Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.
Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.
Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAK SEBERUNTUNG HANA
Dentang bel istirahat yang nyaring seolah menjadi aba-aba bagi seluruh siswa untuk berhamburan keluar kelas. Suasana yang tadinya senyap mendadak berubah menjadi riuh oleh langkah kaki dan celoteh yang bersahutan. Hana, yang sejak tadi sudah tak sabar, langsung menyambar lengan Naya.
"Yuk, Nay! Keburu penuh kalau kita nggak cepat-cepat," seru Hana antusias, menarik Naya menyusuri koridor menuju kantin yang sudah tampak padat.
Sesampainya di sana, kantin sekolah sudah seperti lautan manusia. Mereka harus berdesakan di antara siswa-siswa yang berebut mencari tempat duduk dan memesan makanan. Tepat saat mereka berjuang mencari ruang, seorang pria berperawakan tegap mendekat dengan napas sedikit terengah.
"Maaf ya, telat," ujar Reno sambil tersenyum canggung.
Hana langsung memicingkan mata, bibirnya mengerucut dengan ekspresi protes yang manja. "Lihat tuh, kantin penuh semua! Kenapa telat sih datangnya? Aku kan udah bilang, setelah bel istirahat maksimal dua menit, kamu harusnya sudah standby di sini buat pesenin kita makanan!"
Reno menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menatap Hana dengan tatapan memelas penuh penyesalan. "Iya, maaf banget ya, sayang. Tadi ada urusan mendadak sama guru di ruang tata usaha."
Naya yang berdiri di samping Hana hanya diam, membiarkan dinamika hubungan sahabatnya itu berlalu di depan mata. Namun, pikirannya tidak benar-benar berada di sana. Matanya justru sibuk memindai setiap sudut kantin, seolah secara tidak sadar sedang mencari seseorang.
Seseorang yang beberapa hari ini selalu berhasil mengusik ketenangannya.
"Ya udah," Hana menghela napas, lalu menunjuk ke arah sudut kantin yang sedikit lebih tenang. "Aku tunggu kamu di sana. Jangan lama-lama!"
Tanpa menunggu balasan, Hana kembali menarik lengan Naya menuju meja yang ia maksud. Naya hanya mengangguk pelan, mengikuti langkah sahabatnya dengan patuh. Meski bibirnya terkatup rapat, pandangannya terus berkelana, menyapu deretan meja dan kerumunan siswa, berharap sosok Tian tiba-tiba muncul di antara kebisingan itu.
"Nyebelin banget sih, Reno!" gumam Hana sambil melipat kedua lengannya di bawah dada. Wajahnya yang cantik merengut kesal, napasnya sedikit memburu karena harus berjuang mendapatkan kursi di sudut kantin yang strategis ini. "Sudah tahu aku paling benci nunggu, malah pakai acara telat segala."
Naya hanya tersenyum tipis—senyum yang lebih mirip kelelahan daripada hiburan. Ia lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras, mencoba mengatur napas di tengah aroma masakan kantin yang bercampur dengan bau keringat siswa yang baru saja berolahraga.
"Sabar, Han. Namanya juga urusan mendadak," ujar Naya mencoba menengahi, meski pikirannya masih berkelana jauh dari topik Reno. "Lagipula... kamu itu beruntung lho, Han. Di antara cowok yang bisanya mainin perasaan ceweknya, Reno itu tipikal cowok baik, setia dan perhatian tau. Sayang banget kalau kamu menyia-nyiakan kebaikan dia."
Hana mendesis menatap Naya lekat. "Nay, aku juga manusia. Wajar kalau aku punya sisi marah... kesal, kecewa," tegas Hana, masih dengan sorot mata yang menuntut pengertian.
Naya hanya menarik senyum tipis, sebuah tarikan bibir yang lebih menyerupai helaan napas yang disembunyikan. Di balik kelembutan wajahnya, sebuah ironi tiba-tiba menghantam batinnya. Ia menatap Hana dengan perasaan yang bergejolak.
Bagaimana bisa seseorang dengan begitu mudahnya menuntut kesempurnaan dari kekasih yang sudah jelas mencintainya, sementara ia sendiri harus berjuang keras hanya untuk memiliki seseorang untuk diajak berbagi ruang?
Naya kembali membisu. Baginya, konsep 'pacaran' hanyalah sebuah literatur yang ia baca dari novel-novel romansa yang sering ia susun. Ia sendiri hanyalah seorang gadis yang berteman akrab dengan sepi. Ia tidak pernah benar-benar mencicipi bagaimana rasanya memiliki seseorang yang bisa ia panggil 'milikku', bagaimana rasanya mendebarkan saat menunggu kabar, atau bagaimana manis-pahitnya konflik asmara.
Satu-satunya yang ia tahu adalah mengagumi. Sama seperti saat ia menatap Tian di kejauhan.
Ya. Sosok itu kini melintas di depan kantin, tertawa lepas bersama teman-temannya, seolah harapan Naya padanya hanyalah debu yang tertiup angin.
Kalau saja aku punya pacar, batin Naya sembari menatap sendok di tangannya, aku tidak akan pernah membiarkan diriku marah, apalagi menuntut.
Bagi Naya, memiliki seseorang adalah sebuah keberuntungan yang terlalu mahal harganya. Jika ia diberi kesempatan untuk memilikinya, ia bersumpah dalam hati untuk menerima pasangan itu apa adanya, dengan segala kekurangan dan cacatnya. Tidak ada ruang untuk kecewa, karena baginya, keberadaan seseorang di sisinya sudah jauh lebih berharga daripada ego yang harus dipenuhi.
Aku tidak akan pernah marah, janjinya pada diri sendiri, meskipun ia tahu pasangannya nanti mungkin saja menyakiti atau mengecewakannya. Karena memiliki seseorang yang mau menatapku saja, sudah cukup untuk membuatku merasa utuh.
"Ini diaaa!"
Seru Reno mengejutkan, sambil membawa nampan berisi tiga mangkuk mie bakso yang mengepul panas dan tiga gelas es teh manis. Dengan cekatan, ia meletakkan nampan itu di atas meja kayu yang sempit, lalu duduk tepat di sebelah Hana.
"Pakai sambal?" tanya Reno lembut pada Hana, tangannya sudah memegang botol saus sambal dengan posisi siap tuang.
"Pakai dong, yang banyak!" sahut Hana manja, menyodorkan mangkuknya tanpa ragu sedikit pun.
Reno pun dengan telaten menuangkan sambal ke dalam mangkuk Hana, memastikan takarannya pas sesuai keinginan gadis itu. Naya yang sedari tadi memperhatikan hanya bisa terdiam. Ia mengamati bagaimana Hana, sosok yang dikenal dewasa dan tegas, bisa berubah menjadi begitu manja hanya karena kehadiran kekasihnya.
Hana memang dewasa, tapi dia bisa menjadi sangat manja jika sudah bersama Reno, batin Naya.
Sebuah pemikiran melintas di kepalanya, terasa kontras dengan apa yang tersaji di depan matanya. Kalau aku punya pasangan nanti... selagi aku bisa melakukan semuanya sendiri, aku tidak ingin merepotkan dia. Aku ingin menjadi sosok yang bisa diandalkan, bukan justru menjadi beban.
Naya merasa ada dinding yang ia bangun terlalu tinggi di dalam dirinya. Baginya, kemandirian adalah pelindung, sementara kerentanan yang ditunjukkan Hana adalah kemewahan yang belum tentu bisa ia miliki atau mungkin, belum tentu berani ia tunjukkan.
"Nay, ayo dimakan, nanti keburu dingin!" suara Reno mengejutkan Naya dari lamunannya. lelaki itu menatap Naya dengan senyum ramah yang tulus.
Naya tersentak kecil, lalu buru-buru menyembunyikan keterpakuannya di balik senyum tipis. "Iya, terima kasih ya, Reno. Maaf jadi merepotkan kamu."
"Nggak ngerepotin sama sekali, Nay. Santai aja," balas Reno ringan sebelum mulai menikmati makanannya bersama Hana.
Naya mulai mengambil sendok dan mengaduk kuah baksonya dengan pelan. Di tengah kebisingan kantin, ia merasa menjadi pengamat sunyi yang sedang belajar satu hal baru tentang arti mencintai, bahwa mungkin, menjadi mandiri itu baik, namun membiarkan diri dicintai bahkan dengan sedikit merepotkan adalah bagian dari kerelaan yang belum sepenuhnya ia pahami.
****
Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri