Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.
Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.
Hingga hadir Alana Kirana Putri.
Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.
Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:
perasaan.
Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konsekuensi Solidaritas
Jika di tempat lain senyum tipis yang langka baru saja terbit di wajah Axel, Alana justru merasa dunianya runtuh tepat di depan pintu kelas.
Tatapan mata Arsen yang menghujam lurus ke arahnya dari ambang pintu membuat semua untaian alasan yang sempat ia susun langsung buyar begitu saja tanpa sisa.
Alana membeku di tempatnya.
Di sebelahnya, Naira ikut menundukkan kepala dalam-dalam, sementara Damar mencoba berdiri dengan wajah setenang mungkin meski rahangnya terlihat sedikit mengeras.
Suasana di dalam ruang kelas mendadak sunyi senyap. Dari celah pintu yang terbuka, puluhan mahasiswa yang sudah duduk rapi di bangku kuliah langsung menoleh serentak ke arah mereka bertiga. Sialnya, kelas pagi itu adalah kelas yang sedang diisi oleh Arsen.
Pria tegap itu berdiri kokoh menghalangi jalan masuk, tangan kanannya memegang sebuah spidol hitam, sementara kemeja gelap yang dikenakannya terlihat sangat rapi tanpa lipatan sedikit pun. Tatapan dinginnya berpindah dari Alana ke Naira, lalu berhenti tepat pada Damar.
“Kalian terlambat.”
Kalimat sederhana itu terdengar jauh lebih mengerikan daripada sebuah bentakan. Alana menelan ludahnya dengan susah payah, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya.
“Maaf, Pak.”
Arsen tidak langsung merespons. Ia melirik jam tangan perak di pergelangan tangan kirinya dengan gerakan lambat.
“Tujuh belas menit.”
Tidak ada nada marah dalam intonasi suaranya. Namun justru karena terlampau tenang, atmosfer di koridor itu rasanya semakin menekan dada.
“Keterangan?”
Alana membuka mulutnya, hendak mengutarakan alasan, lalu menutupnya lagi.
Entah kenapa, semua untaian kalimat pembelaan yang tadi terasa sangat masuk akal di kepalanya mendadak terdengar bodoh dan konyol jika diucapkan di depan pria ini.
Sebelum Alana sempat bersuara, Damar lebih dulu angkat bicara dengan tenang.
“Kami datang bersama, Pak.”
Arsen mengalihkan sorot matanya yang tajam kepada Damar. “Dan?”
Damar menarik napas pelan sebelum melanjutkan. “Sebenarnya saya dan Naira sudah sampai lebih dulu di kampus. Tapi Alana mengalami kendala di jalan, jadi kami memilih untuk menunggunya.”
Alana langsung menoleh ke samping dengan mata membesar. Ia hampir saja melayangkan protes karena kenyataannya kedua sahabatnya itu tidak perlu melakukan hal sekonyol ini.
Mereka bisa saja masuk kelas lebih dulu dan aman dari amukan dosen killer. Namun, mereka justru memilih untuk tinggal dan menemaninya menghadapi konsekuensi.
Detik itu juga, sudut hati Alana terasa hangat oleh rasa haru, sekaligus dilingkupi rasa bersalah yang teramat sangat. Naira yang menyadari situasi langsung mengangguk cepat, menyetujui ucapan Damar.
“Iya, Pak. Kami menunggu Alana.”
Arsen memperhatikan interaksi ketiga mahasiswanya itu selama beberapa detik tanpa ekspresi.
Namun, binar matanya menunjukkan bahwa ia sedang menilai sesuatu di balik kepatuhan mereka.
“Saya mengerti.”
Mendengar dua kata itu, tidak ada satu pun dari mereka yang berani bernapas lega. Arsen pasti tidak mungkin meloloskan mereka masuk begitu saja.
Dan benar saja, dugaan mereka tidak meleset. “Jadi kalian sengaja memilih untuk terlambat.”
Wajah Naira langsung diliputi kepanikan. “Bukan begitu maksudnya, Pak.”
“Namun, hasil akhirnya tetap sama saja di mata saya.” Suasana kembali dilingkupi keheningan yang kaku.
Arsen mengetuk spidol di tangannya ke daun pintu sekali. “Karena kalian tampaknya sangat menghargai arti solidaritas, saya harap kalian juga sudah siap menerima konsekuensi dari solidaritas tersebut.”
Firasat buruk langsung menyambar kepala Alana. Pria itu sedikit bergeser, membuka map hitam yang berada di atas meja dosen yang letaknya tak jauh dari pintu, lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas folio bergaris dengan ketikan teks yang sangat padat.
Banyak sekali.
Wajah Naira langsung memucat seketika. Bahkan dari jarak beberapa meter pun, mereka sudah bisa melihat betapa mengerikan dan padatnya isi lembaran tugas tersebut.
“Satu jam,” Arsen meletakkan lembar-lembar tugas itu di meja paling depan.
“Kalian bertiga akan menyelesaikan rangkuman sekaligus analisis mendalam dari materi ini di perpustakaan sekarang juga.”
Alana memejamkan matanya sesaat sambil menghela napas pasrah.
Tentu saja, tidak mungkin hukuman dari seorang Arsen akan sesederhana berdiri di koridor.
“Satu jam dari sekarang,” lanjut Arsen tegas, tatapannya menyapu mereka bertiga bergantian. “Hasilnya dikumpulkan langsung ke ruang kerja saya.”
Damar maju satu langkah untuk menerima lembar tugas tebal itu.
Di sebelahnya, Naira sudah terlihat seperti ingin menangis di tempat, sementara Alana hanya bisa mengangguk pelan. “Baik, Pak.”
“Silakan.”
Pintu kelas kembali tertutup rapat di depan mereka, Naira langsung memegangi dadanya yang berdegup kencang. “Ya Allah... Gue masih hidup.”
Damar terkekeh pelan, mencoba mencairkan ketegangan. “Syukuri dulu aja, Nai.”
“Syukuri dari mana?” Naira menunjuk tumpukan tugas di pelukan Damar dengan frustrasi. “Ini ketebalannya udah kayak skripsi mini, tahu nggak!”
Alana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan perasaan tidak enak.
“Maaf ya, guys. Kalian jadi ikut kena hukuman gara-gara gue.”
Damar langsung menggelengkan kepalanya cepat. “Sudahlah, nggak usah dipikirin.”
“Tapi kan—”
“Kalau tadi gue sama Naira masuk kelas duluan dan ninggalin lo sendirian, rasanya juga nggak enak,” potong Damar santai.
Naira ikut mengangguk setuju, mengesampingkan rasa kesalnya pada tugas. “Lagian masa kita tega ninggalin lo sendirian menghadapi singa kelaparan kayak Pak Arsen.”
Alana terdiam di tempatnya. Senyum kecil tanpa sadar terbit di wajahnya yang semula muram.
“Makasih banyak ya.”
“Udah, jangan terharu dulu,” sahut Damar sambil mempercepat langkahnya. “Nanti aja terharunya setelah tugas horor ini selesai. Waktu kita cuma satu jam.”
Mereka bertiga segera bergegas menuju perpustakaan utama di lantai tiga.
Sepanjang perjalanan menyusuri koridor, tidak ada lagi yang banyak bercanda karena waktu enam puluh menit yang diberikan Arsen benar-benar terasa kejam.
Begitu menemukan meja kosong di sudut perpustakaan yang cukup sepi, ketiganya langsung mendaratkan diri dan mulai bekerja.
Lima menit pertama.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Suasana di meja mereka tetap hening dan intens. Bahkan Alana yang biasanya paling ribut dan tidak bisa diam, kini terlihat fokus luar biasa.
Beberapa buku referensi tebal sudah terbuka lebar di depannya. Jemari gadis itu bergerak dengan sangat cepat, membuat catatan-catatan kecil di pinggir kertas, membuka halaman buku lain, lalu kembali menuliskan analisisnya dengan rapi.
Damar yang duduk tepat di hadapannya sempat menghentikan gerakan penanya dan memperhatikan Alana diam-diam.
Untuk kesekian kalinya, Damar menyadari sesuatu yang tidak biasa dari sahabatnya ini. Orang-orang di luar sana sering kali mengira Alana hanyalah gadis ceroboh yang hobi bercanda dan bicara ceplas-ceplos.
Padahal, ketika situasi menuntutnya untuk benar-benar serius, gadis itu bisa berubah menjadi sosok yang sangat berbeda. Cepat, teliti, dan jauh lebih cerdas daripada apa yang terlihat di permukaan.
“Na,” bisik Damar pelan agar tidak menegur ketenangan perpustakaan.
“Hm? Kenapa?” sahut Alana tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas tugas.
“Lo sebenarnya tipe mahasiswa yang rajin atau malas sih?”
Alana tetap terus menulis. “Tergantung keadaan.”
“Itu bukan jawaban, Alana.”
“Tapi itu jawaban paling jujur yang bisa gue kasih.”
Naira yang mendengar bisikan itu langsung terkekeh pelan di sela-sela kegiatannya menyalin materi.
“Lagian Alana tuh emang unik, Dam. Kalau disuruh belajar buat ujian reguler, malesnya minta ampun.”
“Eh, sembarangan!” protes Alana berbisik sengit.
“Tapi kalau dikasih tantangan atau ditekan kayak begini, dia malah semangat banget,” lanjut Naira mengabaikan protes Alana.
Alana mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. “Karena gue paling nggak suka diremehin sama orang. Apalagi sama dosen kaku kayak begitu.”
Jawaban spontan itu membuat Damar tersenyum tipis.
Iya, benar.
Memang begitulah seorang Alana Kirana Putri. Selalu terlihat santai dan tidak ambil pusing, tetapi diam-diam memiliki harga diri yang sangat tinggi.
...----------------...
Sementara itu, di belahan gedung yang lain, riuh rendah ruang kelas Arsen baru saja digantikan oleh langkah kaki mahasiswa yang berhamburan keluar.
Jam mengajar pria itu baru saja berakhir. Arsen melangkah kembali menyusuri koridor menuju ruang kerjanya yang bernuansa minimalis dengan membawa tas laptop di tangan kiri.
Setelah menutup pintu ruangannya dan meletakkan seluruh berkas mengajar di atas meja, Arsen menyandarkan tubuh tegapnya ke sandaran kursi kulit. Ruangan itu kembali dilingkupi kesunyian yang menenangkan.
Ia melirik sekilas ke arah jam dinding persegi di hadapannya. Masih ada sekitar lima belas menit tersisa sebelum batas waktu hukuman satu jam yang ia berikan berakhir.
Entah dorongan dari mana, fokus pikirannya yang semula hendak berlanjut ke pekerjaan lain mendadak terpecah dan kembali pada tiga mahasiswa yang ia usir ke perpustakaan tadi.
Terutama, pada mahasiswi bernama Alana.
Menurut penilaian Arsen selama dua hari ini, mahasiswi itu selalu saja berhasil memicu perhatiannya dengan cara yang merepotkan.
Datang terlambat dengan napas terengah-engah, tidur saat jam kuliahnya, bahkan sempat kedapatan menggambar karikatur dosen di halaman belakang bindernya.
Hal-hal yang sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk membuat dosen mana pun kehilangan kesabaran.
Namun, ada satu hal yang terus mengusik pikiran Arsen sejak tadi. Saat menerima hukuman berat di ambang pintu kelas, Alana sama sekali tidak membantah.
Gadis itu tidak mencari-cari alasan, tidak mengiba mohon ampunan, dan yang paling penting, tidak menyalahkan kedua temannya yang ikut terseret.
Alana hanya diam dan menerima seluruh konsekuensi dari kesalahannya dengan kepala tegak.
Arsen mengetuk permukaan meja kayu kerjanya pelan menggunakan ujung jari, lalu menggelengkan kepalanya tipis.
Ia merasa tidak punya alasan logis untuk terus memikirkan salah satu mahasiswinya seperti ini. Masih banyak urusan kurikulum yang jauh lebih penting untuk diselesaikan.
Namun, tepat sebelum ia kembali membuka layar laptopnya, suara ketukan pintu yang ritmis terdengar dari luar.
Tok. Tok. Tok.
Arsen mengangkat kepalanya, kembali memasang wajah datar tanpa ekspresi. “Masuk.”
Pintu kayu itu perlahan terbuka, dan tiga sosok yang sejak tadi memenuhi isi kepalanya kini berdiri di sana.
Mereka bertiga melangkah masuk sambil membawa hasil lembar tugas masing-masing.
Tepat waktu, tidak meleset satu menit pun.
Arsen melirik arloji peraknya sekali lagi, lalu mengangkat sebelah alis tipisnya.
Menarik.
Ternyata mereka benar-benar mampu menyelesaikannya dalam waktu sesingkat itu.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sepanjang pagi itu, pandangan mata Arsen berhenti sedikit lebih lama pada Alana yang berdiri di posisi paling depan sambil menggenggam map tugasnya erat-erat.