"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13
"Kamu ini benar-benar tidak takut pada saya ya, Callanta?"
Suara Alaric terdengar sangat rendah, bergetar di dalam rongga dadanya yang bidang. Tangan besarnya masih menggenggam erat pergelangan tangan mungil Calla di atas kasur, menahannya agar tidak makin liar meraba rahang tegasnya. Napas Alaric berembus satu-satu, terasa hangat di kening Calla.
Calla yang posisinya masih rebahan dengan kepala di atas paha Alaric justru malah tersenyum makin lebar. Kaus loreng kedodoran yang dipakainya sedikit bergeser, memperlihatkan tulang selangkanya yang putih bersih.
"Takut? Kenapa Ismut harus takut sama suami sendiri?" Calla mengedipkan matanya dengan santai, sama sekali tidak terintimidasi oleh tatapan elang Alaric yang pekat akan hasrat terpendam. "Paksu kan Komandan Pasukan Khusus, tugasnya melindungi negara dan melindungi Ismut. Masa Ismut harus takut sama pelindungnya sendiri?"
Alaric perlahan melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Calla, lalu memijat pangkal hidungnya yang mendadak berdenyut. "Saya ini pria dewasa, Calla. Tiga puluh delapan tahun. Dan kamu... kamu terlalu berani memancing macan yang sedang menahan diri di kandangnya."
"Meonggg~" Calla malah menirukan suara kucing sambil mengangkat kedua tangannya ke udara, cengengesan tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Macannya kaku begini kok, paling cuma bisa berdehem sama mukanya berubah merah kayak kepiting rebus."
Alaric menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya yang sudah berserakan di lantai kamar. Ia menggeser tubuhnya sedikit mundur, memaksa Calla untuk menegakkan posisi duduknya di atas kasur.
"Duduk yang benar. Saya mau bicara serius," ujar Alaric, suaranya kembali ke mode formal walau warna merah di telinganya belum pudar sepenuhnya.
"Ih, hobi banget sih minta duduk benar. Ini kasur, Paksu, bukan lapangan apel," gerutu Calla, namun ia tetap menurut dan duduk bersila di depan Alaric, merapikan kaus lorengnya yang kebesaran. "Mau bicara serius apa lagi? Jangan bilang mau nagih denda karena Ismut nakal?"
"Bukan," Alaric menatap Calla lurus-lurus, sorot matanya melembut, menyiratkan rasa tanggung jawab yang besar. "Besok pagi, jadwal pengarahan Persit pertamamu sudah keluar. Ibu Wakil Komandan yang akan menjemputmu ke rumah dinas ini jam delapan tepat."
Calla langsung melotot, memegang kedua pipinya dengan dramatis. "Hah?! Besok pagi banget, Paksu?! Jam delapan?! Itu kan jam-jamnya Ismut baru selesai dengerin burung berkicau sambil nunggu tukang bubur lewat!"
"Di pangkalan tidak ada tukang bubur lewat depan rumah, Calla. Logistik kita sudah diatur," kata Alaric sabar, menahan tawa melihat ekspresi syok istrinya. "Kamu harus bersiap sejak jam tujuh. Ingat, pakaian harus rapi. Gunakan baju yang dibelikan Mama kemarin, jangan daster, jangan kaus loreng saya ini."
"Yah... padahal kaus loreng ini anget banget, bau Paksu-nya nempel," Calla cemberut, menarik kerah kausnya ke atas hidung lalu menghirupnya dalam-dalam. "Terus nanti di sana Ismut harus ngapain? Harus ikut baris-berbaris juga? Atau disuruh hormat ke bendera tiga jam?"
Alaric menggelengkan kepalanya perlahan, tangannya bergerak mengacak puncak kepala Calla dengan gemas—sebuah tindakan spontan yang membuat Calla sempat tertegun. "Tidak. Kamu hanya perlu berkenalan dengan pengurus inti, mendengarkan arahan tentang organisasi, dan menandatangani beberapa buku anggota. Anggap saja seperti perkenalan di kampus baru."
"K Kampusnya isinya ibu-ibu galak nggak?" tanya Calla dengan nada yang mendadak ciut, mode cegil-nya sejenak tenggelam oleh rasa cemas.
"Mereka tidak galak. Tapi mereka disiplin," Alaric memajukan duduknya, meraih kedua tangan Calla lalu menggenggamnya hangat. "Kamu tidak perlu takut. Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, atau kalau ada yang bicaranya terlalu keras kepadamu, langsung beri tahu saya setelah rapat selesai. Paham?"
Calla menatap tautan tangan mereka, lalu mendongak menatap wajah Alaric yang kini memancarkan aura pelindung sejati. Rasa hangat dan aman kembali menjalar di dadanya, membuat matanya agak berkaca-kaca. "Paksu beneran bakal belain Ismut kalau Ismut diomelin ibu-ibu Persit?"
"Tentu saja. Kamu istri saya, tanggung jawab saya sepenuhnya," jawab Alaric tegas tanpa ragu sedikit pun.
Calla langsung menghambur maju, memeluk leher tegap Alaric dengan erat hingga pria itu hampir terjungkal ke belakang. "Hwaaa! Paksu ganteng banget kalau lagi mode pahlawan begini! Makin sayang deh Ismut!"
Alaric tertegun dengan pelukan tiba-tiba itu, namun sedetik kemudian kedua lengan kekarnya melingkar di pinggang mungil Calla, mendekapnya erat, membiarkan wangi apel dari rambut Calla menenangkan gejolak di dadanya. "Sudah, jangan mulai lagi drama nangisnya. Sekarang, lepaskan pelukannya, kamu harus tidur biar besok tidak terlambat."
"Enggak mau lepas!" Calla justru makin mempererat pelukannya, menduselkan wajahnya di leher Alaric. "Malam ini kita tidur begini aja ya, Paksu? Duduk sambil pelukan sampai pagi."
"Calla, mana ada orang tidur sambil duduk," Alaric mendengus geli, perlahan merebahkan tubuhnya ke kasur sambil tetap membawa Calla di dalam dekapannya.
Begitu tubuh mereka horizontal di atas ranjang, Calla langsung dengan lihai menaikkan kaki kanannya ke atas paha Alaric, kembali mengambil posisi "memenjarakan" suaminya seperti malam sebelumnya.
Alaric menarik napas pasrah saat merasakan kehangatan tubuh Calla yang menempel sempurna padanya. "Kaki kamu, Calla... mulai lagi."
"Biarin, ini kunci pengaman biar Paksu nggak kabur ke sofa," bisik Calla pelan, matanya mulai terasa berat karena kantuk yang menyerang setelah lelah bercanda seharian. "Selamat tidur, Komandan kaku kesayangan Ismut..."
Alaric menatap pucuk kepala Calla yang sudah tenang di dadanya. Ia mengecup rambut istrinya dengan lembut, lalu ikut memejamkan mata. "Selamat tidur, Ismut... Istri ajaib saya."
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨