“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Lorong Steril dan Topeng yang Retak
Suara decit ban mobil yang berhenti mendadak di depan lobi Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Medika Utama memecah kesunyian malam.
Narendra melompat keluar dari kursi kemudi sebelum mesin mobilnya benar-benar mati. Ia tak peduli pada petugas valet yang berlari menghampirinya; yang ia inginkan hanya sampai secepat mungkin ke tempat Alika berada.
Langkah kaki Narendra yang lebar dan terburu-buru bergema keras di koridor rumah sakit yang berbau khas antiseptik dan cairan disinfektan.
Setiap lampu neon yang berkedip di atas kepalanya seolah menghitung mundur detak jantungnya yang tak beraturan.
Ketakutan yang tadi ia rasakan di kantor kini berubah menjadi kecemasan yang melumpuhkan akal sehat.
Untuk pertama kalinya, sang CEO Artha Group yang selalu tampil sebagai sosok tak tersentuh, terlihat benar-benar berantakan. Kemejanya sedikit keluar dari celana, rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini tampak acak-acakan karena terus ia seret dengan tangan yang gemetar.
"Di mana Alika Pradipta?" suara Narendra menggelegar saat ia mencapai meja perawat jaga di depan ruang tindakan.
Suaranya bukan lagi suara perintah yang elegan, melainkan raungan parau penuh urgensi.
Perawat jaga yang sedang memegang papan klip tersentak.
Ia cepat-cepat mengarahkan pandangannya ke pintu ganda ruang tindakan di sisi kiri. "Pasien sedang ditangani oleh dr. Raditya di dalam, Pak. Mohon tunggu di luar, kami sedang melakukan stabilisasi kondisi beliau."
Narendra tak mendengarkan.
Ia melangkah maju hendak menerobos masuk, tapi seorang petugas keamanan yang sigap langsung menghalangi jalannya. "Mohon maaf, Pak. Anda tidak bisa masuk saat prosedur sedang berlangsung."
"Minggir!" Narendra membentak, tapi kemarahan itu hanya menyembunyikan rasa takut yang mendalam.
Ia terpaksa berhenti, berdiri mematung di depan pintu ganda yang tertutup rapat, menatap pantulan dirinya sendiri di kaca pintu yang buram.
Di dalam sana, dunianya sedang berjuang untuk tetap bertahan.
Di dalam ruang tindakan yang terang benderang, suasana jauh lebih mencekam.
Alika terbaring pucat di atas ranjang medis.
Ruam kemerahan yang sempat ia tutup dengan makeup tebal kini tampak semakin nyata dan menyebar di sekitar area pipi dan hidungnya. Napasnya dibantu oleh masker oksigen yang terpasang menutupi sebagian wajahnya.
Tubuhnya yang ramping tampak begitu ringkih, tenggelam di balik selimut rumah sakit berwarna hijau pucat.
Dr. Raditya berdiri tepat di samping ranjang, memantau monitor elektrokardiogram (EKG) yang mengeluarkan bunyi bip-bip stabil, meski detak jantung Alika masih cukup cepat.
Di meja samping ranjang, tabung darah yang baru saja ia ambil di hotel beberapa hari lalu telah memberikan hasil awal yang mengejutkan.
Raditya memegang kertas hasil laboratorium dengan tangan gemetar.
Hasilnya positif.
Indikator penyakit autoimun itu sangat jelas, bahkan di tingkat yang sudah mulai menggerogoti organ vital.
Raditya menoleh ke arah Alika, menatap wanita itu dengan sorot mata penuh iba sekaligus marah.
Ia tahu persis apa yang menyebabkan Alika ambruk hari ini.
Bukan sekadar kelelahan bekerja, melainkan karena tubuhnya dipaksa bekerja di luar batas kemampuannya tanpa dukungan obat yang memadai.
Narendra, dengan segala obsesinya, telah menjadi agen utama kehancuran fisik Alika.
"Raditya..." suara bisikan lemah terdengar dari balik masker oksigen.
Raditya segera mendekat, meletakkan tangannya dengan lembut di atas lengan Alika—menghindari bagian yang baru saja ia ambil darahnya. "Aku di sini, Alika. Jangan banyak bicara dulu. Oksigenmu perlu dijaga."
"Narendra... dia di luar?" tanya Alika, matanya yang sayu mencari sosok yang ia takuti.
"Iya, dia di luar," jawab Raditya dingin.
Ia tak berusaha menyembunyikan kebenciannya terhadap pria di balik pintu sana. "Dia sedang menunggu. Tapi dengarkan aku, Alika. Aku sudah dapat hasil tes darahmu. Ini bukan saatnya lagi untuk bersembunyi. Narendra harus tahu, atau setidaknya, kamu harus dapat perawatan intensif yang layak. Kalau kamu terus bertahan dalam sandiwara ini, aku tak bisa jamin ginjalmu akan bertahan lebih dari sebulan ke depan."
Alika memejamkan mata, membiarkan setitik air mata mengalir di sudut matanya, membasahi masker oksigennya. "Dia tak akan percaya. Dia pikir aku berselingkuh. Dia pikir aku hanya manja dan cari perhatianmu. Kalau aku bilang sekarang... dia mungkin akan membuangku ke rumah sakit lain, dan aku akan benar-benar terputus darimu."
"Aku tak peduli dengan ego suamimu!" potong Raditya tegas, meski volumenya tetap tertahan.
"Nyawamu jauh lebih berharga daripada keutuhan rumah tanggamu yang beracun itu. Alika, lihat aku."
Alika membuka matanya, menatap pria yang selama ini menjadi satu-satunya pelindungnya.
"Aku akan buka suara saat dia masuk nanti. Aku tidak akan membiarkanmu terus tersiksa dalam kurungan yang ia buat sendiri," janji Raditya.
Tak lama setelah itu, Raditya melangkah menuju pintu ganda dan menariknya terbuka. Narendra, yang sejak tadi berdiri layaknya singa yang dikurung, langsung merangsek masuk, mengabaikan peringatan perawat.
Ia tak memedulikan siapa pun di ruangan itu selain sosok yang terbaring di ranjang.
Narendra mendekati ranjang, menatap Alika yang terlihat begitu tak berdaya.
Kemarahan yang tadi menguasai hatinya perlahan menguap, digantikan oleh rasa sesak yang aneh di dada. Pria itu meraih tangan Alika, tapi ia terhenti saat melihat luka kecil di lipatan siku istrinya—bekas jarum yang belum tertutup dengan baik.
Narendra menatap luka itu, lalu beralih menatap Raditya dengan sorot mata tajam dan menuntut penjelasan. "Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia pingsan? Dan luka di lengannya itu... apa yang sudah kau lakukan padanya?!"
Raditya tak mundur sedikit pun.
Ia justru melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Narendra, menatap pria itu dengan keberanian yang sama.
"Istrimu pingsan karena tubuhnya sudah menyerah, Narendra," ucap Raditya tenang, tapi setiap katanya terasa tajam seperti pisau bedah.
"Dia mengalami flare-up autoimun sistemik yang akut. Tubuhnya sedang diserang oleh antibodinya sendiri karena kamu sudah menghentikan aksesnya terhadap obat yang krusial bagi kelangsungan hidupnya."
Narendra tertawa sinis, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menutupi rasa cemasnya. "Autoimun? Lagi-lagi istilah medis yang kau buat sendiri? Cukup dengan kebohonganmu, Dokter. Aku sudah minta dr. Hendrawan lakukan tes darah minggu lalu dan hasilnya normal."
"Hasil tes darah rutin tak akan tunjukkan indikator penyakit autoimun spesifik seperti Systemic Lupus Erythematosus!" bentak Raditya, kini tak lagi peduli dengan etika rumah sakit.
Ia melempar hasil laboratorium yang ia pegang tepat ke dada Narendra. "Baca itu! Itu hasil tes ANA yang aku ambil diam-diam di hotel saat kamu sibuk bersandiwara dengan investor. Ini bukan tentang anemia, ini bukan tentang kurang makan, dan ini sama sekali bukan tentang perselingkuhan. Ini adalah tentang seorang wanita yang sedang mati perlahan karena suaminya sendiri menolak mempercayai fakta medis hanya demi memuaskan egonya yang paranoid!"
Narendra terpaku.
Tangannya yang memegang lembaran kertas itu sedikit gemetar.
Ia menatap deretan angka dan istilah medis di kertas tersebut. Meski ia bukan seorang dokter, ia bisa lihat deretan angka yang ditandai dengan tinta merah tebal sebagai abnormal.
"Dia... dia sakit?" gumam Narendra, suaranya nyaris tak terdengar.
Tatapannya beralih ke wajah Alika yang tampak begitu rapuh.
"Dia tidak hanya sakit, Narendra," suara Raditya merendah, tapi setiap katanya adalah pukulan telak bagi pria itu.
"Dia menderita. Dan setiap hari kamu memperlakukannya sebagai tawanan, setiap kali kamu sita obatnya, setiap kali kamu biarkan dia 'di bawah pengawasan' asistenmu, kamu sedang tarik pelatuk pistol yang diarahkan langsung ke jantungnya."
Narendra menatap Alika, lalu menatap kertas di tangannya.
Topeng penguasa yang selama ini ia kenakan perlahan retak, menampakkan kepanikan dan rasa bersalah yang selama ini ia tekan di balik obsesinya.
Ia melihat istrinya—satu-satunya orang yang sebenarnya mencintainya tanpa syarat—sedang berjuang untuk bernapas, sementara ia sendiri yang jadi penyebab utama penderitaan itu.
"Alika..." panggil Narendra pelan, mencoba menyentuh pipi istrinya, tapi Alika memalingkan wajah, sebuah penolakan halus yang lebih menyakitkan daripada tamparan.
Di tengah ruangan yang steril itu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Narendra Pradipta merasakan sesuatu yang belum pernah ia alami: ketidakberdayaan.
Ia sadar bahwa kekuasaan, uang, dan pengaruh bisnisnya sama sekali tak berguna di sini. Ia tak bisa menyuap penyakit ini untuk pergi, dan ia tak bisa mengancam maut agar menjauh.
"Dokter," suara Narendra memecah keheningan, nadanya kali ini berbeda—lebih rendah, dan ada nada gemetar di sana. "Apa yang harus dilakukan? Katakan padaku apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkannya."
Raditya menatap pria itu dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah singkirkan ego pribadimu. Biarkan aku menanganinya secara medis tanpa campur tangan, tanpa pengawasan, dan tanpa ancamanmu. Kalau kamu masih ingin dia hidup, Narendra, kamu harus berhenti jadi sipir penjaranya."
Narendra terdiam.
Ia menunduk, memegang tangan Alika yang dingin dengan sangat erat, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, istrinya akan lenyap ditelan kegelapan.
Di dalam ruang IGD itu, sang tiran akhirnya harus bertekuk lutut di hadapan kenyataan yang tak terelakkan: bahwa cintanya yang ia bungkus dengan obsesi telah menghancurkan satu-satunya hal berharga yang ia miliki.
Dan kini, ia harus berjuang untuk dapat pengampunan, sementara nyawa Alika berada di ujung tanduk.
Sebuah sandiwara besar telah berakhir malam ini, dan yang tersisa hanyalah puing-puing dari pernikahan yang dulunya indah, tapi kini terkubur dalam rasa sakit dan penyesalan yang mungkin sudah terlambat untuk diperbaiki.