Anita tak pernah menyangka bahwa dia akan hidup abadi akibat kutukan dari keluarganya yang tewas karena ulahnya.
Seluruh keluarga Anita tewas oleh pengkhianatan sahabat karibnya bernama Samantha yang menjebak Anita berbuat jahat mengikuti kemauannya.
Selama dua ratus tahun, Anita hidup dalam ketidakpastian yang menyakitkan hatinya, dia kesepian, sendirian, tak punya keluarga lagi namun dia abadi.
Anita bertekad akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik jika seandainya Tuhan Yang Maha Esa memberinya sebuah kesempatan baru untuk memulai hidupnya jika dia berkeluarga lagi. Dan Anita berharap Tuhan mempertemukan dia dengan keluarganya di kehidupan baru nantinya.
Mampukah Anita berubah dan menjadi ibu tiri yang baik hati ?
Mari kita ikuti serialnya, ya, pemirsa dan terima kasih telah membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 KOTA MATI
Anita Tumbler membuka daun pintu gedung tua megah yang kini menjadi tempat tinggalnya.
Udara segar langsung menerpa lembut wajah cantiknya yang memucat bening.
Di luar halaman gedung bertingkat tiga ini, terdengar kicauan suara burung merpati hinggap di dahan pohon.
"Hmmm..., betapa sejuknya udara hari ini..., tidakkah kau tahu itu, Tarsius Wilson..."
Ucap Anita kepada Tarsius Wilson, seekor primata langka yang bergelantungan di sisi pintu gedung yang terbuka.
"Tapi kita hidup sendiri disini, Anita."
"Dan kita tahu itu bahwa kota ini adalah kota mati yang sudah tidak ada penghuninya lagi, coba kau bayangkan bagaimana uniknya kehidupan kita di sini nantinya..."
"Apakah kau menyukainya, Anita ?"
"Tentu saja aku suka karena aku bisa menemukan tempat tinggal, disisi lainnya, aku kurang menyukai kesepian, Tarsius."
"Kenapa kau tidak coba berjalan-jalan di sekitaran kota mati ini, Anita."
"Kenapa ?"
Tanya Anita sembari menolehkan pandangannya ke arah Tarsius Wilson di sampingnya.
"Sekedar bersenang-senang untuk menghibur diri saja, bukankah itu sangat penting bagimu, Anita..."
Anita lantas tertawa pelan lalu menatap kembali ke arah jalan di luar gedung megah ini.
Jalan itu terlihat masih sangat basah karena hujan semalaman tanpa henti, sehingga membuat dedaunan di dahan pohon mengembun.
Anita menghirup dalam-dalam udara segar yang berhembus ringan kemudian tertawa lega.
"Hari yang sungguh indah dengan kesegaran alami tiada taranya, mungkin aku bisa menganggap bahwa hidupku saat ini berada di surga tertinggi..."
"Tapi kau tidak mati, Anita..."
"Yah, benar, yang kau katakan itu tepat sekali dan aku berharap bisa melihat kembali seluruh keluargaku di surga sana."
"Mereka pasti sedang berbahagia di surga sana, Anita Tumbler..."
"Yah..., dan aku berharap sekali mereka bahagia dan tenang di surga sana."
"Maka berdoalah setiap kau terbangun pagi agar doamu bagi mereka tersampaikan sehingga seluruh keluargamu tenang di surga sana, Anita."
Anita tersenyum tipis seraya menundukkan pandangannya, ucapan seekor Tarsius baginya terdengar seperti nasehat baik untuknya.
Udara sejuk berhembus kembali lalu menerpa ringan tubuh Anita bersama Tarsius Wilson yang berdiri di depan gedung megah menghadap halaman luar.
"Aku akan selalu mendoakan mereka bahkan berharap suatu nanti dendam itu menghilang agar kutukan hidup abadi dari Adrian Wilson turut menghilang lenyap dariku..."
"Artinya kau akan mendapati maut bagimu jika kutukan abadi itu tercabut dari dirimu, Anita, tidakkah kau sadari itu."
"Yah, kau benar namun hidup kekal seperti ini menjadikanku bagaikan setengah manusia dan setengah bukan manusia."
"Kenapa ? Bukannya itu bisa disebut juga sebagai anugerah besar tiada taranya bagimu, Anita."
"Tidak seperti yang kau katakan, Tarsius karena aku hidup sudah seratus tahun lamanya dalam kesepian, hidupku seratus tahun ini dipenuhi oleh penderitaan atas penyesalan terbesarku."
"Semua ada takdirnya, Anita. Kurasa tidak sepenuhnya semua adalah salahmu dan tak seharusnya Adrian Wilson mengutukmu dalam dendam yang tak berkesudahan ini, Anita."
Anita terdiam seraya meresapi makna ucapan Tarsius padanya, ada benarnya juga yang dikatakan oleh Tarsius Wilson bahwa semua yang terjadi di kehidupan masa lalunya bukan sepenuhnya salah Anita Tumbler melainkan semua peristiwa silam itu sudah ada garis takdirnya dari Tuhan.
"Adrian Wilson hanya melimpahkan tuduhan tak beralasan kepadamu bahwa tragedi buruk itu terjadi karena dirimu disebabkan dia tidak terima mati diusia muda dengan tragisnya..."
"Tapi itu benar, jika seandainya aku tidak berteman dengan Samantha mungkin aku tidak akan menyaksikan seluruh hidup keluargaku dibantai seperti itu..."
"Apakah kau akan menyalahkan dirimu terus menerus dan menyiksa dirimu sendiri tak berkesudahan, Anita ?"
"Entahlah, Tarsius, aku tak tahu harus berbuat apa untuk masalah ini..."
"Kapan kau akan sadar dan tak selalu menyalahkanmu, semua kejadian buruk itu telah terlewatkan menjadi masa silam tiada artinya, Anita."
"Dan kau percaya bahwa kutukan itu telah menyebabkanku menyesal dalam penderitaan yang teramat mendalam hingga aku sendiri susah menerimanya, Tarsius."
"Tak seharusnya kau terus-terusan menyalahkan dirimu sendiri sedangkan kau telah menerima hukumannya karena harus hidup abadi, Anita."
"Yah, kau benar sekali, Tarsius Wilson..."
Anita memalingkan wajahnya ke arah lain dengan kedua mata berkaca-kaca menahan kesedihan.
"Apa kau jadi pergi jalan-jalannya ?"
Anita menolehkan pandangannya ke arah Tarsius Wilson di sampingnya.
"Jika kau tidak keberatan menemaniku berpergian sekarang ini maka aku akan sangat senang kita jalan-jalan di kota ini..."
"Baiklah, kita pergi sekarang saja, mungkin akan ada hal baru yang bisa kita temui di kota mati ini, Anita."
"Baik, Tarsius Wilson. Mari kita pergi sekarang ini !"
"Ya, Anita..."
Anita Tumbler mengenakan mantel hangatnya ke tubuhnya sembari menunggu Tarsius Wilson melompat ke atas pundaknya.
"HUP !"
Primata langka itu hinggap di atas pundak Anita Tumbler yang hendak berjalan pergi dari gedung tua nan megah ini.
Mereka memutuskan berangkat menelusuri keadaan kota mati ini, mungkin saja mereka akan mendapati seseorang yang sama dengan mereka yang juga tinggal di kota ini.
Tampak jalanan sepanjang kota sangat lenggang, kesunyian menyelimuti suasana jalan di tempat sepi ini ketika Anita Tumbler beserta Tarsius Wilson sedang berjalan-jalan.
Hampir tidak diketemui satupun orang di kota mati ini bahkan kesunyian terasa mencekam kuat sepanjang jalan.
Di samping sisi kanan-kiri mereka berjalan saat ini hanya terdapat deretan bangunan kosong terbengkalai tak terawat.
Anita mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat yang dia lalui.
"Sepertinya kota ini benar-benar tak berpenghuni, kau bilang diawal tadi bahwa kota ini merupakan kota mati, Tarsius Wilson."
"Yah, benar sekali, kota ini merupakan kota mati, Anita."
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya jika kota ini adalah kota mati, Tarsius Wilson ?"
"Sebab aku sudah sampai terlebih dulu darimu di kota ini, Anita."
"Oh, yah, benarkah itu ?"
"Benar sekali, Anita."
"Tapi kenapa kau tidak tinggal di salah satu bangunan di kota mati ini malah justru memilih tinggal di sekitaran taman tadi, Tarsius Wilson ?"
Anita bertanya terheran-heran dengan perilaku Tarsius Wilson yang lebih memilih tetap tinggal di area taman bukannya di kota.
"Aku ini hanyalah seekor primata langka saja, bukan manusia seperti dirimu, tinggal dimanapun bagiku bukanlah suatu persoalan berat... !"
"Kau bisa saja kalau menjawab ucapanku, Tarsius Wilson."
"Tapi itulah kenyataannya yang sebenarnya, Anita..."
Anita hanya tertawa pelan sembari terus melangkahkan kakinya menelusuri jalan di kota mati ini sedangkan seekor Tarsius langka nan ajaib sedang hinggap di atas pundaknya.
"Sepanjang jalan ini, kita masih belum menemukan seseorang disini, mungkinkah memang benar kalau kota ini kota mati ?"
Anita menghentikan langkah kakinya kemudian berjalan ke sebuah bangunan bercat kusam di depannya lalu masuk ke dalam sana.
Bangunan mirip sebuah bar kecil terlihat kosong dan Anita mencoba mencari sesuatu di dalam gedung itu.
"Tidak ada siapa-siapa disini, bagaimana bisa sebuah kota menjadi kota mati seperti ini, sungguh disayangkan sekali sehingga menjadikan bangunan disini terbengkalai rusak..."
"Kota ini sudah lama ditinggalkan karena suatu bencana buruk yang terjadi di kota ini sebelumnya."
"Bencana buruk apakah itu ?"
Anita menarik sebuah bangku kecil yang tergeletak asal lalu duduk sembari mendengarkan cerita Tarsius Wilson.
"Konon katanya dulu bahwa kota ini terkena musibah besar oleh kutukan lampu bohlam sehingga wabah penyakit tersebar luas dan mematikan sebagian penduduk kota disini."
"Kutukan lampu bohlam ?"
"Benar sekali, kutukan lampu bohlam dari seorang pengembara waktu sama sepertimu, Anita."
"Oh, begitu rupanya, ternyata ada juga orang yang bernasib serupa denganku di dunia ini dan aku tak sendirian mengalami takdir buruk ini dan apakah dia juga terkutuk hidup abadi ?"
"Kalau soal itu, tepatnya aku kurang tahu, Anita... !"
Jawab Tarsius Wilson sembari duduk di atas meja bar yang ada di depan Anita Tumbler saat ini.