NovelToon NovelToon
ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Action / Showbiz
Popularitas:353
Nilai: 5
Nama Author: Ab Je

Di dunia pro-scene FPS yang kejam, satu peluru bisa menentukan segalanya.

Reno, seorang remaja yang bekerja di warnet kumuh, hanya dikenal sebagai "hantu" di server publik. Tanpa tim, tanpa perlengkapan mewah, ia mendominasi setiap pertandingan dengan satu ciri khas: satu tembakan, satu nyawa melayang. Kemampuannya yang tidak masuk akal membuat banyak orang menuduhnya menggunakan cheat.

Namun, nasib Reno berubah saat sebuah tim e-sport yang sedang di ambang kehancuran menemukannya secara tidak sengaja. Di tengah keraguan rekan setim yang tidak mempercayainya dan rival-rival besar yang siap menjatuhkannya, Reno harus membuktikan bahwa [aim] miliknya adalah murni bakat dewa.

Dari turnamen antar-warnet yang penuh asap hingga panggung megah kejuaraan dunia, Reno akan menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kamu tidak butuh peluru kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ab Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Di Antara Karat dan Mesiu

Bau asin air laut yang bercampur dengan aroma solar dan karat besi menyengat indra penciuman Reno begitu pintu mobil van tua milik Coach Ardi digeser terbuka. Malam telah larut, dan kawasan Pelabuhan Tanjung Priok tampak seperti labirin kontainer raksasa yang sunyi di bawah siraman gerimis tipis. Di ujung jalur dermaga yang remang-remang, sebuah gudang tua peninggalan era kolonial berdiri dengan megah sekaligus mengerikan. Dinding betonnya yang mengelupas dipenuhi lumut, seolah menyembunyikan banyak rahasia gelap di dalamnya.

Reno melangkah turun terlebih dahulu, diikuti oleh Marco, Bimo, dan Leo yang masing-masing membawa tas ransel berisi peralatan tempur utama mereka. Tidak ada karpet merah, tidak ada ruang tunggu ber-AC yang nyaman, dan tidak ada ribuan penonton yang bersorak riuh seperti di Suntec Singapura. Yang ada hanya beberapa pria berbadan tegap dengan tatapan mata dingin yang berjaga di sekitar pintu masuk gudang, mengawasi setiap pergerakan tim Black Viper dengan tangan yang siaga di dalam saku jaket mereka.

"Keluarga kalian sudah aman di Bogor. Aku baru saja menerima konfirmasi dari tim lapangan," bisik Ardi sambil merangkul pundak Marco dan Bimo secara bergantian, mencoba menyalurkan sisa ketenangan yang ia miliki. "Sekarang, fokus kita hanya satu. Masuk ke sana, menangkan pertandingan sialan ini, dan bersihkan nama kita di depan dunia."

Reno membenarkan posisi tali ranselnya, lalu menatap lurus ke arah pintu besi gudang yang terbuka lebar, memancarkan cahaya lampu pijar kekuningan dari dalam. Di dalam dadanya, detak jantungnya berdenyut konstan dan stabil. Latihan ekstrem *Total Blind Play* yang mereka lakukan hingga menjelang subuh tadi telah mengubah rasa cemasnya menjadi sejenis fokus yang sangat dingin. Ia siap menghadapi apa pun yang sudah disiapkan oleh jaringan gelap Victor di dalam sana.

Saat mereka melangkah masuk, gema langkah kaki mereka memantul di langit-langit gudang yang tinggi dan berkarat. Di tengah ruangan yang luas itu, sebuah panggung darurat telah didirikan. Dua baris meja panjang yang dilengkapi dengan komputer berspesifikasi tinggi saling berhadapan, dipisahkan oleh sebuah sekat tripleks tebal. Di atas panggung, beberapa layar monitor besar terpasang untuk menampilkan jalannya pertandingan, sementara di sudut ruangan terlihat beberapa kamera *streaming* yang sudah menyala, memancarkan sinyal langsung melalui jalur satelit independen yang telah diamankan oleh [S].

"Selamat datang, anak-anak jalang dari Jakarta," sebuah suara bariton yang sangat dikenal bergema dari arah kegelapan di balik meja lawan.

Seorang pria dengan setelan jas abu-abu tanpa dasi melangkah maju ke bawah sorotan lampu pijar. Meskipun wajahnya tampak sedikit lelah akibat kejaran otoritas internasional, senyum meremehkan khas milik Victor masih terukir jelas di bibirnya. Di belakangnya, lima orang pemuda mengenakan jersei hitam polos tanpa logo tim berdiri dengan angkuh. Mereka adalah para pemain bayaran tingkat tinggi, "mesin pembunuh" digital yang sengaja disewa dari skena terlarang untuk menghancurkan reputasi Black Viper.

"Kamu pikir kamu sudah menang setelah membuat keributan di Singapura, Reno?" Victor berjalan mendekati pembatas panggung dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. "Dunia ini tidak beroperasi berdasarkan dongeng moral tentang kejujuran yang sering kamu tulis di novel amatirmu itu. Uang dan kuasa yang memegang kendali. Malam ini, di tempat yang tidak tersentuh oleh hukum federasi ini, aku akan memastikan karir e-sport kalian semua terkubur bersama karat di tempat ini."

Reno tidak mundur selangkah pun. Ia melepas maskernya dengan gerakan lambat, menatap lurus ke dalam mata Victor dengan pandangan yang membuat pria paruh baya itu sedikit tersentak. Tidak ada rasa takut, tidak ada kemarahan yang meledak-ledak di wajah pemuda itu. Hanya ada sebuah keyakinan yang sangat kokoh.

"Kamu terlalu banyak bicara untuk seseorang yang sedang menjadi buronan, Victor," balas Reno, suaranya terdengar sangat tajam di dalam kesunyian gudang. "Kami ke sini bukan untuk mendengarkan pembelaan dari seorang pecundang yang ketakutan karena skema taruhannya berantakan. Kami ke sini untuk bermain. Panggil semua pemain bayaranmu itu dan mari kita buktikan di depan layar, siapa yang sebenarnya menggunakan bantuan mesin dan siapa yang bertarung dengan insting murni."

Mendengar ucapan berani Reno, salah satu pemain bayaran di belakang Victor—seorang pemuda dengan tato ular di lehernya—melangkah maju sambil menunjuk wajah Reno. "Jangan sombong, Kid. Di dalam server lokal tanpa proteksi ini, kami akan membuat karakter 'Phantom' milikmu itu terlihat seperti pemula yang tersesat di dalam kabut."

"Simpan bicaramu untuk di dalam game," sahut Reno dingin. Ia langsung berbalik dan memberi isyarat kepada rekan-rekan setimnya untuk mengambil posisi di meja sebelah kiri.

Suasana di area meja Black Viper terasa sangat tegang saat mereka mulai memasang *mouse* dan melakukan kalibrasi sensitivitas. Begitu Reno menyalakan monitornya, ia langsung menyadari adanya kejanggalan pertama. Angka *ping* atau latensi koneksinya sengaja dibuat melonjak tidak stabil di angka seratus lima puluh milidetik, sementara komputer tim lawan yang berada di balik sekat tripleks berjalan mulus di angka lima milidetik. Sebuah sabotase digital yang sangat nyata untuk merusak refleks tembakan satu ketukan milik Reno.

"Reno, koneksi kita dihambat. Tembakan kita akan mengalami penundaan yang sangat parah jika kita bermain dengan gaya vertikal seperti biasanya," bisik Leo dengan wajah yang kembali menegang saat melihat indikator jaringan berwarna merah di layarnya.

"Abaikan angka di layar itu, Leo," instruksi Reno sambil memasang *headset* kedap suaranya. Ia menatap ke arah tiga rekannya dengan senyum tipis yang penuh keyakinan. "Ingat latihan kita semalam. Redupkan kecerahan monitor kalian sekarang hingga delapan puluh persen. Jangan lihat visualnya secara penuh, tapi dengarkan frekuensi getaran suara langkah kaki mereka dari arah lantai es digital. Kita tidak butuh koneksi yang sempurna untuk menjatuhkan musuh yang bergerak dengan pola yang bisa ditebak."

Marco dan Bimo saling berpandangan, lalu dengan serentak mereka menekan tombol di samping monitor, menggelapkan layar hingga menyisakan bayangan hitam yang sangat samar. Tindakan aneh itu membuat Victor dan tim bayarannya yang mengawasi lewat kamera pemantau sempat mengernyitkan dahi bingung. Mereka tidak tahu bahwa Black Viper justru sedang mengaktifkan mode tempur mereka yang paling mematikan.

Pertandingan di peta *Neon District* resmi dimulai. Udara di dalam gudang tua Tanjung Priok itu mendadak terasa membeku. Suara deburan ombak di luar gedung seolah lenyap, digantikan oleh desingan peluru digital pertama yang memecah keheningan malam. Pertarungan hidup mati untuk mempertahankan harga diri dan kebenaran kini telah dimulai di bawah bayang-bayang pelabuhan yang kelam, dan Sang One Tap God sudah siap membuktikan bahwa kejeniusan sejati tidak akan pernah bisa dihambat oleh kabel internet yang disabotase.

1
Alia Chans
wow cerita nya menarik, semangat✍️ nya
Ab Je: makasih yahh sudah menyemangati. (🌹)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!