bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.
sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.
namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?
novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adu Kepintaran
Jam pelajaran pertama dimulai. Mata pelajaran Fisika bersama Pak Budi yang merupakan guru muda berusia 30-an dengan kacamata tebal dan gaya bicara cepat. Hari ini, beliau membahas tentang mekanika kuantum, topik yang umumnya baru akan diajarkan di semester akhir bahkan di universitas. Tapi Alessandra High School tidak pernah mengajarkan hal biasa.
"Anak-anak, hari ini kita akan membahas dualitas gelombang-partikel," ucap Pak Budi sambil menulis rumus-rumus rumit di papan tulis. "Konsep ini penting untuk memahami bagaimana energi dan materi dapat berubah bentuk tergantung cara kita mengamatinya."
Sebagian besar siswa mengerutkan kening. Beberapa terlihat pusing hanya dengan melihat deretan simbol dan persamaan yang memenuhi papan tulis.
Tapi di barisan belakang, Alessandra mencatat dengan tenang. Tangannya bergerak cepat, menulis intisari rumus dengan rapi. Otaknya sudah terbiasa dengan konsep-konsep rumit sejak usia 15 tahun yang wajib bagi seorang pengusaha yang harus memahami laporan R&D perusahaan teknologi.
Pak Budi menoleh ke kelas. "Sekarang, coba kerjakan soal di halaman 47. Saya akan panggil dua orang untuk mengerjakan di papan tulis."
Sebelum guru itu sempat menyebut nama, Fiona telah mengangkat tangan.
"Pak, saya mau!"
Pak Budi mengangguk. "Baik, Fiona. Silakan ke depan."
"Saya juga mau minta satu orang lagi, Pak," sambung Fiona dengan senyum manis. Tapi matanya menatap ke belakang tepat ke arah Alessandra. "Valeria lo mau ikut? Biar seru."
Bisik-bisik langsung merebak.
Fiona terang-terangan menantang.
Alessandra tidak bergerak. Matanya tetap pada buku catatan. Jarinya berhenti menulis sejenak. Lalu dia menghela napas kecil hampir tidak terdengar dan berdiri.
"Baik," ucapnya datar. "Saya ikut."
Dia berjalan ke depan papan tulis dengan langkah tenang. Tanpa gugup. Tanpa terburu-buru. Seperti orang yang sedang berjalan di taman, bukan yang akan diadu kepintarannya di depan kelas.
Fiona menyeringai. Dia mengambil kapur putih dan mulai menulis dengan penuh percaya diri. Hitungannya rapi, langkahnya terstruktur. Terlihat dia sudah mempersiapkan diri sejak kemarin.
Alessandra mengambil kapur. Kapur yang sama. Tapi cara dia menulis... berbeda.
Setiap goresan kapurnya tegas. Simbol-simbol fisika yang rumit dia tulis dengan presisi matematis. Tidak ada satu pun angka yang salah tempat. Tidak ada satu pun rumus yang terlewat.
Kelas hening.
Mata semua siswa tertuju ke papan tulis. Membandingkan pekerjaan Fiona di papan kiri dan Alessandra di papan kanan.
Fiona lebih cepat. Tapi Alessandra... lebih rapi. Lebih jelas. Lebih sempurna.
Pak Budi mendekat, membaca pekerjaan kedua muridnya. Matanya berkedip beberapa kali, mengerutkan kening, lalu mengangguk.
"Kedua jawaban benar."
Fiona tersenyum puas.
Tapi Pak Budi belum selesai.
"Namun... jawaban Valeria lebih lengkap. Dia tidak hanya menyelesaikan hitungan, tapi juga menuliskan derivasi rumus dari prinsip dasar. Fiona, jawabanmu benar, tapi kamu melewatkan dua langkah penting di sini dan di sini."
Guru itu menunjuk bagian yang kosong di papan Fiona.
Wajah Fiona berubah. Senyumnya mengeras.
"Tapi, Pak, hasil akhirnya sama!"
"Hasil akhir yang sama dengan cara yang kurang tepat tetap memiliki risiko error, Fiona. Di tingkat lanjut, kesalahan kecil di awal bisa berakibat fatal. Valeria menunjukkan pemahaman yang lebih mendalam."
Fiona menggigit bibir. Matanya menatap Alessandra dengan kebencian yang sulit disembunyikan.
"Kebetulan," gumamnya pelan.
Alessandra mendengar. Dia menoleh, menatap Fiona dengan ekspresi datar. Tidak ada kemenangan di matanya. Tidak ada ejekan. Hanya... ketenangan mutlak.
"Keberuntungan memang faktor," ucap Alessandra, "tapi pengetahuan adalah hasil dari usaha. Jika Mbak Fiona merasa kalah karena keberuntungan, silakan coba lagi lain kali. Saya tidak keberatan."
Tusukan yang halus tapi mematikan.
Fiona mengepalkan tangan. "Lo tantangan gue?"
"Tidak. Saya hanya ikut bersenang-senang. Dan ternyata... ini menyenangkan."
Dia berjalan kembali ke tempat duduknya. Mutiara dan Laras sudah tidak bisa menyembunyikan tawa kecil mereka.
"Vale, lo sadar gak baru aja ngerendahin Fiona di depan kelas?" bisik Laras.
"Apa yang gue lakukan adalah mengerjakan soal fisika dengan benar," jawab Alessandra tanpa menoleh. "Jika itu dianggap merendahkan, itu adalah masalah persepsi Mbak Fiona."
Mutiara terkekeh. "Astaga naga, lo keren banget."
Tapi Fiona belum menyerah.
Sepanjang pelajaran, setiap kali Pak Budi melontarkan pertanyaan, Fiona selalu mengangkat tangan lebih dulu, mencoba menunjukkan bahwa dia tidak kalah dengan murid pindahan itu.
Namun setiap kali Alessandra menjawab dengan suara datar, tenang, dan penjelasan yang lebih detail Fiona selalu kalah tipis.
Bukan karena Fiona bodoh. Dia memang pintar. Peringkat 2 besar di sekolah. Tapi Alessandra... berada di tingkat yang berbeda. Otaknya sudah terlatih untuk menganalisis laporan keuangan perusahaan bernilai triliunan rupiah, menyusun strategi mafia yang melibatkan ribuan orang, dan mengingat setiap detail intelijen musuh.
Fisika SMA adalah permainan anak-anak baginya.
Dan Alessandra menikmatinya.
Bukan karena dia ingin menang. Bukan karena dia terpancing hasutan Fiona. Tapi karena... untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, dia bisa menggunakan pikirannya untuk sesuatu yang tidak berdarah. Tidak ada strategi pembunuhan. Tidak ada intelijen musuh yang harus dianalisis. Hanya rumus-rumus fisika yang indah dalam kepastiannya.
Itu menyenangkan.
Seperti liburan kecil di tengah misi penyamaran.
Bel istirahat tiba.
Fiona langsung berdiri dan berjalan ke meja Alessandra. Wajahnya merah, matanya menyala.
"Vale," panggilnya dengan nada mencoba tetap tenang, "lo pikir lo hebat cuma karena bisa jawab beberapa soal fisika? Besok ada ulangan harian Matematika. Gue tantang lo. Siapa yang dapet nilai lebih tinggi, dia yang menang."
Alessandra yang sedang membaca buku, perlahan menutupnya. Dia menatap Fiona dengan mata sayu bukan karena mengantuk, tapi karena bosan.
"Apa hadiahnya?"
"Hadiah?"
"Iya. Kalau saya menang, apa yang Mbak Fiona berikan? Saya tidak bekerja gratis."
Fiona terdiam beberapa detik. "Gue... gue akan ngakuin kalo lo lebih pinter dari gue di depan kelas."
"Hadiah yang biasa saja," ucap Alessandra datar. "Tapi baiklah. Saya terima. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Setelah ini, jangan ganggu saya lagi. Saya datang ke sekolah untuk belajar, bukan untuk bersaing dengan orang yang tidak akan memengaruhi masa depan saya."
Sekali lagi, tusukan halus.
Fiona makin merah. Dia tidak bisa menjawab. Hanya mengepalkan tangan, berbalik, dan berjalan pergi dengan langkah gemas.
Laras bersiul pelan. "Nah, gue suka banget liat muka Fiona kaya gitu. tertekan."
"Vale, lo serius mau ikut tantangan dia?" tanya Mutiara. "Fiona tuh peringkat 2 besar loh."
Alessandra membuka bukunya kembali. "Peringkat berapa pun tidak masalah. Yang penting saya mengerjakan soal dengan benar. Bukan untuk mengalahkan dia, tapi karena saya ingin."
"Lo percaya diri banget," Laras menggeleng-gelengkan kepala.
"Bukan percaya diri. Ini hanya... fakta."
Dia merapikan kacamatanya. Jari telunjuk menyentuh ujung rimless glasses. Dan untuk sesaat, di sudut bibirnya, tersembul senyum kecil.
Bukan senyum arogansi.
Tapi senyum seseorang yang sedang bersenang-senang untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama.
Di sudut lain kelas, seorang pemuda berseragam hitam-putih terus mengamati.
Dia tidak ikut dalam kegaduhan tadi. Tidak berkomentar. Hanya duduk di bangku pojok dekat jendela dengan buku catatan di pangkuannya.
Dia menulis:
· Valeria Allegra — Fisika — sempurna. Bukan sekadar pintar. Terlalu pintar untuk gadis SMA.
· Dingin, tidak terpancing emosi. Lawan yang berbahaya.
· Tapi... senyumnya? Hampir tidak terlihat. Tapi ada. Untuk siapa?
Dia menutup buku catatannya.
Di balik rambut panjang yang hampir menutupi mata kirinya, dia tersenyum tipis.
Menarik, pikirnya. Siapa kamu sebenarnya, Valeria Allegra?