"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"
Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maksudnya apa?
*
*
*
Hawa dingin yang lembab berhembus kencang. Menerbangkan daun-daun kering dijalanan. Udara terasa berat saat dihirup. Membawa aroma aspal basah yang khas.
Andreas bersama moge kesayangannya berada diantara kendaraan lainnya. Merayap bersama kemacetan jalanan Jakarta.
Ditelinganya terselip sepasang AirPods yang terhubung dengan ponsel baru pemberian Risa. Kemacetan yang biasanya menyebalkan terasa jauh lebih ringan. Sesekali sudut bibir Andreas terangkat, bahkan tawa kecil lolos tanpa sadar setiap kali mendengar celoteh perempuan itu dari seberang sana.
Hingga roda moge memasuki area rumah. Telpon itu masih tetap terhubung.
"Aku udah sampai rumah nih, matiin dulu ya telponnya." bisik Andreas sembari menurunkan kecepatan laju moge.
"Nggak mau, masih pengen denger suara kamu."
Suara Risa, terdengar manja. Seolah sedang membujuk, tanpa memaksa.
Andreas terkekeh, "Ya udah, kita telponan dulu. Aku pulang kerumah Mama aja, dulu."
"Oh ... kamu mau pulang ke rumah Mama kamu dulu? Bagus deh, kita bisa Video Call dulu, Aku kangen."
Andreas terdiam. Sementara Risa melanjutkan dengan suara yang jauh lebih pelan. "Ya, sayang ya?"
"Nakal kamu, baru juga tadi ketemu. Masa udah kangen?"
Terdengar, helaan nafas Risa. "Karena kalau sama kamu, satu jam rasanya kurang. Dua jam juga kurang. Ketemu seharian pun aku pasti tetap kangen."
Andreas memejamkan mata sesaat. Kalimat-kalimat seperti itulah yang membuatnya perlahan tenggelam semakin jauh.
Pria itu membelokkan stang, menuju kediaman orang tuanya.
Mesin moge berhenti, Andreas melepaskan helm. Menaruhnya dilaci khusus penyimpanan diarea garasi.
Tidak mau, kedatangannya mencolok. Andreas sengaja lewat pintu belakang, yang langsung terhubung ke kamar nya.
***
Sesuatu yang dingin menetes. Disusul ketukan-ketukan kecil yang berirama. Kerikil-kerikil sudah mulai dihiasi bercak-bercak bulat yang menggelap. Hujan turun satu persatu.
Isana tengah menyusui Ghazi yang mulai mengantuk di ruangan tengah. Namun, jemari satunya lincah menggulir ponsel. Dahinya berkerut, dengan sorot mata fokus pada layar.
"Green Resort. Kalau apa yang dibilang Gendis benar, aku harus cari tahu tentang resort itu." gumamnya pada diri sendiri.
Jemarinya mengetik nama resort tersebut di mesin pencarian.
Puluhan foto langsung bermunculan. Ia memperhatikan satu per satu. Area lobi. Restoran. Kolam renang. Juga ruang pertemuan. Sampai akhirnya ia membuka akun media sosial resmi resort itu.
Isana menyipitkan mata.
Beberapa unggahan terbaru menampilkan persiapan sebuah proyek besar. Ia membaca setiap keterangan foto dengan teliti. Sesekali membuka kolom komentar.
Sesekali memperbesar gambar.
Belum ada petunjuk apapun disana, namun setidaknya ia merasa memiliki titik terang untuk memulai pencarian.
Sampai ia berhenti pada sebuah akun sosial media yang berkomentar dipostingan terakhir akun resort tersebut.
[Akhirnya ada tempat yang pas untuk mengembalikan waktu-waktu yang dulu selalu keburu habis. Tidak sabar bertemu.]
Dari akun berinisial @callmerain.
Isana mengetuk akun tersebut, tapi sial! Akun itu private.
Foto profilnya hanya menampilkan siluet perempuan. Berdiri membelakangi kamera dengan rambut tergerai lepas berwarna coklat blonde. Isana perhatikan foto tersebut.
Pengikutnya tidak banyak, unggahannya pun terkunci rapat. Isana menggigit bibir, "Callmerain ..." desisnya pelan. Entah kenapa kata nama itu begitu mengganjal dihatinya.
Jemari Isana lincah, mengambil tangkapan layar komentar tersebut. Berlanjut dengan halaman profilnya.
Ia lanjutkan membuka fitur simpan pada ponselnya. Menaruhnya pada folder khusus yang ia buat diam-diam sejak kecurigaannya.
Dada Isana sesak, ketika melihat folder yang ia beri nama Andreas. Pria yang dulunya menjadi tempat untuknya menggantungkan harapan, tapi sekarang justru menjadi orang yang pelan-pelan meruntuhkannya.
Benar kata orang, jangan pernah menggantungkan harapan pada manusia. Jika tidak mau kecewa. Isana menghembuskan nafas panjang. Memeluk Ghazi lebih erat.
Deru suara mobil memasuki area carport. Isana reflek melongokkan kepalanya kearah jendela luar. Tidak mungkin itu Andreas, karna suaminya tadi berpamitan hendak kerumah orang tuanya yang berselang dua rumah saja. Tapi, siapa yang datang?
"Bik Marni, tolong lihat kedepan. Siapa yang baru datang!"
Isana memanggil Bik Marni, yang tengah menyetrika.
"Iya, Buk ..."
Wanita paruh baya itu, menghentikan aktifitasnya. Gegas menuju pintu depan.
"Assalamualaikum ..."
Seorang pria berdiri didepan pintu dengan sikap tenang. Setelan gelap yang dikenakannya membingkai tubuh tegapnya dengan sempurna.
"Wa'alaikumsalam"
Bik Marni menjawab, sembari membuka pintu lebih lebar.
"Pak Kahfi? Masuk Pak, Bu Isana ada didalam."
Kahfi mengangguk, tersenyum tipis. Raut wajahnya menyimpan ketegasan yang alami. Sorot matanya lurus dan mantap, ekspresinya tenang membuatnya terlihat semakin berwibawa.
"Terimakasih, Bik" Ucapnya sembari melangkah masuk kedalam.
"Siapa Bik?"
Suara Isana terdengar dari ruang tengah, membuat Kahfi meneruskan langkah menuju kesana.
"Mas, datang!"
Kahfi menimpali pertanyaan adiknya. Ketika sudah semakin dekat.
Isana langsung menoleh, matanya membulat ketika menemukan sosok kakak yang selama ini selalu pasang badan untuk melindunginya.
"Mas Kahfi? Kenapa baru datang sih? Bukannya kemarin Mas udah di Kuningan?"
Nada suara Isana terdengar lebih cerah dari biasanya.
Kahfi terkekeh pelan. Ia melepaskan jas yang dikenakannya lalu menyampirkannya di sandaran kursi.
" Mas langsung ke Moonlight, ada urusan yang harus diberesin dulu."
Pria itu mendekat ke arah Ghazi yang masih berada dalam gendongan Isana. Jemarinya mengusap pipi keponakannya perlahan.
"Anak gantengnya Ayah Kahfi, udah makin gede aja."
Ghazi menguap kecil seolah hendak menjawab.
Isana tersenyum. "Kangen ya sama Ghazi?"
"Iya, kangen lihat wajahnya. Imut banget."
Kahfi merebahkan tubuhnya di sofa, mencoba merilekskan otot-otot yang sempat kaki setelah seharian beraktifitas.
Tak lama, Bik Marni datang. Menyuguhkan teh panas dengan dua toples cemilan.
"Ini Bibik buatin teh, Pak Kahfi." ujarnya sembari menaruh cangkir didepan Kahfi duduk. "Sama cemilan juga. Pasti lagi kecapean ya?"
Kahfi menegakkan punggungnya, "Terimakasih banyak Bik Marni, tahu aja kalau saya lagi capek."
"Ya tahulah Pak, orang Pak Kahfi itu orangnya nggak pernah nggak sibuk. Sampe jarang datang kemari." Sahut Bik Marni, yang membuat Kahfi terkekeh mendengarnya.
"Buk, itu Ghazi udah tidur? Saya bantu tidurkan di kamar."
Isana mengulas senyum, membiarkan Bik Marni menyelipkan tangannya untuk membopong Ghazi. Dan berlalu membawanya kekamar.
"Kayanya Bik Marni terlalu repot sejak ada Ghazi, gimana kalau Mas cariin baby sitter?"
Isana menautkan alis, "Baby sitter?"
"Tenang aja, Mas yang bayar. Lagipula Ghazi itu kan keponakan Mas. Sebagai hadiah buat kelahirannya dia. Gimana?"
Belum Isana menjawab, dari arah depan terdengar derap langkah.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Jawaban Isana dan Kahfi terdengar hampir bersamaan.
"Loh, baru pulang An? Bukannya tadi kamu duluan?"
Andreas membeku. Menatap Kahfi yang sedang duduk santai bersama istrinya.
Andreas menutupi rasa gugupnya dengan tersenyum tipis. " Eh ... Mas. Kapan datang?"
Kahfi berdiri. Sepasang mata tajamnya menelisik penampilan Andreas. Aneh, tubuhnya kering. Padahal diluar hujan.
Keduanya berjabatan tangan.
Sama-sama terlihat biasa. Namun bagi Isana terlihat janggal dengan penampilan suaminya. Kaos berlengan panjang warna putih dan celana jeans yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Terlebih dengan pertanyaan Kahfi tadi. Menurut Isana itu sangat janggal.
"Tadi Mas Kahfi bilang kalau Mas Andreas pulang duluan, maksudnya apa?"
Jantung Andreas berdetak sekali lebih keras.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍