NovelToon NovelToon
Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Duda / Cintapertama
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.

Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.

Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.

Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Yang ada di kepalanya hanya satu pergi. Pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Sebab dalam prinsip hidupnya, tak boleh ada kesempatan untuk seorang pengkhianat. Apalagi jika sudah melakukan dosa besar.

“Mira!” Suara Mirza terdengar mengejar dari belakang.

Namun Amira justru berjalan makin cepat meski tubuhnya sempoyongan. Gang kecil yang tadi terasa biasa sekarang mendadak sempit dan menyesakkan.

Beberapa warga mulai menoleh karena suara tangis Amira semakin keras.

“Mira, tunggu dulu!” Mirza akhirnya berhasil menyusul beberapa langkah di belakangnya.

Tetapi Amira langsung menoleh dengan wajah penuh air mata. “Jangan ikut aku!” Suaranya pecah histeris.

Beberapa ibu-ibu yang sedang duduk di depan rumah langsung berdiri kaget.

“Lho, itu Amira kenapa?”

“Ya Allah…”

Amira sudah tidak peduli lagi. Tangisnya benar-benar lepas sekarang. Ia memukul dadanya sendiri berkali-kali seperti tidak kuat menahan sakit. “Kenapa kalian tega sama aku…” isaknya keras. “Kenapa…” Tubuhnya sampai gemetar hebat.

Mirza mencoba mendekat lagi dengan wajah panik. “Mira, dengar dulu penjelasanku.”

“Apa lagi?!” Amira menjerit sambil menangis. “Apa lagi yang mau dijelaskan?!”

Orang-orang mulai keluar rumah. Sebab Amira yang histeris langsung mengundang perhatian tetangga kiri-kanan. Apalagi antara satu rumah dengan rumah lainnya berdempetan, jadi suara Amira bisa terdengar jelas oleh mereka. Tatapan mereka membuat suasana semakin kacau.

Namun Amira sudah terlalu hancur untuk peduli. “Aku baru kehilangan anak kita…” suaranya bergetar penuh luka. “Dan kamu malah kasih anak ke perempuan lain…”

Kalimat itu langsung membuat suasana gang sunyi. Beberapa tetangga saling berpandangan kaget.

Wajah Mirza langsung berubah pucat. “Mira, jangan di sini…”

Amira tertawa kecil di sela tangisnya. Tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan. “Oh sekarang malu? Sama manusia kamu bisa malu, tapi bagaimana dengan Allah? Yang melihat kamu dua puluh empat jam!"

“Mira…”

“Aku yang bodoh!” Amira berteriak sambil menangis histeris. “Aku yang terlalu percaya sama kalian!” Tubuhnya tiba-tiba limbung. Ia nyaris jatuh kalau tidak berpegangan pada pagar rumah orang.

Beberapa ibu langsung mendekat khawatir. “Amira, istighfar, Nak…”

Namun Amira justru menangis semakin keras. Ia benar-benar hancur. Selama ini ia berusaha menjadi istri baik. Menjadi perempuan sabar. Menjadi menantu yang patuh. Bahkan saat kehilangan bayinya sendiri, ia masih mencoba ikhlas. Tetapi ternyata selama itu pula suaminya mengkhianatinya. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.

“Mira, ayo pulang dulu.” Mirza mencoba meraih tangannya lagi. “Kita bicara baik-baik.”

Amira langsung menepis keras. “Jangan sentuh aku!” Matanya merah penuh kebencian yang baru pertama kali muncul pada lelaki itu. “Mulai hari ini…” napasnya tersengal berat, “jangan pernah sentuh aku lagi.” Tubuh Amira semakin limbung. Pandangannya berkunang-kunang akibat menangis dan syok yang datang bertubi-tubi. Ia mundur beberapa langkah sambil memegangi dadanya. Namun tiba-tiba kakinya kehilangan keseimbangan.

“Amira!” Sebuah tangan cepat menangkap tubuhnya sebelum jatuh ke tanah.

Amira langsung terisak begitu menyadari siapa yang memeluknya. “Ibu…”

Ibu mertuanya berdiri dengan napas memburu sambil masih memegang kantong belanja dari pasar. Wajah perempuan paruh baya itu penuh kebingungan. “Astagfirullah… ini kenapa?” tanyanya panik sambil mengusap bahu Amira yang gemetar hebat.

Amira tidak bisa menjawab. Ia hanya menangis sesenggukan di pelukan ibu mertuanya. Sampai tubuhnya bergetar.

Sementara Mirza berdiri beberapa langkah di depan mereka dengan wajah pucat dan kacau.

“Mirza!” Suara ibunya meninggi. “Ada apa ini?!”

Mirza membuka mulut. Tetapi tidak ada suara yang keluar.

Tatapan warga sekitar mulai semakin banyak. Beberapa orang bahkan berdiri di ujung gang memperhatikan mereka. Dan tepat saat itu Nurul muncul dari arah rumahnya dengan wajah sembab.

Ibu mertua Amira langsung mengernyit bingung melihat mereka semua berada di situ. Tatapannya bergerak dari Amira yang menangis histeris ke Mirza yang pucat lalu ke Nurul yang juga menangis. Dan perlahan raut wajah perempuan tua itu berubah. Seolah mulai memahami sesuatu yang buruk. “Mirza…” suaranya melemah. “Kamu jangan bilang…”

“Ibu, nanti saja,” potong Mirza cepat. Ia melirik sekitar dengan wajah tegang. “Jangan di luar.”

Amira langsung tertawa kecil di sela tangisnya. Tawa yang terdengar menyakitkan. “Oh… sekarang takut orang dengar?” ulang Amira lagi.

“Mira…”

“Bukannya kalian sudah senang bohongin aku diam-diam?”

“Cukup!” Mirza mulai kehilangan kesabaran. “Kita bicara di rumah!”

Beberapa tetangga masih memperhatikan dengan rasa penasaran yang jelas terlihat. Situasi sudah terlalu kacau.

Ibu mertua Amira tampak mulai panik sungguhan sekarang. “Ya Allah…” bibirnya bergetar. “Masuk dulu… semuanya masuk dulu.”

Amira sebenarnya ingin pergi. Ingin lari sejauh mungkin. Tetapi tubuhnya terlalu lemah untuk melawan. Akhirnya dengan langkah gemetar, ia dibawa masuk ke rumah oleh ibu mertuanya.

Sementara di belakang mereka Mirza dan Nurul mengikuti dengan wajah penuh ketakutan. Ruang tamu rumah itu terasa sesak oleh keheningan. Hanya suara tangis Amira yang masih tersisa pelan-pelan.

Ibu mertuanya duduk di kursi dengan wajah pucat, sementara Nurul berdiri di pojok ruangan sambil terus menunduk. Dan Mirza berdiri di tengah semuanya dengan napas berat.

“Ayo ngomong sekarang,” suara ibu Mirza bergetar. “Apa benar yang dibilang Amira tadi?”

Mirza memejamkan mata sebentar. Lalu pelan-pelan mengangguk.

“Benar.” Seketika tubuh ibunya melemas di sandaran kursi. “Ya Allah…”

“Kami memang ada hubungan.”

Amira tertawa kecil. Tawa yang dingin dan penuh luka. “Hubungan?” ulangnya lirih. “Kalian bahkan sudah bikin anak.”

Nurul langsung menangis lagi.

Sementara Mirza tetap melanjutkan dengan suara rendah, “Nurul sekarang hamil.”

Kalimat itu tetap terasa menghancurkan meski Amira sudah mendengarnya sebelumnya.

Ibu mertua Amira menatap anaknya tak percaya. “Kamu gila, Mirza?!”

“Bu, dengarkan dulu,”

“Apa yang mau didengar?!” perempuan tua itu mulai menangis. “Amira baru kehilangan anaknya!” amarah ibu mertua Amira tak terbendung. Meskipun Amira adalah menantunya, namun ia sangat menyayanginya sebab Amira gadis yang baik.

Mirza mengusap wajah kasar. Ia tampak frustrasi. Namun alih-alih meminta maaf raut wajahnya justru mulai berubah keras. “Aku juga punya alasan.”

Amira yang sejak tadi diam langsung menatapnya tajam. “Alasan?”

Mirza menarik napas panjang. “Dari dulu aku suka sama Nurul.”bRuangan mendadak sunyi. “Bukan sama Amira.”

Kalimat itu terasa seperti tamparan terakhir. Ibu Mirza langsung menatap anaknya tak percaya. “Mirza…”

“Aku sudah pernah bilang, kan, sama Ibu? Tapi Ibu terus maksa aku nikah sama Amira!” suara Mirza mulai meninggi. “Karena menurut Ibu, Amira lebih baik, lebih alim, lebih pantas jadi istri ustaz!”

Amira membeku beberapa detik. Lalu perlahan emosi yang sejak tadi ia tahan akhirnya meledak. “Jadi selama ini…” suaranya gemetar hebat, “aku cuma pilihan ibumu?”

Mirza langsung menjawab emosional juga. “Aku berusaha menerima kamu!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!