” tanya Nara lirih.

Albi berhenti mengusap. Menarik tangannya kembali.

“Kenapa apa?”

“Kamu… kelihatan takut.”

Albi terdiam. Hanya sesaat. “Takut kamu kenapa-kenapa.”

Jawaban itu membuat Nara terdiam.

Padahal, entah kenapa, ia merasa bukan itu satu-satunya alasan.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Di sudut ruangan, Albi berdiri dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang tidak biasa, bukan panik, bukan cemas berlebihan, melainkan pikiran yang sedang bekerja keras.

“Besok kamu nggak boleh banyak gerak," kata Albi. "Takutnya kaya tadi pagi," imbuhnya kembali

Nada itu bukan perintah, lebih seperti keputusan.

Nara mengangguk pelan. Rasa bersalah muncul. “Maaf… aku merepotkan.”

Albi menggeleng. “Kamu bukan barang yang merepotkan.”

Kalimat itu membuat Nara terdiam. Sunyi turun sebentar. Mbah Narsih pamit ke belakang, meninggalkan mereka berdua di ruang depan yang diterangi cahaya sore.

Albi duduk di kursi seberang, menjaga jarak yang sopan. Tidak mendekat. Tidak menyentuh.

“Aku ke balai desa kemarin,” katanya akhirnya.

Nara menoleh. “Balai desa?”

Albi mengangguk. “Ngurus beberapa hal. Termasuk… kemungkinan ke depan.”

Nara mengernyit. “Maksudnya?”

Albi menatap lantai. Lama. Seolah kata-kata itu harus disusun dengan hati-hati agar tidak terdengar salah.

"Sebentar lagi, kandunganmu membesar," kata Albi. "Aku tahu sejak awal pertama kamu muntah," lanjutnya pelan.

Nara menunduk. Tangannya menggenggam kain selimut.

Albi menarik napas dalam. “Aku nggak akan tanya siapa ayah biologisnya. Itu bukan urusanku.”

Ia mengangkat wajah, menatap Nara lurus. Tidak ada tuntutan di sana.

“Tapi anak itu butuh ayah. Secara hukum. Secara sosial.”

Nara menahan napas, dadanya penuh bukan karena sakit melainkan karena tersentuh.

“Kalau kamu mau,” lanjut Albi pelan, “aku bisa mengurus pengakuan. Surat. Status. Supaya anak itu punya nama. Punya perlindungan.”

Albi menunduk sebentar, lalu berkata dengan suara lebih rendah, lebih jujur. “Aku bisa berdiri di sampingmu… kalau suatu hari dunia bertanya siapa ayahnya.”

Hening, mencengkam untuk kali ini Nara merasa dadanya penuh bukan karena desakan melainkan karena pilihan yang tidak memaksa.

“Ini bukan soal cinta,” tambahnya cepat, seolah takut Nara salah paham. “Aku nggak menawarkan pernikahan. Aku juga nggak menjanjikan perasaan.”

“Aku cuma menawarkan tanggung jawab.”

Air mata Nara jatuh tanpa suara. Bukan karena haru, tapi karena untuk pertama kalinya… seseorang tidak menuntutnya menjelaskan masa lalu.

“Kamu nggak harus jawab sekarang,” kata Albi. “Pikirkan saja.”

Nara mengangguk pelan, suaranya hampir tak terdengar.

“Terima kasih… sudah tidak memaksaku mencintai.”

Albi berdiri. “Karena yang terpenting sekarang… bukan aku.”

Ia menatap perut Nara sekilas.

“Tapi dia." tunjuk Albi.

Dan sejak sore itu, tanpa janji romantis, tanpa ikatan perasaan, sebuah keputusan besar mulai berdiri sunyi, kokoh, dan penuh risiko.

☘️☘️☘️☘️

Malam mulai datang menyambut, setelah mengungkapkan niatnya tadi, hati Albi merasa lebih lega, seolah tiada beban yang mengganjal.

Ia tahu keputusannya itu begitu berat dan beresiko, namun hati kecilnya tidak bisa dibohongi dan tidak bisa dicegah.

Ia ingin menjaga darah yang bukan miliknya, karena sedari kecil ia tahu bagaimana tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tuanya.

Sebagai lelaki dewasa, ia mempunyai pemikiran dan tekad yang sudah dipersiapkan untuk kedepannya, maka dari itu ia mengambil keputusan ini.

"Anakku, siapapun kamu, Bapak sudah siap, hadir, menjaga dan melindungimu, dari sekarang," ucapnya untuk diri sendiri.

Albi tidak ingin menggantikan posisi siapapun ia adalah sosok yang ingin hadir dan memastikan, anak itu tidak kekurangan apapun.

Bersambung ...

Maaf Kak agak telat ...

1
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
jangan gitu lah nara
Ummee
pasti selalu menunggu dong kak...
masih penasaran ini hehe
Lisa
Yg sabar dan tetap kuat y Nara..
Lisa
Met sore juga Kak Ayu..terimakasih y Kak utk updatenya..kita selalu nunggu updatenya Kak..semangat y Kak 😊
Dew666
🍎👑
Sugiharti Rusli
sebetulnya beruntung anak yang Nara lahirkan laki" yah, jadi suatu saat besar akan menikah dia ga perlu cari wali
Sugiharti Rusli
Arbani ga pernah cari kamu karena memang ga perlu ada yang dia cari, apalagi sang ibu juga ga pernah membuka tabir apapun juga kepadanya, karena bukan hal dia perlukan saat ini,,,
Sugiharti Rusli
karena sepertinya si Ardan tetap bergerilya mencari tahu tentang Arbani yang dia duga adalah putra kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
makanya dia selalu bisa mengetahui kapan harus masuk dalam kegelisahan yang Nara tunjukan yah, semoga sekarang pun mereka tidak terlambat mengantisipasinya
Sugiharti Rusli
mana pernah dia membuat Nara tidak nyaman saat pertama kali datang ke sana,,
Sugiharti Rusli
kan memang dasarnya Albi tuh laki" baik dan pengertian yah sedari dulu dia,,,
Lisa
Ardan masih berusaha mendekati Bani..gmn y reaksi Bani klo dia tau Ardan adalah ayah kandungnya.
Sugiharti Rusli
apalagi sepertinya si Ardan mulai juga bergerak meski diam" dan hanya bertanya hal" umum yang tidak membuat yang ditanya curiga,,,
Sugiharti Rusli
karena bagaimanapun kondisi Albi sekarang, dia secara sah negara ayah dari Arbani kalo hal itu mau dipersoalķan nanti
Sugiharti Rusli
cuma kan dari dulu Albi bukan tipikal yang langsung menegur secara langsung ke Nara semenjak mereka belum menikah dulu
Sugiharti Rusli
padahal kan Nara paham kalo Albi pasti peka kalo ada sesuatu yang menjadi ganjalan sang istri sekarang
Sugiharti Rusli
seharusnya Nara berkata terus terang kepada Albi yah tentang pertemuannya dengan mantan suaminya dulu
Lisa
Sebaiknya Nara cerita sama Albi ttg Ardan yg ada di desa itu..
R I R I F A
knapa nara dan albi tidak py anak... apa mereka tdk pernah berhubungan suami istri
Ummee
kaciaann kamu Ardan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!