Mila, seorang gadis modern yang cerdas tapi tertutup, meninggal karena kecelakaan mobil. Namun, takdir membawanya ke zaman kuno di sebuah kerajaan bernama Cine. Ia terbangun dalam tubuh Selir Qianru, selir rendah yang tak dianggap di istana dan kerap ditindas Permaisuri serta para selir lain. Meski awalnya bingung dan takut, Mila perlahan berubah—ia memanfaatkan kecerdasannya, ilmu bela diri yang entah dari mana muncul, serta sikap blak-blakan dan unik khas wanita modern untuk mengubah nasibnya. Dari yang tak dianggap, ia menjadi sekutu penting Kaisar dalam membongkar korupsi, penghianatan, dan konspirasi dalam istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Sosok dalam Bayangan
Kabar disebarkan secara halus lewat pelayan-pelayan istana yang telah disusupi, para penjaja berita di pasar, hingga pertunjukan sandiwara keliling yang membawa kisah
"Prajurit Keluarga Mo yang Dikhianati". Qianru
menanamkan kode-kode rahasia di dalam pertunjukan itu, yang hanya dapat dikenali oleh orang-orang lama dari dunia bayangan seperti Mo Tian.
Beberapa hari kemudian, sinyal pertama muncul.
Di lorong tersembunyi dekat kuil tua, seorang prajurit Bayangan Giok menemukan secarik kertas yang menempel di patung rubah perunggu—sebuah metode komunikasi kuno antar mantan anggota Jingwei.
Tulisan di sana hanya satu kalimat: “Yang menumpahkan darahku akan kulumatkan, bahkan jika ia mengenakan jubah emas.”
Qianru menggenggam kertas itu erat. “Dia muncul.”
Malam ketiga setelah pesan itu muncul, Qianru menyamar sebagai wanita penjaja anggur dan menunggu di kuil tua. Sesuai petunjuk sandi, ia membawa dua cangkir arak pahit dan membakarnya di altar leluhur.
Qianru menyalakan dupa terakhir di altar, membiarkan aromanya melayang di udara malam yang lembap. Bayangan patung-patung Buddha dan dewa-dewa lokal menari dalam cahaya lilin, menciptakan suasana yang sakral sekaligus mencekam. Ia mengenakan jubah kelabu tua, wajahnya setengah tertutup selendang.
Tiba-tiba, suara langkah kaki bergema di antara pilar kayu kuno.
“Siapa yang berani memanggil arwah Jingwei dari tidur panjangnya?” suara itu serak dan berat, membawa tekanan tajam seperti pisau di tengkuk.
Qianru menoleh perlahan. Seorang pria bertubuh tinggi, berpakaian hitam kelam dengan tudung menutupi sebagian wajah, muncul dari bayangan. Di sisi sabuknya, menggantung sepasang pedang pendek, keduanya dihiasi ukiran naga bermata tiga.
“Mo Tian?” tanya Qianru.
“Siapa kau yang mengungkit nama lama itu?” Pria itu mendekat, matanya redup namun mengancam. “Apa kau datang untuk menjebakku? Menghabisi sisa hidupku?”
Qianru mengangkat tangan. “Tidak. Aku datang membawa kebenaran... dan kesempatan untuk menebus darah yang tumpah di masa lalu.”
Ia lalu mengisahkan bahwa saudara sepupu Permaisuri, Feng Yuanlong, yang kini berdagang senjata ke utara, terlibat dalam pembantaian keluarga Mo Tian saat Jingwei dibubarkan oleh kaisar terdahulu. Dan sekarang, Feng menjadi bagian dari konspirasi yang dapat menghancurkan negeri.
“Bohong,” gumam Mo Tian, namun tangannya gemetar. “Feng... dia... dulu melindungi keluargaku…”
“Lalu mengkhianati mereka saat tahu keluargamu jadi sandungan. Ada saksi hidup,” kata Qianru, lalu melempar sebuah gulungan ke arah Mo Tian.
Di dalamnya, salinan perintah eksekusi rahasia yang ditandatangani Feng sendiri, serta catatan dari agen Bayangan Giok yang mengonfirmasi kebenarannya.
Mo Tian membaca dengan mata membelalak, lalu tertawa pelan… dan tawa itu berubah menjadi tawa pahit penuh dendam.
“Baik. Jika benar, maka darah akan dibayar dengan darah.”
Mo Tian menatap Qianru dengan mata penuh luka dan api. “Apa jaminanku kau bukan bagian dari jebakan baru?”
Qianru melepas sarung tangan dan menunjukkan luka bakar kecil di pergelangan tangan kirinya—simbol sumpah hidup Bayangan Giok.
“Aku tak bisa menjamin apa-apa selain ini, aku ingin menyelamatkan negeri ini, bukan demi tahta, tapi demi rakyat yang tak tahu siapa musuh sebenarnya.”
Mo Tian menatap dalam, lalu mengangguk. “Aku akan membantumu. Tapi aku bekerja dengan caraku sendiri.”
“Dan aku tak akan mencampuri cara seseorang membalas dendamnya,” balas Qianru tajam.
Di tempat lain, di dalam rumah megah Feng Yuanlong, angin malam membawa suara pelan dari burung hantu. Feng berdiri di depan cermin tembaga, memandangi bayangannya sendiri.
“Dia kembali,” bisiknya pada bayangan. “Mo Tian hidup.”
Salah satu bawahannya membungkuk. “Apa yang harus dilakukan?”
Feng tersenyum dingin. “Bunuh dia. Dan juga perempuan yang menghidupkan kembali bangkai lama itu.”
Langit malam belum menampakkan rembulan saat Qianru dan Mo Tian menyusup ke gudang senjata milik Feng Yuanlong yang terletak di pelabuhan utara. Gudang itu tampak seperti biasa—dijaga oleh pasukan berseragam dagang—tapi Qianru tahu bahwa di dalamnya tersimpan ratusan senjata yang akan dikirim diam-diam ke wilayah Bei Yan untuk mempersenjatai pemberontak.
“Tidak ada suara, tidak ada belas kasihan,” bisik Mo Tian sambil menarik keluar bilah pendeknya yang bersinar dingin.
Qianru mengangguk. Meski masih belum sepenuhnya mempercayai Mo Tian, nalurinya berkata bahwa mereka memiliki musuh yang sama malam ini.
Mereka bergerak dalam diam, membekuk penjaga satu per satu, hingga akhirnya mencapai ruang utama. Di sana, Feng Yuanlong ternyata telah menunggu.
“Aku tahu kalian akan datang,” katanya sambil menepuk sarung pedangnya. Di sisi kiri dan kanan, dua pembunuh dari Jingwei Baru muncul dari balik tiang kayu, mengenakan jubah hitam dan topeng perak.
Qianru menyipitkan mata. “Kau bukan saudagar, Feng. Kau monster yang menjual darah rakyat demi tahta kakakmu.”
Feng tertawa pelan. “Dan kau pikir hanya dengan kata-kata dan satu pembunuh tua kau bisa menjatuhkanku?”
Mo Tian maju tanpa bicara, bilahnya melesat secepat kilat ke arah pembunuh pertama. Suara besi bertabrakan memecah kesunyian. Sementara itu, Qianru melompat ke atas rak kayu, menendang satu peti hingga jatuh menimpa lawan yang hendak menyerangnya dari belakang.
Pertarungan berlangsung sengit. Salah satu pembunuh Jingwei Baru hampir menusuk Qianru, namun Mo Tian menyambarnya lebih dulu, menerima luka di lengan. Darah mengalir deras, tapi matanya menyala—penuh kebencian.
Dengan satu gerakan cepat dan tak terduga, Mo Tian melempar pisau kecil ke arah Feng. Pisau itu melesat, menembus bahu sang saudagar, membuatnya jatuh terduduk dengan teriakan kesakitan.
“Kau... kau tak tahu apa yang kulakukan demi stabilitas kekaisaran,” geram Feng.
Qianru mendekat, mata dingin. “Yang kau lakukan hanya demi mempertahankan kekuasaan keluargamu. Bukan negeri ini.”
Feng akhirnya pingsan karena luka dan kehilangan darah. Qianru dan Mo Tian menyerahkan semua dokumen bukti di dalam gudang kepada Cang Yue, yang segera membawanya ke Kaisar.
Keesokan harinya, di hadapan seluruh pejabat tinggi dan Kaisar, Liu Qingxuan membaca daftar kejahatan Feng Yuanlong. Sang Permaisuri, yang turut hadir, tampak pucat dan marah. Tapi dengan bukti yang kuat dan kesaksian dari beberapa pedagang yang menyerah, Kaisar tak punya pilihan.
Feng Yuanlong dicopot dari jabatan, hartanya disita, dan ia dibuang ke penjara bawah tanah hingga waktu pengadilan rakyat ditentukan.
Permaisuri menatap Qianru dari kejauhan dengan tatapan tajam. Namun, Qianru hanya membalas dengan senyum tenang.
Malam itu, Mo Tian berdiri di atas bukit kecil di luar kota, menatap ke arah kota Zhen’an yang terang.
“Kau akan pergi?” tanya Qianru yang muncul membawa sebungkus anggur hangat.
Mo Tian mengangguk. “Aku sudah menebus keluargaku malam ini. Aku bukan pahlawan, Qianru. Tapi kau... kau bisa menjadi orang yang mengakhiri perang dari dalam tembok istana.”
Ia menyerahkan liontin besi kecil dengan ukiran naga bermata tiga kepada Qianru.
“Jika kau butuh bayangan... panggil aku.”
Mo Tian menghilang ke dalam kegelapan malam, meninggalkan Qianru sendirian dengan pikiran berat dan hati yang mulai terbiasa menghadapi beban istana.
Bersambung