NovelToon NovelToon
CINTA YANG TAK SEPADAN

CINTA YANG TAK SEPADAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.

Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEKHAWATIRAN SEORANG SAHABAT

​Malam semakin larut ketika Hana akhirnya tiba di rumah. Ketegangan yang sempat tertahan di ruang tamu kini berpindah sepenuhnya ke dalam kamar utama, setelah ia mengetahui kejutan pahit yang menanti di rumahnya.

Pintu kamar tertutup rapat, meredam perdebatan sengit yang meletus di antara pasangan suami istri itu.

​"Jadi kamu mempertemukan Naya dengan Tian, Mas?!" cecar Hana dengan suara tertahan, menatap suaminya dengan pandangan menuntut penjelasan.

​Reno mengusap wajahnya yang tampak lelah, berusaha meredakan kepanikan istrinya. "Lagipula kamu gak bilang kalau ada Naya ke rumah, Han. Kalau dari awal kamu ngabari, aku bisa bawa Tian buat diskusi bisnis di tempat lain. Ke resto, misalnya. Gak harus ke rumah."

​Hana mendengus ketat, melipat kedua tangannya di bawah dada dengan napas yang memburu. "Naya itu baru pulih dari rasa sakitnya karena Tian menikah, Mas! Kamu tahu kan seberapa hancurnya dia waktu itu? Dan sekarang kamu malah bawa sumber lukanya ke depan muka dia?"

​"Iya, aku tahu itu. Aku tahu, Sayang," potong Reno, nadanya melembut namun tetap berusaha membela diri. "Tapi yang aku kecewakan, kamu sama sekali gak bilang kalau ada Naya ke rumah. Masa iya Naya sendiri yang harus menghubungi aku?"

​Mendengar kalimat terakhir Reno, mata Hana langsung menyergap tajam. Sorot matanya menuntut, memancarkan kilatan cemburu yang mendadak tersulut. "Maksud kamu apa? Kamu berharap Naya menghubungi kamu secara pribadi, gitu?"

"Eh, bukan gitu! Iya gak mungkin, kan? tergagap Reno. "Maksud aku, kalau kamu yang kasih tahu aku, kan semuanya bisa diantisipasi."

​Hana seketika membisu. Lidahnya mendadak kelu karena ia tahu, dalam kekacauan ini, ego mereka sama-sama keras. Entah siapa yang sebenarnya salah. Ini adalah kesalahan dari miskomunikasi yang konyol. Salah Hana karena terburu-buru dan panik tadi siang, hingga tak sempat menghubungi Reno bahwa Naya sengaja ia minta datang ke rumah untuk menjaga Kikan. Namun di sisi lain, ia mana tahu kalau Tian akan datang ke rumah, karena Reno pun sama sekali tidak menghubungi atau memberi tahu dirinya tentang rencana diskusi bisnis itu.

​Hana mengembuskan napasnya berat, mencoba mengesampingkan kekesalannya demi sang sahabat. "Aku antar Naya pulang dulu. Kasihan dia kalau harus pulang naik taksi sendirian jam segini."

​"Kalau... Tian yang antar Naya pulang, gimana?" celetuk Reno hati-hati.

​"Mas!" dengus Hana, matanya kembali melotot tajam, tidak percaya dengan ide gila suaminya.

​"Ya—ya, maaf, maaf! Maksud aku bukan gitu, Sayang," sergah Reno buru-buru meralat ucapannya sebelum Hana benar-benar meledak. Ia melangkah mendekat, menggenggam lembut kedua bahu istrinya. "Maksud aku, kalau kamu yang antar Naya pulang sekarang, terus kamu mengendarai mobil sendirian malam-malam pulangnya, itu lebih bahaya, Sayang. Aku gak mau kamu kenapa-napa di jalan. Aku khawatir."

​Hana kembali membisu. Amarahnya perlahan menyusut, digantikan oleh rasa bimbang yang luar biasa. Ucapan Reno memang ada benarnya, suaminya hanya mencemaskan keselamatannya jika harus menyetir sendiri di tengah malam, mengingat jarak rumah Naya pun cukup jauh dari rumahnya.

​Tapi... bagaimana dengan Naya?

​Pikiran Hana langsung melayang keluar kamar. Sahabatnya itu saat ini masih berada di ruang tamu bawah. Dan sialnya, Naya ditinggal berdua saja dengan Tian. Hana meremas jemarinya sendiri dengan cemas, dadanya bergemuruh oleh rasa bersalah sekaligus penasaran.

​Sedang apa mereka berdua di bawah sekarang? Apa yang mereka bicarakan setelah tiga tahun saling asing? batin Hana cemas, membayangkan kecanggungan ekstrem—atau bahkan luka lama yang mungkin saja sedang dikoyak kembali di ruang tamu sana.

​"Gimana? Apa kamu setuju kalau pada akhirnya Tian yang mau antar Naya nanti?" tanya Reno sekali lagi, mencoba mencari jalan tengah.

​"Enggak!" Geleng Hana cepat, sama sekali tidak setuju dengan ide gila suaminya itu. "Naya pasti sedih banget kalau ngelihat cowok idamannya dulu udah nikah, terus sekarang dipertemukan lagi dan sialnya harus membawa luka itu pulang sendirian."

​"Ya kalau aku yang antar Naya pulang, da—daripada aku yang bawa luka itu pulang buat kamu?" celetuk Reno lagi, mencoba melucu meski suaranya agak terbata-bata karena takut.

​Hana melotot lagi. Kali ini, tangannya bergerak cepat menjewer gemas telinga suaminya hingga memerah.

​"Au! Sakit, Sayang, sakit!" ringis Reno sambil berusaha melepaskan diri dari jepitan jemari istrinya.

​"Kamu bisa gak sih, mikir panjang?! Kamu ngarep sama Naya?!" ketus Hana dengan volume suara yang ditekan serendah mungkin agar tidak terdengar sampai ke luar kamar.

​"Ih, kamu bicara apa sih?! Gak mungkin lah!" sergah Reno buru-buru setelah jeweran Hana mengendur. Ia mengusap telinganya yang terasa panas dan merah sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih serius. "Ya gini aja, risikonya. Kalau kamu khawatir sama Naya... terus kamu sendiri yang antar dia pulang, aku takut terjadi apa-apa sama kamu di jalan pada jam malam. Apalagi kalau aku yang antar Naya pulang, pasti akan timbul fitnah dan curiga di antara kita, kan? Gak enak juga dilihat tetangga."

​Reno menarik napas, lalu mencerocos panjang lebar membeberkan logikanya. "Tapi kalau Tian yang mau beri tumpangan Naya pulang, risikonya jauh lebih ringan buat kita. Pertama, rumah mereka mungkin searah, jadi sekalian Tian jalan pulang. Kedua, Naya aman dan selamat sampai rumah karena ada yang jaga. Ketiga, kalaupun Tian pulang tanpa sepengetahuan istrinya, terus nanti istrinya curiga, Tian pasti tinggal bilang kalau Naya itu teman SMA-nya dan gak punya hubungan apa-apa lagi. Itu udah jadi urusan rumah tangga mereka, bukan urusan kita lagi. Selesai, kan?"

​Hana terdiam. Matanya menatap hamparan karpet di bawahnya dengan pandangan kosong. Fisik Naya memang selamat dan aman sampai rumah, Mas. Tapi batinnya? Naya pasti bakal menangis semalaman di kamarnya setelah ini, batin Hana nelangsa, sangat memahami selembut dan serapuh apa hati sahabatnya itu.

​"Gimana?" desak Reno, membuyarkan lamunan Hana.

​Hana mengembuskan napas pasrah. "Ya... ya udah. Lagipula kita udah cukup lama di dalam kamar. Gak sopan ninggalin tamu lama-lama."

​"Nah, bener. Kalau dibilang mereka harus berdua di mobil, toh di bawah sekarang mereka aja udah berduaan dari tadi," tambah Reno lagi, mencoba meyakinkan.

​Hana menggeleng pelan, mencoba mengusir segala kekhawatiran yang berkecamuk di kepalanya. "Ya udahlah, yang penting kita keluar dulu sekarang. Urusan itu... biar takdir selanjutnya yang atur."

Reno sempat menahan lengan Hana. "Kamu yakin, Sayang?" bisiknya dengan nada yang masih menyiratkan keraguan, memastikan sekali lagi sebelum mereka benar-benar melangkah turun.

​Hana menoleh, menatap jemari Reno di lengannya, lalu beralih menatap lurus ke arah tangga. Ia menghela napas panjang, mencoba menguatkan hatinya sendiri demi Naya.

​"Nggak ada pilihan lain, Mas. Mau siap atau nggak, kita gak bisa sembunyi di kamar terus," jawab Hana lirih. Ia melepaskan tangan Reno perlahan, lalu menggenggamnya ganti untuk saling menguatkan. "Ayo turun. Aku cuma berharap Naya baik-baik saja di bawah."

****

1
Rahmi Mamimima
Typo ini.. Harusnya aku yg pduli sm kamu
Rahmi Mamimima
Kasian, naya udah g punya sahabat baik lagi

Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Rahmi Mamimima
Wadduuhh gimana si kecil? Apa dy ikut dlm kcelakaan itu?
Rahmi Mamimima
Ah masa iya stlh obrolan itu tdk ad obrolan lgi ntara nya dan zaki
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri
Rahmi Mamimima
🤣🤣🤣😄Org lagi jatuh cinta kok malah mau d bw k psikiater
Rahmi Mamimima
Jatuh cinta beneran si naya sm muridnya
Rahmi Mamimima
Ibunya sdh mninggl? Apa krna anaknya g jdi mnikah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!