Arya Mahendra, seorang Kaisar Immortal dari Alam Semesta Atas, dikhianati saat melewati Kesengsaraan Surgaw. Alih-alih mati, jiwanya terlempar kembali ke masa lalu, masuk ke dalam tubuhnya sendiri saat ia masih menjadi mahasiswa miskin berusia 19 tahun di Bumi yang sering ditindas dan kehilangan keluarganya karena konspirasi konglomerat lokal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerapuhan Harta Fana, Menuju Paviliun Baicao
Cahaya matahari pagi menembus jendela apartemen, menyinari debu-debu yang menari di udara.
Arya perlahan membuka matanya. Segera setelah siklus kultivasinya selesai, terdengar tiga suara retakan ringan dari sudut ruangan. Tiga keping Batu Giok Darah yang menjadi mata Array Pengumpul Roh kini dipenuhi jaring retakan halus sebelum akhirnya hancur menjadi serbuk abu kelabu.
"Energi spiritual di dalam giok fana ini terlalu sedikit dan tidak murni," keluh Arya sambil menggelengkan kepala. "Hanya mampu bertahan semalaman untuk membantuku menembus Ranah Kondensasi Qi Lapis Kedua."
Untuk terus melangkah di jalur kultivasi, sumber daya adalah fondasi mutlak. Di kehidupan sebelumnya, sebagai Kaisar Immortal Lin Tian, puluhan ribu sekte rela menumpahkan darah hanya untuk mempersembahkan urat nadi naga spiritual ke hadapannya. Kini, di bumi yang miskin energi ini, ia harus mengumpulkan kembali kekayaannya dari titik nol.
Arya bangkit berdiri. Ia mengambil sebuah botol kaca kecil dari saku jaketnya. Di dalamnya, tersisa tiga tetes Cairan Pembersih Sumsum berwarna hijau zamrud jernih yang ia racik dari Akar Pohon Roh Kayu Purba tempo hari.
"Tiga tetes ini tidak lagi berguna untuk tubuhku yang sudah melewati pencucian sumsum. Tapi di mata manusia fana, cairan yang mengandung esensi kehidupan murni ini adalah obat dewa yang bisa menghidupkan orang mati dan memperpanjang umur," gumam Arya, tatapannya menyipit. "Ini sudah lebih dari cukup untuk menjadi modal awalku."
Setelah memastikan Maya telah sarapan dan kembali beristirahat di dalam perlindungan formasi dasar apartemen, Arya melangkah keluar. Tujuannya hari ini jelas: Paviliun Baicao.
Terletak di jantung distrik bisnis kota, Paviliun Baicao bukanlah apotek tradisional biasa. Tempat ini adalah pusat perdagangan bahan obat langka, lelang barang antik, dan titik kumpul para elit konglomerat serta praktisi bela diri dari seluruh penjuru provinsi. Bangunan berlantai lima itu bergaya arsitektur oriental klasik, berdiri megah diapit oleh gedung-gedung pencakar langit modern, memancarkan aura kemewahan yang menekan siapa pun yang berlalu lalang.
Arya melangkah melewati pintu kaca otomatis paviliun tersebut. Aroma harum dari ribuan jenis tanaman herbal menyapu indra penciumannya. Di dalam, lantai marmer Italia mengkilap memantulkan cahaya lampu kristal. Orang-orang yang berlalu lalang di lantai pertama semuanya mengenakan setelan jas buatan desainer ternama atau gaun sutra mahal.
Pakaian Arya yang terdiri dari kaus katun pudar, jaket usang, dan sepatu kets tipis membuatnya terlihat seperti noda lumpur di atas hamparan kain sutra putih.
Ia berjalan tenang menuju meja resepsionis panjang yang terbuat dari kayu mahoni. Seorang wanita muda yang mengenakan seragam kerja ketat dan riasan tebal menatapnya dari atas ke bawah. Senyum profesional yang tadinya terpasang di wajah wanita itu langsung luntur, digantikan oleh tatapan jijik.
"Maaf, Saudara. Tempat ini bukan apotek umum. Jika Anda ingin membeli obat flu atau vitamin biasa, ada klinik kecil di seberang jalan," ucap resepsionis itu dengan nada dingin yang mengusir.
Arya tidak terpengaruh sedikit pun oleh sikap merendahkan tersebut. Di matanya, kesombongan manusia fana tidak lebih dari gonggongan anjing liar di pinggir jalan.
"Aku tidak datang untuk membeli obat," jawab Arya datar. "Aku datang untuk melelang obat. Panggilkan penilai tertinggi atau manajer yang bertanggung jawab di tempat ini."
Resepsionis itu mendengus sinis, nyaris tertawa terbahak-bahak. "Melelang obat? Anak muda, apakah kau tahu tempat apa ini? Paviliun Baicao hanya menerima pelelangan herbal berusia minimal seratus tahun atau resep kuno bernilai miliaran rupiah. Jangan membuat onar di sini. Penjaga!"
Mendengar panggilan itu, dua orang penjaga keamanan bertubuh kekar segera melangkah mendekat dari sudut ruangan. Mereka memandang Arya dengan tatapan mengancam, siap menyeret pemuda lusuh itu keluar.
Namun, sebelum tangan penjaga itu menyentuh bahu Arya, Arya dengan santai membuka tutup botol kaca kecil di tangannya.
Wusss!
Dalam sepersekian detik, aroma wangi yang sangat murni dan menyegarkan jiwa meledak dari mulut botol, menyebar ke seluruh penjuru lantai pertama Paviliun Baicao. Siapa pun yang menghirup aroma itu seketika merasa pikiran mereka jernih, kelelahan fisik mereka menguap, dan pori-pori tubuh mereka seolah bernapas dengan sendirinya.
"Hentikan!!"
Sebuah teriakan tua namun dipenuhi tenaga dalam yang kuat tiba-tiba menggema dari arah tangga lantai dua.
Seorang pria tua berusia tujuh puluhan, mengenakan jubah sutra tradisional bermotif bangau, bergegas menuruni tangga dengan langkah tergesa-gesa. Matanya yang biasanya tenang kini terbelalak lebar, mengunci pandangannya tepat ke botol kaca kecil di tangan Arya.
"T-Tuan Master Penilai Qin!" Resepsionis dan kedua penjaga itu seketika menunduk hormat dengan tubuh gemetar. Pria tua ini adalah Qin Mufeng, Master Alkemis fana paling dihormati di seluruh provinsi, yang bahkan walikota pun harus membuat janji sebulan sebelumnya hanya untuk bertatap muka.
Master Qin sama sekali tidak mempedulikan stafnya. Ia berlari kecil menghampiri Arya, hidungnya kembang kempis menghirup sisa aroma di udara dengan ekspresi seperti orang yang sedang mabuk kepayang.
"A-Aroma esensi kehidupan murni... Ini... ini bukanlah racikan fana!" Master Qin menatap Arya dengan tangan gemetar, seluruh kesombongannya sebagai ahli top provinsi menguap tak bersisa. Ia membungkuk sembilan puluh derajat di hadapan pemuda berpakaian lusuh tersebut.
"Tuan... mohon maafkan mata staf kami yang buta. Bisakah orang tua ini mendapatkan kehormatan untuk mengundang Anda ke ruang VIP di lantai atas?"