NovelToon NovelToon
SISTEM TAJIR

SISTEM TAJIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Berondong
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Dimas kemudian, sambil meraih tangan Karin, mendatangi petugas polisi yang baru saja datang dan menyerahkannya kepada mereka.

Saat dia diserahkan ke polisi, tangisan Karin tiba-tiba berhenti. Senyum aneh muncul di wajahnya, lalu ia tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.

Dimas menatapnya dengan wajah tegang. Tawanya terdengar mengerikan. Dalam hati, Dimas hampir tak bisa menahan diri untuk tidak menamparnya, tapi ia berusaha mengendalikan diri.

“Anak muda… kamu akan mati, percaya saja padaku,” kata Karin sambil tertawa keras, suaranya menggema di jalan.

“Diam, Mbak! Kamu lihat apa yang sudah terjadi?!” bentak seorang petugas polisi, kemudian menoleh ke Dimas. “Nak, bisakah kamu jelaskan apa yang terjadi di sini?”

Dimas menarik napas dalam-dalam. “Saya... saya nggak pandai menjelaskan, Pak. Tapi saya punya rekaman kamera dasbor kalau Bapak mau lihat,” katanya pelan.

Karin hanya tersenyum miring seperti orang yang kehilangan akal, membuat Dimas semakin tidak nyaman. Ia kemudian berjalan ke depan mobil, mencabut kartu memori dari kamera dasbor, dan menyerahkannya kepada petugas. Polisi itu mengangguk dan mulai memeriksa lokasi kejadian lebih lanjut.

Sementara itu, mata Karin terus mengikuti setiap gerakan Dimas, dengan senyum psikopat yang masih menempel di wajahnya.

Dimas akhirnya duduk di kap mobil, menatap kosong ke arah mayat pria tua yang tergeletak di jalan. Mata pria itu masih terbuka. Rasa bersalah menyelimuti hatinya.

Kalau saja aku nggak memaksa gila ini keluar malam itu… mungkin kakek tua itu masih hidup.

Ia menarik napas panjang. Saat hendak pergi, sebuah mobil merah melaju cepat dan berhenti mendadak di depan lokasi. Ambulans pun datang tak lama kemudian.

Dari mobil merah itu keluar seorang wanita muda yang sangat cantik, menangis sejadi-jadinya. Ia langsung berlari dan memeluk tubuh pria tua itu sambil berteriak lirih memanggil “Bapak…”

[Ding!! Misi: Lakukan amal kecil. Hadiah minimum: Rp20.000.000]

Sebuah pop-up muncul di depan mata Dimas. Ia tertegun sesaat. Rasa bersalahnya membuat ia mantap untuk membantu wanita muda itu.

Ia lalu bertanya kepada petugas ambulans, rumah sakit mana korban dibawa. Setelah tahu, ia kembali ke asramanya.

Sesampainya di kamar, Dimas membuka lemari dan mengeluarkan tumpukan uang tunai. Ia menghitung pelan-pelan.

“Total... Satu miliar lima puluh dua juta rupiah,” gumamnya pelan. “Aku akan kasih semuanya buat dia. Toh, sistem pasti bakal menggantinya nanti.”

Dimas mengambil semua uang itu termasuk sebagian dari gajinya dan segera berangkat ke rumah sakit. Ia membawa uang tunai karena tak ingin menimbulkan kecurigaan soal transfer dalam jumlah besar.

Kurang dari sepuluh menit kemudian, ia tiba di parkiran rumah sakit dan melihat wanita muda tadi duduk di bangku, menangis sendirian.

Dimas memarkir mobilnya, lalu mendekat perlahan. Ia duduk di samping wanita itu. Sang wanita menoleh sebentar, lalu kembali menunduk, mengabaikannya.

“Eh… halo, aku Dimas,” ucapnya canggung, mencoba membuka percakapan.

Tak ada jawaban. Tangis wanita itu hanya makin keras.

Dimas merasa kikuk, tapi ia tetap berusaha. “Saya ada di tempat kejadian waktu itu. Saya yang nangkep pelakunya dan kasih rekaman ke polisi,” katanya sambil menatap langit, suaranya pelan tapi tulus.

“S… jadi aku harus berterima kasih, ya?” ucap gadis itu lirih, dengan nada marah dan sedih bercampur jadi satu.

“Enggak, aku cuma mau ngobrol aja. Aku ada di belakang mobil pelaku waktu kejadian itu. Jadi… kamu mau gimana sekarang?” tanya Dimas, suaranya pelan dan penuh rasa bersalah.

“Aku nggak tahu… aku bener-bener nggak tahu apa-apa…” gadis itu mencengkeram kepalanya, lalu menangis lagi.

“Dia… ayahmu, ya?” tanya Dimas hati-hati.

“Iya,” jawabnya di sela tangis. “Dia satu-satunya keluarga yang aku punya. Sekarang… aku sendirian. Aku nggak tahu harus ngapain… apa yang harus aku lakukan…” katanya sambil terisak, bahunya bergetar hebat.

Dimas hanya diam. Ia ingin menghibur, tapi tangannya kaku di udara. Akhirnya ia memberanikan diri menepuk bahunya pelan.

Gadis itu tidak menolak, jadi Dimas terus menepuk bahunya perlahan. Butuh hampir sepuluh menit sampai tangisnya mulai reda. Ia mengangguk kecil, memberi isyarat bahwa ia sudah agak tenang.

Dimas menarik napas lega, lalu menatap langit malam yang gelap. Keadaan terasa canggung. Ia memang bukan tipe yang pandai bicara dengan perempuan seumur hidupnya, ia lebih sering menyendiri, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Jadi… kamu ke sini cuma buat ngibur aku, gitu?” tanya gadis itu akhirnya, sambil mengusap air mata dengan lengan bajunya.

Dimas tersenyum tipis. “Nggak juga. Aku cuma… ngerti rasanya kehilangan orang. Aku juga pernah kehilangan banyak orang yang aku sayang. Makanya aku pengen bantu kamu. Dan kamu nggak bisa nolak.”

Ia membuka tasnya, lalu mengeluarkan tumpukan uang tunai. Setebal itu, hingga gadis itu langsung terdiam, matanya membesar tak percaya.

“Jangan khawatir,” ujar Dimas pelan. “Aku punya alasan bantu kamu. Salah satunya… aku juga sedikit bertanggung jawab. Karena kalau aku nggak ikut nyalip mobil itu, mungkin dia nggak bakal panik dan nabrak ayahmu.”

Ia menyerahkan uang 1.052.000.000 Rupiah itu ke tangan gadis itu. Hampir dengan paksa, Dimas menaruhnya di pangkuannya.

Gadis itu memandang uang itu lama sekali, sebelum akhirnya air matanya jatuh lagi. “Kamu orang yang baik banget… aku nggak punya uang buat ngurus pemakaman bapak. Aku bakal ingat kebaikan kamu seumur hidup.”

Dimas menggeleng. “Nggak usah dipikirin. Aku cuma pengin kamu kuat. Jaga diri baik-baik, ya.”

Ia berdiri, bersiap pergi. Malam itu, Dimas merasa campur aduk antara lega dan hampa. Niatnya menolong malah membuatnya merasa semakin kecil di hadapan kenyataan.

Gadis itu pun ikut berdiri, lalu mengulurkan tangannya. Dimas menyambutnya dengan sedikit ragu.

“Jangan terlalu nyalahin diri sendiri,” ucap gadis itu lembut. “Dia udah dewasa. Dia yang nyetir sambil mabuk, jadi… semua ini bukan salahmu sepenuhnya.”

Dimas menunduk sedikit, lalu tersenyum samar. “Aku masih tahu siapa aku. Dimas… Dimas Martin.”

Gadis itu ikut tersenyum, matanya masih sembab. “Aku… Anin Hapsari.”

Begitu mendengar nama itu, Dimas sempat terkejut, lalu baru sadar siapa sebenarnya orang yang sedang ia ajak bicara selama ini.”

1
Dedeh Dian
keren bagus cerita nya.. semangat author ayo lanjut...makasih..
Rai Rainadus
lanjutkan cerita nya sampai tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!