NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu yang tak berhak

Bel istirahat sudah berbunyi lima belas menit yang lalu. Kantin sekolah tampak ramai oleh para siswa dan siswi. Ada tawa ceria, celotehan tak jelas, obrolan ringan, bahkan beberapa di antaranya sibuk merekam video untuk konten media sosial.

Namun, semua keriuhan itu seolah tak berarti bagi Naura. Ia duduk sendiri di bangku yang agak pojok. Segelas es teh manis di depannya yang kini terasa kurang manis karena kebanyakan es batu masih tak tersentuh. Pikirannya melayang entah ke mana.

Tak lama, kedua sahabatnya datang menghampiri.

“Naw… gue udah tahu cewek yang bareng sama si Hamka waktu itu,” lapor Sisi dengan suara sedikit berbisik.

“Dia anak sekolah sebelah,” lanjutnya.

“Iya. Temen gue ada yang sekolah di sana,” sambung Lala dengan nada sinis. “Dan lo tau? Dia pamer ke seantero sekolah kalau yang tiap hari nganterin dia itu pacarnya.”

Naura tetap diam.

“Dasar tuh cewek, manfaatin keadaan banget,” omel Sisi.

Naura membatin, membayangkan apa reaksi mereka jika tahu Helena justru tinggal di rumahnya.

“Biarin aja lah. Mau pacaran atau nggak, bukan urusan gue,” ujar Naura datar.

“Tapi si Hamka juga bego sih,” lanjut Sisi kesal. “Masa iya gara-gara temennya sakit, dia mau alih tugas buat anter-jemput adik temennya. Anak SD aja sekarang udah pada dianter ojeg online, dia malah ngerepotin diri sendiri.”

“Dan gue denger dari Edo…” Lala menyebut nama teman Hamka sekaligus kakak kelas mereka tanpa embel-embel apa pun. “Katanya Hamka sekarang sibuk kerja part time di kafe buat bantuin biaya rumah sakitnya Fariz.”

Naura terkejut.

Hamka kerja di kafe?

Pantas saja akhir-akhir ini ia jarang terlihat di rumah. Naura hanya melihatnya pagi-pagi saat mengantar Helena. Apa mungkin sepulang sekolah Hamka langsung bekerja?

Tiba-tiba, pandangannya menangkap sosok Hamka yang berjalan bersama Edo ke arah kantin. Sekilas, Naura melihat wajah lelah di sana.

Kenapa lo segitunya sih?

Rasa kasihan perlahan menyelinap ke dadanya. Tetangganya yang biasanya cerewet dengan tingkah jahil itu kini terlihat lebih serius, pendiam ..seperti bukan dirinya.

“Kita ke kelas yuk. Gue lupa belum ngerjain tugas kimia,” ujar Naura sambil bangkit dan melangkah keluar dari area kantin.

Dewa menatap sendu punggung Naura yang menjauh. Mulutnya terkunci, seolah tak ada satu pun kata yang mampu ia ucapkan.

Ada sesuatu di cara gadis itu berjalan,cepat, kaku, seperti sedang menahan sesuatu.

Dadanya terasa kosong.

Ia ingin memanggil. Ingin bertanya. Tapi lidahnya kelu. Kepalanya terlalu penuh oleh tagihan, rumah sakit, dan rasa lelah yang tak pernah selesai.

Maafin gue, Naw…

**

Naura hampir sampai di gerbang sekolah ketika langkahnya melambat.

Entah kenapa, dadanya terasa semakin berat. Seolah ada sesuatu yang tertinggal di belakang atau seseorang.

Dan dugaan itu terbukti.

Di dekat gerbang, Hamka berdiri dengan motor tuanya. Helm sudah tergantung di setang, ransel disampirkan asal di bahu. Ketika mata mereka bertemu, waktu seperti berhenti sesaat.

Hamka refleks melangkah mendekat.

“Na…” panggilnya, ragu.

Naura berhenti. Menoleh setengah, tanpa benar-benar menatap penuh. Wajahnya datar, tapi matanya menyimpan sesuatu yang tak sempat ia rapikan.

Hamka ingin bilang banyak hal.

Ingin menanyakan kabarnya.

Ingin mengajak pulang bareng, seperti dulu—tanpa alasan, tanpa beban.

Mulutnya sudah terbuka… lalu tertutup lagi.

Di kepalanya, satu nama muncul bersamaan dengan jam yang terus berdetak.

Helena.

Ia melirik jam tangannya. Waktu sudah mepet. Setelah menjemput Helena, ia harus langsung ke kafe. Shift sore tak bisa ia lewatkan. Ia butuh uang itu..untuk Fariz, untuk rumah sakit, untuk semua yang tak bisa menunggu.

“Lo… mau pulang sekarang?” tanyanya akhirnya. Suara Hamka terdengar hati-hati, seolah takut jawaban itu akan menjatuhkan sesuatu di dadanya.

Naura mengangguk singkat. “Iya.”

Hamka terdiam sesaat. Tatapannya jatuh ke wajah Naura yang kini lebih banyak menyimpan daripada menunjukkan. Ada kalimat yang ingin ia ucapkan, tapi tertahan di ujung lidah—tak sempat menemukan keberanian.

“Hati-hati…” ucapnya pelan, nyaris tenggelam di tengah riuh gerbang sekolah.

Naura menatapnya sekilas. Ada jeda kecil di sana, cukup lama untuk menyelipkan semua yang tak pernah terucap. Lalu ia tersenyum tipis.

“Iya,” jawabnya lirih.

Belum sempat Hamka melangkah pergi, suara mesin motor lain tiba-tiba berhenti tepat di hadapan Naura.

Haikal.

Laki-laki itu membuka helm full face-nya, memperlihatkan senyum yang selama ini ia simpan rapi. Ia memang sudah lama menyukai Naura. Namun kedekatan Naura dengan Hamka dulu membuatnya memilih mundur, menyerah sebelum sempat berjuang. Hingga kabar tentang Hamka yang sering mengantar-jemput gadis dari sekolah sebelah itu sampai ke telinganya—dan sejak saat itu, Haikal kembali maju perlahan.

Seperti siang ini.

“Naw… yuk pulang bareng gue,” ajaknya ramah. “Kebetulan gue lewat daerah rumah lo.”

Naura menoleh. Sekilas ia melirik Hamka—hanya sekilas, tapi cukup untuk melihat laki-laki itu berdiri kaku, diam, seolah tak punya hak untuk berkata apa pun.

“Oke,” jawab Naura akhirnya.

Hamka menahan napas saat melihat Naura melangkah mendekat dan naik ke boncengan Haikal. Tangannya mengepal pelan di balik jaket, dadanya terasa kosong namun sesak di saat bersamaan.

Ia menyalakan motornya.

Motor Hamka melaju perlahan, lalu semakin cepat. Sesekali ia menatap spion—dan di sana, pantulan kecil itu memperlihatkan Naura yang menjauh bersamanya dengan orang lain.

Hamka memalingkan wajah.

Untuk pertama kalinya, ia sadar…

diam dan mengalah ternyata bisa terasa lebih menyakitkan daripada ditolak.

Motor melaju membelah jalanan sore, namun kepala Hamka tertinggal jauh di belakang.

Angin menerpa wajahnya, tapi tak satu pun mampu mendinginkan panas yang mengendap di dada. Di setiap lampu merah, bayangan itu kembali muncul..Naura, duduk di boncengan motor orang lain. Punggungnya, helm yang ia kenakan, dan jarak yang tak lagi bisa Hamka jangkau.

Gue kenapa?

Pertanyaan itu berputar-putar tanpa jawaban.

Tangan Hamka mencengkeram setang motor lebih erat dari biasanya. Ia tahu ia tak berhak merasa cemburu. Tak pernah ada status. Tak pernah ada janji. Semua hanya kebiasaan,pulang bareng, bercanda, saling diam yang entah sejak kapan berubah menjadi rasa.

Lo sibuk .

Lo capek.

Lo nggak pernah bilang apa-apa.

Ia menertawakan dirinya sendiri, getir.

Helm menutup wajahnya, menyembunyikan mata yang mulai memanas. Ia ingin marah, tapi tak tahu pada siapa. Ingin menyalahkan Haikal, tapi itu konyol. Laki-laki itu hanya datang di waktu yang tepat saat Hamka terlalu sibuk untuk bertahan.

Lampu merah menyala.

Hamka berhenti. Menatap aspal di bawah kakinya.

Ia teringat dengan wajah Naura dan ucapannya yang singkat.

Gue pengen bilang gue capek.

Gue pengen cerita.

Tapi gue takut lo malah nambah beban.

Lampu hijau menyala.

Motor kembali melaju.

Di kejauhan, papan nama kafe mulai terlihat. Lampu-lampu kuningnya menyala hangat,kontras dengan perasaan dingin yang mengendap di dada Hamka.

Ia memarkir motor, melepas helm, lalu menghela napas panjang sebelum melangkah masuk.

Di balik senyum ramah yang akan ia pakai untuk pelanggan, Hamka menyimpan satu hal yang tak bisa ia bagi pada siapa pun.

Rasa cemburu yang tak berhak…

pada seseorang yang mungkin perlahan pergi.

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!